- Indeks kebahagiaan Suku Boti tercatat 72,87 pada skala 0 sampai 100.
- Seluruh 77 kepala keluarga dijadikan responden karena jumlahnya sangat terbatas.
- Makna hidup menjadi dimensi tertinggi dengan 75,70, perasaan terendah dengan 71,55.
- Tiap rumah tangga hanya boleh menyekolahkan satu orang sampai jenjang dasar.
Daftar Isi
Namad Benu, yang disebut naskah itu sebagai raja Suku Boti, menyampaikan satu kalimat pendek kepada dua peneliti yang datang ke pedalaman Pulau Timor. “Warga merasa sangat bebas menjalankan kegiatan tanpa rasa takut dan tanpa merasa terancam,” katanya. Kalimat itu kemudian diuji dengan angka, dan angkanya keluar di 72,87 dari skala 0 sampai 100.
Yang mengujinya adalah Kamilaus Konstanse Oki dan Emanuel Be, peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Timor, dalam artikel The Happiness of the Traditional Boti People on Timor Island di IJEC, Volume 2 Nomor 2 edisi Juli–Desember 2023, halaman 747–752. Naskahnya diterima 3 Oktober 2023, direvisi 26 November, dan disetujui 28 November 2023. Suku Boti sendiri adalah kelompok pedalaman di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.
Oki dan Be Mendata Seluruh 77 Kepala Keluarga
Oki dan Be tidak menarik sampel. Jumlah kepala keluarga Suku Boti hanya 77, dan karena jumlah itu sangat terbatas, keduanya menjadikan seluruhnya sebagai responden. Alat ukur yang mereka pakai adalah indeks kebahagiaan yang diterbitkan Badan Pusat Statistik, dengan tiga dimensi: kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup. Skalanya 0 sampai 100, dan semakin tinggi angkanya semakin bahagia orang yang diukur.
Ketiga dimensi itu tidak diberi bobot yang sama oleh Oki dan Be. Kepuasan hidup berbobot 0,45, perasaan 0,34, dan makna hidup 0,21. Indeks kepuasan hidup keluar di 72,56, indeks perasaan 71,55, dan indeks makna hidup 75,70. Digabung dengan bobot masing-masing, ketiganya menghasilkan 72,87, dan hitungan itu cocok sampai dua angka di belakang koma.
Sepuluh hal dinilai di dalam dimensi kepuasan hidup, mengikuti daftar yang dipakai Oki dan Be: kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, kondisi rumah dan aset, keadaan lingkungan, serta keadaan keamanan. Dimensi ketiga, makna hidup, mereka sebut dengan istilah eudaimonia, sementara dimensi perasaan mereka sebut afeksi. Angela dipakai keduanya untuk menegaskan bahwa indeks kebahagiaan bersifat subjektif dan berangkat dari persepsi orang atas hidupnya sendiri.
Rujukan teoretisnya diambil dari beberapa nama. Martin Seligman dipakai untuk memisahkan kebutuhan fisiologis dari kebutuhan psikologis. Bruno Frey dan Alois Stutzer dikutip Oki dan Be untuk menyatakan bahwa pengangguran menurunkan kebahagiaan sementara kenaikan pendapatan tidak menaikkannya. Andrew Leigh dan Justin Wolfers dipakai untuk kasus sebaliknya, yaitu bahwa indeks pembangunan manusia bisa naik sementara tingkat kebahagiaan justru buruk. Dari dua rujukan itu, Oki dan Be menyimpulkan kenaikan pendapatan, pendidikan, dan kesehatan tidak otomatis menggambarkan kebahagiaan.
Baca juga Suku Nuaulu Mengantar Jenazah ke Kampung Orang Mati di Hutan
Yang Ditolak Warga Boti di Hadapan Pemerintah
Daftar penolakannya panjang, dan Oki dan Be mencatatnya satu per satu. Fasilitas kesehatan, alat komunikasi modern, bantuan pemerintah, produk pabrik, agama nasional, serta ilmu pengetahuan dan teknologi dipandang warga Boti sebagai ancaman terhadap kelangsungan tradisi mereka. Program listrik desa sudah masuk ke wilayah Boti, tetapi tidak dipakai warga, dengan alasan listrik akan menarik masuk teknologi kelistrikan dan merusak jalinan budaya setempat.
