- Trump menuding migran dan perbatasan terbuka sebagai penyebab kerusuhan di Prancis.
- Macron mengecam komentar bodoh dari sejumlah pihak, termasuk pemimpin asing.
- Lebih dari 2.000 orang ditahan polisi, sebagian besar di bawah umur.
Cekricek.id — Prancis menolak tudingan Trump bahwa migran dan kebijakan perbatasan terbuka menjadi penyebab gelombang protes, kerusuhan, dan penjarahan yang melanda negara itu.
“Jika Eropa tidak menutup perbatasannya dan mengeluarkan para penjahat, seperti orang-orang yang berunjuk rasa, Eropa tamat,” kata Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada Senin, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Kamis (22/10/2026). “Ketika saya melihat Prancis, Italia, semua kekacauan dan kebencian itu, itu bukan soal sekolah. Itu soal orang-orang yang datang ke negara yang mereka benci.”
Presiden Prancis Emmanuel Macron kemudian mengecam “komentar bodoh dari banyak pihak, termasuk pemimpin asing” terkait kerusuhan itu. Saat berkunjung ke Qatar, ia mengatakan tidak ada bukti campur tangan asing di balik kerusuhan.
“Mereka boleh berpikir apa saja. Kami fokus pada pokok persoalan, yaitu tuntutan para pelajar,” kata Bilal Narjissi, pelajar SMA Paul Eluard di dekat Paris, yang menyebut ucapan Trump “omongan bodoh”.
Presiden Institute for European Perspective and Security Studies Emmanuel Dupuy menilai argumen Trump ditujukan kepada pemilih AS. “Ini argumen artifisial yang dipakai sebagai alat politik dalam konteks pemilu sela,” katanya. “Pada akhirnya, ini masalah integrasi, bukan imigrasi.”
Komentar Trump muncul setelah demonstrasi pelajar SMA yang semula damai berubah ricuh akhir pekan lalu, saat perusuh menyerang balai kota dan menjarah toko. Lebih dari 2.000 orang ditahan polisi, sebagian besar di bawah umur, dan ribuan usaha dijarah. Otoritas Prancis tidak mengaitkan kejahatan dengan migrasi, dan hukum Prancis melarang pengumpulan data etnis dan ras.
“Kaum liberal Barat mengimpor dunia ketiga ke Prancis dan negara lain atas nama keberagaman dan belas kasih,” tulis Wakil Presiden AS JD Vance di X. Trump sendiri menyebut keadaan di Prancis sebagai peringatan bagi pemilih AS menjelang pemilu sela. Demonstrasi serupa juga terjadi di Italia, Albania, dan Spanyol.














