Video Penyakit Ketinggian Paling Disukai Justru Kurang Bermutu

A A

Ilustrasi rombongan wisatawan di tepi bukit menghadap Danau Namtso dan pegunungan bersalju, Tibet, Tiongkok [Foto: Yudi Ding/Pexels]

  • Jumlah tanda suka berkaitan negatif dengan skor GQS, dengan koefisien minus 0,22.
  • Individu nonprofesional menguasai 69,4 persen video di Douyin dan 63,2 persen di Bilibili.
  • Urutan ketiga skor selalu sama dari atas ke bawah: lembaga profesional, individu profesional, lembaga nonprofesional, lalu individu nonprofesional.
  • Rekaman pengalaman sendiri justru meraih tanda suka, komentar, dan jumlah dibagikan paling banyak.
Daftar Isi
  1. Li dan Zhang memilah siapa yang berbicara
  2. Zhang dan Li menemukan dua platform berwatak lain
  3. Chen menengahi, rapor rata-rata tetap rendah
  4. Li dan rekan menemukan yang ramai belum tentu benar
  5. Chen dan Hu menitip pesan ke tiga pihak
  6. Batas yang diakui Li dan yang bisa diperiksa pembaca

Wenrui Li dan Shuang Zhang menonton satu per satu video tentang penyakit ketinggian di Douyin dan Bilibili, dua platform video besar di Tiongkok. Sebagian berisi penjelasan dokter, sebagian lagi rekaman pelancong yang menceritakan sendiri gejala yang mereka alami di dataran tinggi. Kedua peneliti itu memberi nilai pada setiap video secara terpisah. Yang mereka cari sederhana: seberapa layak video-video itu dipercaya orang yang hendak naik ke tempat tinggi.

Li dan Zhang menuliskan hasilnya bersama Chang Liu, Youqian Zhang, Mingwei Chen, dan Tinghua Hu dalam Quality and reliability of health information about altitude sickness on Douyin and Bilibili: a cross-sectional study, yang terbit di BMC Public Health volume 26 nomor artikel 1024 tahun 2026. Keenam peneliti itu bekerja di Department of Respiratory and Critical Care Medicine, the First Affiliated Hospital of Xi’an Jiaotong University, di Xi’an, Shaanxi.

Alasan Li dan rekan-rekannya menekuni topik ini ada di angka kunjungan. Pada 2024, wilayah Qinghai menerima 53,78 juta wisatawan dan Tibet 63,89 juta. Penyakit ketinggian, tulis mereka, adalah serangkaian gejala tak khas pada orang yang belum beradaptasi di ketinggian 2.500 meter atau lebih, biasanya muncul 4 sampai 12 jam setelah tiba. Gejalanya antara lain sakit kepala, lelah, pusing, mual, muntah, dada sesak, napas pendek, dan gangguan tidur.

Pada kasus berat, lanjut Li dan rekan-rekannya, penyakit ini bisa berkembang menjadi edema paru atau edema otak yang mengancam nyawa bila tidak segera ditangani. Sementara itu, pengguna video pendek di Tiongkok per Juni 2025 mencapai 1,068 miliar orang, atau 95,1 persen dari seluruh warganet. Douyin, versi Tiongkok dari TikTok, punya 700 juta pengguna aktif harian, sedangkan Bilibili 109 juta.

Li dan Zhang memilah siapa yang berbicara

Dari seratus video teratas di tiap platform, Li dan Zhang menyisakan 161 video yang layak dinilai, yaitu 85 dari Douyin dan 76 dari Bilibili. Hal pertama yang mereka catat adalah siapa pengunggahnya. Sebanyak 107 video datang dari individu nonprofesional, 29 dari individu profesional seperti dokter, 18 dari lembaga nonprofesional seperti media komersial, dan hanya 7 dari lembaga profesional seperti rumah sakit.

Artinya, dalam hitungan Li dan Zhang, hanya 36 video atau 22,36 persen yang berasal dari lembaga atau orang berlatar profesional. Itu kira-kira satu dari lima video. Individu nonprofesional menguasai 69,4 persen video di Douyin dan 63,2 persen di Bilibili. Menurut para penulis, mereka kebanyakan pelancong biasa yang membagikan pengalaman pribadi di dataran tinggi.

