- Dari tumpukan kartu itu muncul tiga cara pandang yang berbeda tajam.
- Karena merasa bisa berhenti kapan saja, kelompok ini paling keras menolak pernyataan bahwa mereka tidak akan pernah berhenti merokok.
- Mereka sepakat bahwa dulu hanya mencoba-coba, tanpa niat menjadi perokok tetap.
- Rokok juga menjadi salah satu dari sedikit kesempatan untuk menyendiri.
- Karena itu mereka mengusulkan konseling yang berbeda untuk tiap cara pandang.
Daftar Isi
- Sebelas pemuda yang merasa memegang kendali atas rokoknya
- Delapan pemuda yang ingin berhenti tetapi merasa terjebak
- Sembilan pemuda yang menjadikan rokok obat segala suasana hati
- Hal-hal yang disepakati ketiga kelompok, dari kopi sampai lapangan bola
- Yang belum terjawab dan yang patut diperiksa pembaca dalam naskah ini
Seorang pemuda di Yordania menyalakan rokok justru karena ia membenci baunya. Bila orang di sebelahnya merokok, ia ikut menyulut sebatang agar tidak perlu menghirup asap milik orang itu. Ia juga tidak suka bau tersebut menempel di badannya dan tercium oleh orang lain. Pengakuan itu dicatat para peneliti dari seorang mahasiswa perokok yang mereka beri kode P27.
Pengakuan tersebut termuat dalam artikel Applying Q-methodology to understand how young adult males in Jordan view their tobacco use karya N. Obeidat, D. Amro, O. Al-leimon, dan Y. Dodin. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 nomor artikel 529 tahun 2026. Tiga penulisnya bekerja di Cancer Control Office, King Hussein Cancer Center, Amman, sedangkan Al-leimon berasal dari School of Medicine, The University of Jordan.
Yordania, tulis mereka, termasuk negara dengan angka merokok pria tertinggi di dunia. Di antara pria berusia 15 tahun ke atas, 71,2 persen memakai tembakau atau nikotin elektronik, dan rokok bakar adalah bentuk yang paling lazim. Usia mulai merokok pun makin muda. Survei nasional 2019 mencatat rata-rata 16,6 tahun pada perokok berusia 18 sampai 44 tahun, dibanding 18,7 tahun pada perokok berusia 45 sampai 69 tahun.
Yang belum banyak diketahui adalah isi kepala para perokok muda itu sendiri. Maka 35 pria perokok berusia 18 sampai 24 tahun dari berbagai jurusan perguruan tinggi di Yordania diminta memilah 94 pernyataan tentang rokok menurut seberapa cocok dengan diri mereka. Dari tumpukan kartu itu muncul tiga cara pandang yang berbeda tajam. P27 hanya mewakili satu di antaranya.
Angka tentang para pemuda itu sudah berbicara lebih dulu. Usia rata-rata mereka 21,91 tahun dan mereka mulai merokok pada usia rata-rata 16,46 tahun. Lima belas dari 35 orang menghabiskan 20 sampai 29 batang sehari, empat orang lagi 30 batang atau lebih. Enam orang bahkan terbangun pada malam hari untuk merokok.
Sebelas pemuda yang merasa memegang kendali atas rokoknya
Kelompok pertama berisi sebelas partisipan. Mereka merasa mengendalikan rokok, bukan dikendalikan olehnya. Mereka menolak anggapan bahwa dirinya lemah di hadapan kecanduan nikotin, dan menolak pula pernyataan bahwa rokok adalah hal pokok dalam hidup. Bagi mereka merokok cuma satu kebiasaan lain, setara dengan makan cokelat atau minum kopi, sebagaimana diucapkan partisipan berkode P8.
Batas harian menjadi tanda kendali itu. Partisipan yang dicatat sebagai P3 mengaku menjaga agar tidak melewati sebungkus sehari; kalaupun bungkus itu habis lebih awal, ia tidak menambah. P8 selalu mengawasi jumlah rokoknya dan menurunkannya kembali bila mulai naik. P35 pernah berhenti enam bulan dan yakin dapat mengulanginya.
Keyakinan itu punya akibat. Karena merasa bisa berhenti kapan saja, kelompok ini paling keras menolak pernyataan bahwa mereka tidak akan pernah berhenti merokok. Mereka juga percaya dampak kesehatan baru datang setelah bertahun-tahun, sehingga masih tersedia cukup waktu. Menurut para penulis, kepercayaan tersebut tampak mengikis rasa mendesak untuk berhenti dalam waktu dekat.