Alasan penolakan bantuan dituliskan Oki dan Be dengan cukup tegas. “Kalau mereka menerima bantuan, hal itu akan menimbulkan tingkat ketergantungan yang tinggi kepada pihak lain, malas bekerja, dan tidak kreatif,” tulis keduanya. Prinsip itu berlaku juga untuk bantuan tunai langsung dan bantuan pangan dalam bentuk apa pun. Warga bahkan dilarang menjual hasil pertaniannya sendiri; hasil ladang hanya untuk konsumsi setahun dan untuk benih musim berikutnya.
Pada urusan kesehatan, Oki dan Be menulis bahwa warga Boti menyatu dengan alam, termasuk dalam soal sakit dan sehat. Pangan sehari-hari mereka jagung, padi, dan kacang-kacangan yang disiapkan sendiri tanpa rekayasa teknologi. Untuk menopang pembacaan itu, keduanya mengutip Henna Kallionpaa yang menulis tentang peran faktor lingkungan dalam membentuk kekebalan tubuh. Sehat, bagi warga Boti, berarti tidak sakit dan tidak terganggu saat menjalankan kegiatan sehari-hari.
Sabun pun belum sepenuhnya masuk. Oki dan Be mencatat warga masih memakai tanah liat sebagai pengganti sabun mandi dan sabun cuci, meski sebagian kecil perlahan mulai memakai sabun. Pemerintah, tulis keduanya, sudah menyediakan fasilitas kesehatan dan tenaga medis di desa itu tanpa mengubah pendirian warga. Untuk menimbang sisi lain, Oki dan Be mengutip Dwi Hapsari Tjandra dan rekan-rekannya tentang indeks pembangunan kesehatan masyarakat.
Satu Orang per Rumah Tangga yang Boleh Bersekolah
Pendidikan formal dipandang warga Boti sebagai jalan masuk budaya asing yang merusak tatanan budaya lokal. Karena itu, catat Oki dan Be, tiap rumah tangga hanya diberi kesempatan memasukkan satu orang ke bangku sekolah, dan hanya sampai jenjang dasar. Anggota rumah tangga yang lain tidak diizinkan. Berbagai pendekatan pemerintah, termasuk penyediaan sarana pendidikan, tidak mengubah keputusan itu, sehingga mayoritas warga Boti tidak menempuh pendidikan dasar maupun lanjutan.
Untuk menimbang kerugiannya, Oki dan Be mengutip Endang Susilawati dan rekan-rekannya, yang menulis bahwa pendidikan mempercepat perkembangan peradaban satu wilayah dan bahwa tertutupnya akses pendidikan membuat perkembangan itu berhenti. Mereka juga mengutip Amaliah tentang pendidikan sebagai syarat partisipasi warga dalam advokasi kebijakan publik, sebuah syarat yang di Boti memang tidak hendak dipenuhi karena sekolah dinilai mengikis nilai dasar budaya yang diwariskan turun-temurun.
Sanjay Prasad Thakur dipakai Oki dan Be untuk sudut yang lain lagi, yaitu bahwa sumber daya membuka peluang dan kemampuan untuk tumbuh. Dengan rujukan-rujukan itu, keduanya menempatkan pembatasan sekolah di Boti sebagai pilihan sadar warga, bukan sebagai kekurangan yang tidak disengaja. Perlindungan budaya, tulis Oki dan Be, dijalankan justru dengan membatasi akses itu.
Baca juga Tuturan Ritual Hapo Ana, Doa Adat Sabu untuk Menyambut Bayi
Hari Kesembilan di Pusat Kerajaan Menurut Namad Benu
Kalender yang dipakai warga Boti bukan kalender nasional. Oki dan Be mencatat satu pekan di Boti berisi sembilan hari, dan hari kesembilan menjadi hari libur sekaligus hari berkumpul di pusat kerajaan. Yang dikerjakan di sana adalah evaluasi pekerjaan sepekan dan evaluasi perilaku dalam hubungan sosial, dijalankan bersama-sama oleh seluruh warga yang hadir di tempat itu.