Rapor 161 video penyakit ketinggianRapor 161 video penyakit ketinggianRapor 161 video penyakit ketinggianDouyin dan Bilibili, Tiongkok22,36%video darilembaga/orangprofesional2,85JAMArata-rata, skala0-42,20mDISCERNrata-rata, skala0-52,57GQSrata-rata, skala1-5Jalan risetnya100 teratas per platform161 video lolosTiga alat penilaiSkor lebih tinggi berarti video lebih andal dan lebih bermutu.
Sumber: Wenrui Li, Shuang Zhang, Chang Liu, Youqian Zhang, Mingwei Chen, dan Tinghua Hu, Quality and reliability of health information about altitude sickness on Douyin and Bilibili: a cross-sectional study, BMC Public Health, 26(1024), 2026. Grafik: Cekricek.id

Zhang dan Li juga mencatat umur video-video itu. Di Douyin, kelompok terbesar diunggah pada 2024, yakni 37,6 persen, sedangkan di Bilibili kelompok terbesar berasal dari 2025, yakni 34,2 persen. Video tertua dalam daftar mereka diunggah pada 2017 dan hanya ada satu, di Bilibili. Susunan pengunggah dan tahun unggah di kedua platform tidak berbeda secara bermakna.

Zhang dan Li menemukan dua platform berwatak lain

Perbedaan baru terlihat ketika Zhang dan Li membandingkan bentuk videonya. Video di Douyin jauh lebih pendek, dengan nilai tengah 71 detik, sedangkan di Bilibili 137 detik. Hampir separuh video Douyin, 48,2 persen, adalah rekaman pengalaman pembuatnya sendiri, dan 44,7 persen berisi edukasi. Di Bilibili, video edukasi mencapai 60,5 persen dan rekaman pengalaman sendiri hanya 22,4 persen.

Keramaiannya pun timpang. Dalam catatan Li dan rekan-rekannya, satu video Douyin mendapat nilai tengah 24.000 tanda suka, sedangkan video Bilibili 393,5. Komentar 3.235 berbanding 65,5. Video Douyin dibagikan 9.820 kali, video Bilibili 55,5 kali, dan disimpan 2.965 kali berbanding 103 kali. Douyin, dengan kata lain, lebih pendek dan jauh lebih ramai.

Dua platform, dua watakDua platform, dua watakDua platform, dua watakVideo penyakit ketinggian: 85 di Douyin, 76 di BilibiliDouyinBilibili71 detik137 detikDurasi24.000393,5Suka3.23565,5Komentar44,7%60,5%Video edukasiDurasi, suka, dan komentar adalah nilai tengah (median) per video.
Sumber: Wenrui Li, Shuang Zhang, Chang Liu, Youqian Zhang, Mingwei Chen, dan Tinghua Hu, Quality and reliability of health information about altitude sickness on Douyin and Bilibili: a cross-sectional study, BMC Public Health, 26(1024), 2026. Grafik: Cekricek.id

Baca juga Literasi Kesehatan Desa Thailand Naik, Gula Darah Ikut Turun

Soal isi, Zhang dan Li memeriksa tujuh unsur. Gejala paling sering dibahas, yakni di 78,8 persen video Douyin dan 65,8 persen video Bilibili. Cara mengobati muncul di 47,1 persen dan 59,2 persen video, sedangkan pencegahan hanya di 23,5 persen dan 34,2 persen. Mekanisme penyakit dijelaskan di 14,1 persen dan 14,5 persen video saja.

Satu-satunya unsur yang berbeda secara bermakna antarplatform, menurut Li dan rekan-rekannya, adalah definisi penyakit ketinggian: 8,2 persen video Douyin memuatnya, dibanding 21,1 persen video Bilibili. Kelompok yang rentan disebut di 9,4 persen dan 17,1 persen video. Hal-hal yang perlu diperhatikan pelancong dibahas di 23,5 persen video Douyin dan 36,8 persen video Bilibili.

Jenis video ikut menentukan kelengkapan. Zhang dan rekan-rekannya mendapati video edukasi mencakup ketujuh unsur, sedangkan rekaman pengalaman sendiri dan kisah tentang orang lain hanya menyentuh sebagian. Kisah tentang orang lain berdurasi paling panjang. Rekaman pengalaman sendiri justru meraih tanda suka, komentar, dan jumlah dibagikan paling banyak.

Chen menengahi, rapor rata-rata tetap rendah

Setiap video diberi tiga nilai oleh Li dan Zhang, dan bila keduanya berselisih, Mingwei Chen yang memutuskan. Nilai pertama, JAMA, menakar keandalan sumber pada skala 0 sampai 4. Nilai kedua, mDISCERN, menakar mutu dan kelengkapan isi pada skala 0 sampai 5. Nilai ketiga, GQS, menakar mutu keseluruhan dan kegunaan video pada skala 1 sampai 5.

