Rumoh Aceh Jadi Enam Busana Unisex di Padang Panjang

A A

Rumoh Aceh berdiri di atas deretan tiang kayu dengan dinding dan tangga berukir. [Foto: Si Gam/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

  • Enam setel busana unisex diperagakan di Gedung Hoerijah Adam pada 26 Juni 2024.
  • Tiga setel ready to wear, dua ready to wear deluxe, dan satu haute couture.
  • Bahannya kain semi wol dipadukan dengan wastra tenun Peulalu khas Aceh Timur.
  • Ornamen Rumoh Aceh tersebar di tangga, kindang, dinding, bara, jendela, pintu, dan tulak angen.
  • Ringkasan naskahnya menyebut wol cashmere, sedangkan badan naskahnya menyebut semi wol.

Cekricek.id — Pukul dua siang, Rabu 26 Juni 2024, Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam dipakai untuk enam setel busana. Gedung itu berada di kampus Institut Seni Indonesia Padangpanjang.

Yang dipamerkan bukan baju adat. Yang dipamerkan sebuah rumah yang dipindahkan ke badan manusia.

Rumah itu Rumoh Aceh. Pembuatnya Imam M Al Aziz Z, mahasiswa Program Studi Desain Mode di kampus tersebut.

Laporan karyanya ditulis bersama Fadri Rahmat dan Mirda Aryadi. Ketiganya berasal dari Fakultas Seni Rupa dan Desain di kampus yang sama.

Judulnya Rumoh Aceh sebagai Inspirasi Busana Unisex. Naskahnya terbit di STYLE: Journal of Fashion Design Volume 4 Nomor 2 tahun 2025.

Naskah itu masuk 6 Juni 2025, direvisi 19 Juni, dan disetujui 23 Juni. Tema peragaannya keanekaragaman budaya dalam ruang lingkup Melayu.

Acaranya dibuka langsung Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain. Yang hadir mahasiswa, dosen, sivitas akademika, dan masyarakat umum.

Daftar Isi
  1. Museum Rumoh Aceh dan Alat Tenun di Aceh Timur
  2. Enam Karya, Tiga Tingkatan
  3. Ube Raya dan Meutumpok
  4. Ulee Balang di Ujung Peragaan

Museum Rumoh Aceh dan Alat Tenun di Aceh Timur

Sebelum ada kain yang digunting, ada dua tempat yang didatangi. Yang pertama Museum Rumoh Aceh, tempat bentuk dan ornamen rumah itu diamati langsung.

Di sana pengkarya mewawancarai seorang budayawan museum. Yang ditanyakan bentuk dan ornamen pada Rumoh Aceh.

Yang kedua lokasi produksi tenun Peulalu di Aceh Timur. Di sanalah kain pendukung busana itu ditenun.

Rumoh Aceh berdiri tinggi di atas sejumlah tiang bulat besar. Tegaknya beraturan, dan bentuk bangunannya segi empat.

Lantainya berjarak empat sampai sembilan hasta dari tanah. Dindingnya berukir, dengan ornamen kayu lain yang disematkan, bukan dipahat di atasnya.

Ornamen itu tersebar di tujuh tempat. Tangga, kindang, dinding, bara, jendela, pintu, dan tulak angen.

Motifnya terdiri atas empat unsur. Flora, fauna, alam, dan agama.

Jumlah dan mutu ornamen bukan sekadar hiasan. Makin tinggi kedudukan pemiliknya di masyarakat, makin banyak dan bagus ornamen di rumahnya.

Sebagian ornamen itu kemudian dipindahkan ke motif kain tenun Peulalu. Kain khas Aceh Timur itu dipakai sebagai bahan pendukung busana.

Dilihat dari sudut pandang seni, rumah itu punya empat hal yang menarik. Desain yang khas, ukiran yang mencolok, konstruksi yang lentur, dan bahan yang ramah alam.

Rumah adat sendiri ditempatkan sebagai penanda daerah. Ia melambangkan kebudayaan masyarakat setempat sekaligus membedakannya dari daerah lain.

Moodboard dipakai sebagai papan pengumpul gagasan. Berbagai gambar ditempelkan di sana sampai bentuk busananya mulai terbaca.

