- Seratus kepala keluarga suku Bajo di Desa Torosiaje, Pohuwato, didata seluruhnya tanpa penarikan acak.
- Nelayan mengisi 48 persen pekerjaan dan lulusan sekolah dasar 36 persen dari responden.
- Warga membaca munculnya ikan ke permukaan air sebagai tanda gempa akan datang.
- Rumah panggung kayu di atas air dinilai menahan banjir, gelombang tinggi, dan goncangan gempa.
Daftar Isi
Rumah-rumah di Desa Torosiaje berdiri di atas tiang kayu, di atas permukaan laut, bukan di daratan Popayato yang jaraknya masih harus ditempuh dengan perahu. Di permukiman itulah 100 kepala keluarga suku Bajo didata satu per satu oleh tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo, yang ingin tahu apa yang mereka ketahui tentang gempa dan tsunami.
Hasil pendataan itu ditulis Felix Rubama bersama Idris Hasan, Rusli Limonu, Fitryane Lihawa, dan Nawir Sune dari Program Studi Pendidikan Geografi Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo, dalam artikel Kondisi Sosial dan Adaptasi Masyarakat Suku Bajo Terhadap Bencana di Desa Torsiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo di Geosfera: Jurnal Penelitian Geografi, Volume 3 Nomor 1 tahun 2024, halaman 10–16.
Empat Dusun di Torosiaje dan 100 Kepala Keluarga
Kepala keluarga yang didata terbagi ke empat dusun. Bahari Jaya paling banyak dengan 42 kepala keluarga, disusul Sengkang 24, Mutiara 18, dan Tanjung Karang 16. Seluruh anggota populasi itu dijadikan sampel, sehingga tidak ada penarikan acak dan tidak ada yang mewakili siapa pun: yang tercatat adalah semuanya, satu per satu, di keempat dusun tersebut.
Torosiaje sendiri berada di Kecamatan Popayato, sekitar tujuh jam perjalanan ke arah barat dari Kota Gorontalo. Permukiman Bajo di kawasan itu tersebar di tiga desa, yaitu Torosiaje, Torosiaje Jaya, dan Bumi Bahari. Yang dibangun di atas air, dan menjadi tempat tinggal suku Bajo, adalah Desa Torosiaje.
Pengumpulan datanya lewat observasi dan wawancara langsung dengan responden. Analisisnya dua lapis: pendekatan kuantitatif untuk menggambarkan pekerjaan dan tingkat pendidikan dalam tabel frekuensi dan persentase, lalu pendekatan kualitatif untuk menjelaskan bagaimana warga menyesuaikan diri terhadap ancaman bencana. Variabel yang diteliti hanya tiga, yaitu pekerjaan, pendidikan, dan bentuk penyesuaian itu sendiri.
Baca juga Perburuan Paus Lamalera Lolos dari Zona Konservasi Laut Sawu
Nelayan 48 Persen, Lulusan SD 36 Persen
Pekerjaan warga bertumpu pada laut. Nelayan mengisi 48 dari 100 kepala keluarga, jauh di atas wiraswasta dan pedagang yang berjumlah 24. Sisanya menyebar tipis: karyawan dan aparat honorer 7, perawat 6, petani 5, pegawai negeri 5, guru 3, serta TNI dan Polri 2. Dua jenis pekerjaan yang ikut ditanyakan, yaitu sopir dan penambang, tidak dipilih seorang pun.
Tingkat pendidikannya rendah. Lulusan sekolah dasar 36 orang atau 36 persen, lulusan sekolah menengah pertama 27 orang, lulusan sekolah menengah atas 22 orang, dan lulusan perguruan tinggi hanya 6 orang. Delapan orang tercatat belum pernah bersekolah sama sekali. Lulusan perguruan tinggi dan yang tidak bersekolah itu, digabung sekalipun, jumlahnya masih di bawah separuh lulusan sekolah dasar.
Penyebabnya disebut penulisnya dua hal. Letak Torosiaje jauh dari sarana pendidikan, dan kesadaran akan pentingnya sekolah masih kurang. Banyak anak memilih melaut sejak usia dini, dan pilihan itu, menurut tim tersebut, ikut membentuk cara warga memandang pemanfaatan sumber daya alam di desanya sendiri, termasuk laut yang berada tepat di bawah lantai rumah mereka.
Ikan Naik ke Permukaan sebagai Tanda Gempa
Pengetahuan warga tentang gempa dan tsunami disebut terbatas dan lebih banyak bersandar pada mitos. Satu tanda yang mereka pegang adalah munculnya ikan ke permukaan air, yang dibaca sebagai pertanda gempa akan datang. Tanda itu tidak disertai penjelasan tentang proses alam yang menyebabkan gempa terjadi, dan tidak ada tanda serupa yang mereka pegang untuk tsunami.
