Murid SMP Tiongkok Utamakan Jajanan Kaya Serat ketimbang Harga

A A

Ilustrasi rak supermarket yang penuh camilan dalam kemasan warna-warni [Foto: Lumery/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Klaim gizi di kemasan menjadi pertimbangan terpenting dengan bobot 34,13 persen, sedangkan harga hanya 3,39 persen.
  • Siswa bersedia membayar 46,49 yuan lebih untuk camilan kaya serat pangan, angka tertinggi di antara atribut lain.
  • Anak perempuan paling condong ke camilan rendah lemak dan kurang berminat pada kemasan besar.
  • Anak berberat badan lebih atau obesitas condong ke rasa pedas dan lebih peka harga.
Daftar Isi
  1. Dua Provinsi, 854 Siswa
  2. Enam Pertimbangan Jajan
  3. Serat, Manis, Supermarket
  4. Harga Berbobot Paling Kecil
  5. Anak Laki-laki dan Perempuan
  6. Pendidikan Orang Tua
  7. Berat Badan dan Rasa Pedas
  8. Saran dan Batasnya

Murid SMP di Hubei dan Anhui paling tertarik jajanan kaya serat. Dalam sebuah eksperimen pilihan, 854 siswa kelas 7 dan 8 di dua provinsi Tiongkok itu menimbang enam hal saat memilih camilan. Klaim gizi di kemasan menempati urutan teratas, sedangkan harga berada paling bawah.

Temuan ini ditulis Hanyi Li dan rekan dari National Institute of Nutrition and Health, Chinese Center for Disease Control and Prevention, Beijing, bersama peneliti Hubei Provincial Center for Disease Control and Prevention dan Anhui Medical University. Judulnya Snack preferences among school-aged children: evidence from discrete choice experiments, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Bobot klaim gizi tercatat 34,13 persen. Harga hanya 3,39 persen. Keduanya adalah angka kepentingan relatif, ukuran yang dipakai para peneliti untuk membandingkan bobot tiap atribut dalam keputusan memilih camilan.

Dua Provinsi, 854 Siswa

Data dikumpulkan di empat sekolah menengah pertama. Di Hubei dan Anhui masing-masing dipilih satu sekolah kota dan satu sekolah desa, lalu siswa kelas 7 dan 8 mengisi kuesioner kertas di kelas. Tiap sekolah menargetkan sedikitnya 100 siswa untuk setiap tingkat kelas.

Dari 863 kuesioner yang kembali, 854 dinyatakan sah, atau 98,96 persen. Rata-rata usia peserta 13,3 tahun, terdiri atas 470 anak laki-laki dan 384 anak perempuan. Sebanyak 409 siswa bersekolah di desa dan 445 di kota.

Sebanyak 546 anak, atau 63,93 persen, berberat badan normal, sedangkan 308 anak atau 36,07 persen masuk kelompok berat badan lebih atau obesitas. Hampir semua peserta, 97,54 persen, makan bersama di sekolah. Sebanyak 78,34 persen punya uang saku yang bisa dibelanjakan sendiri.

Sebagian besar siswa juga mengenal label gizi. Sebanyak 78,57 persen siswa mengetahui label gizi pada kemasan makanan, dan 92,15 persen diasuh terutama oleh orang tua. Sebanyak 167 siswa, atau 19,56 persen, tinggal di asrama sekolah.

Enam Pertimbangan Jajan

Ada dua versi kuesioner berisi delapan pasang camilan rekaan, dan tiap siswa mendapat salah satunya secara acak. Setiap camilan berbeda pada enam atribut, yaitu rasa, klaim gizi, tempat beli, harga, ukuran kemasan, dan pengaruh sosial.

Sesudah memilih, siswa ditanya lagi apakah mereka benar-benar akan memilih camilan itu dalam kehidupan nyata. Pertanyaan kedua ini dipakai untuk mengurangi bias akibat pilihan yang dipaksakan. Peneliti mendampingi pengisian dan berulang kali menekankan agar siswa menjawab sesuai selera sebenarnya tanpa memikirkan jawaban yang benar.

Klaim gizi teratas, harga terbawahKlaim gizi 34,13%; Rasa 22,89%; Pengaruh sosial 19,72%; Tempat beli 16,17%; Ukuran kemasan 3,70%; Harga 3,39%.Klaim gizi teratas, harga terbawahKepentingan relatif (RI, persen) enam atribut camilan, 854siswa kelas 7 dan 8 di Hubei dan Anhui (Tabel 3)0%10%20%30%40%Klaim gizi34,13%Rasa22,89%Pengaruh sosial19,72%Tempat beli16,17%Ukuran kemasan3,70%Harga3,39%Keenam atribut bermakna secara statistik (P<0,05)
Sumber: Hanyi Li dan rekan, Snack preferences among school-aged children: evidence from discrete choice experiments, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Hasilnya, keenam atribut berpengaruh bermakna secara statistik. Urutannya klaim gizi 34,13 persen, rasa 22,89 persen, pengaruh sosial 19,72 persen, tempat beli 16,17 persen, ukuran kemasan 3,70 persen, dan harga 3,39 persen. Para penulis menyebut klaim gizi, rasa, dan pengaruh sosial sebagai faktor inti dalam pilihan camilan anak.

