Cekricek.id — Pada abad keenam sebelum Masehi, orang yang menguasai banyak pengetahuan di kota-kota Yunani terbiasa menyebut diri mereka ahli, dan gelar itu dipakai tanpa canggung. Seorang lelaki menolak memakainya. Ketika orang bertanya apakah ia seorang bijak, Pythagoras — yang hidup sekitar 572 sampai 497 sebelum Masehi — menjawab bahwa dirinya hanya seorang “philosophos”, pencinta kebijaksanaan, sebab pengetahuan menurutnya terlalu luas dan terus berubah untuk diakui sebagai milik siapa pun. Dari penolakan kecil itu sebuah disiplin mendapat namanya.
Kisah itu dipakai sebagai titik berangkat oleh Riki Nasrullah dan Parmin dari Universitas Negeri Surabaya bersama Arditya Prayogi dari UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan dalam From the Philosophy of Language to the Philosophy of Meaning: An Exploration of the Meaning and Interpretation of Language, yang terbit di jurnal Diksi Volume 33 Nomor 2 tahun 2025. Yang mereka lacak satu pertanyaan berumur hampir sepanjang filsafat itu sendiri: dari mana makna sebuah kata sebenarnya datang, dan siapa yang menentukannya.
Daftar Isi
Pythagoras, Socrates, dan Kata yang Dipilih untuk Merendah

Kata itu sendiri berpindah-pindah lidah sebelum sampai kepada kita: philosophia dalam bahasa Latin, Jerman, Belanda, dan Prancis, falsafah dalam bahasa Arab, semuanya berakar pada philein yang berarti mencintai, philos yang berarti sahabat, dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Dua jalur pembacaan itu menghasilkan terjemahan yang berbeda tipis, mencintai kebijaksanaan atau bersahabat dengannya. Perbedaan yang terdengar sepele itu sebenarnya contoh pertama dari persoalan yang dibahas sepanjang tulisan tersebut, yaitu bahwa makna sebuah kata bergantung pada hubungan mana yang dipilih untuk menyusunnya.
Sesudah Pythagoras, kata itu dipakai lebih sering oleh Socrates, yang hidup sekitar 470 sampai 399 sebelum Masehi dan dikenal karena kebiasaannya bertanya kepada siapa saja yang ia temui. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat lawan bicaranya lebih tajam, tetapi juga membuat sebagian orang merasa dipojokkan, dan dalam suasana politik masa itu dianggap berbahaya. Socrates akhirnya diadili dan dijatuhi hukuman mati, bukan dengan senjata melainkan dengan racun. Sejarah yang dirunut tulisan ini, dengan kata lain, dibuka oleh seseorang yang dihukum karena cara ia memakai bahasa.
Baca juga Isle of Dogs dan Orientalisme yang Gagal Dibongkar
Apa yang dimaksud dengan filsafat sesudah itu tidak pernah tunggal. Plato, 427 sampai 347 sebelum Masehi, menganggapnya penyelidikan atas hakikat; Aristoteles, 384 sampai 322 sebelum Masehi, menyebutnya kajian tentang kebenaran yang mencakup logika, fisika, metafisika, dan pengetahuan praktis. Berabad-abad kemudian Immanuel Kant, 1724 sampai 1804, membaginya menjadi empat wilayah: pengetahuan yang bisa kita peroleh, prinsip etis yang mengatur tindakan, pertanyaan tentang agama dan harapan, serta hakikat keberadaan manusia. R. F. Beerling menariknya lebih dekat ke tanah, menyebut filsafat sebagai rangkaian pemikiran bebas yang lahir dari akal atas pengalaman hidup sehari-hari.
Herakleitos dan Plato: Ketika Bahasa Menjadi Bahan, Bukan Alat
Bahasa masuk sebagai objek kajian sejak awal. Herakleitos mengembangkan pemikirannya di sekitar logos, kata, yang baginya merupakan gejala antropologis sekaligus wadah kebenaran universal. Plato melangkah ke arah yang lebih teknis dengan membedakan onoma dan rhemata: yang pertama adalah subjek dalam hubungannya dengan subjek logis, yang kedua kata kerja yang berlaku sebagai predikat dalam kaitannya dengan makna logis. Dua pemikiran itu, tulis Riki Nasrullah dan dua rekan penulisnya, adalah bukti bahwa bahasa sudah menjadi bahan filsafat, bukan sekadar alat untuk menyampaikannya, sejak periode Yunani Kuno.
