Cekricek.id — Kalau nama kain buya bomba dipenggal kata per kata, artinya kain gelombang, sebab buya berarti kain sedangkan bomba berarti gelombang atau riak.
Orang yang baru mendengar nama itu wajar membayangkan garis-garis berombak, semacam riak air yang dibekukan di atas benang. Dugaan tersebut punya alasan yang masuk akal. Kain tenun khas etnik Kaili di Sulawesi Tengah itu memang lahir di pesisir, di sekitar Teluk Palu, dan pelabuhan Donggala pernah menjadi tempat singgah jalur perdagangan internasional. Dugaan itu tetap saja meleset.
Pada kain yang sesungguhnya, bomba justru berarti bunga. Motif dasarnya bunga, dan sudah begitu sejak kain bermotif itu dikenal. Jamrin, pemerhati sejarah dan budaya Sulawesi Tengah berusia 52 tahun, dalam wawancara dengan tim peneliti pada Februari 2024 mendefinisikan buya bomba sebagai kain tenun bermotif, dan menegaskan ungkapan itu tidak bisa dipahami kalau kedua katanya dibaca terpisah.
Penjelasan tersebut berasal dari kajian Dwi Septiwiharti dari Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Haliadi dari Program Studi Pendidikan Sejarah, dan Anjar Kusuma Dewi dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, ketiganya di Universitas Tadulako, Palu. Artikel mereka berjudul Philosophical Values in the Motif Design of the Donggala Woven Fabric dan terbit di jurnal Mozaik Humaniora Volume 25 Nomor 1 tahun 2025, halaman 13 sampai 30.
Daftar Isi
Buya Bomba: Kain Bermotif, Bukan Kain Gelombang

Nama-nama lain kain Donggala mengikuti pola yang sama, yaitu kata pertama menyebut kainnya dan kata kedua menyebut cara membuat atau ragam hiasnya. Ada buya sabe, kain dari benang sutra yang sepadan dengan liba sabe atau sarung sutra Bugis. Ada buya subi, kain bermotif bunga yang dikerjakan dengan teknik sungkit, yaitu teknik mengungkit beberapa helai benang. Ada bomba kota, kain berpola kotak-kotak atau geometris.
Ada pula buya awi, kain panjang dari benang satu warna tanpa ragam hias sama sekali. Panjangnya berkisar dari sekitar 180 sentimeter sampai lebih dari 200 sentimeter, dengan lebar setara sarung. Kain ini tidak dipakai sebagai bahan busana. Ia dipakai untuk perlengkapan tidur berupa selimut dan seprai. Warnanya bermacam-macam, di antaranya kuning, hijau, merah, dan ungu.
Baca juga Rijsttafel, Meja Nasi yang Meniru Cara Bumiputera
Kain bermotif menuntut waktu yang jauh berbeda dari kain polos semacam itu. Pembuatan pola buya bomba adalah yang paling rumit di antara semua ragam dan memerlukan sekitar dua sampai empat bulan. Dalam arsip Belanda tercatat dua puluh enam ragam motif utama kain tenun Donggala, di antaranya Timbavo, Bulelenga, Sisuru Tene, Katupa, Bungamputi, Taiganja, dan Sabe. Motif Timbavo sendiri memuat ragam hias bunga, hewan, dan geometris sekaligus.
Lungsi dan Pakan: Benang Tegak, Benang Melintang
Cara kerja kain itu bertumpu pada dua jenis benang yang saling menyilang. Benang lungsi adalah benang yang membujur tegak, sedangkan benang pakan adalah benang yang melintang mendatar. Ragam hias dibuat dengan mengikat sebagian benang sebelum dicelup, sehingga bagian yang terikat mempertahankan warna aslinya sementara bagian yang terbuka menyerap warna celupan. Teknik pengikatan itu disebut ikat.
Ada tiga bentuknya. Ikat lungsi mengikat benang-benang yang membujur. Ikat pakan mengikat benang-benang yang melintang. Ikat ganda mengikat keduanya sekaligus, dan dari teknik inilah bomba kota lahir dengan pola papan caturnya. Meski memakai ikat ganda, motif bomba kota tetap terbatas pada garis diagonal serta garis tegak dan mendatar, sehingga hasil akhirnya berupa kotak-kotak.
