- Yang berasal dari gangguan roh harus ditangani bomoh, sedangkan penyakit fisik, tulis naskah, dapat diobati dokter umum.
- Jika sesaji hanya diberikan kepada satu pihak, roh pihak lain akan marah dan mendatangkan bencana.
- Bomoh kadang dibantu roh Melayu yang beragama Islam, sehingga pantangan itu dijaga agar ritual berjalan lancar.
- Naskah ini tidak memuat bagian tentang keterbatasan penelitian, dan jumlah informannya tidak disebutkan.
Daftar Isi
- Masa Kesultanan Siak: tiga kelompok kerja di tepi Sungai Mandau
- Abad ke-17 dalam versi kedua: perempuan tua dan dayung emas
- Komantan dan Satun dalam tuturan Batin Gelimbing
- Tiga dunia, hantu darat, dan hantu laut yang masih dijaga kini
- Dua atau tiga malam bedekeh: dari tilik sampai trans
- Geertz, Lévi-Strauss, dan keberatan orang Melayu Muslim
- Yang janggal dalam naskah Suroyo dan rekan-rekannya tahun 2022
Pada masa Kesultanan Siak Sri Indrapura, kayu dari hilir Sungai Mandau diangkut dengan rakit besar di Sungai Siak. Orang-orang yang mengerjakannya kelak disebut Akit, dari kata berakit. Kini keturunan mereka menetap di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, dan masih memanggil roh leluhur ketika ada kerabat yang sakit karena gangguan makhluk halus. Ritual pengobatan turun-temurun itu bernama bedekeh.
Ritual itu ditelaah Suroyo Suroyo, Neni Hermita, Bedriati Ibrahim, dan Bima Maulana Putra dalam artikel Bedekeh Ritual and Cultural Belief of Suku Akit in Rupat Island, Bengkalis, Riau, yang terbit di Jurnal Lektur Keagamaan volume 20 nomor 1 tahun 2022. Tiga penulis pertama berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, sedangkan Bima dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Keterangan mereka bersumber dari bomoh, batin, tokoh adat dan agama, serta warga yang tinggal di Pulau Rupat.
Naskah itu berangkat dari catatan Ellya Roza, yang dirujuk para penulis, bahwa pada masa lalu orang pergi ke dukun bila ada yang sakit, dan kebiasaan itu bertahan sampai masyarakat setempat mengenal agama di luar kepercayaan leluhur. Pada orang Akit, kebiasaan itu tidak berhenti. Bedekeh, yang berarti berpikir dan meminta petunjuk kepada leluhur untuk mengusir roh jahat penyebab penyakit, diperkirakan sudah ada sejak mereka mendiami Rupat. Pemimpinnya disebut Batin, yaitu kepala suku yang sekaligus bomoh atau dukun besar.
Masa Kesultanan Siak: tiga kelompok kerja di tepi Sungai Mandau
Asal-usul orang Akit, tulis Suroyo dan rekan-rekannya, hadir dalam banyak versi. Versi pertama, yang bersandar pada tulisan Suroyo terdahulu dan buku Julius Limbeng tentang suku Akit di Pulau Rupat, menyebut mereka sebagai pekerja Kesultanan Siak Sri Indrapura yang terbagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama merintis jalan saat membuka hutan. Kelompok kedua menanam, menebang, dan mengangkut kayu dengan menyatukannya menjadi rakit besar. Kelompok ketiga membersihkan tepi sungai agar air mengalir ke hilir dan kayu mudah dikirim.
Mereka semula tinggal di kiri dan kanan Sungai Mandau, anak Sungai Siak. Gajah, babi hutan, dan hewan lain merusak tanaman mereka, sehingga orang Akit tidak dapat bertahan lama di sana. Mereka lalu meminta permukiman dan tanah kepada Sultan Siak. Permintaan itu dikabulkan, dan mereka berangkat dengan rakit mencari tempat baru berupa sebuah pulau, yaitu Rupat, yang ketika itu sudah dihuni sekelompok orang dari Pulau Rempang.
Orang Rempang yang mereka temui sedang kelaparan dan bersedia menjual pulau itu dengan harga sebatang sagu, sekeranjang beras, sebuah sampan, dan sebuah dayung. Orang Akit tidak sanggup memenuhinya, lalu menghadap Datuk Laksemana Sultan Siak Sri Indrapura untuk meminta bantuan. Setelah syarat itu diantar, pulau diserahkan bersama sebuah pesan dan sumpah dari orang Rempang. “Jangan jual pulau ini atau mengalihkannya kepada orang lain,” demikian bunyinya menurut naskah yang aslinya berbahasa Inggris itu.
