Perdagangan ASEAN Tumbuh, Impor dari China Naik 24 Persen

A A

Derek dermaga dan truk pengangkut di terminal peti kemas Tanjung Priok, Jakarta. [Foto: Niels Johannes/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Perdagangan ASEAN tumbuh dua digit pada kuartal I 2026, dengan impor naik 18 persen dan ekspor naik 14 persen.
  • Impor ASEAN dari China melonjak 24 persen menjadi 161 miliar dolar AS pada Januari–Maret 2026.
  • Ekspor mesin ASEAN naik 39 persen, mencerminkan pengiriman komponen server dan unit pengolah data.

Cekricek.id — Perdagangan ASEAN tumbuh dua digit pada kuartal I 2026, dengan impor naik 18 persen dan ekspor naik 14 persen. Impor dari China melonjak 24 persen menjadi 161 miliar dolar AS.

Menurut pembaruan regional laporan perdagangan global McKinsey Global Institute (MGI) yang dirilis Selasa (08/09/2026), China makin kokoh sebagai pemasok utama ASEAN pada Januari–Maret 2026, berdasarkan olahan MGI atas statistik resmi ASEAN.

Amerika Serikat juga kian penting sebagai pasar ekspor ASEAN. Ekspor ke Amerika Serikat naik 18 persen menjadi 108 miliar dolar AS, dipimpin elektronik dan mesin. MGI menyebut kawasan itu memperluas perdagangan dengan China dan Amerika Serikat sekaligus. Hal itu memperkuat peran ASEAN sebagai penghubung di antara kedua negara, seiring rantai pasok global yang terus menyesuaikan diri dengan ketegangan dagang keduanya.

Dari sisi pangsa, China menambah 1,2 poin persentase dalam impor ASEAN, sedangkan mitra Asia-Pasifik lainnya menambah 2,2 poin persentase. Gabungan pangsa keduanya kini sekitar 56 persen.

Di sisi ekspor, pangsa Amerika Serikat naik 0,6 poin persentase pada awal 2026, setelah naik 1,9 poin persentase pada 2025. Kanada dan Meksiko menambah 0,7 poin persentase, sedangkan mitra Asia-Pasifik lainnya menambah 1,1 poin persentase. Surplus perdagangan ASEAN pada Januari–Maret 2026 menyusut 49 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga IA-CEPA, mutu ekspor lebih menentukan daripada volume dagang

Ekspor Mesin Perkuat Perdagangan ASEAN dalam Rantai Pasok AI

Ekspor mesin ASEAN naik 39 persen pada Januari–Maret 2026, lebih cepat dari pertumbuhan 34 persen setahun sebelumnya. Kenaikan itu mencerminkan pengiriman komponen server dan unit pengolah data.

Di sisi impor, pembelian elektronik ASEAN naik 38 persen atau 52,4 miliar dolar AS menjadi 190 miliar dolar AS. Impor mesin naik 23 persen menjadi 83 miliar dolar AS, sedangkan impor logam naik 38 persen menjadi 73 miliar dolar AS.

Perdagangan dengan Taiwan dan Korea Selatan, dua pemasok utama cip dan komponen terkait AI, juga tumbuh. MGI menilai hal itu memperdalam peran ASEAN dalam rantai pasok elektronik dan AI. Elektronik tetap menjadi kategori dagang terbesar sekaligus penyumbang terbesar pertumbuhan perdagangan ASEAN.

Baca juga Indonesia ekspor perdana 1.000 ton beras ke Malaysia

Dalam The McKinsey Podcast yang tayang Kamis (04/06/2026), Jeongmin Seong, partner MGI yang memimpin penyusunan pembaruan regional itu, menyebut ASEAN sebagai contoh paling menonjol dari ekonomi penghubung. “Mereka pada dasarnya berperan sebagai mak comblang bagi rantai pasok global, menjaganya agar tidak terpecah,” kata Seong.

Seong menyebut ekspor ASEAN tumbuh sekitar 14 persen pada 2025, sedangkan impornya tumbuh sekitar 11 persen. “Di sisi ekspor, Amerika Serikat menyumbang sekitar sepertiga pertumbuhan ekspor. Di sisi impor, China mewakili sekitar separuh total pertumbuhan impor,” ujarnya.

“Jadi pertanyaan besar bagi ekonomi-ekonomi penghubung ini adalah seberapa jauh hal ini bisa berlanjut, dan apakah mereka dapat menambah nilai lokal yang berarti,” kata Seong.

Baca juga Gedung Putih tuding 40 negara bantu China kelabui tarif, Indonesia disebut

Bagikan

Baca Juga

Defisit Perdagangan Amerika Serikat Susut 34 Persen hingga Mei
AS Halangi Kepala Nuklir Iran Hadiri Konferensi IAEA di Wina
Ekspor Barang Antara China Naik 27 Persen pada Semester I 2026
Impor Barang AI Amerika Serikat Melonjak Jadi 260 Miliar Dolar
China Kecam Narasi Ancaman dalam Tata Kelola AI Global
Kesiapan Digital, Negara Kaya dan Miskin Menuai Hasil Berbeda