- Orang Boti memandang waktu secara siklis, sembilan hari yang disebut Neon dan terus berulang.
- Pada Neon Ai atau hari api, orang Boti sangat berhati-hati karena bisa terjadi kebakaran besar.
- Neon Suli adalah hari perselisihan, tetapi juga dipandang sangat tepat untuk menyelesaikan permasalahan antarindividu.
- Konsep sembilan hari dinyatakan hanya terdapat di lingkungan Boti, tidak pada Molo, Amanatun, dan Amanuban.
- Artikel tidak mencantumkan jumlah narasumber maupun tanggal wawancara, dan keterbatasan kajian tidak dipaparkan.
Daftar Isi
Cekricek.id — Pada hari terakhir siklus sembilan hari Suku Boti, orang berhenti dari semua pekerjaan dan berkumpul di lopo di lingkungan istana raja. Mereka datang untuk mendengarkan wejangan raja. Sesudah itu, laki-laki dan perempuan mengerjakan berbagai kegiatan yang cocok bagi masing-masing dalam semangat gotong royong. Hari itu bernama Neon Tokos, hari istirahat.
Hitungan tidak berlanjut ke hari kesepuluh. Orang Boti memandang waktu secara siklis, sembilan hari yang disebut Neon dan terus berulang. Setiap hari di dalam lingkaran itu membawa makna dan aturan khusus yang mengatur hubungan manusia dengan alam dan kekuatan gaib. Kepatuhan terhadap siklus tersebut dianggap sebagai penghormatan kepada pencipta dan leluhur, sekaligus upaya menjaga keharmonisan sosial.
Gambaran itu disusun Yebester Benu dan Lanny Isabela Dwisyahri Koroh, yang dalam naskah tercantum dari Universitas Citra Bangsa, dalam artikel Kosmologi Waktu Sembilan Hari Suku Boti di Pulau Timor. Artikel tersebut terbit di Jurnal Lazuardi Edisi XVII Volume 8 Nomor 2, Juni 2025, halaman 231–239. Tujuannya, tulis kedua penulis, mendeskripsikan waktu sembilan hari dalam kosmologi orang Boti di Timor.
Menurut Benu dan Koroh, kalender sembilan hari Suku Boti menjadi dasar pelaksanaan adat, tradisi, dan ritual dalam kehidupan sehari-hari. Kalender itu berakar pada ajaran Halaeka, kepercayaan leluhur yang dipandang sakral dan dijunjung tinggi. Di dalamnya ada hari api, hari air, hari besi, hingga hari anak. Nama-nama hari beserta tindakan yang menyertainya dihimpun dari wawancara dengan Ba’i Heka Benu.
Bukit di Kecamatan Ki’e
Boti terletak di Kecamatan Ki’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya sekitar 40 kilometer dari Kota SoE, ibu kota kabupaten itu. Sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan dengan kemiringan tanah antara 45 dan 90 derajat, dan wilayah itu disebut sulit dijangkau. Di Nusa Tenggara Timur yang dihuni begitu banyak suku bangsa, artikel menyebut Boti sebagai salah satu suku yang menarik perhatian.
Di perbukitan itu, masyarakat Boti terbagi dua berdasarkan perbedaan sosial religius. Boti luar adalah warga yang sudah menerima atau menganut agama yang diakui di Indonesia. Boti dalam adalah warga yang masih berpegang pada kepercayaan suku yang disebut Halaeka. Kepercayaan lokal itu, tulis kedua penulis, timbul melalui jalur genealogi, yakni warisan untuk memeluk kepercayaan tertentu secara turun-temurun.
Menurut keterangan Ba’i Heka yang dikutip dalam artikel, pada awalnya terdapat suatu kesalahan yang mengakibatkan hambatan, dan dari situ lahirlah Halaeka. Sejak itu, ajaran-ajaran dalam Halaeka dianggap sebagai tantangan yang tidak dapat dilawan atau dilanggar. Karena orang Boti menganggap mereka hidup dan berasal dari Halaeka, warisan nenek moyang itu terus dilestarikan secara turun-temurun.
Baca juga Lambi Tei Rote, Motif Raja yang Dibakar Bila Salah Pemakai
Halaeka, Uis Neno, dan Uis Pah
Orang Boti percaya mereka keturunan dua penguasa alam. Uis Pah, dewa bumi, diibaratkan ibu yang memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ia memberi kemakmuran dan kesejahteraan, mengawasi dan menjaga kehidupan alam semesta, serta membesarkan dan melindungi manusia, khususnya masyarakat Boti. Uis Neno, dewa langit, diibaratkan bapak, penguasa alam baka yang menentukan apakah seseorang masuk surga atau neraka berdasarkan perbuatannya selama hidup.