Pembandingnya yang paling dekat adalah batik. Pengikatan dan pencelupan benang pada tenun ikat sebanding dengan pemakaian malam pada batik, sebab keduanya sama-sama menahan warna agar tidak masuk. Bedanya terletak di tahap akhir. Pada tenun ikat, bagian yang diikat harus dilepas. Pada batik, malam justru dikerok setelah pencelupan selesai. Yang satu membuka simpul, yang satu mengelupas lilin.
Proses kain dimulai jauh sebelum benang diikat, yaitu dari serat kapas yang dipintal menjadi benang lalu ditenun menjadi lembaran. Pohon kapas tumbuh melimpah di Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala. Buya bomba lazim ditenun di Donggala sejak abad ke-18, ketika kota itu menjadi pusat perdagangan sebelum bangsa asing datang. Catatan tentang kapas dan abad ke-18 itu berasal dari Jamrin dalam wawancara Februari 2024.
Penenunan tersebar di banyak titik di sekitar pesisir Teluk Palu, baik di sisi timur maupun sisi barat Kabupaten Donggala. Di Palu, tradisi itu masih hidup di Tawaeli, Pantoloan, Wani, Palu Barat, dan Kelurahan Watusampu. Di Kecamatan Tawaeli, tenun dikerjakan di Desa Wani, Banawa, Salubomba, dan Kabonga. Hambali, Ketua Dewan Adat Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, berusia 46 tahun, menyebut teknik itu juga hidup di dua desa di Kecamatan Sindue, yaitu Lero dan Labuan.
Kumbaja dan Subi: Benang Emas yang Diungkit
Kata subi berkaitan erat dengan sungkit, yang berarti mengungkit beberapa helai benang. Benang yang diungkit dan disisipkan itu disebut kumbaja, yaitu benang emas, yang dijalin bersama benang lungsi. Hasilnya bukan warna, melainkan tekstur, sebab permukaan kain menjadi timbul menyerupai sulaman. Teknik itulah yang membedakan buya subi dari buya bomba, yang seluruh ragam hiasnya mengandalkan ikatan dan celupan.
Baca juga Karpet Salah Tempat di Pameran Furnitur Bertutur
Buya subi kumbaja adalah kain songket berbenang emas, yakni kain yang ragam hiasnya dibentuk dari benang tambahan yang disisipkan saat menenun. Kain dasarnya berwarna seragam, kerap ungu, dan bentuknya terilhami kain Bugis dari Sulawesi Selatan. Buya bomba subi kumbaja menggabungkan dua jalan itu, dengan motif ikat berupa bunga, tangkai, dan daun berwarna ungu kemerahan, jingga, hijau, dan kuning, sementara bagian bunga yang kuning dihias benang emas.
Pada ragam ini burung mulai muncul. Motifnya bisa berupa bunga saja, bisa pula bunga yang dipadukan dengan figur burung, umumnya merak atau kakatua. Salah satu namanya tonjo kea, yang berarti kakatua bertengger. Motif hewan semacam ini tergolong jarang. Selain aneka burung yang disebut manu-manu, motif fauna tidak banyak dipakai karena pengaruh seni hias Islam, terutama di kawasan pesisir Sulawesi Tengah.
Batas itu punya tanggalnya sendiri. Iksam, Kepala Bidang Pelindungan dan Pelestarian Kebudayaan Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah berusia 57 tahun, dalam wawancara Februari 2024 menerangkan bahwa sebelum Islam masuk ke tanah Kaili pada abad ke-17, figur manusia juga digambarkan pada motif kain tenun. Sesudah masa itu figur manusia berhenti muncul, dan motif bunga mulai bermunculan menggantikannya.
Kain itu juga punya aturan pakai. Kain Donggala lazim dikenakan dalam ritual daur hidup masyarakat Kaili, misalnya perkawinan dan kematian. Kain berwarna cerah dan bermotif dipakai pada pesta perkawinan serta perayaan syukuran. Kain berwarna gelap atau hitam dipakai pada upacara kematian. Pada masa lampau kain ini hanya dikenakan dalam adat dan upacara, sedangkan sekarang semua penduduk tanah Kaili boleh memakainya sehari-hari.
