Karyawan Jeddah Diam Saat Dihina Atasan, Badannya yang Bicara

A A

Ilustrasi tepi laut Corniche Jeddah, Arab Saudi, dengan deretan pohon palem berlampu malam hari [Foto: Joseph Azrak/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Karyawan dari ketiga sektor mengaku menahan diri karena takut dibalas, disingkirkan, atau kehilangan pekerjaan.
  • Kepatuhan pada otoritas, hormat kepada yang lebih tua, dan kesabaran sebagai kebajikan berulang kali mereka sebut.
  • Sebagian juga melaporkan nyeri dada, migrain, atau gangguan pencernaan.
  • Pola yang kuat dalam wawancara adalah gambaran atasan yang kebal dari pertanggungjawaban.
  • Organisasi perlu saluran lapor rahasia yang tidak melewati atasan langsung.
Daftar Isi
  1. Diam yang Dipilih dengan Sadar
  2. Hormat dan Sabar yang Berubah Menjadi Pembenaran
  3. Kepala Pening, Jantung Berdebar
  4. Atasan yang Tidak Tersentuh
  5. Kopi Sepulang Kerja, Doa, dan Surat Mundur
  6. Ketika yang Salah Terasa Biasa
  7. Jalan Keluar yang Diusulkan dan Batas Naskah

Seorang karyawan dihina atasannya di depan rekan-rekan sekantor, lalu kembali ke mejanya dan bekerja seperti biasa. Ia tahu perlakuan itu tidak adil, rekan-rekannya juga tahu, tetapi tidak seorang pun membuka mulut. Yang ganjil bukan hinaannya, melainkan sunyi sesudahnya: orang yang paling dirugikan justru paling rapat menutup keluhan, sementara kepalanya pening dan tidurnya rusak di rumah.

Kejanggalan itu ditelusuri Megren Abdullah Altassan dari University of Business and Technology, Jeddah, Arab Saudi. Tulisannya berjudul Toxic leadership and employee health: exploring psychosocial stress pathways in organizational settings, dimuat di jurnal BMC Public Health tahun 2026 dalam edisi artikel yang masih dalam proses terbit, sehingga belum bervolume dan bernomor. Altassan mendengarkan 42 karyawan di Jeddah yang mengalami atau menyaksikan sendiri perilaku atasan yang merugikan secara berulang.

Mereka datang dari tiga dunia kerja. Sepuluh orang bekerja di layanan kesehatan, dua belas di perusahaan bisnis, dan dua puluh di lembaga pendidikan, dengan usia 25 sampai 55 tahun. Di antara mereka ada perawat, dokter senior, apoteker, analis keuangan, penasihat hukum, dosen, pustakawan, kepala sekolah, sampai seorang dekan. Perilaku atasan yang mereka ceritakan pun beragam: penghinaan, intimidasi, pilih kasih, ancaman pembalasan, sampai pembiaran yang terus-menerus.

Siapa saja yang berceritaKesehatan: Pria +7, Wanita +3; Bisnis: Pria +7, Wanita +5; Pendidikan: Pria +11, Wanita +9.Siapa saja yang bercerita42 karyawan di Jeddah menurut sektor dan jenis kelaminPriaWanita369120Kesehatan73Bisnis75Pendidikan119Total 25 pria dan 17 wanita, berusia 25 sampai 55 tahun.
Sumber: Megren Abdullah Altassan, Toxic leadership and employee health: exploring psychosocial stress pathways in organizational settings, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Diam yang Dipilih dengan Sadar

Diam itu ternyata bukan tanda tidak mengerti. Karyawan dari ketiga sektor mengaku menahan diri karena takut dibalas, disingkirkan, atau kehilangan pekerjaan. Mereka merasa terjepit di antara tanggungan keuangan keluarga dan kesehatan jiwa sendiri, lalu memilih yang pertama. Altassan membaca sikap itu sebagai perhitungan, bukan kepasrahan buta.