Sebutan perokok pun mereka tampik. Label itu, dalam pandangan mereka, melekat pada kelemahan, keputusasaan, dan hilangnya kendali. Sebagian menjadi defensif ketika dicap demikian, lalu menegaskan bahwa mereka tidak merokok berat, tidak bergantung, dan bisa berhenti kapan pun. Meski begitu, kelompok ini tetap setuju bahwa orang yang kecanduan sekalipun seharusnya berbuat sesuatu.
Baca juga Siswa Laki-laki Merokok 34 Persen, Perempuan Hanya 1,5 Persen
Delapan pemuda yang ingin berhenti tetapi merasa terjebak
Kelompok kedua adalah tempat P27 berada. Delapan partisipan di sini memikirkan betul sifat adiktif rokok dan bahayanya bagi tubuh. Mereka menolak pernyataan bahwa ketergantungan pada rokok dibesar-besarkan, menolak anggapan bahwa rokok tidak memengaruhi cara hidup, dan tidak setuju dengan kalimat yang menyebut mereka menyukai rasa serta bau rokok.
Mereka sepakat bahwa dulu hanya mencoba-coba, tanpa niat menjadi perokok tetap. P27 mengaku tidak pernah menyangka akan terus merokok sampai setingkat sekarang, lalu merasa tertahan dan tidak mampu berhenti. Ia menyebut kecanduan itu brutal. Mengurangi jumlah batang saja ia sudah kepayahan, apalagi berhenti sama sekali.
Perumpamaan paling tajam datang dari partisipan lain. “Saya menganggap merokok seperti berada dalam hubungan yang beracun — saya seperti tidak sanggup meninggalkannya,” ujar seorang partisipan yang dicatat penulis sebagai P16, dalam kutipan yang aslinya berbahasa Inggris. Ia merasa kecanduan layaknya pecandu narkoba. Namun kelompok ini secara keseluruhan hanya sedikit setuju bahwa kecanduan rokok seberat kecanduan narkoba atau alkohol.
Lingkungan menjadi tembok mereka. P16 berkata akan berhenti bila teman-temannya berhenti. P23 menyesali bahwa sejak kecil ia melihat ayahnya merokok tanpa menganggapnya salah, sehingga kebiasaan itu terasa wajar. Berbeda dari gambaran dalam riset terdahulu yang menempatkan rokok sebagai pelancar pergaulan, bagi kelompok ini dikelilingi perokok justru memicu keinginan menyulut sebatang.
Tubuh sudah memberi tanda. P11 dulu gemar mendaki, kini cepat sesak dan makin jarang pergi. P17 mengaku sempat jatuh ke episode depresi karena tidak sanggup berhenti. Para penulis mencatat banyak anggota kelompok ini menyadari kemunafikan meneruskan perilaku yang mereka tolak sendiri, dan kesadaran itu berbuah frustrasi serta kecaman pada diri sendiri.
Baca juga Keseimbangan Pikiran Ubah Niat Berhenti Rokok Mahasiswi
Sembilan pemuda yang menjadikan rokok obat segala suasana hati
Kelompok ketiga tidak menyesal. Sembilan partisipan ini menolak paling keras kalimat bahwa mereka bukan perokok, melainkan sekadar orang yang merokok; rokok sudah menjadi bagian dari siapa mereka. Sebagian besar partisipan di ketiga kelompok mengaku merokok saat tertekan. Kelompok ini menyulut rokok dalam jauh lebih banyak keadaan.
Mereka merokok ketika bosan, ketika ingin berpikir lebih jernih, ketika perlu memusatkan perhatian, ketika murung, dan ketika menghadapi situasi sulit. Rokok juga menjadi salah satu dari sedikit kesempatan untuk menyendiri. P22 menyebut rokok membuat bermain gim video, minum kopi, selesai makan, dan bermain kartu bersama teman terasa lebih nikmat. Kalau tidak ada yang dikerjakan, ia merokok.
P6 mengaku berkata kepada dirinya sendiri setiap menghadapi keadaan berat: yang ini butuh sebatang rokok. Waktu terasa lambat di kawasan bebas rokok, katanya, dan ia bisa menjadi sangat kasar bila lama tidak merokok. P33 lebih ringkas. Ia tahu rokok buruk baginya, tetapi tidak peduli.
