Riset Penyakit Tropis Malaysia Menumpuk pada Dengue dan Kota

A A

Petugas menyemprotkan asap pembasmi nyamuk Aedes di permukiman Sandakan, Sabah, Malaysia [Foto: Taufik/Wikimedia Commons, CC0]

  • Infeksi virus, terutama dengue, dan penyakit bakteri masing-masing mengisi lebih dari sepertiga terbitan.
  • Sebanyak 119 dari 336 kajian, atau 35 persen, sama sekali tidak menyebutkan umur orang yang diteliti.
  • Kajian cacing terpusat di pedesaan dan komunitas masyarakat adat, sesuai dengan daerah yang memang diketahui endemik.
  • Semua tulisan dijaring dari satu pangkalan data, Web of Science, sehingga laporan lokal yang tidak terindeks bisa terlewat.
Daftar Isi
  1. Dengue dan leptospirosis
  2. Anak-anak dan kolom umur
  3. Rumah sakit, sekolah, tempat kerja
  4. Kota padat dan kampung adat
  5. Filipina, Laos, Kamboja
  6. Peta yang belum lengkap

Empat peta Malaysia dijajarkan dalam satu halaman. Tiap peta mewakili satu golongan penyebab penyakit: virus, bakteri, cacing, dan protozoa. Makin gelap warna sebuah negara bagian, makin besar bagian tulisan ilmiah yang lahir dari sana. Pada peta virus, warna gelap berkumpul di negara bagian yang berkota dan padat penduduk. Pada peta protozoa, hampir tidak ada yang bisa dilihat.

Peta itu disusun lima orang: Mohd Amiru Hariz Aminuddin, Faizul Akmal Abdul Rahim, Agus Naba, Ahmad Mohiddin Mohd Ngesom, dan Nazri Che Dom. Artikel mereka, Equity gaps in neglected tropical disease research in Malaysia: a systematic review, 2014–2024, terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka berasal dari Institute for Public Health dan Selangor State Health Department di bawah Ministry of Health Malaysia, University of Brawijaya di Malang, serta Universiti Teknologi MARA.

Yang mereka petakan bukan penyakitnya, melainkan perhatian para ilmuwan. Sebanyak 336 tulisan ilmiah tentang penyakit tropis terabaikan di Malaysia, terbit dari 2014 sampai 2024, dipilah menurut kuman penyebab, umur orang yang diteliti, tempat, dan rancangan kajiannya. Hasilnya timpang. Sebagian penyakit, kelompok umur, dan wilayah ramai dikaji, sebagian lain jarang disentuh.

Dengue dan leptospirosis

Infeksi virus, terutama dengue, dan penyakit bakteri masing-masing mengisi lebih dari sepertiga terbitan. Infeksi cacing kurang dari seperlima. Infeksi protozoa bahkan kurang dari 5 persen. Bila digabung, virus dan bakteri mengisi lebih dari dua pertiga dari seluruh tulisan yang terkumpul.

Para penulis membaca susunan itu sebagai condongnya agenda riset kepada penyakit yang mudah mewabah. Dominasi dengue dan leptospirosis, tulis mereka, sejalan dengan prioritas pengawasan wabah dan pendanaan, bukan cerminan utuh dari beban penyakit yang menetap. Malaysia sendiri mereka sebut hiperendemik dengue, dengan sistem pengawasan yang sudah berkembang baik.

Yang tertinggal justru penyakit yang lekat dengan kemiskinan. Infeksi cacing dan protozoa, menurut para penulis, erat berkaitan dengan kemiskinan, sakit menahun, dan paparan di pedesaan. Pola serupa mereka temukan dalam kritik terhadap riset penyakit tropis terabaikan di tingkat dunia: kuman yang banyak disorot mendapat perhatian berlebih, sedangkan infeksi lama yang menetap terus terabaikan.

Riset penyakit tropis terabaikan di MalaysiaRiset penyakit tropis terabaikan di MalaysiaRiset penyakit tropis terabaikan di MalaysiaEmpat angka dari tinjauan atas terbitan 2014-2024336kajianterbit 2014-2024> 2/3virus danbakteridari terbitan< 5%protozoadari terbitan35%tanpa umur119 kajianJalan risetnya336 kajian dipilahKuman, umur, tempatPeta ketimpangan riset
Sumber: Mohd Amiru Hariz Aminuddin, Faizul Akmal Abdul Rahim, Agus Naba, Ahmad Mohiddin Mohd Ngesom, dan Nazri Che Dom, Equity gaps in neglected tropical disease research in Malaysia: a systematic review, 2014–2024, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Daftar penyakit yang dihitung juga memuat dua nama di luar daftar resmi Organisasi Kesehatan Dunia, yakni melioidosis dan penyakit riketsia. Keduanya dimasukkan karena endemik di Malaysia dan Asia Tenggara, berbeban berat, dan banyak menimpa penduduk desa serta kalangan kurang mampu, termasuk pekerja pertanian dan masyarakat adat. Angka kematiannya tinggi, tetapi pengawasannya terbatas dan risetnya jarang terlihat.