Kelo dan Taiganja: Daun Kelor dan Liontin Emas
Motif baru terus lahir, dan namanya masih berupa terjemahan benda sehari-hari. Kelo berarti daun kelor. Wiwi Hassan, perajin kain tenun ikat Alhikmah berusia 45 tahun, dalam wawancara Maret 2024 menjelaskan motif sasio tava kelo memuat sembilan lembar daun kelor, yang menandai Kota Palu sebagai pusat koordinasi yang dikelilingi delapan kecamatan.
Nama lain diambil dari makanan. Motif perpaduan bomba dan baje menggabungkan pola bunga dengan kue baje, penganan tradisional dari ketan dan gula merah yang dibentuk belah ketupat, dan melambangkan kemakmuran serta kerja bersama. Motif katupa kelo berbentuk belah ketupat yang dipadukan dengan daun kelor. Motif katupa ngapa, yang berarti ketupat kampung, berupa belah ketupat yang dikelilingi daun kelor dan mewakili kampung-kampung di tanah Kaili.
Baca juga Rejang Terancam, Enggano Justru Lebih Terjaga
Daun kelor dipilih bukan karena bentuknya saja. Pohon kelor kerap ditanam di halaman depan rumah orang Kaili dan daunnya dimasak menjadi sayur. Ada kepercayaan bahwa siapa pun yang menyantap sayur kelor akan ingin kembali ke tanah Kaili. Pohon itu juga hampir tidak menuntut perawatan, dan kajian ini membaca kemudahan itu sebagai cermin kemampuan orang Kaili bertahan di lingkungan alamnya.
Taiganja adalah istilah untuk perhiasan dari logam mulia, misalnya liontin emas, yang menandai warisan atau menaikkan status pemakainya. Kain dengan motif ini juga melambangkan kesuburan, cinta, dan kejujuran. Imam Basuki, perajin kain tenun Donggala dari UD Anugrah berusia 56 tahun, dalam wawancara Maret 2024 menyebut sedikitnya ada tiga ragam modifikasi kain Donggala, yaitu bomba kelor, bomba taiganja, dan megalit taiganja.
Basuki mencatat pergeseran yang lain lagi. Pembeli masa kini kurang berminat pada nama motif yang mereka pilih, sebab sebagian besar desain sudah dimodifikasi. Perajin kain Donggala juga kerap mengikuti aneka lomba inovasi produk, sebagaimana disebut Wiwi Hassan dalam wawancara yang sama. Di Kota Palu, aparat wajib mengenakan kain lokal setiap Kamis sebagai bagian dari peringatan Hari Batik Nasional.
Kajian ini membaca seluruh pergeseran itu memakai filsafat kebudayaan Cornelis Anthonie van Peursen, yang membagi perkembangan pikiran manusia ke dalam tiga tahap. Tahap mitis adalah ketika manusia merasa dikepung kekuatan alam, dewa, dan roh. Tahap ontologis adalah ketika manusia mengambil jarak dari lingkungannya dan mulai menalar. Tahap fungsional adalah ketika manusia menjalin kemitraan dengan sekitarnya dan menimbang kegunaan.
Motif geometris, bunga, dan hewan ditempatkan pada tahap pertama, ketika pikiran orang Kaili masih menyatu dengan alam. Penamaan ragam kain seperti buya bomba dan buya subi, menurut kajian ini, muncul pada tahap ontologis sejak abad ke-18. Motif mawar dan anyelir lahir belakangan, ketika penenun tidak lagi terikat pada rancangan warisan pendahulunya. Pada tahap fungsional, ragam hias itu keluar dari kain sarung dan berpindah ke kaus, tas, serta sepatu.
Kajian ini bersandar besar pada tradisi lisan, yang dikumpulkan lewat wawancara mendalam dengan ahli budaya, arkeolog, tokoh adat, dan perajin kain tenun Donggala. Penulisnya mengutip Jan Vansina, yang menyatakan tradisi lisan adalah sumber sejarah dengan bentuk tersendiri karena keterangannya berasal dari sumber tak tertulis, lalu mencatat bahwa pernyataan itu justru mendorong sejarawan mempersoalkan kredibilitas tradisi lisan dan sumber tak tertulis. Itu batas yang mereka akui sendiri.
Kata Kaili sendiri berarti mengalir. Bomba tetap berarti gelombang selama ia berdiri sendiri. Ia baru berarti bunga ketika ada kata buya di depannya, dan bunga itulah yang bertahan pada semua ragam kain Donggala sampai sekarang.













