- Dari 2.359 perempuan Jerman yang punya anak, 51 persen menyatakan mengidap osteoartritis.
- Pada perempuan tanpa anak angkanya 44 persen dan pada laki-laki tanpa anak 37 persen.
- Risiko osteoartritis pada perempuan naik seiring bertambahnya jumlah anak, tetapi tidak pada laki-laki.
- Para penulis tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat dan seluruh data berasal dari Jerman.
Daftar Isi
Dalam sebuah wawancara tatap muka, pewawancara membacakan daftar penyakit kepada warga Jerman berusia 40 sampai 85 tahun. Satu per satu. Warga itu diminta menjawab apakah seorang dokter pernah menyatakan ia mengidap penyakit yang disebut. Salah satu butirnya berbunyi kerusakan sendi, atau artrosis, pada pinggul, lutut, atau tulang belakang.
Jawaban atas butir itulah yang ditelaah Supratim Das, Mahdie Rafiei, Marieca-Joelina Burghardt, Jan Baumbach, dan Linda Baumbach dalam artikel Origin of sexual dimorphism in osteoarthritis risk: the impact of pregnancy and parental care. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Das dan Rafiei, dua penulis pertama, bekerja di Institute for Computational Systems Biology, University of Hamburg, Jerman.
Ada 5.319 orang yang jawabannya mereka pakai, terdiri atas 2.678 perempuan dan 2.641 laki-laki. Semuanya peserta German Aging Survey gelombang 2017, survei nasional yang mewakili penduduk Jerman berusia 40 tahun ke atas yang tinggal di rumah tangga pribadi. Kepada mereka juga ditanyakan satu hal lain: apakah mereka punya anak, dan berapa.
Dua jawaban itu, soal sendi dan soal anak, disandingkan untuk menjawab satu pertanyaan lama. Perempuan lebih berisiko terkena osteoartritis, yang sehari-hari disebut pengapuran sendi, daripada laki-laki. Yang belum jelas adalah asal perbedaan itu: jenis kelamin itu sendiri, atau kehamilan dan pengasuhan anak yang ditanggung tubuh perempuan.
Lutut, Pinggul, dan Tulang Belakang yang Aus
Osteoartritis, tulis Das dan rekan-rekannya, adalah penyakit sendi yang melumpuhkan. Tulang rawan berubah, lalu datang nyeri, kaku, dan gerak yang makin terbatas. Di Amerika Serikat penyakit ini mengenai satu dari lima orang dewasa, dengan beban 136,8 miliar dolar AS bagi sistem kesehatan negara itu saja. Di seluruh dunia ia termasuk penyebab utama disabilitas.
Berbagai studi epidemiologi yang dirujuk naskah itu konsisten menunjukkan perempuan lebih berisiko daripada laki-laki. Perbedaan tersebut sudah diakui, tetapi mekanismenya masih kurang dipahami. Faktor biologis, hormonal, dan sosial budaya sama-sama disebut, sementara sumbangan tiap faktor belum terpilah dengan jelas.
Di ruang praktik, tulis para penulis, jenis kelamin selama ini dipakai sebagai faktor risiko osteoartritis. Das dan Rafiei ingin tahu apakah yang berperan memang jenis kelamin, ataukah kehamilan, pengasuhan, dan jumlah anak. Dugaan mereka sejak awal condong ke yang kedua: perbedaan antara laki-laki dan perempuan itu bukan sekadar bawaan perkembangan tubuh.
Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular
Rumah Tanpa Anak: Laki-laki dan Perempuan Hampir Setara
Mereka mulai dari rumah yang tidak punya anak. Di sana ada 313 laki-laki dan 319 perempuan. Dari kelompok laki-laki, 116 orang atau 37 persen menyatakan mengidap osteoartritis. Dari kelompok perempuan, 140 orang atau 44 persen. Selisih itu ada di atas kertas, tetapi menurut hitungan para penulis tidak bermakna secara statistik.
Perbandingan ini dirancang para penulis untuk menguji pengaruh jenis kelamin itu sendiri. Bila kelompok tanpa anak menunjukkan beda, tulis mereka, perbedaan itu berasal dari perkembangan tubuh laki-laki dan perempuan. Dalam ringkasan untuk pembaca awam, para penulis menyebut angka kedua kelompok itu serupa, sehingga jenis kelamin biologis saja mungkin tidak cukup menjelaskan perbedaan.
