Keluarga Pasien Cuci Darah Merapat, Kerabat Hanya Bertanya Kabar

A A

Ilustrasi mesin hemodialisis di samping kursi rebah kosong di ruang cuci darah [Foto: Виталий Поспелов (Daniel sergeev)/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0]

  • Lima belas pasien cuci darah di Karaman bercerita tentang perubahan di dalam keluarga mereka.
  • Di sebagian besar rumah tangga, cuci darah justru menguatkan ikatan emosional dan kerja sama sehari-hari.
  • Hubungan dengan tetangga dan sanak terjaga secara emosional, sedangkan bantuan nyata atau uang sering terbatas.
  • Cerita lelah lebih kuat di awal, cerita terbiasa menguat seiring lamanya pengobatan.
Daftar Isi
  1. Di dalam rumah, keluarga merapat dan berbagi tugas
  2. Di luar rumah, perhatian berhenti pada bertanya kabar
  3. Pasien baru hidup mengikuti lelah dan jam mesin
  4. Pasien lama menyebut semuanya sudah biasa
  5. Yang ditegaskan kedua peneliti dari Karaman
  6. Yang masih mengganjal di dalam naskah

Jam makan sebuah keluarga dan jadwal mesin cuci darah di rumah sakit tampak seperti dua urusan yang tidak bersinggungan. Di Karaman, kota di kawasan Anatolia Tengah, Türkiye, keduanya ternyata diatur oleh jam yang sama. Seorang pasien di sana bercerita bahwa seluruh jadwal rumahnya, dari waktu makan sampai jam menerima tamu, kini ditentukan oleh sesi cuci darah.

Cerita itu dicatat Demet Çelik dan Orkun Erkayiran dalam Investigating the effect of hemodialysis on family dynamics: a qualitative study, yang dimuat BMC Public Health sebagai naskah dalam proses terbit, tahun 2026. Keduanya peneliti keperawatan di Fakultas Ilmu Kesehatan Karamanoğlu Mehmetbey University, Karaman. Mereka ingin tahu apa yang berubah di dalam keluarga ketika salah satu anggotanya harus menjalani hemodialisis, istilah medis untuk cuci darah.

Lima belas pasien berbicara kepada mereka di unit dialisis sebuah rumah sakit, antara Mei dan Juli 2025. Usia rata-rata mereka 58,6 tahun, dengan yang termuda 35 dan yang tertua 75 tahun. Sembilan orang menikah, sebelas punya anak, dan dua belas hanya tamat sekolah dasar. Rata-rata mereka sudah 6,37 tahun bergantung pada mesin itu.

Siapa 15 pasien cuci darah di KaramanSiapa 15 pasien cuci darah di KaramanSiapa 15 pasien cuci darah di KaramanPasien hemodialisis di satu rumah sakit, Turkiye15Pasiendiwawancarai58,6Tahunrata-rata usia6,37Tahunrata-rata cucidarah6TemaperubahankeluargaJalan risetnyaWawancara Mei-Juli202515 pasien6 temaUsia termuda 35 tahun, tertua 75 tahun.
Sumber: Demet Çelik dan Orkun Erkayiran, Investigating the effect of hemodialysis on family dynamics: a qualitative study, BMC Public Health, naskah dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Dari percakapan itu muncul enam tema, dan hampir semuanya datang berpasangan. Ada yang mendekat dan ada yang menjauh. Ada pasien yang baru mulai dan ada yang sudah belasan tahun. Ada yang dilindungi sampai tidak boleh berbuat apa-apa, ada pula yang pulang ke rumah kosong. Tulisan ini mengikuti pasangan-pasangan itu satu per satu.

Di dalam rumah, keluarga merapat dan berbagi tugas

Sisi pertama adalah rumah itu sendiri. Di sebagian besar rumah tangga, tulis kedua peneliti, cuci darah justru menguatkan ikatan emosional dan kerja sama sehari-hari. Seorang partisipan yang dicatat penulis sebagai P1 berkata, “Kami lebih dekat sekarang… kami merencanakan semuanya bersama.” Kalimat itu, seperti seluruh kutipan dalam naskah, tertulis dalam bahasa Inggris.

Kedekatan itu punya bentuk yang sangat praktis, yaitu mengantar dan menjemput. Partisipan berkode P3 diantar ayahnya dengan mobil sampai ke Konya. Partisipan lain, P11, menyebut anak perempuannya yang membawa dan memulangkannya. Menurut naskah, berbagi tanggung jawab dan bantuan kendaraan seperti itulah yang meringankan rasa lelah dan keterbatasan gerak pasien.

Pekerjaan rumah ikut berpindah tangan. P1 menceritakan ibunya mengerjakan hampir semuanya; sang ibu memotong bahan, ia yang memasak. P8 punya pembantu rumah yang datang sekali sepekan, dan selebihnya suaminya banyak membantu. Pada sembilan partisipan yang menikah, perubahan peran di rumah dan pembagian perawatan terlihat paling jelas.

