Toko Dekat Rumah, Warga Alabama Tetap Tak Sanggup Makan Sehat

A A

Ilustrasi kardus berisi sayur, buah, dan botol susu di atas meja lipat putih [Foto: Cottonbro/Pexels]

  • Lima puluh dua orang dewasa di kawasan Birmingham menceritakannya dengan kata-kata mereka sendiri.
  • Para penulis mencatat kesulitan itu tetap muncul bahkan ketika toko bahan pangan berada dekat rumah.
  • Banyak partisipan menyebut masa sulit yang bisa ditebak, terutama menjelang akhir bulan, ketika gaji atau bantuan sudah habis.
  • Buah dan sayur segar digambarkan sebagai kemewahan sesekali, bukan bahan sehari-hari.
Daftar Isi
  1. Toko yang Jauh dari Rumah
  2. Harga yang Jauh dari Dompet
  3. Bantuan yang Menjadi Sandaran
  4. Bantuan yang Tak Selalu Tiba
  5. Beban yang Ditanggung Tubuh
  6. Beban yang Ditanggung Batin

Toko bahan pangan yang berdiri dekat rumah dan piring yang tetap tidak terisi makanan sehat terdengar seperti dua hal yang mustahil bertemu, tetapi di Alabama keduanya hidup di dapur yang sama. Lima puluh dua orang dewasa di kawasan Birmingham menceritakannya dengan kata-kata mereka sendiri. Sebagian tinggal jauh dari toko. Sebagian lagi tinggal dekat, dan tetap pulang dengan belanjaan yang bukan pilihan mereka.

Cerita itu dihimpun Catheryn A. Orihuela, Joanna Bateman, Brianna Dotson, Lori Brand Bateman, dan Anna Pyle. Artikel mereka berjudul Food insecurity in the Deep South: a qualitative study exploring the lived experience of food insecure adults. Naskah itu dimuat BMC Public Health sebagai artikel dalam proses terbit, tahun 2026.

Kelima penulis bekerja di University of Alabama at Birmingham. Orang-orang yang mereka dengarkan adalah pasien yang oleh tenaga kesehatannya dinilai rawan pangan, lalu dirujuk ke sebuah lumbung pangan mitra rumah sakit untuk mengambil paket makanan bulanan. Percakapan berlangsung dari April sampai Oktober 2024.

Rawan pangan bukan perkara kecil di sana. Naskah itu mencatat hingga 23 persen orang dewasa dan anak di Alabama mengalaminya, kira-kira satu dari tiap empat atau lima orang. Alabama termasuk Deep South, sebutan untuk sekelompok negara bagian di selatan Amerika Serikat bersama Georgia, Louisiana, Mississippi, dan South Carolina.

Dari 52 orang itu, 68 persen perempuan dan usia rata-ratanya 56,16 tahun. Sebanyak 83 persen berkulit hitam atau Afrika-Amerika, sisanya 17 persen berkulit putih. Hampir semuanya, 94 persen, melaporkan atau sedang dirawat karena penyakit menahun, kebanyakan yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah seperti hipertensi, gagal jantung, dan diabetes.

Siapa yang berceritaSiapa yang berceritaSiapa yang berceritaPeserta wawancara di Birmingham, Alabama, 202452Orang dewasadiwawancarai68%Perempuandari peserta83%Kulit hitamAfrika-Amerika94%Sakit kronislapor ataudirawatJalan risetnyaDirujuk klinikLumbung panganEmpat temaUsia rata-rata peserta 56,16 tahun.
Sumber: Catheryn A. Orihuela, Joanna Bateman, Brianna Dotson, Lori Brand Bateman, dan Anna Pyle, Food insecurity in the Deep South: a qualitative study exploring the lived experience of food insecure adults, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Toko yang Jauh dari Rumah

Sisi pertama adalah jarak. Para partisipan menggambarkan lingkungan dengan sedikit toko bahan pangan, sehingga belanja berarti perjalanan panjang. Mereka ingin ada toko di dekat rumah. Jarak yang jauh dan pilihan angkutan yang terbatas, tulis para penulis, membuat sebagian orang tidak bisa memperoleh makanan yang cukup atau sehat.

Kendaraan tidak selalu menyelesaikan soal itu. Ada partisipan yang punya mobil tetapi tidak sanggup membeli bensin untuk sampai ke lumbung pangan. Ada pula yang memakai satu kendaraan bersama beberapa anggota keluarga, sehingga sulit pergi ke toko. Jam buka program bantuan yang terbatas menambah satu rintangan lagi.

Ketika toko terdekat bisa dijangkau, isinya belum tentu menolong. Para partisipan menyebut pangan segar jarang tersedia di toko sekitar mereka. Kalaupun ada, mutunya buruk. Seorang partisipan mengatakan barang yang seharusnya segar tidak bertahan lama sesudah dibeli. Beberapa orang juga kesulitan menemukan lumbung pangan lain ketika keadaan mereka sedang paling genting.

