Daftar Isi
Cekricek.id — Setiap kali Anda melewati sebuah pintu dan tanpa sadar merapikan langkah, pintu itu baru saja mengatakan sesuatu kepada Anda, dan itulah yang oleh para peneliti disebut semiotika pragmatik. Istilahnya terdengar berat. Isinya sebenarnya sederhana: memeriksa apa yang dikerjakan sebuah bentuk terhadap orang yang menghadapinya, bukan sekadar bentuknya bagus atau tidak. Di Istana Siak, tiga peneliti memakai cara baca itu untuk membongkar sepuluh pilar, tiga jenis lengkungan pintu, dan satu bangunan yang sengaja dihadapkan ke sungai. Hasilnya bukan pujian atas keindahan, melainkan daftar pesan.
Yang mengerjakannya Hengki Satria, Yeyendra, dan Taymiyah Basrin dari Universitas Islam Riau di Pekanbaru. Laporan mereka berjudul The Architectural Style of Asserayah Al-Hasyimiyah Palace Using a Pragmatic Semiotic Approach, dimuat jurnal Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Volume 27 Nomor 1 tahun 2025, halaman 168 sampai 185. Bahannya dikumpulkan lewat pengamatan langsung di lokasi, wawancara mendalam, serta penelusuran dokumen sejarah dan foto lama. Narasumbernya sejarawan lokal, penjaga situs, dan tokoh masyarakat yang paham tradisi Melayu.
Istana Asserayah Al-Hasyimiah, yang orang Riau biasa menyebutnya Istana Siak, berdiri di Siak Sri Indrapura. Gagasannya muncul pada 1874 di masa sultan kesepuluh, dan bangunannya dikerjakan pada 1890 hingga 1899 di masa sultan kesebelas. Perancangnya seorang arsitek Prancis bernama Van De Worde. Luas kompleksnya 32.000 meter persegi, sementara bangunan intinya hanya 1.300 meter persegi — kira-kira empat persen dari halamannya sendiri. Kompleks itu tidak berisi satu bangunan saja, melainkan lima: Taman Panca Wisada, Istana Asserayah Al-Hasyimiah sebagai bangunan induk, Istana Panjang, Selasar Istana, dan Istana Limas.
Semiotika Pragmatik: Tanda yang Diukur dari Akibatnya

Semiotika, kalau diterjemahkan pendek, adalah ilmu tentang tanda. Sebuah tiang bukan cuma tiang; ia bisa menandakan sesuatu. Bagian yang menyebut diri pragmatik menambahkan satu syarat: tanda itu diperiksa lewat efeknya pada orang yang memakainya. Bukan “apa arti lengkungan ini” secara umum, melainkan apa yang terjadi pada orang yang berjalan melewatinya, di tempat itu, pada zaman itu. Tanda yang sama bisa berbeda akibatnya di gedung kantor dan di ruang penobatan raja, dan perbedaan itulah yang dicari.
Bandingkan dengan cara orang biasa memotret istana. Kita melihat sepuluh pilar dan menyebutnya indah. Hengki Satria dan timnya menghitungnya lebih dulu — dua pilar tinggi, empat sedang, empat kecil, semuanya tersusun simetris — lalu bertanya apa akibat susunan itu. Jawabannya: kesan tertata dan berwibawa, suasana formal, dan pesan bahwa yang berkuasa di dalamnya stabil. Pilar menahan atap sekaligus menahan makna. Bandingannya ada di sisi lain kompleks: balai kerapatan tinggi dan Masjid Sahabuddin berdiri di kawasan yang sama, masing-masing dengan tugas mengumumkan hal yang berbeda tentang kerajaan itu.
Analisis mereka dijalankan dalam tiga tahap. Pertama, menandai tanda-tanda fisik: bentuk, tata ruang, bahan, ornamen. Kedua, menafsirkan maknanya berdasarkan konteks sosial dan budaya Melayu Siak. Ketiga, menimbang dampak tanda itu terhadap pemakai bangunan dan masyarakat. Ketiga tahap itu dijalankan berulang, bolak-balik antara data lapangan dan kerangka teorinya, bukan sekali jalan. Hasil tafsirnya lalu dibandingkan dengan temuan penelitian sebelumnya tentang ornamen Melayu di istana yang sama, agar bacaan barunya tidak berdiri sendirian.
Baca juga Tujuh Belas Titik di Batik Singo Mengkok
Contoh sehari-hari tadi — merapikan langkah di depan pintu — berguna sebagai pintu masuk, tetapi ia meleset di satu hal penting. Refleks kita bersifat pribadi dan sesaat. Yang dikejar Hengki Satria dan rekannya adalah makna yang disepakati bersama dan bertahan lebih dari seabad, yang bisa ditelusuri ke tradisi Melayu, ke arsitektur Islam, dan ke kebiasaan Eropa yang masuk lewat penjajahan. Bedanya bukan kecil. Refleks bisa salah baca; makna yang diwariskan bisa dilacak jejaknya ke bahan, ke bentuk, dan ke catatan orang yang masih mengingatnya.