Baca juga Menongkah Suku Duano, dari Livelihood Jadi Festival
Abad ke-17 dalam versi kedua: perempuan tua dan dayung emas
Sumber lain yang dikutip para penulis menggeser kisah itu ke abad ke-17 dan ke tempat asal yang berbeda. Sekelompok orang dari Kalimantan disebut datang ke wilayah Kerajaan Siak dan menetap di tepi Sungai Siak. Karena kerap diganggu harimau dan gajah, mereka meminta izin Sultan untuk mencari pulau yang bebas dari binatang buas. Mereka sempat mendarat di Pulau Padang, tetapi selatnya dianggap terlalu sempit sehingga binatang masih dapat menyeberang.
Rombongan itu berlayar lagi sampai melihat sebuah pulau di utara dengan sungai di sisi baratnya. Di sana mereka bertemu seorang perempuan tua, yang mengatakan bahwa pulau itu milik Datuk Empang Kelapahan dan bahwa suaminya bernama Datuk Kebeneh. Datuk Empang Kelapahan mengizinkan mereka tinggal dengan syarat yang lebih berat daripada versi pertama: sebiji mata beras, sebuah tampin sagu, dan sebuah dayung emas. Rombongan itu meminta waktu dua kali tujuh hari untuk menghadap Sultan.
Versi ketiga datang dari tulisan Dodi Ahmad Kurtubi tentang suku-suku asli Riau, yang juga dirujuk naskah. Di bawah perlindungan Kesultanan Siak, leluhur Akit menebang kayu, mengangkutnya, dan membangun istana di Desa Bukit Batu, lalu dibagi menjadi Suku Hutan, suku Akit, dan suku Hatas. Karena kampung mereka terus diganggu binatang liar, mereka meminta tukar tempat. Suku Hutan pindah ke Pulau Bengkalis, sedangkan Akit dan Hatas ke Rupat. Nama Rupat, menurut sumber itu, berasal dari ungkapan tukar tempat.
Komantan dan Satun dalam tuturan Batin Gelimbing
Dari asal-usul orangnya, naskah beralih ke asal-usul ritualnya. Di sepanjang pantai yang menghadap laut ada tempat yang dianggap keramat untuk berdoa dan memberi sesaji kepada Datok Sakti dan Datok Kebeneh, sepasang suami istri yang dipercaya menjaga Rupat dan menjelma menjadi roh. Adapun kelahiran bedekeh dituturkan lewat dua kisah, yang menurut catatan kaki para penulis diperoleh dari wawancara dengan Batin Gelimbing.
Kisah pertama menyebut bomoh pertama adalah Komantan, anak sulung Adam. Pada hari ketujuh setelah lahir ia mendadak tidak sadarkan diri, dan gejala serupa berulang sepanjang masa kecilnya. Ketika berusia tujuh tahun, Komantan berkata kepada ayahnya bahwa ia ingin tinggal di langit, sebab di sana ada dunia yang serupa dengan dunia ini. Ia meminta tujuh gendang, sepasang tempayan, dan sebuah pondok di tempat terpencil. Suatu malam badai datang, dan pondok itu terbang ke langit.
Bertahun-tahun kemudian Adam jatuh sakit karena sedih dan merasa bersalah. Ia membakar kemenyan dengan harapan asap dan wanginya sampai ke langit. Suara terdengar dari atas, cahaya jatuh di hadapannya, dan Adam percaya Komantan turun sebagai roh untuk mengobatinya. Komantan lalu berjanji akan kembali bersama roh-roh lain dari langit setiap kali keluarganya sakit. Sejak itulah, menurut kisah tersebut, orang tahu bahwa roh dari langit dapat dipanggil untuk membantu pengobatan.
Kisah kedua lebih pahit. Seorang bomoh bernama Satun mengaku sanggup menghidupkan orang mati. Ia mengobati seorang anak perempuan yang sakit keras dengan tujuh gendang dan roh-roh pembantunya, tetapi anak itu meninggal, dan Satun bersembunyi karena malu. Dua kisah itu, bagi para penulis, menjadi dasar dan pengesahan praktik bedekeh. “Kisah Komantan bukanlah fiksi bagi suku Akit. Kisah itu dihidupkan dalam praktik ritual bedekeh,” tulis Suroyo, Neni Hermita, Bedriati Ibrahim, dan Bima Maulana Putra dalam naskah berbahasa Inggris tersebut.
