Zikir Berdiri di Makam Sikaladi dan Mereka yang Tumbang

A A

Nagari Tuo Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, tempat Jorong Sikaladi berada. (Foto: Wikimedia Commons)

Cekricek.id — Di titik tertentu, ada yang tumbang. Tubuhnya bergetar lebih dulu, lalu kesadarannya lepas, dan ia jatuh di dalam lingkaran.

Yang di sekelilingnya tidak berhenti sedikit pun. Zikir terus berjalan, ayunan tubuh terus bergerak ke kanan lalu kembali ke kiri.

Warga setempat sudah lama punya sebutan sendiri untuk keadaan seperti itu. Mereka menyebutnya malalu, dan sebutan itu dipakai turun-temurun.

Peristiwa ini berlangsung di Jorong Sikaladi, Nagari Pariangan, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Bukan di masjid, melainkan di pandam pekuburan.

Prosesnya dicatat Andi Syofian bersama Firdaus dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Keduanya turun ke lapangan pada April 2025, mengikuti perayaan itu sampai selesai.

Catatan itu terbit dalam artikel Trance Ratik Tagak dalam Ritual Hari Rayo Anam di Jorong Sikaladi Pariangan Tanah Datar. Terbitannya Jurnal Musik Etnik Nusantara Volume 5 Nomor 2 tahun 2025.

Datanya dikumpulkan lewat pengamatan langsung di lapangan, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Narasumbernya tokoh setempat yang mengenal tradisi itu dari dalam.

Daftar Isi
  1. Sore Itu Doa di Makam Sudah Selesai
  2. Empat Kalimat yang Diulang sampai Tubuh Ikut Bergerak
  3. Yang Tua di Lingkaran Dalam, yang Muda di Luar
  4. Kata Mereka Itu Bukan Kehilangan Kendali
  5. Yang Tidak Ikut Terhitung dalam Catatan Peneliti

Sore Itu Doa di Makam Sudah Selesai

Masjid beratap gonjong merah di Nagari Pariangan dengan kolam di depannya dan rumah-rumah warga di lereng bukit
Masjid di Nagari Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, 2011. (Foto: Wikimedia Commons)

Ritual besar yang menaungi zikir itu bernama Hari Rayo Anam. Ia digelar setelah warga menuntaskan puasa enam hari pada bulan Syawal.

Harinya tidak bisa diganti begitu saja oleh siapa pun. Perayaan itu selalu jatuh pada petang Kamis, dan alasannya bukan sekadar urusan kalender.

Menurut kepercayaan warga Sikaladi, Kamis adalah hari ketika arwah nenek moyang berkesempatan datang. Mereka diyakini hadir di tengah-tengah yang hidup.

Syaratnya ditetapkan lebih dulu, jauh sebelum orang boleh ikut berdiri. Pesertanya harus beragama Islam dan sudah menuntaskan puasa enam hari itu.

Yang ikut terdiri dari remaja sampai laki-laki dewasa, dengan pakaian yang sudah ditentukan. Ada pula satu pemimpin yang mengatur jalannya ritual.

Tugas pemimpin dimulai dari hal yang paling awal sekali. Ia yang membakar kemenyan lebih dulu, sebelum satu kalimat pun dibaca.

Hari itu terbagi dua bagian. Bagian pertama disebut mandoa katampek, berlangsung dari pukul delapan pagi sampai pukul empat sore.

Tempatnya bukan satu titik yang terpusat. Tiap suku berdoa di pandam pekuburan miliknya sendiri, terpencar di seluruh wilayah jorong.

Bagian kedua dimulai persis sesudah salat asar. Dari pukul empat sore sampai menjelang magrib, semuanya berkumpul di satu tempat.

Titik kumpul terakhirnya adalah pandam pekuburan Suku Pisang, di Sipuan Raya. Di sanalah doa, tahlil, dan zikir berdiri itu dilakukan bersama-sama.

Perlengkapannya disiapkan sendiri oleh tiap keluarga dari rumah. Ada tuduang saji, makanan untuk jamuan bersama, dan kemenyan untuk doa.

Benda-benda itu, tulis kedua peneliti dalam laporannya, tidak dimaknai sebagai pemujaan. Warga memahaminya sebagai penghormatan kepada leluhur sekaligus pengantar doa.

Empat Kalimat yang Diulang sampai Tubuh Ikut Bergerak

Ratik Tagak berarti zikir yang dilakukan sambil berdiri tegak. Bentuk seperti ini menjadi ciri khas tarekat Syattariyah di wilayah tersebut.

