Siswi Uganda yang Tahu Haid Sebelum Mengalaminya Lebih Positif

A A

Ilustrasi siswa-siswi sekolah menengah berjalan menuju gedung kelas di permukiman pengungsi Bidibidi, Distrik Yumbe [Foto: malona Isaac Adige/Wikimedia Commons, CC BY 4.0]

  • Hanya 17,5 persen siswi memilih jawaban benar untuk nama pintu masuk rahim, yaitu serviks.
  • Pada siswi, skor pengetahuan haid naik dari 5,1 menjadi 5,6 dari sembilan butir dalam setahun.
  • Siswi yang tahu tentang haid sebelum menarche punya skor sikap rata-rata 1,9, dibanding 1,7 pada yang belum tahu.
  • Penelitian ini hanya dilakukan di dua distrik di Uganda bagian tengah.
Daftar Isi
  1. Sembilan Pertanyaan yang Sebagian Mudah Dijawab dan Sebagian Lagi Sering Dijawab Salah
  2. Boleh Memasak, Boleh Menari: Tiga Sikap yang Diukur dari Remaja Putri dan Putra
  3. Siapa yang Datang ke Survei Akhir dengan Bekal Paling Banyak
  4. Dari Paham soal Haid ke Cara Siswi Mengurus Haidnya Sendiri
  5. Apa yang Belum Tertangkap oleh Sembilan Pertanyaan dan Dua Distrik

Pertanyaan kedelapan di layar tablet itu terdengar sederhana: apa nama pintu masuk rahim? Di antara 1.357 siswi sekolah menengah di Uganda yang jawabannya dianalisis pada survei akhir 2023, hanya 17,5 persen memilih jawaban benar, serviks. Lebih dari separuh, 55,3 persen, memilih vagina. Sebanyak 15,7 persen lainnya mengaku tidak tahu.

Pertanyaan itu hanya satu dari sembilan butir pengetahuan tentang pubertas dan haid. Para siswi dan siswa mengisinya sendiri di tablet, dua kali, dengan jarak kira-kira setahun. Dari jawaban itulah sekelompok peneliti menelusuri siapa yang paling paham soal haid, siapa yang memandangnya paling positif, dan apakah pemahaman itu berhubungan dengan pengalaman para remaja putri saat haid.

Penelitian itu ditulis Rodah Nambi dan rekan dari MRC/UVRI and LSHTM Uganda Research Unit di Entebbe, Uganda, bersama peneliti London School of Hygiene and Tropical Medicine di London dan Kementerian Pendidikan dan Olahraga Uganda. Judulnya Menstrual knowledge, attitudes and behaviours among secondary school students in Uganda: a longitudinal study, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Datanya berasal dari lengan kontrol uji coba program kesehatan menstruasi bernama MENISCUS di sekolah menengah dua distrik, Wakiso dan Kalungu. Wakiso sebagian melingkari ibu kota Kampala, sedangkan Kalungu terletak sekitar 130 kilometer di barat daya Kampala dan sebagian besar perdesaan. Sebanyak 1.453 siswi dan 317 siswa dari 30 sekolah mengisi survei awal dan survei akhir.

Sembilan Pertanyaan yang Sebagian Mudah Dijawab dan Sebagian Lagi Sering Dijawab Salah

Survei awal berlangsung pada 21 Maret sampai 5 Juli 2022, ketika para peserta duduk di kelas Senior 2. Survei akhir digelar 5 Juni sampai 22 Agustus 2023, saat mereka di Senior 3. Rata-rata usia siswi saat survei awal 15,5 tahun, sementara siswa 16,0 tahun. Hampir semua siswi, 1.404 orang atau 96,6 persen, sudah mengalami haid saat survei awal. Dari mereka, 1.035 orang atau 73,7 persen mengaku sudah tahu tentang haid sebelum haid pertama datang. Haid pertama itu dalam paper disebut menarche. Sisanya belum tahu.