Hubungan itu makin jelas ketika filsafat dipilah menjadi tiga cabang. Metafisika berurusan dengan apa yang melampaui batas pengamatan empiris, dan seluruh gagasannya hanya bisa disampaikan lewat bahasa. Epistemologi mempersoalkan pengetahuan, alat untuk memperolehnya, batas-batasnya, serta ukuran benar dan salahnya. Logika menilai sah atau tidaknya penalaran, sesuatu yang mustahil dikerjakan tanpa kalimat. Dalam kerangka inilah Bertrand Russell, sebagaimana dikutip tulisan tersebut, menegaskan hubungan rapat antara bahasa dan unsur-unsur kenyataan yang kerap disebut isomorfisme, dan Ludwig Wittgenstein memperkuatnya dengan pandangan bahwa proposisi mewakili kenyataan, sebuah gambar atas keadaan yang bisa dibayangkan.
Baca juga 199 Ujaran Kebencian di Kolom Komentar TikTok
Epistemologi juga menyumbang cara menguji kalimat. Tulisan itu mengutip pembagian Suriasumantri atas tiga jenis kebenaran: koherensi, ketika sebuah pernyataan dianggap benar karena konsisten dengan pernyataan lain yang sudah terbukti; korespondensi, ketika isi pernyataan cocok dengan fakta atau objek yang dirujuknya; dan pragmatis, ketika sebuah pernyataan dianggap benar sejauh ia memberi manfaat praktis bagi kehidupan manusia. Contoh yang dipakai sederhana. Kalimat tentang sapi sebagai mamalia benar secara koheren, sedangkan kalimat tentang letak Kota Bandung di Jawa Barat benar karena berkorespondensi dengan kenyataan geografis.
Bertrand Russell dan Cita-Cita Sebuah Bahasa Logika
Yang lama diyakini adalah bahwa kekacauan dalam filsafat berasal dari bahasa yang tidak tertib. Bertrand Russell menjadikan keyakinan itu program kerja lewat teori atomisme logis, yang menurut tulisan ini bertumpu pada tiga tujuan: memecah seluruh pengetahuan manusia ke dalam bahasa yang sejernih dan sesederhana mungkin, menjembatani jarak antara bahasa dan matematika karena bagi Russell konsep matematis dapat dinyatakan lewat sejumlah prinsip logika, dan menempatkan analisis bahasa sebagai dasar seluruh kerja filsafat. Pemahaman yang tepat atas kenyataan, bagi Russell, hanya bisa dicapai lewat analisis yang cermat atas susunan bahasa.
Ludwig Wittgenstein meneruskan jalur itu dan mempertajamnya dalam Tractatus Logico Philosophicus. Menurutnya para filsuf terdahulu telah mengacaukan filsafat dengan memakai bahasa sehari-hari, yang kata-katanya bermakna ganda dan dipakai untuk dua simbol berbeda sekaligus. Banyak pertanyaan filsafat, dalam pembacaannya, tampak masuk akal padahal tidak bermakna apa pun, sehingga usaha menjawabnya hanya menghasilkan omong kosong yang lain. Dari sanalah lahir teori yang oleh tulisan ini disebut “makna adalah gambar”: bahasa berarti sejauh ia melukiskan keadaan yang sungguh ada, dan hanya pernyataan yang bersifat deskriptif yang mengandung makna.
Wittgenstein Membantah Wittgenstein
Yang berubah kemudian datang dari orang yang sama. Wittgenstein belakangan menolak posisinya sendiri dan menyatakan bahwa makna sebuah kata pada dasarnya bergantung pada pemakaiannya. Gagasan bahwa bahasa adalah gambar dinilainya gagal menjelaskan struktur yang tersembunyi dalam pemakaian bahasa yang jauh lebih luas, sebab bahasa tidak hanya dipakai untuk melukiskan keadaan. Ia dipakai untuk bertanya, memerintah, mengumumkan, melucu, mengundang, meminta, memerikan peristiwa, sampai menyatakan cinta. Satu alat ukur jelas tidak cukup untuk semua itu.