“Diam ini bukan karena mereka tidak sadar akan ketidakadilan, melainkan strategi bertahan hidup yang adaptif di dalam sistem hierarkis yang kaku,” tulis Altassan dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Karena itu, diam bekerja seperti pelindung jangka pendek. Ia menjaga gaji tetap masuk, tetapi tidak menyediakan jalan keluar bagi beban yang terus menumpuk.

Persoalannya, diam itu menular dan saling menguatkan. Rekan kerja ikut diam, bagian sumber daya manusia pasif, dan harapan budaya di sekeliling mereka mengarah ke sikap yang sama. Lama-kelamaan, tulis Altassan, keadaan itu berujung pada sikap menarik diri, rasa putus asa, bahkan gejala badan seperti sulit tidur dan lelah berkepanjangan. Beban yang ditanggung tanpa saluran membuat mereka merasa makin terasing.

Hormat dan Sabar yang Berubah Menjadi Pembenaran

Yang membuatnya rumit, sebagian alasan untuk diam berasal dari nilai yang dijunjung para karyawan itu sendiri. Kepatuhan pada otoritas, hormat kepada yang lebih tua, dan kesabaran sebagai kebajikan berulang kali mereka sebut. Altassan mencatat nilai-nilai tersebut bekerja seperti saringan: perlakuan tidak adil yang melewatinya berubah rupa menjadi ketabahan rohani, atau malah menjadi kesalahan diri sendiri.

Seorang partisipan dari sektor kesehatan, yang dicatat penulis sebagai P8, menuturkannya begini dalam bahasa Inggris: “Kami diajari sejak kecil, jangan pernah membantah orang yang lebih tua atau lebih tinggi. Bahkan kalau manajer mempermalukanmu, kamu tetap hormat. Itu tidak benar, tetapi melawannya terasa seperti merusak budaya.” Kalimat terakhirnya menunjukkan letak simpulnya. Ia tahu itu salah, dan tetap tidak sanggup melawan.

Partisipan lain dari sektor pendidikan, P34, bercerita bahwa teman-temannya menyuruhnya bersabar karena Allah sedang mengujinya dan ia akan diberi ganjaran. Ia pun bertahan. Ia sempat berpikir mungkin dirinya memang pantas diperlakukan demikian, mungkin begitulah cara seseorang bertumbuh. Namun, katanya, rasa sakit itu tidak berhenti.

Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik

Kepala Pening, Jantung Berdebar

Kalau mulut ditutup, tekanan itu mencari jalan lain. Para partisipan kerap menggambarkan stres kronis, kelelahan, dan keruntuhan mental akibat perilaku atasan yang terus berulang. Altassan mendaftar serangan panik, burnout, suasana hati yang berubah-ubah, dan menarik diri dari pergaulan. Sebagian juga melaporkan nyeri dada, migrain, atau gangguan pencernaan.

P19, seorang partisipan dari sektor bisnis, menceritakan paginya: “Saya bangun dengan sakit kepala, jantung berdebar. Membayangkan harus menghadapinya lagi saja membuat saya mual. Di kantor saya tidak bisa fokus; saya hanya menghitung jam sampai pulang.” Dari tuturan semacam itu Altassan menyimpulkan tempat kerja mulai dikaitkan dengan rasa takut dan lelah pikiran, bukan lagi dengan semangat.

Mekanismenya digambarkan sebagai kewaspadaan yang tidak pernah turun. Intimidasi, pengawasan berlebihan, dan kata-kata merendahkan yang datang berulang membuat karyawan terus berjaga dan merasa tidak berdaya. Keadaan itu tidak tertinggal di kantor. Seorang partisipan dari sektor kesehatan mendapati anak-anaknya berkata ia sudah berubah: ia cemas, mudah membentak, dan tidak tidur.

