Lansia Korea yang Pendengarannya Baik Lebih Lama Hidup Mandiri

A A

Dua lansia bertongkat berjalan di jalan menanjak permukiman di Seoul, Korea Selatan [Foto: thejourneyofframes/Pexels]

  • Jawaban 3.398 orang berusia 65 tahun ke atas dicatat tiga kali, pada 2020, 2022, dan 2024.
  • Rata-rata skor pendengaran turun dari 3,35 pada 2020 menjadi 3,26 pada 2024.
  • Pendengaran awal yang lebih baik berkaitan dengan penurunan kemandirian yang lebih lambat.
  • Pendengaran yang lebih baik pada 2020 diikuti kemandirian lebih besar pada 2022 dan mutu hidup lebih tinggi pada 2024.
  • Pendengaran diukur lewat satu pertanyaan yang dijawab sendiri, bukan lewat pemeriksaan audiometri.
Daftar Isi
  1. Rumah-rumah di seluruh Korea, kecuali Pulau Jeju
  2. Telinga yang menumpul tanpa rasa sakit
  3. Dapur, pasar, dan kotak obat
  4. Rasa puas dibanding teman sebaya
  5. Alat bantu dengar bukan jalan pintas
  6. Batas dari satu pertanyaan

Sepuluh urusan menjadi takaran apakah seorang lansia di Korea Selatan masih sanggup hidup tanpa bantuan orang lain. Merapikan diri, membereskan rumah, menyiapkan makanan, mencuci pakaian, pergi ke tempat yang dekat, naik kendaraan, berbelanja, mengatur uang, memakai telepon, dan mengurus obat. Tiap urusan dinilai dalam tiga tingkat: mandiri, bergantung sebagian, atau bergantung sepenuhnya.

Daftar itu dipakai Su Jeong Yang, Jee-Won Kim, dan Mina Park dalam artikel Longitudinal association between the hearing level and quality of life among older adults in south Korea: ascertaining the mediating effect of instrumental activities of daily living using latent growth and autoregressive cross-lagged models, yang terbit di BMC Public Health tahun 2026. Yang dan Park adalah asisten profesor di College of Nursing, Gumi University, di Gumi. Kim asisten profesor di Department of Nursing, Daedong University, di Busan.

Ketiganya menyandingkan sepuluh urusan tadi dengan dua pertanyaan yang jauh lebih pendek. Bagaimana pendengaran Anda? Lalu, dibanding orang seusia, seberapa puas Anda dengan mutu hidup secara keseluruhan? Jawaban 3.398 orang berusia 65 tahun ke atas dicatat tiga kali, pada 2020, 2022, dan 2024. Hasilnya membentuk satu rangkaian: pendengaran yang lebih baik di awal diikuti kemandirian yang lebih terjaga, lalu mutu hidup yang lebih tinggi.

Rumah-rumah di seluruh Korea, kecuali Pulau Jeju

Catatan itu berasal dari Korean Longitudinal Study of Aging, survei panel yang dijalankan Korea Employment Information Service. Survei tersebut mengikuti orang yang sama dari waktu ke waktu, yakni penduduk berusia 45 tahun ke atas yang tinggal di tengah masyarakat di seluruh negeri, kecuali Pulau Jeju. Pewawancara terlatih mendatangi mereka dengan kuesioner terstruktur.

Wajah para lansia itu tergambar dari angka-angkanya. Perempuan 59,2 persen. Usia rata-rata 69,51 tahun. Hampir separuhnya, 47,3 persen, berpendidikan sekolah dasar atau lebih rendah, dan itulah kelompok pendidikan terbesar. Sebanyak 87,5 persen menempati rumah milik sendiri. Satu rumah rata-rata dihuni 2,88 orang, termasuk si lansia.

Tidak semua yang ditemui pada 2020 bertahan sampai akhir. Dari 4.405 lansia di gelombang pertama, 330 orang tidak ikut pada 2022 dan 411 orang lagi tidak ikut pada 2024. Sebanyak 266 orang lain dikeluarkan karena datanya tidak lengkap. Mereka yang tersisa, menurut para penulis, umumnya lebih muda, lebih tinggi pendidikan dan pendapatan rumah tangganya, serta lebih baik pendengaran, kemandirian, dan mutu hidupnya.

