- Tari Perang diperkenalkan di Gunung Pangilun sekitar 1939 dan disempurnakan pada dekade 1950-an.
- Masa kejayaan Tari Perang di Kota Padang berlangsung pada 1965.
- Penarinya laki-laki saja, berjumlah empat sampai dua puluh orang.
- Dari lima fungsi tari, Tari Perang dinyatakan memenuhi tiga fungsi.
- Punggung kostum disebut bergambar pohon natal pada satu bagian, pohon sigaru tora'a pada bagian lain.
Cekricek.id — Pada 1939 Tari Perang dibawa masuk ke Gunung Pangilun, Kota Padang. Tarian itu berasal dari Teluk Dalam, Nias Selatan, Sumatera Utara.
Tiga peneliti Program Studi Seni Tari, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, mencatat perjalanannya. Mereka Ninon Syofia, Wahida Wahyuni, dan Doni Osmond.
Wahida Wahyuni penulis korespondensinya. Tulisan mereka berjudul Tari Perang sebagai Simbol Ekspresi Seni Relevansi dengan Budaya Masyarakat Nias di Kota Padang.
Naskahnya terbit di Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni tahun 2025, halaman 79 sampai 92. Naskah itu masuk 4 Maret 2025, direvisi 6 April, dan disetujui 7 Mei.
Daftar Isi
1600, Perang Antarwilayah di Teluk Dalam
Tari Perang berakar pada masa ketika Nias sering berperang antarsuku. Naskah ini menempatkannya pada 1600.
Pemicunya perebutan wilayah kekuasaan kerajaan Nias. Kerajaan itu pada masa tersebut sedang berada di puncak kejayaannya.
Tarian itu bukan tarian pertempuran. Fungsinya memacu semangat prajurit sebelum mereka turun ke lapangan.
Semangat itu dibawa syair yang disebut hoho. Syairnya dinyanyikan para penari sendiri, tanpa satu pun alat musik.
Isi hoho berbicara tentang ketangguhan. Ada pula bagian tentang perburuan babi hutan yang tidak pernah meleset, dan tentang kegembiraan berkumpul.
Hoho sendiri tradisi lisan masyarakat Nias. Kata-katanya dipilih agar enak diperdengarkan, lalu dilagukan secara puitis.
Dua benda dipakai penarinya. Toho, tombak dalam bahasa Nias, dan baluse, perisai dari kayu.
Toho berbahan bambu sepanjang sekitar dua meter. Ujungnya diberi besi runcing, dicat kuning, lalu diberi juntaian tali merah.
Warna kuning pada tombak itu dibaca sebagai kemakmuran batin prajurit seusai melumpuhkan musuh. Warna merahnya dibaca sebagai keberanian dan semangat bertempur.
Baluse dilukis dua bola mata di bagian atas. Bentuk keseluruhannya menyerupai burung hantu berwarna hitam, kuning, dan merah.
Burung hantu dipilih bukan tanpa sebab. Selain berperang, masyarakat Nias pada masa itu juga berburu, dan burung hantu termasuk hasil tangkapan mereka.
Burung itu dianggap menyeramkan karena keluar pada malam hari. Rasa takut itulah yang hendak ditimbulkan pada lawan di medan perang.
Kedua properti itu menyimpan satu keterangan lain. Bahannya diambil dari lingkungan sekitar, karena teknologi dari luar belum masuk ke Nias saat itu.
Perisai kayu itu disebut pelindung dari serangan lawan. Naskah ini bahkan menyebutnya penahan senjata api musuh.
Baca juga Enam Adegan Adu Kerbau Dijadikan Motif Bordir
1939, Tarian Itu Sampai di Gunung Pangilun
Masyarakat Nias sudah tinggal berdampingan dengan orang Minangkabau di Gunung Pangilun sejak awal abad ke-20. Kelurahan itu berada di Kecamatan Padang Utara, Kota Padang.
Tari Perang pertama kali diperkenalkan di kawasan itu sekitar 1939. Bentuknya belum seperti yang sekarang dipentaskan.
Penyempurnaan bentuk terjadi pada dekade 1950-an. Naskah ini tidak merinci bagian mana saja yang diubah.
Penarinya laki-laki saja. Alasan yang dicatat sederhana: yang berperang di Nias pada masa lalu memang hanya laki-laki.
Jumlahnya empat sampai dua puluh orang. Tidak ada syarat khusus untuk menjadi penari selain kemauan belajar.
Usianya beragam, dari remaja sampai yang masih sanggup menari. Mereka juga harus hafal syairnya, karena syair itulah musik pengiringnya.
Kostumnya baju perang perpaduan merah dan kuning. Ditambah tutup kepala dan mahkota yang disebut Baru Nukha.
Masyarakat Nias di kawasan itu menganut agama Kristen Protestan. Aturan hidup mereka disusun lewat kesepakatan bersama warga setempat.

1965, Tahun Tari Perang Paling Sering Dipentaskan
Masa kejayaan Tari Perang di Padang berlangsung pada 1965. Tarian itu kerap dipentaskan pada acara adat, perayaan, dan kegiatan sosial komunitas.
Geraknya tiga saja. Fulu bala, melingkar, dan mona.
Fulu bala membuka pertunjukan. Seorang komando memberi aba-aba lewat vokalnya bahwa perang segera dimulai.
Posisinya dua berbanjar dengan satu orang berdiri di depan. Badan menghadap serong kiri, kaki kiri dihentakkan, kaki kanan menyusul hentakan itu.
Tombak dipegang tangan kanan dan perisai diayun tangan kiri. Gerak itu diulang sampai barisan membentuk lingkaran.