Baca juga Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat

Anak-anak dan kolom umur

Pindah dari kuman ke orangnya, ketimpangan muncul lagi. Di antara kajian yang mencantumkan umur, orang dewasa dan remaja paling sering diteliti, sedangkan anak-anak relatif jarang. Lalu ada kolom yang kosong. Sebanyak 119 dari 336 kajian, atau 35 persen, sama sekali tidak menyebutkan umur orang yang diteliti.

Kajian cacing paling banyak menyoroti anak-anak, yakni 33,3 persen. Kajian virus berpusat pada orang dewasa, 37,9 persen. Kajian bakteri dan protozoa tidak menunjukkan arah umur yang jelas. Perbedaan sebaran antara kelompok umur dan golongan kuman itu dinyatakan para penulis bermakna secara statistik.

Kolom kosong itu tidak merata. Bagian kajian yang tidak mencantumkan umur merentang dari 36,2 persen pada riset virus sampai 50,0 persen pada riset bakteri. Karena itu, para penulis mengingatkan bahwa perbedaan antarumur tadi hanya menggambarkan kajian yang menyebutkan umur, bukan seluruh bukti yang tersedia.

Akibatnya terasa pada perencanaan. Tanpa keterangan umur, tulis para penulis, hasil riset sulit dipakai untuk kegiatan yang menyasar anak dan remaja, seperti pemberian obat cacing di sekolah atau kampanye kesadaran dengue. Pencatatan yang tidak lengkap bukan tanda penyakitnya tidak ada. Ia justru bisa menyamarkan kerentanan kelompok penting, termasuk anak kecil dan orang lanjut usia.

“Populasi yang tidak didokumentasikan secara eksplisit lebih kecil kemungkinannya diprioritaskan dalam perancangan intervensi dan alokasi sumber daya,” tulis Aminuddin dan keempat rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Celah pelaporan itu mereka sebut kelemahan struktural dalam praktik riset. Rincian untuk anak di bawah lima tahun dan orang di atas 65 tahun pun jarang dilaporkan.

Baca juga Rabies Klang Valley: Tahu Harus ke Klinik, yang Pergi Sepertiga

Rumah sakit, sekolah, tempat kerja

Sebagian besar kajian berlangsung di tengah masyarakat dan di rumah sakit. Sekolah dan tempat kerja jarang sekali menjadi lokasi. Rancangannya pun seragam. Kajian pengamatan dan potong lintang mendominasi, sementara kajian yang menguji suatu tindakan atau menelusuri wabah sedikit jumlahnya.

Para penulis menilai tumpukan bukti semacam itu lebih condong menggambarkan beban penyakit daripada melahirkan jalan keluar. Kajian deskriptif, tulis mereka, tetap penting untuk pengawasan dan pemahaman keadaan. Namun, sedikitnya riset intervensi dan penerapan dapat membatasi kemampuan bukti itu untuk mengarahkan kebijakan yang bisa dijalankan.

Pola itu bukan hanya milik Malaysia. Meski begitu, bertahannya pola tersebut di negara dengan perguruan tinggi dan prasarana kesehatan yang kuat mereka sebut sebagai peluang yang terlewat bagi riset terapan yang berpihak pada keadilan. Malaysia, dalam uraian mereka, adalah negara berpendapatan menengah dengan kemampuan riset yang kuat.

Kota padat dan kampung adat

Kembali ke peta. Riset penyakit virus mengumpul di negara bagian yang berkota dan berpenduduk padat, sejalan dengan pengawasan yang kuat dan prioritas yang digerakkan wabah. Kajian cacing terpusat di pedesaan dan komunitas masyarakat adat, sesuai dengan daerah yang memang diketahui endemik. Kajian bakteri terpencar-pencar.

Protozoa nyaris tidak terlihat di seluruh peta riset nasional, padahal wabah yang sesekali muncul sudah tercatat. Para penulis menafsirkan sepinya riset cacing dan protozoa di pedesaan dan kampung adat sebagai kemungkinan tanda wilayah itu kurang diselidiki secara sistematis, bukan tanda penyakitnya kurang penting bagi kesehatan masyarakat.

Letak penduduk, dengan kata lain, ikut menentukan terlihat atau tidaknya suatu penyakit di mata ilmu. Dengue di kota mendapat perhatian luas. Penyakit protozoa di desa tidak hadir dalam agenda ilmiah. Jurang kota dan desa seperti ini, menurut para penulis, juga dilaporkan di negara lain dan menguatkan kekhawatiran bahwa penduduk yang terpinggirkan tetap kurang terwakili dalam pustaka ilmiah.