Hasil yang dicatat Chen dan rekan-rekannya: rata-rata 2,85 untuk JAMA, 2,20 untuk mDISCERN, dan 2,57 untuk GQS. Pada dua alat terakhir, rata-rata itu berada di sekitar tengah skala atau di bawahnya. Para penulis menyimpulkan mutu video penyakit ketinggian di kedua platform secara keseluruhan belum memadai, dan menunjuk timpangnya susunan pengunggah sebagai sebab utamanya.

Bilibili sedikit lebih baik. Li dan rekan-rekannya mencatat skor GQS video Bilibili lebih tinggi secara bermakna daripada Douyin, sedangkan dua skor lainnya tidak berbeda. Durasi juga ikut bicara: makin panjang video, skor mDISCERN dan GQS cenderung makin tinggi, dengan koefisien 0,29 dan 0,32. Para penulis mengaitkan keunggulan Bilibili dengan videonya yang lebih panjang dan lebih banyak berisi edukasi.

Beda paling tegas ditemukan Chen dan rekan-rekannya pada jenis pengunggah. Urutan ketiga skor selalu sama dari atas ke bawah: lembaga profesional, individu profesional, lembaga nonprofesional, lalu individu nonprofesional. Ketujuh video lembaga profesional seluruhnya berisi edukasi. Pada individu profesional angkanya 93,1 persen, pada lembaga nonprofesional 50,0 persen, dan pada individu nonprofesional 38,3 persen.

Kelengkapan isi mengikuti pola serupa dalam tabel Li dan Zhang. Pencegahan dibahas di 58,6 persen video individu profesional dan 57,1 persen video lembaga profesional, tetapi hanya di 17,8 persen video individu nonprofesional. Definisi penyakit muncul di 41,4 persen video individu profesional, dibanding 6,5 persen pada individu nonprofesional. Hanya gejala yang dibahas hampir merata oleh semua jenis pengunggah.

Baca juga Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet

Li dan rekan menemukan yang ramai belum tentu benar

Temuan yang paling mengusik Li dan rekan-rekannya muncul ketika angka keramaian disandingkan dengan angka mutu. “Selain itu, penelitian ini mengungkap sebuah fenomena yang berlawanan dengan intuisi: video dengan tingkat interaksi pengguna tertinggi secara konsisten menunjukkan skor yang lebih rendah pada ukuran mutu dan keandalan,” tulis Li dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Angkanya dicatat Liu dan Youqian Zhang, yang ikut menganalisis data. Jumlah tanda suka berkaitan negatif dengan skor GQS, dengan koefisien minus 0,22. Jumlah komentar berkaitan negatif lebih kuat, minus 0,29. Angka itu menunjukkan arah hubungan, bukan sebab. Banyaknya tanda suka tidak membuat video menjadi buruk; keduanya hanya cenderung berjalan berlawanan.

Li dan rekan-rekannya menawarkan penjelasan. Video yang ramai kerap berupa rekaman pengalaman sendiri dari individu nonprofesional. Video semacam itu, menurut mereka, memancing tanggapan emosional yang kuat sehingga banyak dibagikan, tetapi sering tidak punya dasar ilmiah dan bisa menyesatkan. Pola serupa, tulis mereka, pernah dilaporkan pada video pendek tentang penyakit Alzheimer, batu empedu, dan eksim atopik.

Chen dan Hu, dua penulis korespondensi, bersama rekan-rekannya menutup naskah dengan kalimat yang lugas. “Ukuran interaksi platform (seperti tanda suka dan komentar) bukanlah pengganti yang andal untuk menilai kebenaran ilmiah suatu konten,” tulis mereka dalam simpulan yang aslinya berbahasa Inggris. Video dari kalangan profesional, kata mereka, jauh lebih andal tetapi tetap minoritas.

Chen dan Hu menitip pesan ke tiga pihak

Dari temuan itu, Chen, Hu, dan rekan-rekannya menyusun saran untuk tiga pihak. Bagi orang yang merencanakan perjalanan ke dataran tinggi, mereka menganjurkan agar video edukasi dari lembaga profesional dijadikan rujukan utama. Rekaman pengalaman pribadi cukup dipakai sebagai gambaran situasi. Patokannya adalah siapa yang berbicara, misalnya rumah sakit atau dokter spesialis pernapasan, bukan berapa banyak tanda sukanya.