Lansia Korea dalam tiga kali surveiLansia Korea dalam tiga kali surveiLansia Korea dalam tiga kali surveiKorean Longitudinal Study of Aging 2020, 2022, 20243.398lansia65 tahun ke atas59,2%perempuandari seluruhpeserta10urusan hariantakarankemandirian87,5%rumah sendiristatus hunianJalan risetnya4.405 lansia pada 2020741 tidak ikut lanjut3.398 dianalisis
Sumber: Su Jeong Yang, Jee-Won Kim, dan Mina Park, Longitudinal association between the hearing level and quality of life among older adults in south Korea: ascertaining the mediating effect of instrumental activities of daily living using latent growth and autoregressive cross-lagged models, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Separuh Lansia Pusat Warga Emas Klang Valley Menua Sehat

Telinga yang menumpul tanpa rasa sakit

Latar persoalannya besar. Mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2021, para penulis mencatat sekitar 1,5 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan pendengaran pada 2019. Sebanyak 430 juta di antaranya mengalami gangguan tingkat sedang atau lebih berat yang memerlukan rehabilitasi. Pada 2050 jumlahnya diperkirakan sekitar 2,5 miliar orang, setara satu dari empat penduduk dunia.

Korea Selatan bergerak ke arah yang sama. Sebuah kajian atas data asuransi kesehatan nasional yang dirujuk naskah itu melaporkan jumlah pasien gangguan pendengaran naik sekitar 55,9 persen antara 2010 dan 2020. Kenaikan paling mencolok terjadi pada orang berusia 60 tahun ke atas. Gangguan pendengaran karena usia, tulis para penulis, biasanya datang perlahan dan tanpa nyeri. Akibatnya ia kerap tidak segera disadari, lalu diagnosis dan rehabilitasi tertunda.

Di rumah-rumah yang didatangi pewawancara, pendengaran dinilai sendiri oleh pemiliknya. Skalanya lima tingkat, dari sangat buruk sampai sangat baik, dan angka yang lebih tinggi berarti pendengaran yang lebih baik. Rata-rata skornya 3,35 pada 2020, lalu 3,34 pada 2022, dan 3,26 pada 2024.

Penurunan itu bertahap dan bermakna secara statistik. Ada satu hal lagi yang dicatat naskah. Para lansia berbeda satu sama lain dalam titik awal pendengarannya, tetapi laju menurunnya relatif serupa. Keragaman laju penurunan antarpeserta, menurut hasil analisis mereka, tidak bermakna secara statistik.

Tiga skor yang sama-sama turunTiga skor yang sama-sama turunTiga skor yang sama-sama turunRata-rata skor 3.398 lansia, makin tinggi makin baik202020243,353,26Pendengaran(1-5)2,942,84Kemandirian (1-3)6,316,10Mutu hidup (0-10)
Sumber: Su Jeong Yang, Jee-Won Kim, dan Mina Park, Longitudinal association between the hearing level and quality of life among older adults in south Korea: ascertaining the mediating effect of instrumental activities of daily living using latent growth and autoregressive cross-lagged models, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dapur, pasar, dan kotak obat

Kembali ke sepuluh urusan harian. Skor kemandirian rata-rata tercatat 2,94 pada 2020, turun menjadi 2,90 pada 2022 dan 2,84 pada 2024. Angka tertinggi untuk tiap urusan adalah tiga, yang berarti mandiri. Berbeda dari pendengaran, laju penurunan kemandirian tidak seragam. Lansia yang sejak awal lebih mandiri cenderung menurun lebih lambat.

Di sinilah telinga dan dapur bertemu. Lansia yang pendengarannya lebih baik pada titik awal juga lebih mandiri pada titik awal, dengan koefisien terstandar 0,339. Lebih dari itu, pendengaran awal yang lebih baik berkaitan dengan penurunan kemandirian yang lebih lambat sepanjang empat tahun, dengan koefisien 0,549.