Tetapi perlindungan punya harga. Partisipan yang dicatat sebagai P10 berkata, “Mereka bilang, kamu sakit, duduk saja—mereka tidak membiarkan saya mengerjakan apa pun.” Kedua peneliti membaca hal ini sebagai tawar-menawar diam-diam antara sikap melindungi dan kemandirian pasien. Tawar-menawar itu, menurut mereka, yang menjaga keluarga tetap berjalan.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Di luar rumah, perhatian berhenti pada bertanya kabar

Di sisi lain ada lingkaran yang lebih luas, yakni tetangga dan kerabat. Di sini kehangatan tetap ada, tetapi bentuknya berbeda. Hubungan dengan tetangga dan sanak umumnya terjaga secara emosional, sedangkan bantuan nyata atau uang sering terbatas. Naskah menyebut bantuan materi itu datang sesekali dan bergantung keadaan.

Dua kalimat pasien menggambarkan jarak tersebut. P5 berkata, “Saya tidak pernah menerima bantuan dari tetangga; mereka hanya menelepon untuk bertanya.” P1, yang di rumahnya begitu dekat dengan ibunya, berkata tentang keluarga besarnya, “Saya punya banyak kerabat, tetapi… mereka ada dan tidak ada—kami tidak benar-benar dekat.”

Jarak itu paling terasa bagi yang tinggal sendiri. P6, perempuan berusia 75 tahun, hidup sendirian dan hanya sesekali dibantu anak-anaknya. P11 juga menyebut dirinya tinggal sendiri; hubungannya dengan tetangga hangat, tetapi tidak ada yang membantu secara materi. “Kesenjangan ini menambah kerentanan, terutama bagi partisipan yang tinggal sendiri,” tulis Demet Çelik dan Orkun Erkayiran dalam naskah berbahasa Inggris itu.

Uang mempertajam garisnya. Partisipan yang melaporkan penghasilan tidak memadai lebih keras menyuarakan kebutuhan akan bantuan angkutan dan materi. Pada mereka, beda antara dukungan perasaan yang terus mengalir dan pertolongan praktis yang tersendat tampak lebih tegas. Dari lima belas orang, tiga menyebut penghasilannya tidak cukup dan sebelas menyebut cukup untuk kebutuhan dasar.

Pasien baru hidup mengikuti lelah dan jam mesin

Pasangan kedua menyangkut waktu. Pada pasien yang baru memulai, cerita yang paling menonjol adalah lelah. Sesudah sesi, rasa letih menghabiskan sisa hari sehingga mereka harus beristirahat dan memulihkan diri. P2 berkata, “Sesudah keluar dari sini, kami kehabisan tenaga; sampai di rumah, saya langsung berbaring.”

Karena itu seluruh rumah menyesuaikan diri dengan hari cuci darah. Kedua peneliti menamai gejala ini waktu yang berpusat pada dialisis. Urusan angkutan ditangani anggota keluarga atau layanan antar-jemput rumah sakit. P8, P12, dan P15 memakai layanan antar-jemput itu, sedangkan P10 mengandalkan keluarganya. Naskah menyebut angkutan sebagai tulang punggung perawatan yang tidak kelihatan.

Contoh paling baru di naskah adalah P8, yang baru empat bulan menjalani cuci darah. Baginya, bantuan keluarga dan angkutan adalah inti dari kemampuannya menjalani hari. Pada tahap awal seperti ini, tulis kedua peneliti, pengobatan terasa sebagai gangguan mendadak atas irama harian, dan ketergantungan pada pengaturan kendaraan sangat besar.

Pasien baru dan pasien lama bercerita lainPasien baru dan pasien lama bercerita lainPasien baru dan pasien lama bercerita lainDua ujung lama pengobatan pada 15 pasienPasien baruPasien lamaP8, 4 bulanP9, 16 tahunContoh di naskahLelah, istirahatSudah terbiasaCerita yangmenonjolGangguan harianPoros rutinitasCuci darahdirasakanAntar-jemputRutinitas teraturTumpuan utamaLama cuci darah peserta: 0,25 sampai 16 tahun.
Sumber: Demet Çelik dan Orkun Erkayiran, Investigating the effect of hemodialysis on family dynamics: a qualitative study, BMC Public Health, naskah dalam proses terbit, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pasien lama menyebut semuanya sudah biasa

Pada kasus kedua, tahun-tahun yang panjang mengubah nada cerita. P9 sudah enam belas tahun menjalani cuci darah, sementara P10 dan P13 sepuluh tahun. Mereka lebih sering berkata sudah terbiasa. “Kami sudah terbiasa, Profesor; sudah bertahun-tahun,” kata partisipan yang dicatat sebagai P9 kepada pewawancaranya.

