Cekricek.id — Di halaman belakang sebuah klenteng di Jakarta Barat berdiri bangunan kecil berwarna hijau dan putih. Bentuknya seperti surau.
Warna itu berbeda sekali dari bagian depan klenteng yang didominasi emas, kuning, dan merah. Pintu masuknya pagar kayu hijau, menghadap ke selatan.
Bangunan itu tercatat dalam kajian Regina Artanevia dan Isman Pratama Nasution dari Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
Judul laporan mereka Negosiasi Identitas dan Agensi Sosial dalam Penempatan Tokoh Islam pada Klenteng-Klenteng abad ke-19 di Jakarta Barat: Kajian Teori Strukturasi. Panjangnya dua puluh halaman.
Kajian itu dimuat jurnal Amerta Volume 44 Nomor 1 terbitan tahun 2026, halaman 23 sampai 42. Penerbitnya BRIN.
Datanya dikumpulkan lewat studi pustaka, observasi langsung, dan wawancara dengan pengelola klenteng. Tiga klenteng diamati, dipilih dengan metode purposif.
Ketiganya Vihara Padi Lapa di Jalan Penjagalan II Nomor 57, Pekojan, Tambora. Lalu Vihara Dharma Tedja di Jalan Hj. Jamari Gang Sentea, Angke.
Satu lagi Vihara Khema di Jalan Pecah Kulit, Pinangsia, Tamansari. Ketiganya berada di sekitar lokasi pembantaian orang Tionghoa pada 1740.
Daftar Isi
Di Halaman Belakang Padi Lapa Ada Bangunan Seperti Surau
Vihara Padi Lapa berdiri pada 1901, setelah dipindahkan dari Pintu Kecil. Awal pendiriannya berada di kawasan Toko Tiga pada 1823.
Pengelolanya kini Yayasan You Mie Hong. Yayasan itu belakangan disebut juga sebagai Yayasan Padi Lapa.
Bangunan Padi Lapa terdiri dari halaman dan bangunan utama. Bangunan utamanya sendiri terbagi empat ruang, yaitu serambi, ruang suci, ruang samping, dan halaman belakang.
Dewa tuan rumahnya Hok Tek Ceng Sin, dewa bumi, ditampilkan berpasangan dengan Tu Di Po. Dalam kepercayaan Tionghoa ia menjaga keamanan dan mengingatkan orang berbuat baik.
Di ruang belakangnya ada altar Dewi Kwan Im Po Sat. Altar itu diapit Giok To Poo Sat di kanan dan Kongco Kwan Seng Tee Khong di kiri.
Yang berada di halaman belakang adalah petilasan Mbah Walisongo. Di dalamnya ada tikar, bantalan duduk, dan kendi untuk membakar kemenyan.
Di bagian depan ruangan itu ada undakan. Di atasnya berdiri patung macan yang dipercaya sebagai tunggangan salah satu wali.
Baca juga Zikir Berdiri di Makam Sikaladi dan Mereka yang Tumbang
Di sampingnya ada miniatur gong dan papan nama Mbah Walisongo. Kanan dan kirinya dihias payung khas Jawa, songsong, dan lemari kaca berisi keris pusaka.
Keris-keris itu ditutup kain putih. Pengurus klenteng rutin memanggil ustaz atau ahli agama untuk ritual pembersihannya setiap bulan.
Walisongo adalah tokoh penyebaran Islam, dan beberapa di antaranya dipercaya keturunan Tionghoa. Karena itu mereka dianggap sebagai tokoh toleransi antara Islam dan Tionghoa.
Ibu Santi, pengurus Vihara Padi Lapa, menerangkan kepada peneliti bahwa petilasan itu diletakkan sebagai bentuk toleransi agama. Peneliti menambahkan satu kesamaan lain.
Sepasang Lukisan Kakek dan Nenek Bersorban di Angke
Vihara Dharma Tedja berdiri pada 1869, di kawasan Angke. Pendirinya seorang saudagar Hokkian bermarga Njo.
Mulanya bangunan itu hanya diperuntukkan bagi orang Hokkian dan keluarga Njo. Belakangan ia dibuka untuk umum.
Vihara ini punya tiga ruang, yaitu halaman, teras, dan ruang utama. Di halamannya berdiri altar Tian dengan tempat dupa besar berkaki tiga.
Dewa utamanya Kongco Hian Thian Siang Tee. Di sisi kanan altarnya ada Dewi Kwan Im Po Sat, di sisi kirinya Tay Sang Lauw Cin.
Di ruang samping, altar tokoh Islamnya berupa lukisan. Sepasang kakek dan nenek mengenakan sorban, yaitu Bapak Raden Surya Kencana dan Ibu Raden.
Bapak Cahyono, pengurus klenteng, menjelaskan ada legenda di balik penempatan itu. Raden Surya Kencana disebut menolong Kongco Hian Thian Siang Tee dari kejaran musuh.
Menurut legenda itu, Raden Surya Kencana juga mengizinkan Kongco mendirikan kerajaan di tanahnya. Sejak itu klenteng berdewa utama Kongco ikut mendirikan altar baginya.
Altar pasangan itu bergaya Cina. Penandanya lampion khas Cina dan papan nama beraksara Tionghoa.
Pemujaannya masih memakai pembakaran hio seperti dewa lain. Tetapi pengurus menyebut jemaat kerap memakai kemenyan sambil melantunkan doa menurut ajaran Islam.
Di Cina, papan nama istri biasa didudukkan di sebelah suaminya. Raden Surya Kencana juga dikenal sebagai penyebar Islam, khususnya di kalangan Tionghoa.