Baca juga Motif Aceh yang Menyelinap ke Ukiran Masjid Bingkudu

Enam Karya, Tiga Tingkatan

Yang diwujudkan enam setel, terbagi tiga tingkatan busana. Metodenya mengikuti tiga tahap penciptaan seni: eksplorasi, perancangan, dan perwujudan.

Eksplorasi berisi observasi, pengumpulan informasi, dan pembacaan pustaka. Perancangan berisi pemilihan tren, pembuatan moodboard, dan sketsa alternatif.

Dari sketsa alternatif itu dipilih desain yang sesuai tema. Sketsa terpilih lalu disempurnakan menjadi acuan pembentukan karya.

Tiga setel ready to wear dibuat untuk rekreasi dan pakaian sehari-hari. Ukurannya dibuat oversize.

Dua setel ready to wear deluxe dibuat untuk busana formal dan busana kerja. Satu setel haute couture dibuat untuk gala dan pesta.

Dua tingkatan terakhir dijahit untuk model bertinggi badan rata-rata 170 sentimeter. Istilah unisex sendiri berarti pakaian yang bisa dipakai pria maupun wanita.

Bahan dasarnya kain semi wol, dipadukan dengan wastra tenun Peulalu. Ringkasan naskahnya menyebut wol cashmere, sedangkan badan naskahnya menyebut semi wol.

Warnanya diambil langsung dari Rumoh Aceh. Kuning, merah, putih, hijau, cokelat, dan hitam.

Tekniknya lima macam. Penyambungan kampuh, jahit butik, fabric manipulation berupa quilting, sulam payet, dan tusuk jelujur.

Prosesnya berjalan berurutan. Pengukuran badan, pecah pola 1:4, rancangan bahan dan rincian biaya, pecah pola 1:1, menggunting, mengobras, menjahit, lalu fitting.

Alat yang dipakai sebagian besar alat jahit biasa. Mesin jahit, mesin overlock, gunting kain, pita ukur, rader, pendedel, dan setrika.

Alat gambarnya lebih ringkas. Penggaris skala, pensil, penghapus, drawing pen, dan sebuah iPad.

Bahan pendukungnya panjang daftarnya. Kain furing, kertas pola, viselin, kancing, resleting, mata ayam, tali katun, dan payet.

Tulak angen berukir pada ujung atap bale di kompleks Museum Aceh
Tulak angen berukir pada ujung atap bale di kompleks Museum Aceh. [Foto: Si Gam/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Karya pertama diberi judul Meutalo, yang berarti bertali. Bentuknya jumpsuit dan turtleneck.

Di bagian paha dipasang mata ayam dan tali. Itu menirukan konstruksi Rumoh Aceh yang dibangun tanpa paku, hanya diikat dan disusun.

Potongan di lutut dibuat segitiga dan dijahit stick. Hasilnya tampak seperti atap, sedangkan kerah turtleneck yang tinggi menirukan rumahnya yang tinggi.

Empat kantongnya dipasang dua di atas dan dua di bawah. Susunan itu melambangkan pintu Rumoh Aceh yang ada di bagian depan dan belakang.

Karya kedua bernama Leupah Pasang, artinya lepas pasang. Bentuknya overall satu badan penuh.

Resletingnya menggambarkan konstruksi rumah yang bisa dibongkar pasang. Dada dibuat berlubang segitiga, meniru ventilasi sekaligus bentuk atap.

Kantong bawahnya kalau digabung membentuk dinding. Lengannya berban, menirukan tiang yang menopang beban tanpa ditanam ke tanah.

Karya ketiga bernama Meutingkat, artinya bertingkat. Bentuknya outer, rok, celana kain, dan turtleneck yang dipadukan menjadi satu kesatuan.

Gespernya dipasang bertingkat di bagian depan rok dan outer. Susunan itu memberi kesan tangga, sedangkan outer segitiganya kembali melambangkan atap.

Baca juga Buya Bomba, Kata Gelombang untuk Motif Bunga

Ube Raya dan Meutumpok

Dua karya ready to wear deluxe berdiri di tingkatan berikutnya. Yang pertama Ube Raya, artinya sangat besar.

Bentuknya blazer, celana balon, kemeja, dan kain panjang. Outer perseginya melambangkan tampak depan Rumoh Aceh.