Sebagian partisipan membaca keadaan lingkungan itu dengan kacamata yang lebih lebar. Mereka menilai kawasan yang mayoritas penghuninya warga Afrika-Amerika menerima lebih sedikit investasi dan lebih sedikit sumber daya. Seorang partisipan bercerita pernah menerima bantuan yang seluruhnya sudah basi dan kedaluwarsa, sementara orang lain pulang membawa apel dan pisang segar.

Baca juga Skor Framingham dan Risiko Jantung Warga Miskin Malaysia

Harga yang Jauh dari Dompet

Di sisi lain, ada jarak yang tidak diukur dengan kilometer. Para penulis mencatat kesulitan itu tetap muncul bahkan ketika toko bahan pangan berada dekat rumah. Mereka menyimpulkan keterjangkauan, bukan kedekatan fisik semata, yang membatasi pilihan makanan para partisipan. Seorang partisipan merumuskannya dengan terang. “Tidak sulit menemukannya. Yang sulit adalah membelinya, karena harganya begitu mahal,” katanya tentang makanan sehat, dalam wawancara yang aslinya berbahasa Inggris. Ia menambahkan bahwa orang ingin memilih yang sehat, tetapi akhirnya mengambil yang kurang sehat demi harga yang lebih murah.

Sumber kesempitan itu berlapis. Pekerjaan yang tidak tetap, upah rendah, dan kehilangan pekerjaan secara mendadak membuat pemasukan sulit diandalkan. Uang yang ada lebih dulu pergi ke tempat tinggal, tagihan listrik dan air, atau obat. Makanan mendapat sisanya. Harga pangan yang terus naik kerap disebut sebagai penghalang.

Rumah yang penuh mempersempit ruang gerak lagi. Merawat orang tua yang sudah lanjut usia atau menampung kerabat menambah tekanan pada anggaran. Keluarga dengan bayi harus menyisihkan uang untuk popok dan susu formula. Seorang partisipan yang tinggal bersama 14 orang berkata makanan yang mereka peroleh tidak cukup bahkan untuk seminggu.

Bantuan yang Menjadi Sandaran

Pasangan kedua menyangkut pertolongan. Lumbung pangan dan program pangan berbasis komunitas kerap digambarkan para partisipan sebagai sumber yang vital. Dua program pemerintah federal, SNAP dan WIC, juga berperan penting bagi sebagian orang. SNAP adalah program bantuan gizi yang oleh partisipan disebut kupon makanan. Pertolongan tidak hanya datang dari lembaga. Banyak partisipan bersandar pada keluarga, teman, dan tetangga ketika membutuhkan tambahan. Seorang di antaranya berkata ia meminta bantuan kepada ayah, kakak, atau adiknya bila sudah benar-benar lapar. Gereja pun disebut sebagai tempat yang bisa diandalkan untuk memperoleh makanan.

Iman ikut menjadi penopang. Para penulis mencatat doa dan keyakinan bahwa Tuhan akan mencukupi kebutuhan menjadi sumber ketenangan yang kuat bagi banyak pasien. Sejumlah partisipan juga menekankan pentingnya tetap berpikir positif. Mereka mengajari anak-anaknya untuk tidak terlalu larut memikirkan keadaan itu.

Bantuan yang Tak Selalu Tiba

Pada sisi kedua, pertolongan yang sama terasa goyah. Sebagian partisipan mengeluhkan mutu dan ragam isi paket yang tidak konsisten. Seorang partisipan berharap ada lebih banyak variasi, sambil mengakui bahwa barang itu berasal dari sumbangan. Program federal pun punya pagar yang sempit.

“Mereka bilang penghasilan saya 100 dolar lebih besar daripada batas untuk mendapat SNAP, jadi saya tidak bisa lagi memperoleh kupon makanan,” tutur seorang partisipan, dalam bahasa Inggris. Yang lain merasa jumlah bantuan yang diterima tidak sepenuhnya menutup kebutuhan rumah tangga mereka. Kelangkaan itu juga punya kalender. Banyak partisipan menyebut masa sulit yang bisa ditebak, terutama menjelang akhir bulan, ketika gaji atau bantuan sudah habis. Para penulis menduga sebabnya upah dan bantuan cair di awal bulan lalu terpakai untuk tagihan dan kewajiban lain.

Musim ikut berbicara. Seorang partisipan menyebut musim panas sebagai masa yang paling berat karena anak-anak berada di rumah sepanjang waktu, dan di rumah mereka makan. Para penulis menilai sisi waktu inilah salah satu sumbangan penting naskah mereka, sebab kekurangan yang datang berulang mengikuti jadwal bantuan sering luput dari penelitian berbasis angka.