Baca juga 58 Masjid Padang Berdiri di Zona Risiko Tsunami
Untuk menerangkan hal tersebut Wittgenstein memakai istilah “permainan bahasa”. Seperti permainan pada umumnya, yang bisa memakai tongkat, kartu, atau bola, setiap bahasa bekerja dalam kerangka aturan tertentu, dan setiap permainan pada dasarnya adalah kegiatan. Karena itu makna sebuah kata dapat berubah mengikuti kegiatan yang sedang berlangsung, dan makna sebuah kalimat kerap bergantung pada konteks pemakaiannya. Konsekuensinya praktis: sebelum menafsirkan sebuah kata, orang perlu lebih dulu memeriksa bagaimana kata itu bekerja dalam situasi tempat ia diucapkan. Pergeseran itu tidak berhenti pada satu nama. Muntasyir mendefinisikan filsafat bahasa sebagai bidang yang memusatkan perhatian pada bahasa yang dipakai dalam filsafat, agar pernyataan yang bermakna bisa dibedakan dari yang tidak. Verhaar memilah dua aliran: filsafat bahasa yang menyorot sistem aturan dalam mendekati bahasa sebagai objek kajian, dan filsafat yang bertumpu pada bahasa, tempat filsuf memakai beragam sumber sebagai titik tolak. Verhaar sendiri, catat tulisan ini, condong pada arah kedua dan mengaitkannya dengan mazhab analitika bahasa.
Alston dan Lima Kelemahan yang Tetap Melekat pada Bahasa
Rantai panjang itu bermuara pada pengakuan yang tidak nyaman. Merujuk Alston, tulisan tersebut menyebut lima kelemahan yang tetap melekat pada bahasa dalam kehidupan sehari-hari: kekaburan, ungkapan yang tidak tepat, kemungkinan makna ganda, ketergantungan pada konteks, dan peluang salah paham. Contohnya diambil dari bahasa Indonesia. Kata bunga bisa menunjuk mawar, melati, anggrek, atau seorang perempuan, tergantung kalimat yang memuatnya, dan kata harum, kepala, serta bisa menuntut pemeriksaan konteks yang sama sebelum maknanya jelas. Kalimat yang menyebut seseorang sedang dalam keadaan buruk pun bisa berarti kesehatannya menurun atau nilai ujiannya jatuh.
Di sinilah tulisan itu menandai batasnya sendiri. Metodenya kajian pustaka sistematis — mengumpulkan, menilai, lalu menyintesiskan literatur menurut kriteria yang ditetapkan lebih dulu, termasuk pembatasan tahun terbit — bukan pengujian lapangan, sehingga yang dihasilkan adalah narasi perjalanan pemikiran, bukan temuan yang bisa diukur ulang. Penulisnya juga menyatakan bahwa makna tidak mungkin dipahami dari satu sudut pandang saja dan harus didekati lewat semantik, semiotika, pragmatik, analisis wacana, analisis naratif, hermeneutika, sampai tafsir. Kajian tentang makna, mereka akui, sejak lama berpindah tangan dari filsuf ke ahli semantik.
Yang tersisa dari perjalanan itu bukan definisi yang selesai. Dari Pythagoras yang menolak disebut ahli, lewat Russell yang ingin menertibkan bahasa dengan logika, sampai Wittgenstein yang akhirnya menyerahkan makna kepada pemakaian sehari-hari, tulisan ini menempatkan dirinya sebagai satu mata rantai: bukan jawaban baru atas pertanyaan tentang makna, melainkan catatan tentang bagaimana pertanyaan itu berpindah dari satu tangan ke tangan berikutnya. Dan pertanyaan itu masih dipakai setiap hari, oleh orang yang tidak pernah membaca satu pun nama di atas, setiap kali sebuah kata dipahami keliru.