Dua pertanyaan dijawab benar oleh lebih dari 80 persen peserta, baik siswi maupun siswa, pada kedua survei. Pertanyaan pertama soal apa sebenarnya darah haid. Pertanyaan kedua soal perubahan tubuh masa pubertas yang biasanya mulai pada usia 10 sampai 14 tahun pada anak perempuan dan 12 sampai 16 tahun pada anak laki-laki.

Tiga pertanyaan lain dijawab benar oleh kurang dari 40 persen peserta. Ketiganya adalah kapan perempuan paling mungkin hamil dalam siklus haid, apa nama pintu masuk rahim, dan berapa hari biasanya jarak antara dua haid. Untuk pertanyaan terakhir, hanya 13,0 persen siswi memilih jawaban benar, 21 sampai 45 hari. Jawaban yang paling banyak dipilih justru tepat 28 hari, oleh 38,2 persen siswi. Sebanyak 29,6 persen lainnya memilih tepat 7 hari. Angka-angka per butir ini dihitung pada siswi yang mengalami haid dalam enam bulan terakhir sebelum survei akhir.

Jawaban benar dan sikap positif naik dalam setahunSiswi, K4 lama haid 67,8% ke 82,3%; Siswa, K4 lama haid 48,3% ke 64,4%; Siswi, A1 memasak 66,8% ke 81,8%; Siswa, A1 memasak 28,7% ke 44,2%; Siswi, A2 lari 40,5% ke 62,8%; Siswa, A2 lari 14,5% ke 20,6%.Jawaban benar dan sikap positif naik dalamsetahunPersen peserta yang menjawab benar (K4: lama haid) ataubersikap positif (A1: boleh memasak; A2: boleh lari, menari,bersepeda saat haid)Survei awalSurvei akhir0%25%50%75%100%Siswi, K4 lama haid67,8%82,3%Siswa, K4 lama haid48,3%64,4%Siswi, A1 memasak66,8%81,8%Siswa, A1 memasak28,7%44,2%Siswi, A2 lari40,5%62,8%Siswa, A2 lari14,5%20,6%Siswi n=1.453; siswa n=317
Sumber: Rodah Nambi dan rekan, Menstrual knowledge, attitudes and behaviours among secondary school students in Uganda: a longitudinal study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Rata-rata jumlah jawaban benar dari sembilan butir naik dalam setahun. Pada siswi, skornya bergerak dari 5,1 menjadi 5,6. Pada siswa, dari 4,8 menjadi 5,4. Kenaikan paling jelas tampak pada pertanyaan berapa lama biasanya haid berlangsung, yang dijawab benar oleh 82,3 persen siswi pada survei akhir, naik dari 67,8 persen.

Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka

Boleh Memasak, Boleh Menari: Tiga Sikap yang Diukur dari Remaja Putri dan Putra

Selain pengetahuan, para peneliti mengukur sikap lewat tiga pernyataan. Skor sikap dihitung dari jumlah jawaban positif, paling tinggi 3. Pada siswi, rata-ratanya naik dari 1,5 pada survei awal menjadi 1,9 pada survei akhir. Pada siswa, dari 0,9 menjadi 1,2. Pernyataan bahwa memasak saat haid itu tidak apa-apa disetujui 81,8 persen siswi pada survei akhir, naik dari 66,8 persen. Di kalangan siswa, angkanya naik dari 28,7 persen menjadi 44,2 persen.

Pernyataan bahwa berlari, menari, atau bersepeda saat haid tidak apa-apa juga mendapat lebih banyak persetujuan. Pada siswi, persetujuannya naik dari 40,5 persen menjadi 62,8 persen. Pada siswa, naik dari 14,5 persen menjadi 20,6 persen. Pada pertanyaan soal lama haid, jawaban benar siswa naik dari 48,3 persen menjadi 64,4 persen.

