Wisuda UNAIR 263, Rektor Sebut Gelar Jangkar Etika Era AI

A A

Prosesi wisuda periode 263 Universitas Airlangga di Airlangga Convention Center Surabaya. [Foto: Universitas Airlangga]

Cekricek.id — Wisuda UNAIR periode 263 mengukuhkan 937 lulusan, dengan Rektor Muhammad Madyan menempatkan gelar akademik sebagai jangkar etika di tengah disrupsi teknologi.

Prosesi itu berlangsung Minggu, 6 September 2026, di Airlangga Convention Center, Kampus MERR-C, seperti dimuat dalam keterangan resmi Universitas Airlangga pada hari yang sama.

Bagi Rektor, penyematan gelar tersebut menjadi titik awal perjalanan pengabdian yang sesungguhnya, bukan sekadar tanda kelulusan.

Di tengah prosesi, ia menyampaikan keprihatinan atas bencana alam di Nusa Tenggara Timur serta kebakaran hutan di Kalimantan, Maluku Utara, dan Aceh Besar.

Menurut dia, penggunaan kecerdasan buatan dan otomatisasi menuntut lulusan tidak sekadar menguasai keahlian teknis, melainkan juga memegang integritas moral.

Kecanggihan teknologi tanpa landasan etika, lanjutnya, hanya akan kehilangan arah pengabdiannya di tengah masyarakat.

“Teknologi membutuhkan arah. AI membutuhkan manusia yang memiliki tanggung jawab. Data membutuhkan manusia dengan kebijaksanaan,” katanya.

Baca juga kewajiban mahasiswa memakai kecerdasan buatan sejak tahun kedua

“Kecepatan membutuhkan manusia dengan nilai moral, dan masa depan adalah milik mereka yang mampu menggabungkan kecerdasan dengan kemanusiaan,” tegasnya.

Di sela pemaparannya, Muhammad Madyan menyinggung jargon yang beredar luas, “Enggak sombong, enggak pamer, UNAIR!”

Sembari memandu wisudawan menyerukan jargon itu, ia menekankan prestasi almamater harus disikapi dengan kerendahan hati.

“Saya ingin Saudara melihat capaian ini bukan hanya sekadar peringkat, melainkan hasil kerja keras seluruh keluarga besar sivitas akademika,” tegasnya.

Ia menambahkan reputasi internasional tidak boleh membuat alumni terlepas dari persoalan nyata di lapangan.

Baca juga guru besar farmasi yang masuk daftar lima persen ilmuwan dunia

“Menjadi universitas yang mendunia tidak berarti kita harus mengabaikan persoalan di sekitar kita. Kita juga harus mampu memahami kebutuhan lokal, menghadirkan solusi nyata,” paparnya.

Ketiga hal itu ia sebut sebagai relevansi lokal, dampak nyata, dan resonansi global.

Ia menyebut kiprah alumni seperti Agus Harimurti Yudhoyono dan Sunarto sebagai bukti keberlanjutan kontribusi bagi bangsa.

Menutup pidatonya, Rektor UNAIR mengutip Aristoteles tentang proses menempuh pendidikan.

“The roots of education are bitter, but the fruit is sweet,” katanya.

Baca juga jumlah mahasiswa baru yang diterima kampus swasta besar tahun ini

“Buah terbaik dari pendidikan bukan hanya apa yang kita peroleh untuk diri sendiri, melainkan apa yang mampu kita berikan kepada orang lain,” pungkasnya.

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence adalah sistem komputer yang menjalankan tugas yang biasanya menuntut penalaran manusia.

Bagikan

Baca Juga

Tim pengabdian ITS mendemonstrasikan sistem CerdasERP Koperasi kepada pengurus koperasi kelurahan di Surabaya
ITS Kembangkan CerdasERP Koperasi untuk Koperasi Kelurahan
Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Junaidi Khotib
Guru Besar Farmasi UNAIR Masuk Daftar 5 Persen Ilmuwan Dunia
Mahasiswa Universitas Airlangga peraih juara 2 International Paper and Poster EXCESS 2026
Mahasiswa UNAIR Rancang Baterai Natrium dari Rumput Laut
Dua mahasiswa Universitas Airlangga peraih juara pertama esai ilmiah
Mahasiswa UNAIR Juara Lewat Deteksi TB dari Suara Batuk
Piala penghargaan berwarna emas
CESGS UNAIR Beri Penghargaan ESG ke Sepuluh Perusahaan
Perempuan memilah botol plastik bekas untuk didaur ulang
Tim UNAIR Petakan Aliran Sampah Prafi Sebelum Pilih Alat