- Perdagangan Uni Eropa berbalik defisit 2,4 miliar euro pada Januari–April 2026 dari surplus 58 miliar euro setahun sebelumnya.
- Ekspor obat-obatan Uni Eropa turun 8 persen dan ekspor bahan kimia anjlok 45 persen.
- Impor Uni Eropa dari Taiwan, sebagian besar barang terkait AI, melonjak 43 persen.
Cekricek.id — Perdagangan Uni Eropa berbalik defisit 2,4 miliar euro pada Januari–April 2026. Setahun sebelumnya, perdagangan barang Uni Eropa dengan negara di luar blok itu masih mencatat surplus 58 miliar euro.
Anjloknya ekspor ke Amerika Serikat mendorong surplus kecil itu berubah menjadi defisit, sebagaimana dilansir dari pembaruan regional laporan perdagangan global McKinsey Global Institute (MGI) yang dirilis Selasa (08/09/2026). Nilai total perdagangan barang Uni Eropa dengan negara nonanggota pada periode itu mencapai 1,7 triliun euro.
Ekspor Uni Eropa turun 5,8 persen, sedangkan impornya naik 0,9 persen, berdasarkan olahan MGI atas data Eurostat. MGI menyebut penurunan ekspor itu sebagian merupakan kebalikan dari lonjakan pada 2025. Kala itu, perusahaan Amerika Serikat menimbun barang sebelum tarif berlaku.
Ekspor obat-obatan turun 8 persen dan ekspor bahan kimia anjlok 45 persen. Keduanya menyumbang sebagian besar penurunan ekspor. Penurunan paling tajam terjadi pada pengiriman dari Irlandia ke Amerika Serikat, karena Irlandia menjadi pusat produksi utama perusahaan farmasi Amerika Serikat. Ekspor bahan kimia juga turun karena pelanggan di Amerika Serikat menghabiskan stok bahan obat GLP-1 yang ditimbun tahun lalu.
Baca juga AS kenakan tarif hingga 100 persen bagi drone impor, Uni Eropa dibatasi 15 persen
Perdagangan Uni Eropa Terimpit China dan Tarif Amerika
MGI menyebut perdagangan Uni Eropa menghadapi tantangan struktural berupa impitan ganda. Persaingan dari China makin ketat di dalam maupun luar negeri, sementara tarif Amerika Serikat lebih tinggi. Impor dari China naik 4 persen pada Januari–April 2026, setelah naik 16 persen setahun sebelumnya. Sebaliknya, ekspor ke China turun 6 persen, dan defisit Uni Eropa dengan China melebar 11 miliar euro.
Ekspor peralatan transportasi turun sekitar 7 persen. Persaingan dengan produsen mobil China menekan pengiriman ke China, sementara tarif terus membatasi ekspor ke Amerika Serikat. Impor peralatan transportasi justru naik 4 persen. Impor mobil hibrida dan hibrida plug-in asal China terus tumbuh. Impor mobil listrik baterai China juga kembali naik pada 2026, setelah turun pada 2025 menyusul tarif Uni Eropa sejak akhir 2024.
Impor dari Taiwan, sebagian besar barang terkait AI, melonjak 43 persen seiring Eropa memperluas kapasitas pusat data. Impor dari Vietnam dan Malaysia masing-masing naik 21 persen dan 16 persen. Uni Eropa juga terus menambah perdagangan dengan Afrika dan negara-negara Asia, terutama anggota ASEAN. Impor energi hanya turun sedikit karena pasokan yang terganggu di Selat Hormuz diganti pasokan dari Amerika Serikat dan Norwegia.
Baca juga IMF: aksesi Uni Eropa bisa angkat PDB Balkan Barat 30–35 persen
Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi Uni Eropa Maroš Šefčovič sudah menyoroti tekanan dari China dalam pidatonya di hadapan Komite Perdagangan Internasional Parlemen Eropa, Selasa (24/02/2026). “Beralih ke China, di sana kami melihat percepatan dan penguatan tren yang mengkhawatirkan bagi kami,” kata Šefčovič.
Salah satu tren yang ia sebut adalah “ketidakseimbangan yang makin besar dalam perdagangan bilateral kami, dengan defisit perdagangan Uni Eropa dengan China mencapai 360 miliar euro pada 2025.” Šefčovič juga menyinggung pangsa pasar perusahaan Uni Eropa di China yang menurun, sementara ekspor dan investasi mereka di negara ketiga tergeser pesaing asal China.
Dalam pidato yang sama, Šefčovič menyebut diversifikasi lewat perjanjian dagang baru sebagai salah satu jawaban, termasuk dengan Indonesia. “Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif dengan Indonesia memberi eksportir Uni Eropa peluang untuk berekspansi dan menemukan pasar baru, dengan meliberalisasi 98 persen perdagangan dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara,” katanya.
Baca juga Uni Eropa beri tenggat Oktober untuk China soal dagang