Uis Neno memiliki wujud fisik berupa matahari, Nai’Manas, dan istrinya adalah bulan, Bi Funan. Keduanya bergantian menguasai siang dan malam. Jika keduanya sedang tidur, bumi menjadi gelap. Jika hanya matahari yang beristirahat, kegelapan bumi dikuasai terang bulan. Bintang menjadi utusan sekaligus pembantu Uis Neno. Seluruh cara berpikir itu, menurut artikel, ditempatkan dalam kategori waktu tradisional, yakni hari.
Artikel juga memuat uraian tentang Ritual Poi Pah untuk menghormati Uis Pah serta arwah yang hidup di balik batu, pohon besar, dan gunung. Ritual itu biasanya dilakukan di hutan yang dikeramatkan, faen maten. Warga membawa kain tenunan sendiri, sebagian bahan makanan dari hasil panen, dan hewan tertentu sebagai persembahan. Harapannya, mereka diberkati, dilindungi, diberi keselamatan, dan hasil buminya membuat mereka selalu berkecukupan.
Seluruh gerak kehidupan orang Boti, seperti orang Atoni pada umumnya, disebut selalu berada di bawah bayang-bayang berkat dan kutuk. Jika mereka bertindak pada waktu dan tempat yang tepat, berkat datang dari Uis Neno. Jika tidak, kutuk bisa datang dari Nitu atau dari sesuatu yang dikeramatkan. Contoh yang disebut artikel adalah longsor.
Sembilan Hari Suku Boti
Menurut artikel, waktu sembilan hari Suku Boti terbentuk dari sembilan kesalahan yang dilakukan dan hambatan yang didapat dalam kehidupan mereka. Asal-usulnya dilihat dari perilaku manusia pada zaman nenek moyang ketika berbuat salah lalu menerima hambatan. Orang Boti percaya pada siklus itu sekaligus pada norma tingkah laku yang cocok untuk setiap harinya.
Hari pertama adalah Neon Ai, hari api. Api berguna untuk memasak, membakar, menerangi kegelapan, dan menghangatkan tubuh, tetapi juga bisa membahayakan manusia. Karena itu orang Boti sangat berhati-hati pada hari pertama, sebab bila tidak, bisa terjadi kebakaran besar. Pada hari kedua, Neon Oe atau hari air, mereka sangat berhati-hati memanfaatkan air karena bisa terjadi banjir.
Pada hari ketiga, Neon Besi, kehati-hatian beralih ke barang yang terbuat dari besi atau tembaga. Jika tidak berhati-hati, orang itu mungkin terluka. Hari keempat bernama Neon Uis Neno mah Neon Uis Pah, hari dewa langit dan dewa bumi. “Hari keempat ini diisi dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan ibadah kepada dewa langit dan dewa bumi,” tulis Benu dan Koroh.

Dalam uraian artikel, api disebut sangat penting bagi kehidupan manusia tetapi juga bisa membahayakan, sedangkan air disebut mempunyai fungsi ganda, entah positif atau negatif. Nama-nama hari beserta tindakan partisipasinya, menurut kedua penulis, didasarkan pada hasil wawancara bersama Ba’i Heka Benu.
Neon Suli sampai Neon Tokos
Hari kelima, Neon Suli, adalah hari perselisihan. Orang Boti berhati-hati dalam berbicara karena bisa terjadi perselisihan atau pertengkaran di antara mereka. Hari yang sama justru dipandang cocok untuk urusan yang berlawanan. “Tetapi juga hari itu sangat tepat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi antar individu dalam komunitas,” tulis kedua penulis.
Hari keenam, Neon Masikat, diterjemahkan sebagai hari perebutan. Artikel menegaskan hari itu tidak dimaksudkan untuk merebut harta milik orang lain. Sebaliknya, hari keenam menjadi kesempatan bagi orang yang bekerja dengan giat untuk melanjutkan pekerjaannya, dengan contoh tofa kebun atau berburu, supaya hasil panennya baik.
Hari ketujuh ditulis Neno Naek, hari besar. Pada hari itu orang Boti membina persaudaraan, membangun kerukunan, meningkatkan persekutuan, dan menjauhkan perselisihan. Hari kedelapan, Neon Li’ana, adalah hari anak. Pada hari itu anak-anak mendapat kebebasan untuk mengekspresikan diri serta menggali dan mengembangkan potensi mereka.
Baca juga Etnoastronomi Suku Bajo Wuring dan Bintang yang Tak Dicatat
Siklus sembilan hari Suku Boti ditutup Neon Tokos, hari istirahat. Pada hari itu mereka beristirahat dari semua pekerjaan dan berkumpul di lopo di lingkungan istana raja. Di sana mereka mendengarkan wejangan raja, lalu mengerjakan berbagai kegiatan yang cocok untuk laki-laki dan perempuan dalam semangat gotong royong. Artikel tidak merinci kegiatan apa saja yang dimaksud.