Akarnya ada pada ajaran tasawuf. Pendekatan diri kepada Allah ditempuh lewat pengulangan kalimat zikir dan latihan pengendalian diri yang disebut riyadhah.

Ajaran itu tidak boleh dipelajari sendiri-sendiri tanpa penuntun. Jemaah tarekat menerimanya lewat bimbingan seorang mursyid, guru tarekat yang menuntun mereka.

Di Sikaladi, garis pengajaran itu diteruskan oleh tokoh-tokoh setempat. Salah satu nama yang disebut peneliti adalah Katik Marajo, pemimpin spiritual di sana.

Yang dibaca sepanjang petang itu hanya empat kalimat, tidak lebih. Laa Ilaaha Illallah, Allah–Allah, Hu–Allah, dan Allahu.

Empat kalimat itu dilantunkan berulang-ulang tanpa jeda yang panjang. Tubuh ikut bergerak serempak ke kanan lalu berbalik ke kiri.

Gerak itu bukan tarian dan tidak pernah dibaca begitu. Fungsinya memusatkan perhatian, mengatur irama napas, dan menyatukan suara dengan tubuh.

Berdiri pun punya arti sendiri di dalam tradisi ini. Posisi tegak itu dibaca sebagai tanda kesiapan batin menerima petunjuk Ilahi.

Semakin lama pengulangannya berjalan, semakin kuat pula pengaruhnya. Menurut penelitian ini, repetisi menimbulkan efek sugestif dan membangun resonansi batin antarjemaah.

Ayunan tubuh bekerja di lapisan yang berbeda. Ia menstimulasi ritme jantung dan napas, lalu memicu respons yang memudahkan tercapainya trance.

Baca juga Nyerau Dilantunkan dari Pukul 20.00 sampai Pukul 03.00

Yang Tua di Lingkaran Dalam, yang Muda di Luar

Jemaah laki-laki dewasa berdiri berhadapan membentuk satu lingkaran besar. Susunannya sama sekali tidak acak dan tidak pernah ditukar.

Kelompok tua menempati bagian dalam lingkaran itu, paling dekat ke tengah. Kelompok muda berada di sisi luarnya.

Susunan itu, tulis kedua peneliti, mencerminkan hierarki pengalaman spiritual di antara mereka. Sekaligus menjadi tanda kesinambungan antargenerasi di tempat itu.

Dari susunan itu muncul sesuatu yang sulit dibuat dengan sengaja. Gerak tubuh dan lantunan zikir menciptakan atmosfer musikal dan ritmis yang kuat.

Peneliti menyebut keadaan yang muncul itu resonansi spiritual kolektif. Pada titik tertentu, sebagian peserta mulai melewati batas kesadaran yang normal.

Prosesnya berlangsung bertahap dan terbaca urutannya, bukan datang mendadak. Pada tahap pertama, pembacaan zikir berjalan perlahan dan ritmis.

Pada tahap kedua, iramanya mulai menguat dan tempo bacaannya naik. Gerak seluruh jemaah menjadi jauh lebih tersinkronkan.

Pada tahap ketiga, intensitas emosionalnya naik ke puncak. Di titik itulah sebagian peserta mencapai keadaan yang disebut peneliti ekstase spiritual.

Tiap tahap melibatkan tiga hal yang bekerja sekaligus. Bunyi vokal zikir, gerak tubuh, dan sugesti kolektif di antara sesama peserta.

Gejalanya bisa dilihat siapa saja dari luar lingkaran. Kesadaran berubah, emosi menguat, tubuh bergetar, dan sebagian akhirnya jatuh pingsan.

Kata Mereka Itu Bukan Kehilangan Kendali

Tafsir warga atas peristiwa itu berbeda jauh dari tafsir pengamat luar. Perbedaannya justru terletak pada satu hal saja: soal kendali.

Ismet Sidi Tumanggung menjelaskannya kepada peneliti pada 10 April 2025. Malalu, menurutnya, adalah bentuk kekhusyukan orang di dalam beribadah.

Ia menyebutnya sebagai keadaan ketika seseorang mencapai hubungan dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Hilangnya kesadaran datang belakangan.

Khairunas Katik Mudo memberi keterangan pada 19 April 2025. Dari keduanya, peneliti menyimpulkan malalu dipahami bukan sebagai kehilangan kendali.

Sebutan yang dipakai warga sendiri lebih tepat diterjemahkan sebagai kelebihan zikir. Bukan kekurangan atau kegagalan menahan diri, melainkan kelebihan.

Secara ajaran, keadaan itu dikaitkan dengan konsep fana. Kata itu berasal dari bahasa Arab yang berarti musnah atau lenyap.