Bagi tenaga kesehatan, Hu dan rekan-rekannya menyarankan agar mereka aktif membuat konten bermutu yang mudah menyebar di platform video pendek. Di ruang praktik, dokter bisa menanyakan dari mana pasien mendapat informasi dan meluruskan salah paham yang mungkin terbawa. Bagi platform, para penulis meminta algoritme memberi tempat lebih terlihat bagi konten kesehatan yang profesional, serta label peringatan pada informasi kesehatan berisiko tinggi dari sumber nonprofesional.

Li dan rekan-rekannya tidak menolak video pendek. Mereka mencatat kedua platform sama-sama memuat unsur inti seperti definisi, gejala, pencegahan, dan pengobatan. Rekaman pengalaman di Douyin menjawab kebutuhan orang akan pengalaman praktis, sedangkan video edukasi di Bilibili menyampaikan pengetahuan yang lebih runtut. Keduanya, menurut para penulis, bisa membantu orang membentuk pemahaman awal sebelum naik ke tempat tinggi.

Baca juga Suhu Panas Ikut Mendorong Naiknya Kasus Flu di China

Batas yang diakui Li dan yang bisa diperiksa pembaca

Li dan rekan-rekannya mengakui sejumlah batas. Data mereka adalah potret hasil pencarian pada satu waktu, sehingga bisa terpengaruh selera algoritme dan tidak menggambarkan perubahan isi dalam jangka panjang. Yang diteliti pun hanya video berbahasa Mandarin di dua platform, sehingga hasilnya sulit dibawa ke tempat lain. Daftar yang disusun platform itu sendiri berpotensi lebih memihak video yang ramai.

Batas lain menyangkut cara Li dan Zhang menggolongkan pengunggah, yaitu berdasarkan identitas yang diakui pengunggah di depan umum. Para penulis tidak bisa memeriksa apakah seorang pengunggah memang menekuni kedokteran pegunungan atau tinggal di dataran tinggi. “Hal ini dapat membatasi penafsiran lebih lanjut atas relevansi geografis atau fokus khusus sumber konten,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Chen dan rekan-rekannya juga mengingatkan bahwa alat JAMA semula dibuat untuk menilai teks kesehatan di situs web, bukan video. Isi video tidak dicocokkan dengan pedoman klinis penyakit ketinggian, dan penilaian tetap mengandung unsur subjektif. Penelitian ini didanai Major Science and Technology Project of Qinghai Province, dan para penulis menyatakan memakai model bahasa DeepSeek-V3.2 untuk memoles bahasa naskah.

Pembaca yang teliti bisa memeriksa beberapa hal di naskah Li. Judul menyebut kedua platform sebagai platform video pendek, padahal Bilibili digambarkan berpusat pada video menengah hingga panjang. Mutu video disebut sedang di bagian hasil, tetapi menengah ke bawah di pembahasan. Pembahasan juga menyebut video profesional mencakup ketujuh unsur, sementara di tabel hanya dua dari tujuh video lembaga profesional yang memuat definisi.

Satu angka lagi patut dilihat di tabel Li dan Zhang. Nilai tengah tanda suka tertinggi di antara empat jenis pengunggah justru milik lembaga profesional, 23.000, jauh di atas individu profesional yang 826. Beda itu tidak bermakna secara statistik dan hanya bertumpu pada tujuh video. Naskah tidak membahasnya ketika menyimpulkan bahwa video yang ramai cenderung kurang bermutu.

Wenrui Li dan Shuang Zhang selesai menonton dengan rapor yang tidak menggembirakan. Dari 161 video yang mereka nilai, yang paling bisa dipegang adalah video rumah sakit dan dokter, dan jumlahnya hanya 36. Rekaman pelancong yang pusing dan sesak di dataran tinggi tetap paling banyak ditonton, disukai, dan dibagikan. Di daftar mereka, kedua jenis video itu berdiri berdampingan, dan tanda suka tidak membedakannya.

Bagikan

Baca Juga

Antibiotik Mengiringi Satu dari Tujuh Anak Italia sejak Bayi
Berat Badan Ibu Sebelum Hamil Terbawa ke Tubuh Anak di Taiwan
Toko Serba Murah Berjejer, Obesitas Kota Amerika Ikut Tinggi
Orang Lauje Melarung Perahu Sesaji agar Wabah Hanyut ke Laut
Kemantan Petalangan, Dukun yang Marah Melihat Hutannya Dibabat
Keluarga Pasien Cuci Darah Merapat, Kerabat Hanya Bertanya Kabar