Dari hinaan atasan sampai mati rasaDari hinaan atasan sampai mati rasaDari hinaan atasan sampai mati rasaRangkaian pengalaman yang dituturkan partisipanAtasanmenghina,menekanDiamtakutdibalasCemassulit tidurTerbiasadianggapwajarLelahbatin terkurasDisusun dari tujuh tema naskah; bukan urutan yang diukur.
Sumber: Megren Abdullah Altassan, Toxic leadership and employee health: exploring psychosocial stress pathways in organizational settings, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Atasan yang Tidak Tersentuh

Mengapa tidak melapor saja? Jawabannya ada pada cara para karyawan memandang posisi atasannya. Pola yang kuat dalam wawancara adalah gambaran atasan yang kebal dari pertanggungjawaban. Banyak yang disebut punya hubungan pribadi dengan manajemen senior atau bagian sumber daya manusia, yang oleh para partisipan dikaitkan dengan wasta, yakni pilih kasih atau koneksi.

P4, dari sektor kesehatan, melukiskannya dengan getir: “Semua orang tahu dia dekat dengan direktur. Dia bercanda dengan HR seperti kawan lama. Jadi, siapa yang akan menyentuhnya?” Partisipan lain dari sektor pendidikan menyebut atasannya sudah tiga kali naik jabatan meski dikeluhkan. Beberapa orang merasa organisasi lebih menghargai status atau sumbangan pendapatan sang pemimpin ketimbang keselamatan batin bawahannya.

Bagian sumber daya manusia tidak dilihat sebagai penengah. Para karyawan memandangnya sebagai perpanjangan tangan manajemen, yang hadir hanya untuk urusan berkas kebijakan. Keluhan, menurut cerita mereka, sering diabaikan, ditunda, atau dianggap berlebihan. Akibatnya berantai: orang enggan melapor lagi, dan pilihan yang tersisa tinggal dua, yaitu menanggungnya dalam diam atau keluar dari organisasi.

Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia

Kopi Sepulang Kerja, Doa, dan Surat Mundur

Di sela tekanan itu, para karyawan tetap mencari cara bertahan. Sebagian bersandar pada rekan senasib dalam lingkar curhat. Seorang partisipan dari sektor pendidikan bercerita tentang kelompok berempat yang bertemu minum kopi sepulang giliran kerja untuk mengeluh atau menertawakan keadaan. Yang lain memilih menjauh secara batin selama bekerja, membatasi pertemuan dengan atasan, atau mengajukan pindah.

Ada pula yang berpaling ke doa. “Saya banyak berdoa. Itulah yang membantu saya bernapas. Setiap malam saya meminta kekuatan kepada Tuhan. Akhirnya saya berdamai dan menyerahkan surat pengunduran diri. Saya pergi dengan martabat yang utuh,” tutur P23, partisipan dari sektor bisnis. Bagi Altassan, garis antara ketangguhan dan menyerah di sini sering kabur.

Cara-cara itu, menurut penulis, memang meredakan luka sesaat. Akan tetapi, semuanya berlangsung di tingkat perorangan dan tidak menyentuh persoalan yang bersifat sistemik. Atasan yang sama tetap di kursinya, saluran keluhan yang sama tetap buntu. Orang yang berdoa, bercanda, atau mengundurkan diri menyelamatkan dirinya sendiri, sementara keadaan yang melukainya tinggal untuk karyawan berikutnya.

Ketika yang Salah Terasa Biasa

Tahap yang paling senyap datang belakangan. Beberapa karyawan mengaku perlahan menerima perilaku buruk itu sebagai sesuatu yang memang begitu adanya di sektor atau organisasi mereka. P29, dari sektor pendidikan, mengingat dirinya terkejut ketika pertama kali dihina di depan semua orang. Beberapa bulan kemudian hal itu terasa normal. Saat itulah, katanya, ia sadar ada yang salah pada dirinya juga, bukan hanya pada atasannya.