Baca juga Gizi Murid SD Musi Rawas Terkait Ragam Piring, Bukan Uang Jajan

Serat, Manis, Supermarket

Di dalam atribut klaim gizi, label tinggi serat pangan paling disukai, dengan koefisien preferensi 0,611. Label kaya vitamin atau mineral menyusul pada 0,463, dan rendah lemak 0,399, semuanya dibanding camilan tanpa klaim gizi.

Untuk rasa, camilan manis paling dipilih dengan koefisien 0,471, disusul pedas 0,399. Keduanya dibandingkan dengan rasa original, sedangkan rasa gurih tidak berbeda bermakna.

Tempat beli ikut menentukan. Camilan dari supermarket atau hipermarket lebih disukai, dengan koefisien 0,439, dibanding jajanan di dekat sekolah. Minimarket hanya mencatat 0,098, tipis di atas jajanan dekat sekolah.

Pengaruh keluarga lebih kuat daripada iklan. Camilan yang biasa dimakan anggota keluarga mencatat koefisien 0,452, dibanding camilan yang direkomendasikan iklan atau influencer. Rekomendasi teman berada di tengah, pada 0,253.

Harga Berbobot Paling Kecil

Harga dan kemasan besar menunjukkan hubungan negatif yang tipis. Koefisien harga minus 0,013, sedangkan kemasan besar minus 0,112 dibanding kemasan kecil. Kemasan sedang tidak berbeda bermakna.

Ukuran kemasan dalam penelitian ini punya batas yang jelas. Kemasan kecil berarti 15 sampai 100 gram, kemasan sedang 101 sampai 300 gram, dan kemasan besar lebih dari 300 gram.

Para peneliti juga menghitung kesediaan membayar. Siswa bersedia membayar 46,49 yuan lebih untuk camilan kaya serat pangan, angka tertinggi di antara atribut lain. Ukuran kemasan tidak berpengaruh bermakna terhadap kesediaan membayar.

Rasa manis bernilai 35,83 yuan lebih dibanding rasa original. Camilan yang biasa dimakan keluarga 34,40 yuan lebih tinggi daripada yang dipromosikan iklan atau selebritas internet, dan camilan supermarket 33,40 yuan lebih tinggi daripada jajanan dekat sekolah.

Baca juga Calon Dokter India Rajin Cek Kedaluwarsa, Jarang Baca Label Gizi

Angka itu bukan harga pasar. Para penulis mencatat peserta tidak benar-benar membayar, dan keputusan jajan anak di bawah umur dipengaruhi wali yang akhirnya membayar. Hal itu bisa menurunkan kepekaan terhadap harga dan membuat kesediaan membayar tampak lebih tinggi.

Hasil utamanya tetap stabil. Uji kepekaan yang membuang 3.276 pengamatan dari siswa yang menjawab tidak akan memilih camilan itu menghasilkan arah koefisien yang sama. Model kedua itu menyisakan 10.388 dari 13.664 pengamatan.

Anak Laki-laki dan Perempuan

Urutan kepentingan atribut sama pada kedua jenis kelamin. Pada anak laki-laki, pengaruh sosial berbobot 21,01 persen dan harga 1,04 persen. Pada anak perempuan, ukuran kemasan berbobot 8,02 persen.

Anak laki-laki menonjol pada serat pangan, dengan koefisien 0,554. Mereka juga lebih peka harga, dengan koefisien minus 0,026, sementara ukuran kemasan tidak berpengaruh bermakna bagi mereka. Label rendah lemak pada anak laki-laki hanya mencatat 0,162.

Anak perempuan paling condong ke camilan rendah lemak, dengan koefisien 0,738. Mereka kurang berminat pada kemasan besar, dengan koefisien minus 0,259, sedangkan harga tidak berpengaruh bermakna. Label tinggi serat pangan juga mereka sukai, dengan koefisien 0,718.

Pilihan camilan anak laki-laki dan perempuanRendah lemak: Laki-laki (n=470) 0,162, Perempuan (n=384) 0,738; Tinggi serat pangan: Laki-laki (n=470) 0,554, Perempuan (n=384) 0,718; Rasa manis: Laki-laki (n=470) 0,423, Perempuan (n=384) 0,540; Kemasan besar: Laki-laki (n=470) 0,008, Perempuan (n=384) -0,259.Pilihan camilan anak laki-laki dan perempuanKoefisien preferensi (beta), model mixed logit (Tabel 4)Laki-laki (n=470)Perempuan (n=384)-0,4-0,20,20,40,60,80Rendah lemak0,1620,738Tinggi serat pangan0,5540,718Rasa manis0,4230,540Kemasan besar0,008-0,259Rujukan: tanpa klaim gizi, rasa original, kemasan kecil. Kemasan besarpada laki-laki tidak bermakna
Sumber: Hanyi Li dan rekan, Snack preferences among school-aged children: evidence from discrete choice experiments, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis mengaitkan pola ini dengan tekanan untuk tetap langsing yang kerap dihadapi remaja putri. Menurut mereka, anak perempuan jadi lebih peka terhadap pengaturan berat badan dan pilihan makanan.