Riset virus dan riset cacingRiset virus dan riset cacingRiset virus dan riset cacingDua golongan penyakit, dua arah perhatianVirusCacing> 1/3< 1/5Bagian terbitanDewasa 37,9%Anak 33,3%Umur yang disorotKota padatDesa dan adatTempat riset
Sumber: Mohd Amiru Hariz Aminuddin, Faizul Akmal Abdul Rahim, Agus Naba, Ahmad Mohiddin Mohd Ngesom, dan Nazri Che Dom, Equity gaps in neglected tropical disease research in Malaysia: a systematic review, 2014–2024, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia

Filipina, Laos, Kamboja

Para penulis lalu menengok ke negara tetangga. Filipina dan sebagian wilayah Indonesia, tulis mereka, melaporkan perhatian riset yang lebih besar pada infeksi cacing, sejalan dengan program pemberian obat massal yang sudah lama berjalan dan pengawasan berbasis sekolah. Pustaka Malaysia tetap sangat didominasi riset dengue.

Laos dan Kamboja memberi perbandingan lain. Prasarana riset kedua negara itu lebih terbatas, tetapi penyakit parasit dan penyakit yang lekat dengan pedesaan justru lebih terlihat secara proporsional. Dari perbandingan tersebut para penulis menyatakan bahwa agenda riset nasional tidak hanya dibentuk beban penyakit, tetapi juga oleh sistem pengawasan, prioritas pendanaan, dan perhatian kebijakan yang digerakkan wabah.

Bagi dunia, pengalaman Malaysia mereka jadikan contoh. Ketimpangan riset penyakit tropis terabaikan bertahan di negara berpendapatan menengah yang prasarananya mapan. Di negara berpendapatan lebih rendah, tulis mereka, ketimpangan itu kemungkinan lebih besar lagi.

Lima penulis itu membedakan dua hal yang mudah tertukar. Ketimpangan kesehatan menyangkut perbedaan beban penyakit, paparan, atau jangkauan layanan yang tidak adil dan dapat dihindari. Ketimpangan riset terjadi lebih ke hulu, yakni pada penyakit, penduduk, tempat, dan rancangan kajian mana yang didahulukan dalam pustaka ilmiah.

Ketimpangan riset tidak selalu mencerminkan beban penyakit. Ia menentukan masalah kesehatan mana yang terlihat, terukur, dan bisa ditindak dalam perbincangan kebijakan. Di Malaysia, menurut para penulis, kurang terwakilinya sejumlah kuman, anak-anak, dan wilayah pedesaan dapat memperkuat ketimpangan kesehatan di hilir karena membatasi tindakan yang berpijak pada bukti.

Jalan keluarnya mereka rumuskan dalam tiga arah: menambah perhatian pada kuman yang terabaikan, mencantumkan dan melaporkan kelompok rentan seperti anak-anak secara teratur, serta beralih ke kajian intervensi dan terapan. Agenda riset nasional juga mereka minta diselaraskan dengan prinsip keadilan dalam peta jalan penyakit tropis terabaikan 2021–2030 milik Organisasi Kesehatan Dunia.

“Tanpa perubahan semacam itu, riset penyakit tropis terabaikan berisiko melanggengkan ketimpangan alih-alih memajukan cita-cita Peta Jalan NTD WHO dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” tulis mereka, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Kalimat itu menjadi penutup naskah kelima penulis.

Peta yang belum lengkap

Peta itu sendiri punya batas, dan para penulis mengakuinya. Semua tulisan dijaring dari satu pangkalan data, Web of Science, sehingga laporan lokal yang tidak terindeks bisa terlewat. Hanya naskah lengkap berbahasa Inggris yang dihitung. Mutu tiap kajian dan kemungkinan biasnya juga tidak dinilai.

Gigitan ular berbisa, yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia digolongkan penyakit tropis terabaikan, sengaja tidak dimasukkan karena penyebabnya racun, bukan infeksi. Para penulis menegaskan bahwa keputusan itu tidak mengurangi pentingnya masalah tersebut. Mereka menyebut perlunya tinjauan tersendiri untuk penyakit akibat racun, terutama di Asia Tenggara.

Untuk tinjauan berikutnya, mereka menyarankan pemakaian beberapa pangkalan data, pustaka berbahasa selain Inggris, dan alat penilai mutu yang baku. Menyandingkan terbitan ilmiah dengan data pengawasan penyakit nasional, tulis mereka, akan memperkuat keselarasan antara riset yang dihasilkan dan beban penyakit yang sebenarnya.

Sementara itu, empat peta tadi tetap seperti adanya. Warna gelap pada peta virus berkumpul di negara bagian yang padat dan berkota. Peta cacing menunjuk ke pedesaan dan komunitas adat. Peta protozoa nyaris kosong, dan bagi para penulis kekosongan itu mungkin lebih mencerminkan kurangnya penyelidikan daripada rendahnya arti penyakit itu bagi kesehatan masyarakat.

Bagikan

Baca Juga

Tujuh Kali Periksa Ternak di Zhongjiang, Demam Keong Tak Muncul
Pneumonia Berat di Ulaanbaatar Terkait Rokok dan Alkohol
Tanda Jantung Bawaan Kurang Dikenali Orang Tua di Tepi Barat
Telinga Berdenging Dialami Tiga dari Sepuluh Orang Dewasa Amerika
Anak TK Obesitas Heilongjiang Paling Sering Gagal Tes Kebugaran
Dua dari Tiga Lansia Nyeri Otot di Hat Yai Keliru Memakai Obat