Para peneliti menyebut beberapa kemungkinan di balik kenaikan itu. Para peserta setahun lebih tua dan pengetahuannya bertambah seiring waktu. Sekolah lengan kontrol juga menerima buku bacaan pengelolaan menstruasi dari pemerintah untuk tiap siswi dan siswa kelas Senior 2. Sebagian sekolah kontrol menjalankan kegiatan kesehatan menstruasi seperti pembagian pembalut, dan keikutsertaan dalam survei awal mungkin ikut menambah kesadaran.

Siapa yang Datang ke Survei Akhir dengan Bekal Paling Banyak

Pada siswi, skor pengetahuan di survei akhir lebih tinggi di beberapa kelompok setelah faktor pengganggu diperhitungkan. Siswi di Wakiso rata-rata menjawab benar 5,7 butir, sedangkan di Kalungu 5,1 butir. Siswi sekolah swasta rata-rata 5,8 butir, sementara sekolah pemerintah 5,3 butir.

Siswi yang sudah tahu tentang haid sebelum menarche rata-rata menjawab benar 5,7 butir, dibanding 5,2 butir pada yang belum tahu. Selisih paling lebar muncul dari bekal awal. Siswi yang pada survei awal menjawab benar 7 sampai 9 butir rata-rata meraih 6,5 di survei akhir, sedangkan yang awalnya hanya benar 0 sampai 3 butir meraih 4,6.

Skor pengetahuan haid siswi pada survei akhirPengetahuan awal 7-9 6,5; Sekolah swasta 5,8; Distrik Wakiso 5,7; Tahu pra-menarche 5,7; Sekolah pemerintah 5,3; Tak tahu pra-menarche 5,2; Distrik Kalungu 5,1; Pengetahuan awal 0-3 4,6.Skor pengetahuan haid siswi pada surveiakhirRata-rata jumlah jawaban benar dari 9 butir, menurut cirisaat survei awal (Tabel 1)0369Pengetahuan awal 7-96,5Sekolah swasta5,8Distrik Wakiso5,7Tahu pra-menarche5,7Sekolah pemerintah5,3Tak tahu pra-menarche5,2Distrik Kalungu5,1Pengetahuan awal 0-34,6Siswi n=1.453
Sumber: Rodah Nambi dan rekan, Menstrual knowledge, attitudes and behaviours among secondary school students in Uganda: a longitudinal study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Nilai ujian juga berhubungan dengan pengetahuan. Siswi dengan skor tes Uganda National Examination Board yang tinggi pada survei awal punya skor pengetahuan sedikit lebih tinggi di survei akhir. Ukuran hubungannya, rasio laju kejadian yang disesuaikan, 1,07. Untuk sikap, dua hal menonjol. Siswi yang tahu tentang haid sebelum menarche punya skor sikap rata-rata 1,9 di survei akhir, dibanding 1,7 pada yang belum tahu. Siswi yang pada survei awal memberi tiga jawaban positif meraih rata-rata 2,4, sedangkan yang awalnya tak memberi satu pun meraih 1,5.

Pada siswa, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa faktor selain bekal awal berhubungan dengan skor di survei akhir. Siswa dengan 7 sampai 9 jawaban benar pada survei awal rata-rata meraih 6,7 di survei akhir, dibanding 4,5 pada yang awalnya hanya benar 0 sampai 3. Untuk sikap, rata-ratanya 2,5 pada siswa yang awalnya bersikap positif di ketiga pernyataan, dan 0,8 pada yang awalnya tidak sama sekali.

Para peneliti juga mencatat bahwa siswa dan siswi yang lebih tua memiliki pengetahuan dan sikap sedikit lebih rendah di survei akhir. Semua peserta saat itu duduk di kelas Senior 3, sehingga yang lebih tua kemungkinan pernah tinggal kelas karena prestasi rendah atau sering absen.