Pendidikan Orang Tua

Pada anak yang orang tuanya berpendidikan SMP atau lebih rendah, rasa berbobot 25,33 persen dan klaim gizi 37,50 persen. Mereka menyukai camilan manis (0,485) dan kaya serat (0,596), dengan preferensi negatif tipis terhadap harga (minus 0,017).

Pada kelompok orang tua lulusan SMA atau sekolah kejuruan, pengaruh sosial berbobot 25,46 persen, lebih penting daripada rasa yang 21,55 persen. Anak-anak di kelompok ini menyukai camilan pedas, dengan koefisien 0,434.

Anak dari orang tua berpendidikan perguruan tinggi atau lebih memberi bobot 10,43 persen pada ukuran kemasan. Mereka menyukai rasa manis (0,529) dan camilan kaya vitamin atau mineral (0,667), serta kurang berminat pada kemasan besar (minus 0,325).

Harga tidak berpengaruh bermakna pada kelompok terakhir ini. Para penulis menduga pendidikan orang tua memengaruhi pilihan makanan secara tidak langsung, lewat kesadaran kesehatan. Karena kesadaran itu diwariskan dari generasi ke generasi, anak di keluarga berpendidikan tinggi menimbang lebih banyak atribut saat memilih camilan.

Baca juga Obesitas Remaja Rarotonga: 37,6 Persen Siswa Year 9 Obesitas

Berat Badan dan Rasa Pedas

Anak berberat badan normal menyukai camilan manis (0,510) dan kaya serat (0,612). Bagi mereka, tempat beli berbobot 19,01 persen, sementara ukuran kemasan dan harga tidak berpengaruh bermakna.

Anak berberat badan lebih atau obesitas memberi bobot 39,47 persen pada klaim gizi. Mereka juga memilih camilan kaya serat (0,684), tetapi condong ke rasa pedas (0,448) dan lebih peka harga (minus 0,115).

Para penulis menyebut kegemaran pedas itu mungkin terkait perilaku mencari sensasi, atau kebiasaan jajan pedas seperti stik pedas dan camilan mengembang dalam budaya makan setempat. Mereka menegaskan penjelasan ini masih dugaan dan mekanismenya belum jelas.

Saran dan Batasnya

Para penulis mengusulkan pendidikan gizi bagi orang tua lewat kerja sama rumah dan sekolah. Mereka juga menyarankan sekolah menggandeng supermarket untuk memasang mesin penjual camilan porsi kecil, serta melarang penjualan camilan tinggi gula, garam, atau lemak di sekolah. Keluarga diajak menyusun daftar camilan sehat bersama.

Untuk anak berberat badan lebih, kantin sekolah disarankan menawarkan camilan sehat porsi kecil berbumbu alami dengan harga diskon. Usulan itu memanfaatkan kegemaran mereka pada rasa pedas dan kepekaan terhadap harga. Orang tua juga diminta mengatur bagian uang saku yang dipakai untuk jajan.

“Preferensi camilan anak usia sekolah sangat bervariasi menurut karakteristik sosial-demografis,” tulis Hanyi Li dan rekan dalam simpulannya, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Karena itu, intervensi disarankan disesuaikan dengan ciri tiap kelompok dan melibatkan anak sekaligus orang tuanya.

Penelitian ini terbatas pada Hubei dan Anhui, sehingga menurut para penulis keterwakilan nasionalnya terbatas dan hasilnya perlu diterapkan dengan hati-hati. Atribut seperti bahan tambahan pangan, gaya kemasan, dan merek juga tidak dimasukkan. Angka kesediaan membayar pun, kata mereka, lebih tepat dibaca sebagai penilaian relatif ketimbang ramalan harga pasar.

Penelitian lanjutan diusulkan mencakup sampel nasional. Para penulis juga ingin menyusun patokan camilan ideal untuk mengukur jarak antara selera anak dan target kesehatan masyarakat. Pelacakan gerak mata dan pencitraan otak juga disebut bisa membantu memahami cara anak memutuskan jajan.

Bagikan

Baca Juga

Kematian akibat Cedera di Desa Tiongkok Tetap Melebihi Kota
Menu Restoran Besar Inggris Paling Sering Gagal di Target Gula
Remaja Swedia yang Terus Mengobrol Daring Lebih Kerap Sulit Tidur
Lemak Tubuh Karyawan Yogyakarta Turun, Berat Badan Nyaris Tetap
Asap Rokok Orang Lain Terkait Gemuk, Sakit Jantung, dan Stroke
Suhu Lebih Kuat Terkait Alergi Anak di Chongqing daripada Polusi