Arsitektur Transisi: Gaya yang Sedang Berpindah Tangan
Istilah berikutnya yang perlu diterjemahkan adalah arsitektur transisi. Maknanya bangunan dari masa ketika satu selera sedang digantikan selera lain, dan keduanya masih terlihat di badan bangunan yang sama. Di Istana Siak, yang bertemu adalah arsitektur Melayu setempat, gaya Indische Empire yang dibawa Belanda, dan neo-klasik Eropa. Tak satu pun menang sepenuhnya. Itu sebabnya bangunannya sulit dimasukkan ke satu kotak gaya, dan justru ketidaksempurnaan kategori itu yang menjadi temuan.
Indische Empire sendiri perlu diterangkan: gaya bangunan bergaya kekaisaran Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis Hindia Belanda, biasanya bertiang besar, berpintu tinggi, dan berserambi lebar. Neo-klasik berarti gaya yang meniru bangunan Yunani dan Romawi kuno — simetris, megah, dan sengaja membuat orang merasa kecil. Keduanya bertemu di sini dengan bahan dan kebiasaan lokal. Yang lokal bukan hanya bahan: tata ruang Melayu menekankan keseimbangan dan keterhubungan antarruang, dan itu bertemu kebetulan dengan kegemaran Eropa pada simetri.
Perbandingannya bisa dilihat pada denahnya. Ruang-ruang di lantai dasar disusun simetris dalam satu bidang persegi, terpusat pada ruang tengah, dengan dinding tebal sebagai pembatas dan selasar sebagai penghubung — itu bagian yang berbau Eropa. Namun bahan yang dipakai kayu solid lokal, dan menurut laporan itu kayu tersebut mengubah udara panas siang hari menjadi lebih sejuk dan udara dingin malam hari menjadi lebih hangat. Bagian ini jelas jawaban atas iklim setempat, bukan atas selera Eropa. Bandingkan pula lahannya: pohon yang banyak dan halaman yang lapang membuat cahaya masuk cukup dan udara bergerak, dua hal yang tidak dibutuhkan bangunan serupa di Eropa.
Pembagian ruangnya juga bercerita. Tim itu memilah kompleks istana ke dalam empat zona menurut siapa yang boleh masuk: zona publik seperti ruang tamu depan dan selasar dalam; zona semi-publik seperti ruang makan dan ruang sidang; zona privat berisi ruang penobatan, ruang rapat, dan empat kamar tidur di lantai satu yang hanya bisa dicapai lewat tangga putar; serta zona servis berupa dapur, gudang, dan taman depan. Hierarki sosial diterjemahkan menjadi jarak berjalan kaki. Zona semi-publik, misalnya, sengaja dilindungi selasar dalam sehingga tidak leluasa dipandang dari luar, sedangkan zona servis justru diletakkan di luar bangunan induk.
Lengkung Lancip, Tapal Kuda, Lambung Perahu: Tiga Cara Membuka Pintu
Bagian yang paling padat temuannya adalah pintu dan jendela. Hengki Satria mencatat tiga bentuk lengkungan yang dipakai di istana itu, dan ketiganya berasal dari tradisi yang berbeda. Ketiganya juga, menurut bacaan mereka, membawa pesan yang berlainan kepada orang yang melewatinya. Ketiganya dipasang di bangunan yang sama, pada dekade yang sama, oleh pemilik yang sama.
Baca juga Mawar Melapor Pelecehan, Abah Menjawab Kodrat
Lengkung lancip adalah lengkungan yang bertemu di satu titik runcing di atas, bentuk yang lazim pada bangunan Islam di banyak negeri. Di istana ini ia dipasang sebagai bingkai kayu di dalam tembok bata, dengan kaca bening pada daun jendela dan kaca patri berwarna pada ventilasi tertutupnya. Maknanya, tulis tim tersebut, spiritual: bentuknya mengarah ke atas seperti kubah, menunjuk kepada penguasa alam raya. Warna hijau dan kuning yang menyertainya menegaskan keislaman sekaligus kejayaan kerajaan. Tim itu bahkan menelusuri asal-usul bentuknya sampai ke kebiasaan membelah buah palem di daerah tandus, yang garis lengkungnya kemudian ditiru pada konstruksi, sebelum bertemu lengkung setengah lingkaran warisan Romawi dan Yunani.
Lengkung tapal kuda — lengkungan yang melebar di bawah seperti bentuk sepatu kuda — dipakai di bagian dalam, terutama untuk menyambung dua ruang menjadi satu pandangan. Efeknya, menurut laporan itu, ruangan terasa lebih luas dan lebih bebas. Maknanya disebut sebagai lambang kekuatan bangunan. Jenis ketiga, lambung perahu, adalah lengkungan berbentuk badan perahu yang dibalik — satu-satunya dari tiga bentuk itu yang jelas berakar pada kehidupan sungai, bukan pada tradisi Arab atau Eropa.