Usia kedua kelompok ini berdekatan. Laki-laki tanpa anak rata-rata berumur 65,67 tahun, perempuan tanpa anak 66,52 tahun. Jumlah penyakit lain yang mereka sandang pun nyaris sama, rata-rata 2,22 pada laki-laki dan 2,23 pada perempuan, dari daftar 17 penyakit yang ikut ditanyakan pewawancara.
Rumah dengan Anak: Angka Para Ibu Naik
Gambarnya berubah ketika para penulis berpindah ke rumah yang punya anak. Di sana ada 2.359 perempuan, dan 1.200 di antaranya, atau 51 persen, menyatakan mengidap osteoartritis. Pada perempuan tanpa anak angkanya 44 persen. Perbedaan ini bermakna secara statistik, juga setelah indeks massa tubuh dan tingkat pendidikan diperhitungkan.
Pada laki-laki ceritanya lain. Dari 2.328 ayah, 1.005 orang atau 43 persen menyatakan mengidap osteoartritis, sedangkan pada laki-laki tanpa anak 37 persen. Angka para ayah memang lebih tinggi. Namun, setelah usia, pendidikan, dan indeks massa tubuh diperhitungkan, perbedaan itu tidak bermakna secara statistik.
Dari dua perbandingan itu para penulis menarik simpulan. Pengasuhan anak, tulis mereka, menaikkan risiko osteoartritis dengan kemaknaan statistik hanya pada perempuan. Bagi laki-laki, punya anak tampaknya tidak memengaruhi risiko tersebut. Karena itu, menurut mereka, kehamilan patut dipertimbangkan sebagai faktor risiko ketika risiko osteoartritis seseorang dinilai.
Baca juga Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan
Satu Anak, Dua Anak, Empat Anak
Pertanyaan tentang anak tidak berhenti pada punya atau tidak. Pewawancara juga mencatat jumlahnya, termasuk anak kandung, anak yang tumbuh di rumah itu, dan anak yang sudah meninggal. Di antara perempuan, 618 orang punya satu anak, 1.158 punya dua, 413 punya tiga, dan 170 punya empat anak atau lebih.
Pada perempuan, risiko osteoartritis naik seiring bertambahnya jumlah anak, dan kenaikan itu bermakna secara statistik. Para penulis menyebutnya hubungan yang bergantung pada dosis. Pada laki-laki, yang 583 orang di antaranya punya satu anak dan 198 orang punya empat atau lebih, garis kecenderungannya nyaris datar dan tidak bermakna.
Para penulis merumuskan temuan itu dalam satu kalimat. “Dari sudut pandang epidemiologi, kami menemukan dalam data kami bahwa jenis kelamin itu sendiri bukan faktor risiko; yang menjadi faktor risiko adalah jumlah anak pada perempuan,” tulis Supratim Das dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Mereka lalu menyarankan agar peneliti, ahli epidemiologi, dan mungkin juga dokter, menelusuri ada tidaknya anak ketika menilai risiko osteoartritis. Tidak cukup hanya melihat jenis kelamin pasien. Pengelompokan yang lebih halus menurut riwayat reproduksi, tulis mereka, diperlukan untuk memahami perbedaan risiko penyakit antara laki-laki dan perempuan.
Tubuh yang Hamil, Lengan yang Menggendong
Mengapa anak bisa berkaitan dengan sendi ibunya? Naskah itu merangkum beberapa jalur yang sudah dicatat riset terdahulu. Kehamilan mengubah kadar estrogen, progesteron, dan relaxin, hormon-hormon yang dapat memengaruhi kesehatan sendi. Naik turunnya hormon itu, tulis para penulis, bisa membuat sendi perempuan kurang stabil.
Berat badan yang bertambah selama hamil juga menekan sendi penopang tubuh, yakni lutut dan pinggul. Beban itu datang cepat, sedangkan otot tidak sempat menyesuaikan diri. Cara berjalan dan postur tubuh ikut berubah, sehingga sendi menerima beban yang tidak biasa. Salah satu rujukan mereka mencatat kenaikan indeks massa tubuh akibat kehamilan masih bertahan 40 tahun kemudian.