Baca juga Ironi Dunia dalam Lirik Kasidah Nasida Ria
Ranjang Kecil, Peci, Tasbih, dan Sarung di Pecah Kulit
Vihara Khema diperkirakan didirikan pada akhir abad ke-19. Fungsinya rumah ibadah bagi orang Cina yang berdagang di Pasar Pecah Kulit dan bermukim di sekitarnya.
Dewa utamanya Guang Ji Zu Shi Kung atau Tjouw Soe Kong. Menurut keterangan pengurus klenteng kepada peneliti, ia dewa pengobatan.
Di bawah altarnya ada altar Phe Hauw dan Phe Coa. Keduanya dikenal sebagai pengawal Tjouw Soe Kong.
Di ruang suci bagian belakang ada altar tokoh Islam. Yaitu Dewi Neng, Embah Dato, dan Ema Dato.
Altarnya berupa ranjang kecil dengan papan nama. Tidak ada patung di sana, sebagai bentuk penghormatan kepada mereka sebagai muslim.
Di atas altar itu diletakkan benda-benda penanda keislaman mereka. Ada peci, ada tasbih, dan ada sarung.
Di depannya ada kendi tempat menancapkan hio, tempat pembakaran kemenyan, dan sesajen. Di sebelah kirinya berjajar patung-patung titipan.
Embah Dato dan Ema Dato adalah orang tua Ibu Sitiwati. Sitiwati seorang muslim yang menikah dengan Sampo Soei Soe, juru mudi kapal Laksamana Cheng Ho.
Keduanya lalu disembah sebagai dewa dan dewi bumi. Peneliti membacanya sebagai permohonan perlindungan bagi orang Tionghoa di Indonesia.
Yang Terjadi pada Oktober 1740 dan Sesudahnya
Migrasi orang Tionghoa ke Nusantara diperkirakan sudah berlangsung sejak masa Hindu-Buddha. Kunjungan pertama tercatat pada tahun 414 dalam catatan pendeta Fa Xian.
Pada abad ke-16 migrasi menguat. Pemicunya keadaan di negeri asal yang padat penduduk, dan pertanian yang tak lagi menjamin hidup.
Jumlah penduduk Tionghoa di Batavia meningkat berangsur. Pada 1627 angkanya mencapai 3.500 orang.
Hubungan yang baik antara mereka dan penduduk lokal membuat pemerintah kolonial khawatir. Bentrokan terus terjadi, terutama saat izin menetap mulai dipungut biaya.
Baca juga Kritik Modernitas dalam Mata dan Manusia Laut
Puncaknya jatuh pada 10 Oktober 1740. Peristiwa itu berlangsung kurang lebih empat hari dan menewaskan 7.000 sampai 10.000 orang Tionghoa.
Sesudahnya pemerintah kolonial mengeluarkan Wijkenstelsel. Aturan itu mengharuskan orang Tionghoa menetap terkonsentrasi agar mudah diawasi.
Pecinan Batavia lalu terbagi ke beberapa kawasan. Yaitu Asemka, Glodok, Pancoran, Passer Baroe, Pasar Tanah Abang, dan Petak Sembilan.
Kepercayaan yang mereka bawa ikut berpindah ke kawasan-kawasan itu. Pemujaan leluhur disebut peneliti sebagai kunci dari struktur sosial masyarakat Cina.
Ketiga klenteng yang diteliti dibangun setelah peristiwa itu. Peneliti menduga tokoh Islam yang berkaitan dengan toleransi dan perlindungan diletakkan sebagai permohonan agar hal serupa tidak terulang.
Cara Menyembah yang Dicampur, dan Batas yang Dijaga
Ziarah ke petilasan Mbah Walisongo biasa dilakukan pada Jumat atau malam Jumat. Peneliti mencatat kebiasaan itu sesuai dengan tradisi ziarah makam dalam kepercayaan Jawa.
Sesajennya pun mengikuti bentuk persembahan ritual kejawen. Ada bunga tujuh rupa, lisong, kemenyan, semacam lemper, dan uang seperti uang sawer.
Menurut keterangan Ibu Santi, ada larangan yang dijaga. Jemaat dilarang membawa makanan atau minuman haram ke dalam petilasan.
Larangan itu berlaku sebelum orang sampai di sana. Jemaat Tionghoa yang hendak memuja di petilasan juga dilarang mengonsumsi makanan atau minuman haram lebih dulu.
Pada ketiga klenteng, tokoh Islam tidak digambarkan dengan patung. Alasannya menghormati mereka sebagai muslim, karena ajaran Islam melarang menyembah patung.
Peneliti membandingkannya dengan komunitas muslim Hui di Cina. Di sana Al-Quran dipajang bersama papan leluhur, dan lembaran kutipan Al-Quran dibakar sebagai ganti persembahan kertas.
Semua itu dibaca kedua peneliti memakai teori strukturasi Anthony Giddens. Struktur lamanya pemujaan leluhur, agennya para pengelola klenteng.
Kesimpulan mereka, struktur lama masyarakat Tionghoa tidak ditinggalkan. Ia mengalami penyesuaian-penyesuaian yang mendorong terjadinya negosiasi identitas.
Ada pula batas yang mereka akui sendiri. Kurangnya sumber tertulis membuat rekonstruksi sejarah tokoh Islam lokal di klenteng belum dapat diverifikasi menyeluruh.
Fokusnya juga hanya tiga klenteng di Jakarta Barat. Karena itu mereka meminta penelitian lanjutan pada klenteng-klenteng Jakarta lainnya.
Sore itu di halaman belakang Padi Lapa, kemenyan tetap dinyalakan di kendi. Payung Jawa berdiri di kanan dan kiri undakan, dan keris-keris pusaka menunggu pembersihan bulan berikutnya.