Pengalaman gempa pun kerap dianggap kejadian biasa yang tidak perlu ditakuti. Tim penulis membaca sikap itu sebagai apatis terhadap risiko, dan menduga penyebabnya adalah kurangnya pengalaman langsung menghadapi bencana besar yang merusak, sehingga tidak muncul rasa mendesak untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang belum pernah mereka alami sendiri.
Kaitannya dengan pendidikan ditarik terang-terangan di bagian pembahasan. Mayoritas warga lulusan sekolah dasar, hanya 6 persen yang sampai perguruan tinggi, dan tingkat itu disebut membatasi akses mereka terhadap keterangan yang lebih akurat tentang bencana alam serta cara menghadapinya, termasuk cara mengungsi yang aman bila gelombang benar-benar datang.
Baca juga Suku Hubula Menanam Kayu Semalam sebelum Membangun Honai
Rumah Panggung Kayu yang Ikut Bergerak
Kearifan lokal yang paling menonjol, menurut naskah itu, adalah rumah panggung di atas air. Rumah semacam itu bukan hanya menandai kedekatan warga dengan laut, tetapi juga berfungsi sebagai penahan bencana. Berdiri di atas air, rumah itu mengurangi risiko kerusakan akibat banjir dan gelombang tinggi yang kerap datang di wilayah pesisir.
Bahannya kayu, dan itu yang disebut membuat strukturnya lebih lentur serta tahan terhadap goncangan gempa. Posisinya di atas air juga dinilai menguntungkan untuk sirkulasi udara dan kebersihan, dua hal yang oleh tim itu dikaitkan dengan kesehatan warga, sehingga satu bentuk bangunan dianggap menjawab beberapa persoalan sekaligus.
Kebiasaan lain yang dicatat adalah pengelolaan sampah. Warga Bajo di Torosiaje disebut tidak membuang sampah sembarangan ke laut, melainkan menyediakan tempat sampah untuk limbah plastik dan lainnya. Praktik itu menjaga laut yang menjadi sumber penghidupan mereka sekaligus menekan risiko pencemaran yang, menurut naskah tersebut, bisa memperburuk dampak bencana ketika bencana itu datang.
Pemilihan lokasi permukiman ikut masuk hitungan. Letaknya tidak ditentukan sembarangan, melainkan berdasarkan pengalaman yang diturunkan antar-generasi, dengan mempertimbangkan ketinggian tanah, jarak dari pantai, dan pola arus laut. Tiga pertimbangan itu dipakai jauh sebelum ada peta rawan bencana untuk kawasan tersebut.
Nama Desa yang Ditulis Dua Cara dalam Satu Naskah
Naskah itu memuat beberapa ketidakcocokan yang bisa diperiksa sendiri oleh pembacanya. Nama desanya ditulis dua cara, Torsiaje pada judul dan sebagian besar tabel, Torosiaje pada bagian hasil dan simpulan. Keduanya merujuk tempat yang sama dan dipakai bergantian di halaman yang berdekatan, kadang dalam satu paragraf yang sama.
Jumlah dusunnya juga berbeda antar-bagian. Bagian metode menyebut kepala keluarga suku Bajo tersebar di lima dusun, lalu hanya menyebut tiga nama, sedangkan tabel pertamanya memuat empat dusun dengan jumlah kepala keluarga yang totalnya genap 100. Salah satu dari tiga nama yang disebut di metode itu pun ditulis bergandengan, Mutiara Tanjung Karang, padahal di tabel keduanya dipisah.
Tabel pendidikannya menjumlahkan 99 orang tetapi diberi keterangan 100 persen. Tabel pekerjaannya mencantumkan pegawai negeri sebanyak 5 orang dengan persentase 4, dan bila persentase pada kolom itu dijumlahkan hasilnya 99, bukan 100. Angka pokoknya sendiri, yaitu 48 persen nelayan dan 36 persen lulusan sekolah dasar, tetap konsisten di seluruh naskah.
Baca juga Tambang Emas Sangihe, Izin Dicabut dan Gerakan Warga Bertahan
Simpulannya pendek dan tidak melebihi datanya: sebagian besar penduduk Torosiaje berpendidikan sampai sekolah dasar, mayoritas bekerja di sektor perikanan, dan pengetahuan mereka tentang gempa serta tsunami belum memadai karena lebih bersandar pada mitos. Saran yang diberikan adalah menggabungkan pengetahuan tradisional itu dengan keterangan ilmiah, bukan menggantinya.