Di titik ini kerusakannya berpindah dari tubuh ke jati diri. Para partisipan bergulat dengan harga diri, martabat, dan identitas profesional. Makin lama bertahan, makin mereka meragukan kemampuan sendiri mengenali batas etika, dan sebagian takut dirinya sudah mati rasa. P11, dari sektor kesehatan, berkata ia bertahan demi uang tetapi kehilangan sebagian dirinya. Ia berhenti bereaksi, berhenti peduli.

Baca juga Distres Psikologis Naikkan Peluang Sulit Bayar Tagihan

Jalan Keluar yang Diusulkan dan Batas Naskah

Dari tuturan itu Altassan menurunkan beberapa usulan. Organisasi perlu saluran lapor rahasia yang tidak melewati atasan langsung, misalnya layanan pengaduan lewat telepon, ombudsperson independen, atau pihak ketiga. Setiap keluhan semestinya mendapat tanda terima tertulis, perlindungan dari pembalasan, tenggat penyelidikan, dan kabar tentang hasilnya. Ia juga mengusulkan pelatihan kepemimpinan wajib serta dukungan kesehatan jiwa yang rahasia.

“Mengatasi kepemimpinan toksik di organisasi Saudi menuntut lebih dari ketangguhan perorangan; ia menuntut akuntabilitas struktural, pengembangan kepemimpinan yang peka budaya, dan penciptaan ruang aman bagi suara karyawan,” tulis Altassan. Pelatihan yang ia bayangkan memisahkan wibawa yang sah dari intimidasi, dengan bersandar pada prinsip rahmah, ‘adl, dan amanah, yakni kasih sayang, keadilan, dan sifat dapat dipercaya.

Penjelasan ini punya batas yang diakui penulisnya. Hanya 42 orang di satu kota yang didengar, dan hampir separuhnya dari sektor pendidikan, sehingga suara sektor itu bisa lebih menonjol. Seluruh wawancara berlangsung dalam bahasa Inggris, yang belum tentu bahasa pertama tiap partisipan, dan hanya sekitar 25 sampai 30 menit. Perilaku atasan pun diketahui semata dari pengakuan karyawan. Semuanya dikode oleh Altassan seorang diri.

Ada beberapa hal kecil yang bisa diperiksa pembaca di naskahnya. Versi yang beredar masih berstatus belum disunting, dan penerbit sendiri mencantumkan peringatan bahwa naskah akan disunting lagi. Kata sabar dalam bahasa Arab ditulis sabr di badan tulisan, tetapi Sabir dalam kutipan P34. Altassan menjanjikan tiga langkah bagi organisasi, lalu menambahkan butir keempat yang dibuka dengan kata “Ultimately”. Ia juga penulis tunggal yang beberapa kali menulis “temuan kami”.

Maka sunyi sesudah hinaan di kantor itu punya penjelasannya. Karyawan dalam naskah Altassan diam bukan karena tidak merasa apa-apa, melainkan karena gaji, rasa hormat, kesabaran, dan atasan yang terlindung koneksi sama-sama menahan lidah mereka. Yang tidak terucap lalu muncul di tempat lain: pada kepala yang pening saat bangun pagi, pada tidur yang hilang, dan pada rasa asing terhadap diri sendiri.

Bagikan

Baca Juga

Toko Dekat Rumah, Warga Alabama Tetap Tak Sanggup Makan Sehat
Makin Banyak Toko Tembakau Dekat Sekolah, Makin Banyak Siswa Vape
Anak Gemuk di Mesir Lebih Sering Diejek di Rumah daripada Sekolah
Tikus dan Curut Beda, Curut Tak Bawa Penyakit seperti Tikus
Kehujanan Bikin Flu? Dokter IPB: Penyebabnya Virus, Bukan Hujan
Cium Bau Gas LPG Bocor? Ini Langkah Pertama Menurut Dosen ITS