Kerah jasnya dibuat besar dan bersegitiga, menggambarkan atap. Celana karet yang besar melambangkan tiang penopang yang berdiameter besar.

Rok sampingnya diletakkan di pinggang. Letak itu menggambarkan denah rumah yang berbentuk persegi panjang.

Yang kedua Meutumpok, artinya bertumpuk. Bentuknya outer, rok, celana, dan turtleneck.

Outer perseginya kembali dipakai di karya ini. Bentuk itu sekali lagi melambangkan tampak depan Rumoh Aceh.

Lengan dan roknya dibuat bertingkat, menggambarkan tangga. Potongan segitiga pada rok kembali menjadi atap.

Kancingnya banyak, melambangkan tumpuan tiang yang bulat. Celananya lurus, menyerupai tiang yang berdiri tegak.

Pada kedua karya itu, fabric manipulation ditaruh di kerah, bahu, dan lengan. Bentuknya dibuat supaya tampak seperti ventilasi udara.

Ventilasi berulang muncul di enam karya itu. Ia menjadi detail yang paling sering dipindahkan dari rumah ke kain.

Bentuk segitiga mengulang diri di hampir seluruh karya. Atap rumah itu yang paling sering dipinjam, entah di kerah, lutut, dada, atau rok.

Ulee Balang di Ujung Peragaan

Satu karya haute couture menutup peragaan siang itu. Judulnya Ulee Balang, yang berarti pemimpin.

Bentuknya jas, turtleneck, dan celana kulot. Bahunya dibuat dua tingkat, menirukan atap dan tulak angen yang tegak dan bersegitiga.

Payet ditambahkan di bagian bahu. Tambahan itu dibuat agar tampak sebagai detail dan lubang ventilasi.

Kerah jasnya juga dibuat besar dan bersegitiga. Fabric manipulation di sana membuatnya kembali menyerupai lubang angin pada dinding rumah.

Kerah turtleneck-nya dibuat tinggi. Tingginya sejalan dengan Rumoh Aceh yang berdiri jauh di atas permukaan tanah.

Lengannya disambung dengan gesper. Sambungan itu menggambarkan sistem sambung pada konstruksi rumah tersebut.

Bagian bawah jasnya dipotong seperti separuh atap. Kalau dilihat dari depan dan belakang sekaligus, potongan itu menjadi atap penuh.

Celana kulotnya diikat sisi kanan dengan sisi kiri. Ikatan itu melambangkan tiang besar yang disatukan tanpa paku.

Di bagian perut ada lengkungan berlubang. Bentuknya menyerupai pintu Rumoh Aceh yang setengah lingkaran.

Rujukan trennya trend forecasting 2021/2022 bertajuk The New Beginning. Subtema yang dipakai spirituality.

Subtema itu ditujukan bagi kelompok yang menjadi sangat logis dan berhati-hati. Mereka disebut lebih memperhatikan keseimbangan hidup serta kekayaan lokal.

Karya itu tidak berhenti di panggung. Naskahnya menyebut peragaan sekaligus pameran karya sebagai ajang memperkenalkan Rumoh Aceh ke khalayak umum.

Batas laporan ini perlu disebut. Yang dicatat proses penciptaan enam busana, bukan pengujian kenyamanan pemakainya atau tanggapan penonton.

Baca juga 75 Persen Paham, 26,7 Persen Pakai Bahasa Aceh

Ketika peragaan di Gedung Hoerijah Adam usai sore itu, yang tersisa di panggung bukan lagi rumah panggung berukir. Yang tersisa enam setel baju yang bisa dipakai laki-laki maupun perempuan.

Bagikan

Baca Juga

Lambi Tei Rote, Motif Raja yang Dibakar Bila Salah Pemakai
Kearifan Smong Diwariskan lewat Nyanyian Ibu di Simeulue
Tangis Dilo, Ratapan Fajar Suku Alas yang Kian Jarang
Honai Disebut Rumah Sehat meski Tanpa Satu Pun Jendela
Kopi Gayo Bersertifikat, Untung Lebih Besar tapi Kurang Efisien
Pendidik PAUD Padang Panjang Ikuti Uji Kompetensi di UNP