Gerak melingkar menandai musuh yang sudah terkepung. Kaki dan tangannya dilakukan persis sama dengan gerak sebelumnya.
Gerak mona menutup rangkaian. Pola lantainya tetap lingkaran, tetapi yang digambarkan kegembiraan atas kemenangan.
Ciri khas tarian ini ada pada hentakan kaki. Ritmenya yang menandai Tari Perang Gunung Pangilun dibanding tarian lain.
Geraknya sudah melewati proses penghalusan bentuk. Karena itu ia disebut tari pertunjukan, bukan lagi gerak perang yang sebenarnya.
Musiknya digolongkan sebagai musik internal. Sumber bunyinya tubuh dan suara penari sendiri, bukan alat dari luar.
Tempatnya arena terbuka seperti lapangan. Penonton bisa menyaksikan dari segala penjuru, sedangkan gedung tertutup dipakai bila memang diperlukan.
Sampai kini tarian itu muncul di empat jenis acara. Pengangkatan ketua adat Nias, pesta pernikahan warga Nias, pawai budaya etnis Kota Padang, dan peringatan 17 Agustus.
Baca juga Perantau Minang di Duri dan Bayang-bayang PRRI
2021, Catatan Lapangan dari Sungai Buluah
Data tarian ini dikumpulkan lewat tiga cara. Pengamatan langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi pertunjukan.
Salah satu narasumbernya Holong Dachi, berusia 65 tahun. Ia ditemui di Nagari Sungai Buluah pada 29 Mei 2021.
Menurut keterangan Holong Dachi kepada peneliti, Tari Perang adalah komunikasi sejarah. Yang dikomunikasikan masyarakat Nias pada 1600 yang gemar berperang.
Narasumber lain berasal dari tokoh budaya setempat, praktisi seni, dan warga Nias di Gunung Pangilun. Rekaman pertunjukan ikut dipakai sebagai bahan.
Foto pertunjukan yang dipakai naskah ini diambil pada Februari 2021 dan Juni 2020. Lokasinya pesta pernikahan warga Nias dan pawai budaya etnis.
Dua kerangka teori dipakai untuk membacanya. Teori kebudayaan Elly M. Setiadi dan teori adaptasi Soerjono Soekanto.
Simbol menjadi jalan masuk analisisnya. Pada masa lalu, masyarakat Nias belum mengenal tulis-menulis secara luas.
Kemampuan baca tulis saat itu hanya ada di kalangan tertentu, seperti kalangan raja. Pesan moral karena itu disampaikan lewat simbol, bukan lewat tulisan.
Warna dibaca satu per satu. Merah untuk kemakmuran, kebesaran, dan semangat; kuning untuk wibawa raja dan kemenangan; hitam untuk kerelaan dan kesabaran.
Ada satu ganjalan di naskahnya. Punggung kostum disebut bergambar pohon natal pada satu bagian, lalu pohon sigaru tora’a pada bagian lain.
Sigaru tora’a adalah pohon kehidupan dalam mitos asal usul orang Nias. Letaknya di tempat bernama Teteholi Ana’a.
Bentuknya mengerucut di atas dan melebar di bawah. Susunan itu dibaca sebagai lambang dua belas kasta dalam masyarakat Nias.
Kasta paling atas disebut Si’ulu. Deretan berikutnya memuat nama seperti Ere, Si’ila, Sato, dan Sawuyu.
Lewat pohon itu penari menyampaikan sesuatu kepada penonton. Yang disampaikan kehadiran pertama masyarakat Nias di bagian selatan pulau tersebut.
Syair hohonya membawa dua lapis makna sekaligus. Ketangguhan prajurit yang siap melumpuhkan lawan, dan kebiasaan berburu yang hasilnya tidak pernah meleset.
2025, Tiga Fungsi yang Tersisa
Naskah ini memakai daftar lima fungsi tari. Fungsi ritual, ekspresi emosi, pembentuk karakter individu, pewaris nilai budaya, dan pemersatu masyarakat.
Dari lima itu, Tari Perang dinyatakan memenuhi tiga. Ekspresi emosi, pemersatu, dan pewaris nilai budaya.
Sebagai ekspresi emosi, tarian itu menyampaikan satu hal. Bagaimana orang Nias pada masa lalu memperjuangkan hak yang mereka miliki.
Semangat itu terbaca dari cara penarinya bergerak. Syair yang dilantunkan sampai pertunjukan usai ikut menandainya.
Sebagai pewaris nilai, tujuannya memberi tahu generasi penerus. Yang diberitahukan betapa sulit perjuangan orang terdahulu mempertahankan hak dan kewajibannya.
Sebagai pemersatu, letak pertunjukannya yang menentukan. Tarian itu hidup di tempat yang bukan asal kebudayaannya.
Naskah ini mencatat tiga hal positif dari pertunjukan di Gunung Pangilun. Interaksi saling mengenal, rasa saling menghargai, dan rasa ingin tahu penonton.
Fungsi sosialnya disebut terpisah. Tarian itu dipakai melepas kejenuhan, mengurangi kesedihan, dan mengobati rindu pada tanah kelahiran.
Pada teks tariannya sendiri, penulisnya mencatat satu hal. Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.
Batas penelitiannya juga jelas. Pengamatannya terbatas pada satu kelurahan, dan datanya berasal dari wawancara serta dokumentasi, bukan dari pengukuran.
Baca juga Dikie Mauluik Kini Tinggal di Satu Korong Pariaman
Titik terakhir yang diketahui naskah ini adalah 2025. Tari Perang masih dipentaskan di Gunung Pangilun oleh penari laki-laki yang hafal hohonya.