Tiga dunia, hantu darat, dan hantu laut yang masih dijaga kini
Dari kisah itu para penulis menarik gambaran alam orang Akit. Ada dunia atas, tempat Tuhan dan roh leluhur pembantu berdiam, dunia tengah tempat manusia hidup, dan dunia bawah tempat manusia dikuburkan. Bomoh dipercaya mampu bepergian ke dunia lain saat bedekeh. Penyakit pun dipilah menjadi dua. Yang berasal dari gangguan roh harus ditangani bomoh, sedangkan penyakit fisik, tulis naskah, dapat diobati dokter umum.
Hutan mendapat tempat istimewa karena dihuni makhluk gaib yang dapat mencelakai atau menolong. Siapa pun yang hendak masuk hutan harus membawa bekal berupa pinang, rokok, dan sugi atau tembakau, sebab jika tidak ia dapat terkena penyakit berat yang sulit disembuhkan. Pohon tertentu diberi tetau, yaitu sesaji. Menurut orang Akit, para penjaga gaib itu bertugas melindungi alam dan tidak memakannya, sedangkan yang menghabiskan alam adalah manusia.
Selain susunan atas dan bawah, ada keseimbangan mendatar antara dakhat, darat, dan laot, laut. Penghuninya digolongkan sebagai antu dakhat dan antu laot, dan sesaji untuk keduanya sangat berbeda. Saat menangkap ikan di laut, orang dilarang memakai benda tajam dan umpan berdarah, karena dewa laut marah bila disuguhi darah hewan darat. Menebang pohon dengan alat berat juga terlarang. Jika sesaji hanya diberikan kepada satu pihak, roh pihak lain akan marah dan mendatangkan bencana.
Kemenyan yang dibakar untuk dewa laut biasanya lebih banyak daripada untuk dewa darat, sebab roh laut dianggap relatif lebih kuat. Dalam upacara penyembuhan, bomoh wajib menyiapkan dua istana bagi roh darat dan sebuah lancang, yaitu perahu, bagi roh laut. Roh-roh itu dimintai tolong satu per satu. Setelah roh diajak berbicara, bomoh mencari roh jahat yang berkaitan dengan penyakit pasien.
Roh yang datang dikenali dari bahasa yang keluar ketika ia memasuki tubuh bomoh, juga dari tingkah laku, pakaian, dan tabuhan gendangnya. Naskah menyebut roh Islam atau hantu Islam, roh Melayu, dan lain-lain. Ada pula roh buaya dan putri cantik, yang hadir ketika bomoh menari dengan riang dan bebas. Yang dianggap paling sakti adalah roh Hulubalang, roh panglima atau pemimpin perang, yang datang saat bomoh berada dalam kekuatan penuh.
Baca juga Motayok Bilalang, Ritual Tari Penyembuh di Kotamobagu
Dua atau tiga malam bedekeh: dari tilik sampai trans
Sebelum ritual dimulai, bomoh harus mengetahui jenis penyakit dengan melakukan tilik, semacam ramalan. Ia lalu membaca mantra sambil membawa air dalam gelas, memegang lilin, dan beberapa lembar daun sirih. Pasien meminum air itu sesudah ritual, dan sisanya dipakai untuk memandikannya pada pagi hari. Air tersebut dipercaya berkhasiat menyucikan tubuh. Bomoh juga mengoleskan tepung beras yang sudah diberi mantra ke tubuh pasien.
Mantra dibisikkan berulang-ulang ke kepala pasien, ibu jari kiri dan kanan, serta kedua jari kaki, untuk menguatkan tubuhnya melawan roh jahat. Beberapa informan menyamakannya dengan napas Tuhan yang menciptakan manusia pertama dalam mitologi Akit: bomoh memberi napas kepada pasien. Setelah meniupkan mantra itu, bomoh mengalami trans dan pergi ke dunia lain tanpa diketahui orang-orang yang hadir.
Ritual kerap berlangsung dua atau tiga malam berturut-turut, dan keluarga tuan rumah serta bomoh terikat sejumlah aturan. Daging babi, kepiting, dan daging hewan berkaki empat tidak boleh masuk rumah, dan bomoh dilarang meminum minuman beralkohol. Alasannya menarik. Bomoh kadang dibantu roh Melayu yang beragama Islam, sehingga pantangan itu dijaga agar ritual berjalan lancar. Pintu utama kemudian ditutup dengan daun pandan, tanda bahwa tempat itu tabo atau terlarang.