Pusat Bumi
Angka sembilan dikaitkan dengan pandangan orang Boti tentang bentuk bumi. Menurut pandangan itu, bumi berbentuk bulat dan memiliki titik pusat, sama halnya dengan angka 9 yang disebut memiliki bentuk bulat dan titik pusat. Karena bumi bulat, bumi berputar seperti roda pada titik pusatnya. Waktu sembilan hari pun dihubungkan langsung dengan pandangan tentang Boti sebagai pusat bumi.
Sembilan hari itu, tulis kedua penulis, merupakan pengulangan yang terus-menerus. Waktu mengitari pusat bumi, dan di dalam perputaran itulah datang panggilan bagi manusia untuk bertindak secara etis. Artikel menyebut konsep sembilan hari Suku Boti sebagai satu-satunya pengecualian dalam kosmologi orang Atoni. Di bagian kesimpulan, konsep itu dinyatakan hanya terdapat di lingkungan Boti, tidak di kalangan subetnis lain seperti Molo, Amanatun, dan Amanuban.
Artikel lalu membandingkan dua jenis waktu. Bagi orang Boti, waktu dipahami secara siklis dan sebagai kairos, yakni waktu untuk bertindak, sakral, dan selalu berulang. Bagi manusia modern, waktu tidak dibagi atas sakral dan profan, hanya menjadi penunjuk dan penanda, atau kronos. Nama hari seperti Senin dan Selasa memang terus berganti, tetapi tidak dalam pengertian siklis, dan kehidupan bergerak pada satu garis lurus.
Baca juga Dukun Pandita Tengger dan Tiga Ujian di Gunung Bromo
Di bagian kesimpulan, keduanya merangkum hubungan antara hari dan nasib. “Setiap berkat dan kutuk, kesejahteraan atau bencana selalu dipahami dalam kerangka kepatuhan menggunakan waktu,” tulis Benu dan Koroh. “Waktu menjadi ukuran dasar atau ukuran partisipasi bagi setiap tindakan Orang Boti.” Pemahaman tentang waktu itu, menurut mereka, tidak bersifat kalenderis, melainkan kesempatan untuk bertindak etis.
Orang Boti, menurut artikel, melihat kosmos sebagai bagian dari diri mereka, manusia bersama dengan alam. Dalam pandangan itu manusia diberi tanggung jawab mengurus bumi dan ciptaan lainnya. “Jadi, kedudukan manusia tidak lebih tinggi dari ciptaannya,” tulis kedua penulis. Mereka merumuskan tiga makna fungsi sembilan hari Suku Boti, yakni sebagai tindakan partisipasi, peristiwa yang selalu diulang, dan tindakan yang totalitas.
Tanya-Jawab dengan Usif
Metode yang dipakai adalah penelitian deskriptif. Untuk mendapatkan data tentang adat istiadat Suku Boti, bagian metode menyebut akan ada proses tanya-jawab dengan kepala suku yang memimpin masyarakat Boti, yang disebut usif. Narasumber yang namanya muncul di naskah adalah Ba’i Heka, yang di bagian lain ditulis Ba’i Heka Benu. Keterangan waktu wawancaranya hanya berupa kata Agustus, tanpa tahun.
Keterbatasan kajian tidak dipaparkan dalam artikel. Naskah tidak mencantumkan jumlah narasumber, tanggal wawancara, lama pengamatan di Boti, maupun cara keterangan narasumber dicocokkan. Bagian metode justru menyebut analisis data untuk menguji hipotesis dan membuat inferensi dari sampel ke populasi, tetapi pembahasan tidak menguraikan sampel atau hipotesis apa pun.
Beberapa bagian naskah juga tidak saling cocok. Satu kalimat menyebut kepercayaan lokal tidak memiliki doktrin untuk menyebarluaskan ajaran, sedangkan kalimat sesudahnya menulis kepercayaan Boti memiliki doktrin penyebarluasan karena Halaeka hanya berkembang di wilayah Boti. Hari ketujuh ditulis Neno Naek, berbeda dari awalan Neon pada delapan hari lainnya. Sejumlah rujukan yang disebut di badan teks juga tidak tercantum di daftar pustaka.
Urutan hari itu, menurut artikel, terus berulang di Boti. Pada Neon Tokos, orang kembali berkumpul di lopo di lingkungan istana raja, mendengarkan wejangan, lalu bergotong royong. Dalam hitungan sembilan hari Suku Boti, hari sesudahnya bukan hari kesepuluh. Hari itu kembali menjadi Neon Ai, hari ketika api harus dijaga dengan hati-hati.