Yang tersedia dan yang tetap mengganjalYang tersedia dan yang tetap mengganjalYang tersedia dan yang tetap mengganjalJalan 52 warga Alabama menuju makananYang adaGanjalannyaAda yang dekatHarga mahalToko bahan panganSumber vitalMutu tak konsistenLumbung panganJadi andalanSyarat ketatSNAP dan WICAda mobilBensin tak terbeliKendaraanDisarikan dari tema wawancara; bukan hasil hitungan.
Sumber: Catheryn A. Orihuela, Joanna Bateman, Brianna Dotson, Lori Brand Bateman, dan Anna Pyle, Food insecurity in the Deep South: a qualitative study exploring the lived experience of food insecure adults, BMC Public Health, artikel dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Beban yang Ditanggung Tubuh

Pasangan ketiga adalah akibatnya. Pada tubuh, akibat itu bertemu dengan penyakit yang sudah lebih dulu ada. Para partisipan khawatir tidak mampu mengikuti anjuran makan dari dokter mereka, karena makanan yang dianjurkan sulit dijangkau. Mereka berusaha menimbang kebutuhan penyakitnya dengan isi dompetnya. Seorang pasien menjelaskan ia berusaha makan sesehat mungkin, tetapi kadang harus mengorbankan bahan segar dan mengambil makanan yang tahan lama di rak. “Dengan diabetes, itu agak sulit dijalankan,” katanya. Partisipan lain berkata tidak bisa menyantap makanan yang sudah dimasak bila ternyata menaikkan gula darahnya.

Pilihan belanja mengikuti logika yang sama. Banyak partisipan mendahulukan harga di atas mutu agar keluarga bisa makan lebih lama. Buah dan sayur segar digambarkan sebagai kemewahan sesekali, bukan bahan sehari-hari. Mereka merencanakan menu dengan cermat, membeli dalam jumlah besar bila mungkin, dan memburu barang diskon.

Lapar adalah kenyataan bagi sebagian orang. Para partisipan bercerita melewatkan waktu makan atau mengurangi porsinya sendiri supaya persediaan cukup sampai gaji atau bantuan berikutnya. Orang tua terutama menegaskan kebutuhan anak mereka dahulukan. Seorang partisipan berkata ia tidak harus makan setiap hari, dan kadang hanya makan sekali sehari.

Baca juga Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien

Beban yang Ditanggung Batin

Pada batin, akibatnya lebih sunyi. Para partisipan kerap mengungkapkan rasa malu dan merasa dicap karena harus meminta bantuan untuk makan, sampai sebagian enggan mencari pertolongan. Mereka menggambarkan tekanan yang terus ada karena takut kehabisan makanan, kesal pada keadaan, dan rasa bersalah karena tidak mampu memberi makan keluarga sebaik yang mereka inginkan.

Seorang partisipan menyebut kecemasan sebagai masalah utamanya, sebab ia kewalahan dan tidak bisa mendapatkan yang ia perlukan. Para penulis merangkai dua beban itu dalam satu kalimat. “Penuturan para partisipan menunjukkan bahwa rawan pangan bukan hanya soal memperoleh makanan yang cukup, melainkan juga tekanan berkelanjutan yang memengaruhi kesehatan, cara bertahan, dan kesejahteraan,” tulis Orihuela dan rekan-rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Dari sana mereka mengusulkan agar bantuan tidak berhenti pada pembagian makanan. Usul itu mencakup dukungan angkutan atau pembagian keliling, jam buka lumbung pangan yang lebih panjang, serta anjuran makan dari klinik yang menimbang dari mana pasien sebenarnya memperoleh makanannya. Program pangan, menurut mereka, juga berpeluang menyertakan pemeriksaan kesehatan jiwa.

Batas penelitian ini diakui para penulisnya. Wawancara berlangsung sangat singkat untuk membicarakan soal serumit diskriminasi. Semua partisipan adalah pasien berpenyakit menahun yang sudah dirujuk ke lumbung pangan mitra rumah sakit. Pengalaman mereka belum tentu mencerminkan warga rawan pangan lain di luar jalur rujukan itu.

Ada pula beberapa hal dalam naskah yang patut dicek pembaca. Pendapatan rata-rata partisipan ditulis 13.704 dolar per bulan, angka yang ganjil untuk kelompok rawan pangan, dan 17 orang tidak mengisinya. Nomor persetujuan etik tertulis berbeda di dua bagian naskah. Sebagian paragraf pada salinan yang kami baca juga tersusun acak.

Toko yang dekat dan piring yang tidak terisi, bantuan yang menolong dan bantuan yang habis sebelum akhir bulan, tubuh yang sakit dan batin yang malu. Naskah ini tidak menimbang mana yang lebih berat di antara tiap pasangan itu. Para penulis hanya mencatat bahwa bagi 52 orang di Birmingham, semuanya datang bersamaan di meja makan yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Makin Banyak Toko Tembakau Dekat Sekolah, Makin Banyak Siswa Vape
Anak Gemuk di Mesir Lebih Sering Diejek di Rumah daripada Sekolah
Tikus dan Curut Beda, Curut Tak Bawa Penyakit seperti Tikus
Kehujanan Bikin Flu? Dokter IPB: Penyebabnya Virus, Bukan Hujan
Cium Bau Gas LPG Bocor? Ini Langkah Pertama Menurut Dosen ITS
Belanja Sayur Daring di Shanghai Lebih Ramai di Kawasan Mapan