Bentuk terakhir itu yang paling banyak dibicarakan. Secara teknis, lengkungan model perahu terbalik kuat menahan beban dari struktur di atasnya, dan pada istana bertingkat itu fungsinya nyata. Secara makna, tim tersebut membacanya sebagai gambaran perjalanan hidup: siapa pun yang melewatinya diingatkan agar tidak membiarkan perahunya terbalik. Pintu jenis ini justru dipasang di jalur utama menuju ruang penobatan dan ruang sidang, dua ruang tempat keputusan diambil. Bacaan itu memang tafsir, tetapi letak pintunya bukan tafsir: ia bisa dicek siapa pun yang datang ke Siak.
Perlu satu catatan pembanding di sini. Bahan bangunannya sebagian didatangkan dari luar, antara lain dari Singapura, sementara kusen lengkungnya kayu lokal. Kombinasi itu menggambarkan posisi Kerajaan Siak pada masa itu: cukup kaya untuk mengimpor, dan cukup mapan untuk tetap memakai bahan sendiri di bagian yang paling terlihat. Sistem pemerintahannya sendiri disebut bersifat kewilayahan dan tidak terpusat, dengan birokrasi yang terperinci, dan bangunan ini dipakai untuk menjalankannya.
Cosmic State: Bangunan yang Sengaja Menghadap Sungai
Istilah terakhir adalah cosmic state, yang bisa diterjemahkan bebas sebagai pandangan bahwa tata letak bangunan mesti sejalan dengan tatanan alam semesta. Arah mata angin dan posisi matahari ikut menentukan ke mana muka bangunan dihadapkan. Konsep semacam ini juga dikenal di daerah lain, termasuk di Jawa, dengan cara pikir yang memperlakukan rumah seolah-olah makhluk hidup. Kata cosmic di sini tidak ada hubungannya dengan antariksa; yang dimaksud tatanan besar tempat manusia menaruh dirinya.
Baca juga Ketika Prompt Jadi Pelajaran di Kelas Bahasa
Bukti lapangannya datang dari wawancara. Zainuddin, narasumber yang diwawancarai tim peneliti itu pada 2024, menerangkan letak istana pada masa sebelum kawasan itu ramai: “Berada tepat menghadap di tepian Sungai Siak, berseberangan dengan Desa Mempura. Sebelum adanya kompleks perumahan yang ada sekarang, area ini hanya berdiri bangunan kerajaan, balai kerapatan tinggi, Masjid Sahabuddin, rumah para sepuh adat dan hutan rapat.” Daftar itu memperlihatkan sebuah pusat pemerintahan yang dikepung hutan, bukan kota.
Keterangan itu mengubah cara membaca posisi istana. Muka bangunan yang menghadap Sungai Siak bukan kebetulan lanskap, melainkan pernyataan tentang hubungan antara kerajaan, air, dan sumber penghidupan. Sungai adalah jalan dagang, jalan masuk tamu, sekaligus batas. Menghadapkan istana ke sana berarti menempatkan kekuasaan pada titik pertemuan manusia, alam, dan — menurut tafsir tim itu — Tuhan. Bandingkan dengan bangunan pemerintahan hari ini yang hampir selalu menghadap jalan raya; yang berubah bukan cuma arah, melainkan apa yang dianggap sumber kehidupan.
Fungsinya pun tidak tunggal. Sebelum kemerdekaan, istana ini dipakai sebagai pusat pemerintahan, pusat kebudayaan, tempat pelantikan pejabat tinggi, tempat tinggal sultan dan keluarganya, tempat singgah bangsawan, tempat pesta rakyat, dan tempat syiar agama Islam. Tujuh fungsi dalam satu bangunan seluas 1.300 meter persegi; itu sebabnya pembagian empat zona tadi menjadi penting. Satu bangunan harus menjadi kantor, rumah, aula, dan tempat ibadah bergiliran, dan pembatas antarperan itu hanya dinding tebal serta aturan siapa boleh lewat mana.
Laporan itu juga menyebut batasnya sendiri, dan cukup terus terang. Hengki Satria dan rekan-rekannya mengakui kurangnya data sejarah yang mendalam mengenai proses pembangunan istana serta seberapa jauh sebenarnya pengaruh Van De Worde pada rancangannya. Wawancaranya pun hanya dengan beberapa narasumber, sehingga tafsir atas makna simbolis unsur-unsur arsitekturnya, kata mereka, mungkin belum sepenuhnya menyeluruh. Sarannya untuk peneliti berikutnya cukup jelas: tambah jumlah narasumber, pakai teknologi digital untuk merekonstruksi rancangan aslinya, dan bandingkan dengan bangunan sezaman.
Batas itu penting dipegang. Semiotika pragmatik pandai menunjukkan apa yang mungkin dimaksudkan sebuah bentuk dan apa yang dirasakan orang di depannya. Ia tidak bisa membuktikan bahwa arsiteknya memang berniat begitu. Antara niat tukang, kehendak sultan, dan tafsir peneliti seratus tiga puluh tahun kemudian, ada jarak yang tidak dijembatani metode ini — dan yang jujur menyebutnya adalah penelitinya sendiri, bukan pembacanya. Yang tersisa buat pengunjung hanyalah pintu itu, tetap terbuka, tetap menuntut orang merapikan langkah sebelum masuk.