Geertz, Lévi-Strauss, dan keberatan orang Melayu Muslim
Agama resmi orang Akit di Rupat, menurut naskah, adalah Kristen dan Buddha, tetapi mereka tetap memuja berbagai dewa dan percaya pada kekuatan gaib. Bagi mereka agama resmi menjadi pelengkap hidup, sehingga berpindah agama bukan persoalan. Para penulis menyandingkan keadaan itu dengan pendapat Clifford Geertz bahwa agama sebagai bagian dari sistem budaya tidak selalu menyatukan dan dapat pula memecah. Pandangan orang Akit tentang ibadah juga lain: orang menyembah untuk bersyukur, bukan untuk meminta ampun.
Contohnya datang dari informan penelitian. Orang yang mencuri tidak dapat meminta ampun kepada Tuhan, karena yang dirugikan bukan Tuhan melainkan pemilik barang, sehingga kepada pemilik itulah ia patut meminta maaf. Namun, cara pandang semacam ini membuat orang Akit kerap disebut tidak beragama. Masyarakat luar, tulis para penulis, masih memandang rendah mereka dan menganggap mereka memiliki kekuatan gaib yang dapat dipakai untuk menyerang orang lain.
Dari sisi Melayu Muslim, bedekeh ditolak karena memakai dukun, sesaji, kemenyan, dan pertolongan roh leluhur. Naskah memaparkan bahwa mantra hanya dibolehkan bila menyebut Allah, berbahasa Arab atau bahasa lain yang maknanya dapat dipahami, dan tidak diyakini berdaya sendiri. “Masyarakat suku Akit sering diposisikan sebagai area terluar (periferi) dan menempatkan pada posisi yang rendah dan derajat sosial terendah,” tulis keempat peneliti itu dalam abstrak berbahasa Indonesia.
Untuk membaca trans, mereka meminjam Lévi-Strauss, yang memandangnya sebagai keadaan disosiasi psikis ketika orang kehilangan kesadaran, sehingga bomoh dapat disebut shaman. Soal Islam, naskah mengambil dua arah. Pengaruh Islam pada bedekeh secara umum disebut tidak ditemukan, yang ada hanya pengaruh tidak langsung dari agama-agama. Meski begitu, sebagian orang Akit percaya hubungan itu ada, sebab seorang informan bersaksi tentang sosok yang diyakini sebagai hantu Islam dalam sebuah ritual.
Baca juga Nora’a Keke, Ritual Kelima yang Dicatat Suku Kaili
Yang janggal dalam naskah Suroyo dan rekan-rekannya tahun 2022
Naskah ini tidak memuat bagian tentang keterbatasan penelitian, dan jumlah informannya tidak disebutkan. Dari semua narasumber, hanya Batin Gelimbing yang namanya tercantum, itu pun di catatan kaki. Wilayah kewenangan bomoh yang dibahas adalah komunitas Akit di Hutan Panjang, Pulau Rupat. Karena itu gambaran di atas berlaku bagi orang Akit di pulau tersebut, bukan bagi semua suku asli di Riau.
Beberapa hal dapat diperiksa sendiri oleh pembaca. Naskah menulis dunia orang Akit terbagi dua, lalu merinci tiga: dunia atas, tengah, dan bawah. Daftar lima komponen agama memuat butir ketiga dan keempat yang sama persis. Buku Lévi-Strauss disebut berjudul Myths, Shaman and Magic di badan tulisan, tetapi catatan kakinya merujuk The Savage Mind terbitan 1966, dan daftar pustaka menulis 1996. Kalimat tentang pendidikan orang Akit pun bersandar pada rujukan sebuah jurnal ilmu hidrologi.
Dalam rantai tulisan Suroyo sendiri, bedekeh lebih dulu muncul sebagai bahan pengelolaan pariwisata budaya pada 2017, lalu sebagai ritual pada era global dalam terbitan 2018 dan ringkasan disertasi 2019. Naskah 2022 menambahkan satu mata rantai, yaitu pertemuannya dengan pandangan Islam dan Melayu. Para penulis menutupnya dengan catatan bahwa orang Akit kini mengenal mata pelajaran Muatan Lokal Budaya Melayu di sekolah, sementara kemenyan untuk roh laut tetap dibakar lebih banyak.