Setelah anak lahir, beban berpindah ke pekerjaan mengasuh. Mengangkat, menggendong, membungkuk, dan berlutut membebani sendi dan mempercepat ausnya tulang rawan. Tekanan sebagai orang tua menaikkan kadar kortisol. Kurang tidur mengganggu pemulihan jaringan sendi, dan orang tua kerap punya lebih sedikit waktu untuk olahraga yang dianjurkan sebagai pencegahan osteoartritis.
Para penulis membaca semua itu dengan kacamata biologi evolusi. Ongkos reproduksi, dalam bidang itu, adalah harga yang dibayar tubuh ketika tenaga dan waktu dicurahkan untuk melahirkan dan membesarkan keturunan. Ongkos itu berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Tiap kehamilan, tulis mereka, mungkin menambah beban biologis ke arah risiko osteoartritis.
Ada satu dugaan lagi yang mereka ajukan. Osteoartritis paling berat muncul pada usia lanjut, sesudah menopause, sehingga tidak mengurangi kemampuan perempuan untuk berketurunan. Karena itu, menurut hipotesis para penulis, tekanan seleksi tidak cukup kuat untuk menyingkirkan sifat-sifat yang memicu penyakit ini, dan ia menumpuk lebih banyak pada perempuan.
Baca juga Ibu Anak Tidak Stunting di Bandung Justru Lebih Lelah Mengasuh
Denmark, Jerman, dan Yang Belum Terjawab
Sebelum naskah ini, menurut para penulis, hanya ada satu studi yang menelusuri soal serupa, yakni studi di Denmark dengan data tahun 1982 sampai 2008. Studi itu menemukan risiko osteoartritis lebih tinggi pada orang yang punya anak, baik laki-laki maupun perempuan. Temuan Jerman berbeda pada sisi laki-laki, tempat perbedaan itu tidak bermakna.
Das dan rekan-rekannya tidak menganggap dua hasil itu sepenuhnya berseberangan. Rata-rata risiko para ayah di Jerman tetap lebih tinggi daripada laki-laki tanpa anak, searah dengan temuan Denmark. Studi Denmark pun mencatat selisih yang lebih besar pada perempuan. Mereka menduga besarnya ongkos pengasuhan bergantung pada budaya, yang bisa berubah menurut waktu dan tempat.
Keterbatasan naskah ini dicantumkan para penulis sendiri. Jumlah anak dianggap setara dengan jumlah kehamilan, padahal anggapan itu tidak memperhitungkan anak angkat dan anak tiri, juga keguguran atau penghentian kehamilan. Data sendi bertumpu pada ingatan peserta tentang diagnosis dokter. Penyakit yang belum terdiagnosis tidak terekam.
Pertanyaan pewawancara juga tidak membedakan sendi mana yang sakit. Padahal, tulis para penulis, kenaikan berat badan saat hamil dapat diduga lebih membebani lutut daripada tangan. Rancangan mereka pun tidak dapat memisahkan pengaruh kehamilan dari pengaruh pengasuhan oleh ibu. Seluruh data berasal dari Jerman, sehingga belum bisa diberlakukan bagi penduduk dunia.
Satu batas lagi mereka sebut paling akhir. Data itu dipotret pada satu waktu, bukan diikuti dari tahun ke tahun. Hasilnya memberi petunjuk bahwa ongkos kehamilan dan pengasuhan berkaitan dengan risiko osteoartritis, tetapi, tulis para penulis, mereka tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat. Studi di negara lain masih diperlukan.
Daftar penyakit yang dibacakan pewawancara itu hanya meminta jawaban ya atau tidak untuk pinggul, lutut, dan tulang belakang. Dari jawaban warga Jerman atas butir tersebut, para penulis menyimpulkan bahwa asal perbedaan risiko osteoartritis antara laki-laki dan perempuan terletak pada beda ongkos kehamilan dan pengasuhan. Mereka meminta pemakaian jenis kelamin sebagai faktor risiko penyakit ini ditinjau ulang.