Setelah evaluasi itu, raja menyampaikan pesan moral tentang apa yang perlu dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan. Kegiatan ini, tulis Oki dan Be, sudah berlangsung turun-temurun, wajib, dan diikuti seluruh komponen masyarakat dari anak-anak sampai orang dewasa. Namad Benu menempatkan kebebasan dari rasa takut sebagai hasilnya, dan menurut keterangannya konflik sosial, pencurian, perselingkuhan, serta perkelahian tidak pernah terjadi di Suku Boti.
Sanksi atas pelanggaran juga tidak berbentuk penjara. Untuk kasus pencurian, Oki dan Be mencatat tiap kepala keluarga justru mengumpulkan barang sejenis lalu memberikannya kepada pencuri, karena mencuri dianggap lahir dari kekurangan. Pelanggaran berat yang berulang berujung pada pengusiran dari Suku Boti, dan itulah hukuman terberat yang dikenal di sana. Perbuatan menyimpang seperti pencurian, perampokan, dan kejahatan lain dinyatakan melawan hukum adat.
Kepercayaan yang menopang semua itu disebut Halaika dalam naskah Oki dan Be, dengan roh penjaga bumi yang diyakini berdiam di pohon, air, gunung, batu besar, dan leluhur. Untuk kaitan antara budaya dan pembentukan kepribadian, keduanya menyandarkan diri pada Veronica Benet-Martinez dan Shigehiro Oishi. Carmelo Vazquez dan Gonzalo Hervas mereka pakai untuk menyatakan bahwa kebahagiaan melahirkan kesejahteraan karena terkait dengan apa yang dipikirkan dan dialami seseorang.
Dua Paragraf Oki dan Be yang Muncul Dua Kali
Naskah Oki dan Be memuat beberapa hal yang bisa diperiksa sendiri oleh pembacanya. Dua paragraf di bagian pendahuluan muncul dua kali dengan isi yang hampir sama persis, dan keduanya berbeda pada satu titik: versi pertama menyebut warga berkumpul untuk menerima pesan moral raja, versi kedua menyebut mereka berkumpul untuk evaluasi mingguan lebih dulu.
Perbedaan kecil lain ada pada rumusan kepercayaan. Versi pertama menulis Suku Boti percaya kepada Tuhan dengan ritual berupa persembahan kepada alam dan leluhur, versi kedua menulis mereka percaya pada kekuatan roh dan penjaga bumi. Pada kedua versi, daftar kebutuhan psikologis yang terpenuhi memuat kata kecemasan, yang terbaca janggal di antara rasa damai dan rasa nyaman.
Ada pula satu kalimat yang bertolak belakang dengan kalimat sesudahnya. Naskah menulis warga Boti tidak menutup diri terhadap berbagai bantuan pemerintah, sementara seluruh bagian lain naskah itu, termasuk kalimat berikutnya, menyatakan bantuan ditolak. Pada simpulan, hari kesembilan disebut sebagai hari evakuasi, bukan hari evaluasi.
Naskah Oki dan Be juga tidak memuat bagian keterbatasan penelitian sama sekali, dan rumus indeks kebahagiaannya tidak ikut dicetak, hanya keterangan bobot ketiga dimensinya. Halaika disebut sebagai agama tradisional Timor Timur, padahal lokasi penelitiannya berada di Pulau Timor wilayah Indonesia, dan tujuh puluh tujuh kepala keluarga di satu tempat tetap satu tempat, bukan gambaran masyarakat adat Indonesia.
Baca juga Perburuan Paus Lamalera Lolos dari Zona Konservasi Laut Sawu
Yang tersisa dari catatan Oki dan Be adalah angka 72,87 dan satu kalimat Namad Benu yang mendahuluinya. Keduanya berjalan searah pada 77 kepala keluarga yang sama, di satu pedalaman Pulau Timor, pada satu putaran survei. Apa yang dirasakan raja dan apa yang terbaca di indeks, untuk sekali ini, menunjuk ke arah yang sama.