Urutan waktunya ikut diperiksa. Pendengaran pada 2020 mendahului kemandirian pada 2022 dengan koefisien 0,102, dan kemandirian pada 2024 dengan koefisien 0,072. Pendengaran pada 2022 mendahului kemandirian pada 2024 dengan koefisien 0,075. Semuanya bermakna secara statistik. Kemandirian sendiri cenderung menetap: skor seseorang pada satu gelombang berkaitan dengan skornya pada gelombang berikutnya.

Mengapa pendengaran bisa berhubungan dengan urusan belanja atau obat? Para penulis menawarkan tiga jalur yang bersumber dari pustaka rujukan mereka. Upaya ekstra untuk menangkap suara menyita daya pikir yang semestinya tersedia untuk hal lain. Keseimbangan terganggu dan rasa takut jatuh muncul. Keikutsertaan dalam kegiatan sosial pun berkurang, sehingga orang makin jarang bergerak.

Baca juga Kesenjangan SES Perlebar Risiko Disabilitas Lansia Kota

Rasa puas dibanding teman sebaya

Pertanyaan ketiga menyangkut mutu hidup. Para lansia diminta menilai kepuasan atas mutu hidupnya dibanding orang seusia, lalu jawabannya dijadikan skor nol sampai sepuluh. Rata-ratanya 6,31 pada 2020, 6,29 pada 2022, dan 6,10 pada 2024. Mereka yang mula-mula memberi nilai tinggi cenderung menurun lebih curam.

Pendengaran dan mutu hidup berjalan beriringan. Pendengaran awal yang lebih baik berkaitan dengan mutu hidup awal yang lebih tinggi, dengan koefisien 0,076. Kaitan kemandirian dengan mutu hidup lebih besar, yakni 0,320. Dari gelombang ke gelombang, pendengaran pada 2020 mendahului mutu hidup pada 2022 dengan koefisien 0,053 dan pada 2024 dengan koefisien 0,052.

Kemandirian juga mendahului mutu hidup. Skor urusan harian pada 2020 berkaitan dengan mutu hidup pada 2022, dengan koefisien 0,069. Skor pada 2022 berkaitan dengan mutu hidup pada 2024, dengan koefisien 0,080. Dua mata rantai itu lalu disambung menjadi satu rangkaian.

Rangkaiannya begini. Pendengaran yang lebih baik pada 2020 diikuti kemandirian yang lebih besar pada 2022, yang kemudian diikuti mutu hidup yang lebih tinggi pada 2024. Besar pengaruh tidak langsung itu 0,017 dan bermakna secara statistik. Para penulis menyebutnya satu-satunya jalur tidak langsung yang bermakna dalam analisis antargelombang mereka.

Ada pula yang tidak ditemukan. Pendengaran awal dan kemandirian awal tidak cukup menjelaskan cepat atau lambatnya mutu hidup berubah. Naskah mengingatkan bahwa mutu hidup juga dibentuk status ekonomi, hubungan sosial, depresi, dan keikutsertaan sosial. Peristiwa besar seperti pensiun, ditinggal pasangan, tugas merawat keluarga, atau pindah tempat tinggal dapat mengubah arahnya, terlepas dari pendengaran.

Alat bantu dengar bukan jalan pintas

Angka 0,017 itu kecil, dan para penulis mengatakannya sendiri. Terjaganya kemampuan mengurus hal sehari-hari, tulis mereka, hanya menjelaskan sebagian kecil dari kaitan pendengaran dengan mutu hidup. Dalam praktik, perbaikan yang bisa diharapkan bersifat bertahap. Namun karena pendengaran, kemandirian, dan mutu hidup memang berubah pelan-pelan, kaitan yang kecil dapat menumpuk dan menjadi berarti pada tingkat populasi.