Bagi kelompok ini jadwal cuci darah tidak lagi dipandang sebagai gangguan dari luar. Naskah menggambarkannya sebagai poros yang berat tetapi tetap, tempat rutinitas keluarga yang teratur dan bisa diperkirakan dibangun. P12 menyebut keluarganya bergerak bersama dan mengatur segala sesuatu sesuai jadwal. P3 masih bekerja, dan pabrik tempatnya bekerja memberinya kemudahan.

Iman ikut bekerja dalam peralihan itu. P9 mengaku mula-mula tidak bisa menerima, tetapi kemudian harus menerima karena meyakini sakitnya datang dari Tuhan. P7 menyebut penyakit berasal dari Yang Mahakuasa dan ia bersyukur. Menurut kedua peneliti, ungkapan pasrah semacam ini melunakkan rasa bersalah dan takut, serta membuka percakapan yang lebih terbuka di dalam keluarga.

Namun pasien baru dan pasien lama tidak disusun sebagai pemenang dan pecundang. P8, yang baru empat bulan, juga berkata hidupnya tetap berjalan normal dan rutinitasnya sudah terbentuk. Naskah hanya mencatat kecenderungan: cerita lelah lebih kuat di awal, cerita terbiasa menguat seiring lamanya pengobatan. Keduanya bisa hadir pada orang yang sama.

Baca juga Skor Kelayakan Perawatan Jangka Panjang dalam JKN Capai 8,10

Yang ditegaskan kedua peneliti dari Karaman

Dari enam tema itu, Demet Çelik dan Orkun Erkayiran menarik satu garis. Cuci darah mengubah keluarga lewat tiga jalur yang saling bersilangan, yaitu solidaritas, pembagian ulang peran, dan pengaturan waktu di sekitar sesi. “Hemodialisis merupakan proses penyesuaian seluruh keluarga, bukan pengalaman perorangan,” tulis mereka dalam naskah berbahasa Inggris tersebut.

Latar pasien ikut memberi warna. Partisipan berpendidikan menengah ke atas bercerita lebih runtut tentang cara mereka mengelola rutinitas. Kelompok tamatan sekolah dasar, dua belas dari lima belas orang, menurut naskah lebih membutuhkan konseling yang peka terhadap kemampuan memahami informasi kesehatan. Partisipan lajang seperti P13, 35 tahun, bersandar pada orang tua: ayahnya mengurus angkutan, ibunya yang juga sakit membantu di rumah.

Saran yang mereka ajukan mengikuti temuan itu. Keluarga dianjurkan memasukkan waktu istirahat ke jadwal harian dan berbagi peran. Jaringan layanan sosial dan angkutan perlu dikuatkan agar pasien bisa rutin mencapai tempat cuci darah. Pasien dan keluarga juga perlu ruang untuk mengungkapkan perasaan, termasuk konseling yang menghormati keyakinan mereka.

Baca juga Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien

Yang masih mengganjal di dalam naskah

Di sisi lain, ada batas yang perlu diingat. Naskah ini tidak memuat bagian keterbatasan penelitian, padahal cakupannya sempit: lima belas pasien dari satu rumah sakit di satu kota. Yang diwawancarai pun hanya pasien, bukan anggota keluarganya, sehingga perubahan di dalam keluarga seluruhnya dilihat dari satu kursi. BMC Public Health sendiri menandai naskah ini sebagai versi yang belum disunting dan mungkin memuat kekeliruan.

Beberapa hal kecil bisa diperiksa pembaca. Panduan wawancara disebut berisi delapan pertanyaan inti, sedangkan tabelnya memuat sembilan. P10 disebut menilai penghasilannya cukup, lalu dimasukkan ke kelompok berpenghasilan tidak memadai; ia juga disebut tamat sekolah dasar di satu tempat dan sekolah menengah pertama di tempat lain. P11 dikutip diantar anaknya, tetapi digambarkan pula tinggal sendiri tanpa bantuan.

Jam makan dan jadwal mesin itu, pada akhirnya, memang satu jam yang sama di rumah-rumah Karaman. Di sebagian rumah jam itu masih terasa memaksa, di rumah lain ia sudah menjadi kebiasaan. Di sebagian rumah ada ayah atau anak yang ikut menjaganya, di rumah lain hanya ada telepon dari tetangga yang bertanya kabar. Naskah ini mencatat semuanya tanpa menyebut mana yang lebih kuat.

Bagikan

Baca Juga

Usai Gempa Turki, Banyak Keluarga Sulit Bicara tapi Tak Berobat
Noken Suku Sougb di Papua Barat Dirajut dari Serat Daun Nanas
Demam Berdarah Guangzhou Terkait Pohon Rindang di Tujuan Warga
Pemilik Hewan Peliharaan di Jerman Makin Jarang Cuci Tangan
Ponsel Pintar Menemani Daya Pikir Lansia, Asal Tidak Jelang Tidur
Nafkah Keluarga Pesisir Bangladesh Rapuh, Berat Anak Ikut Kurang