Baca juga Perempuan Desa di India Menunggu Haid Tak Normal Reda Sendiri

Dari Paham soal Haid ke Cara Siswi Mengurus Haidnya Sendiri

Pertanyaan berikutnya lebih besar: apakah siswi yang lebih paham juga lebih mampu memenuhi kebutuhannya saat haid? Untuk menjawabnya, para peneliti memakai dua skala pada 1.360 siswi, atau 93,6 persen, yang mengalami haid dalam enam bulan terakhir. Skala pertama, Menstrual Practice Needs Scale, menilai seberapa jauh cara dan lingkungan pengelolaan haid memenuhi kebutuhan pada haid terakhir. Nilainya 0 sampai 3, dan makin tinggi berarti makin sedikit kebutuhan yang tak terpenuhi. Rata-ratanya 2,3. Skala kedua mengukur rasa percaya diri mengurus kebutuhan haid, dengan rata-rata 64,2 dari 100.

Siswi dengan skor pengetahuan tinggi, 7 sampai 9 jawaban benar, punya skor kebutuhan haid rata-rata 2,4, sedangkan yang skor pengetahuannya rendah, 0 sampai 3, rata-rata 2,1. Setelah penyesuaian, selisihnya 0,19 poin. Para peneliti menyebut selisih mutlak itu kecil. Dua butir yang berhubungan dengan skor ini adalah soal haid yang berhenti selama hamil dan usia perempuan biasanya berhenti haid.

Mengenal haid sebelum menarche berhubungan dengan kedua skala. Siswi yang sudah tahu lebih dulu punya skor kebutuhan haid rata-rata 2,3 dan skor percaya diri 65,5. Siswi yang belum tahu mencatat 2,1 dan 60,2. Hubungan ini muncul setelah faktor sosial-demografis diperhitungkan.

“Kami menemukan bahwa remaja perempuan yang mendapat cukup informasi tentang menstruasi mengelola haid mereka sedikit lebih efektif,” tulis Nambi dan rekan dalam bagian diskusi, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Mereka menambahkan bahwa karena ukuran hubungannya relatif kecil, mengatasi kendala struktural, sosial, dan material tetap penting.

Baca juga Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka

Apa yang Belum Tertangkap oleh Sembilan Pertanyaan dan Dua Distrik

Para peneliti menyebut kajian mereka, sejauh yang mereka ketahui, yang pertama di Afrika sub-Sahara dalam skala besar berbasis sekolah dan diikuti dari waktu ke waktu yang menelaah pengetahuan dan sikap soal haid pada remaja laki-laki maupun perempuan. Mereka juga menyebut batas-batas penelitiannya.

Data berasal dari laporan peserta sendiri, sehingga sikap positif bisa dilaporkan berlebihan karena keinginan terlihat baik. Untuk menekannya, kuesioner diisi sendiri di tablet agar lebih privat. Jumlah peserta laki-laki relatif sedikit. Butir pengetahuan dan sikap yang terbatas mungkin tidak menangkap seluruh pemahaman peserta tentang pubertas dan haid. Penelitian ini juga hanya dilakukan di dua distrik di Uganda bagian tengah. Temuannya, menurut para penulis, mungkin tidak berlaku bagi wilayah lain dengan konteks sosial-budaya yang berbeda.

“Intervensi di masa depan sebaiknya mempertimbangkan untuk memulai pendidikan menstruasi sebelum menarche, menyesuaikan isi pendidikan untuk menjawab celah pengetahuan tertentu dan sikap budaya, serta melibatkan anak laki-laki,” tulis para peneliti dalam simpulan, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Pada survei akhir, 17,5 persen siswi yang dianalisis menyebut serviks sebagai pintu masuk rahim, dan 13,0 persen memilih 21 sampai 45 hari sebagai jarak yang biasa antara dua haid.

Bagikan

Baca Juga

Banyak Warga Beijing Susah Tidur, Sedikit yang Sampai Didiagnosis
Kematian karena Usia Tua di Jepang Berkaitan dengan Tempat Wafat
Survei di Kurdistan Irak: Anak Muda Paling Jauh dari Hidup Sehat
Suhu Tinggi Dikaitkan dengan 11.684 Kematian Berlebih di Spanyol
Riset 28 Negara: Sejak Usia 50, Masa Kerja Sehat Hampir 11 Tahun
Separuh Warga Desa Gansu yang Diperiksa Punya Hati Berlemak