Soal berhenti, sikap kelompok ini netral atau mendua. Mereka hanya setuju bahwa harus ada alasan yang sangat meyakinkan. P22 menilai manfaat yang ia peroleh lebih besar daripada risikonya dan baru akan memikirkan berhenti kelak, bila sudah menemukan cara lain untuk mengatasi persoalan. Para penulis juga mencatat penyangkalan: sebagian menunjuk perokok yang hidup sampai usia 90 tahun tanpa masalah kesehatan.
Hal-hal yang disepakati ketiga kelompok, dari kopi sampai lapangan bola
Di beberapa titik ketiganya bertemu. Semua kelompok menolak gagasan bahwa merokok adalah kebebasan pribadi yang tak boleh dibatasi tempat maupun harganya, juga gagasan bahwa merokok terasa memberontak atau membuat seseorang lebih istimewa. Menurut para partisipan, cara berpikir begitu milik remaja. P23 malah berpendapat sebaliknya: tidak merokok kini terasa unik karena begitu banyak orang merokok.
Mereka pun menolak kalimat bahwa pada usia mereka masih terlalu dini memikirkan dampak rokok, dan bahwa merokok adalah perilaku yang sepenuhnya wajar. P27 menyatakan merokok tidak akan pernah menjadi perilaku normal, sekalipun semua orang di sekitarnya melakukannya. P26 bahkan menganggap menaikkan harga sebagai strategi yang baik untuk mengurangi jumlah perokok.
Dua hal disetujui bersama. Rokok menambah nikmat kegiatan harian seperti makan dan minum kopi; P14 pernah mencoba kopi tanpa rokok dan rasanya tidak seenak biasanya. Rokok juga membatasi kemampuan fisik. P7 dulu sanggup bermain sepak bola 90 menit penuh, sekarang sepuluh menit berlari saja sudah kehabisan napas.
Di titik inilah para penulis menarik benang. “Studi kami menunjukkan cara-cara yang rumit dan mungkin saling bertentangan dalam hal bagaimana merokok dipersepsikan, dialami, dan dirasionalisasi oleh kelompok usia perokok ini,” tulis N. Obeidat, D. Amro, O. Al-leimon, dan Y. Dodin dalam naskah mereka yang aslinya berbahasa Inggris.
Karena itu mereka mengusulkan konseling yang berbeda untuk tiap cara pandang. Perokok yang merasa berkendali disarankan didekati dengan menekankan otonominya. Perokok yang sadar kesehatan dibantu menyelesaikan kebimbangan dan pelan-pelan didukung untuk memulai perubahan. Perokok yang memakai rokok untuk mengatur emosi dibantu menata ulang identitasnya dalam hubungan dengan rokok.
Baca juga Warga Bangkok Membeli Alkohol di Minimarket, Tembakau di Warung
Yang belum terjawab dan yang patut diperiksa pembaca dalam naskah ini
Temuan ini berdiri di atas 35 pria, semuanya dijaring dari perguruan tinggi lewat kabar mulut ke mulut, rujukan sesama partisipan, dan poster di media sosial. Tiga cara pandang itu mewakili sekitar 48 persen keragaman jawaban. Naskah tidak memuat bagian keterbatasan tersendiri, tetapi para penulis menyebut pernyataan-pernyataan mereka masih perlu dikembangkan dan divalidasi menjadi alat ukur dalam riset berikutnya. Perempuan dan pemuda di luar kampus tidak termasuk di dalamnya.
Ada beberapa hal yang dapat diperiksa pembaca. Abstrak menyebut 90 persen pria Yordania mulai merokok sebelum usia 24 tahun, sementara di badan naskah angka itu muncul tepat setelah kalimat tentang 71,2 persen pria pengguna tembakau, sehingga tidak jelas 90 persen dari siapa. Jumlah partisipan penciri pada tiga cara pandang adalah sebelas, delapan, dan sembilan, atau 28 orang. Naskah tidak menerangkan posisi tujuh partisipan lainnya.
Ada pula kekeliruan kecil. Pernyataan nomor 42 ditulis dengan redaksi berbeda di dua tabel, sebuah nomor rujukan pustaka terselip di dalam kutipan ucapan P23, dan nama King Hussein Cancer Center sekali ditulis King Hussien. Data mentah tidak dibuka untuk umum karena aturan lembaga; permintaan akses harus melewati dewan etik.
Tinggal P27 dan sebatang rokok yang ia sulut untuk mengusir bau rokok orang lain. Di antara 35 pemuda itu, ada yang yakin memegang kendali dan ada yang menjadikan rokok kawan untuk setiap suasana hati. P27 berdiri di tempat ketiga: membenci baunya, menolak menyebutnya normal, dan tetap menyalakannya.