Dalam ilmu tasawuf, fana berarti hilangnya kesadaran seseorang tentang diri sendiri. Perhatian orang itu sepenuhnya berpindah kepada Allah.

Ada istilah yang lebih spesifik lagi untuk menamai tahap terjauh itu. Fana fillah, yang diterjemahkan sebagai lenyap dalam Allah.

Untuk membaca peristiwa ini, peneliti memakai kerangka dari luar tradisi. Antara lain teori performativitas Richard Schechner dan pendekatan etnomusikologi Bruno Nettl.

Satu istilah lagi dipinjam kedua peneliti dari Victor Turner. Communitas, yaitu pengalaman bersama yang melampaui struktur sosial sehari-hari.

Dalam kerangka itu, perbedaan status dan usia di antara mereka dianggap larut. Semua peserta bergerak dan berzikir dalam irama yang sama.

Baca juga Rede, Pukulan yang Menahan Penonton Indang sampai Larut

Yang Tidak Ikut Terhitung dalam Catatan Peneliti

Sisi lain ritual ini berada jauh di luar urusan zikir. Hari Rayo Anam juga memperkuat hubungan kekerabatan antarwarga.

Yang dipertegas adalah hubungan anak dengan ayah, dan kemenakan dengan mamak. Peneliti menyandarkannya pada pepatah anak dipangku, kamanakan dibimbiang.

Kegiatannya sepanjang hari pun tidak seluruhnya khusyuk. Ada makan bersama, ziarah kubur, panjat pinang, dan kesenian Kim untuk para pemuda.

Ratik Tagak sendiri tidak hanya hadir di Hari Rayo Anam. Ia juga dilakukan pada ritual Tulak Bala dan peringatan Maulid Nabi.

Sampai di situ saja catatan penelitian itu berhenti. Yang tersedia adalah pemerian satu tradisi di satu jorong pada satu perayaan.

Tidak ada hitungan berapa banyak peserta yang mengalami malalu. Tidak ada pula perbandingan antartahun atau antarjorong lain di Pariangan.

Metode yang dicantumkan menyebut survei sebagai salah satu teknik pengumpulan data. Hasil survei itu sendiri tidak muncul di bagian pembahasan.

Ada juga selisih kecil di dalam artikelnya. Kalimat zikir keempat ditulis Allah–Hu di abstrak dan Allahu di uraian.

Nama penulis pertamanya pun tertulis dua cara. Andi Syofian di kepala artikel, Andy Sofyan di catatan kaki dan keterangan foto.

Nama jurnalnya ikut berbeda antara kepala dan kaki halaman. Sekali Jurnal Musik Etnik Nusantara, sekali Jurnal Musik Etnik.

Susunan barisannya juga diterangkan dua versi. Di bagian awal, kaum tua membentuk lingkaran dan kaum muda berbaris membentuk saf di posisi lebih rendah.

Di bagian pembahasan, keduanya sama-sama berada dalam satu lingkaran. Yang tua di dalam, yang muda di lingkaran luar.

Umur tradisinya pun disebut dengan kata konon. Ia diperkirakan diwarisi sekitar empat ratus tahun silam, dari Datuak Tanjung lalu turun ke Datuak Garang.

Baca juga Naleung Sambo dan Bu Lekat di Talam Peusijuek

Sesudah magrib, lingkaran itu bubar sendiri. Yang tumbang tadi kembali ke keadaan semula, dan sampai pulang tidak ada yang membicarakannya lagi.

Bagikan

Baca Juga

Sekelompok penari Indang berbaju merah dan kuning duduk berbaris sambil mengangkat tangan
Rede, Pukulan yang Menahan Penonton Indang sampai Larut
Empat pemangku adat Kerinci berbaju hitam bersulam emas dan berkuluk duduk bersila di rumah adat
Nyerau Dilantunkan dari Pukul 20.00 sampai Pukul 03.00
Hamparan tanaman jagung yang batang dan daunnya sudah mengering menjelang panen
Dua Calon Jagung Komposit Diuji di Payakumbuh dan Agam
Lima aktor dalam satu adegan pementasan teater di panggung berlatar ruang tamu yang gelap
Memerankan Ham yang Buta dan Lumpuh dengan Teknik Meisner
Sulaman benang emas berhias kaca cermin dan kain merah pada dasar beludru hitam
Enam Adegan Adu Kerbau Dijadikan Motif Bordir
Rumah Gadang beratap gonjong dengan rangkiang di halamannya
Matrilineal Minangkabau, Utopia Kesetaraan Perempuan