“Dengan demikian, temuan ini tidak boleh ditafsirkan seolah-olah rehabilitasi pendengaran saja akan membawa perbaikan mutu hidup yang besar atau cepat,” tulis Su Jeong Yang, Jee-Won Kim, dan Mina Park, tiga asisten profesor keperawatan itu, dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Pendengaran yang lebih baik, lanjut mereka, mungkin berkaitan dengan kemandirian yang lebih terjaga, yang pada gilirannya berkaitan dengan perbaikan mutu hidup sedikit demi sedikit.

Dari sana usulan mereka disusun. Program bagi lansia yang tinggal di tengah masyarakat dinilai akan terbantu bila pemeriksaan rutin atas kesulitan mendengar dan keterbatasan fungsi digabung dengan akses tepat waktu ke alat bantu dengar atau alat bantu lain. Rehabilitasi yang menopang urusan harian ikut disebut, bersama aktivitas fisik, keikutsertaan sosial, serta dukungan emosional dan dukungan berbasis komunitas.

Untuk Korea Selatan, naskah menunjuk tiga arah kebijakan. Memperluas jaminan untuk pemeriksaan pendengaran dan alat bantu dengar. Memperkuat layanan keperawatan lansia berbasis komunitas. Memadukan perawatan pendengaran ke dalam sistem perawatan jangka panjang dan perawatan komunitas terpadu. Semua itu, menurut para penulis, tetap perlu menyentuh faktor psikososial dan lingkungan yang lebih luas.

Baca juga Skor Kualitas Hidup Lansia Jantung Vietnam di Bawah Rata-rata

Batas dari satu pertanyaan

Para penulis mencatat keterbatasan kerja mereka dengan rinci. Pendengaran diukur lewat satu pertanyaan yang dijawab sendiri, bukan lewat pemeriksaan audiometri. Jawaban semacam itu bisa ikut mencerminkan pandangan orang tentang kesehatannya secara umum atau keadaan emosinya. Mutu hidup pun diukur dengan satu pertanyaan, yang mungkin tidak menangkap seluruh seginya.

Peserta yang bertahan sampai 2024 umumnya lebih muda dan lebih baik keadaan sosial ekonomi serta kesehatannya daripada yang gugur. Karena itu bias seleksi tidak dapat disingkirkan, dan temuannya belum tentu berlaku bagi seluruh lansia. Kaitan yang terukur bisa jadi lebih rendah dari yang sebenarnya. Gejala depresi, fungsi kognitif, dan penyakit kronis juga tidak dimasukkan ke dalam model.

Keterangan rinci tentang jenis dan lama pemakaian alat bantu dengar, implan koklea, layanan rehabilitasi, dan riwayat pengobatan tidak tersedia dalam data survei. Rentang 2020 sampai 2024 mungkin terlalu pendek untuk menangkap perubahan jangka panjang. Sebagian masa itu, 2020 sampai 2022, bertepatan dengan pandemi COVID-19, ketika pemakaian layanan kesehatan, kegiatan harian, dan keikutsertaan sosial ikut berubah.

Naskah ditutup dengan kembali ke kemampuan mengurus hal sehari-hari. Menjaga mutu hidup lansia, simpul para penulis, mungkin memerlukan strategi terpadu yang menggabungkan pengelolaan pendengaran dengan upaya mempertahankan sepuluh urusan itu, dari merapikan diri sampai mengurus obat. Apakah gabungan tersebut benar berkaitan dengan kemandirian dan mutu hidup yang lebih baik, kata mereka, masih harus diuji penelitian berikutnya.

Bagikan

Baca Juga

Anemia Anak Sekolah Tanzania Turun, Masih Empat dari Sepuluh
Lansia India Berpenyakit Kronis Lebih Sering Terpukul Bencana
Delapan dari Sepuluh Dokter di Zagazig Hindari Pasien Berisiko
Cemas Mahasiswa Lebanon saat Perang Terkait Bom, Bukan Pola Makan
Hampir Separuh Atlet Muda Damaskus Pernah Cedera Gigi dan Wajah
Enam Negara Cepat Menurunkan Stunting, Anak Miskin Tertinggal