- Pada konflik non-negara, prevalensinya 15,27 persen untuk GAM dan 4,83 persen untuk SAM.
- Pada konflik berbasis negara dengan curah hujan normal, prevalensi dasar GAM 9,03 persen dan SAM 1,26 persen.
- Di bawah konflik berbasis negara, masa kering berhubungan dengan GAM yang lebih tinggi, setara kenaikan 2,20 poin persentase.
- Para penulis menegaskan tidak bisa menarik kesimpulan sebab-akibat dari penelitian ini.
Daftar Isi
Malnutrisi akut, atau wasting, berarti berat badan anak rendah menurut tinggi badannya. Kondisi itulah yang ditelusuri tiga peneliti dari lembaga di Belgia dan Denmark pada balita di wilayah konflik bersenjata Afrika. Temuan mereka, angkanya lebih tinggi pada perang antarkelompok bersenjata yang tak satu pun pihaknya pemerintah, dibanding perang yang salah satu pihaknya pemerintah.
Selama ini, kata para penulis, konflik bersenjata dalam kajian empiris kerap diperlakukan sebagai satu hal yang seragam, padahal wajahnya banyak. Belakangan, penelitian mulai memilah konflik menurut lamanya dan kerasnya pertempuran. Penelitian ini memilah konflik menurut jenisnya, yaitu menurut siapa yang saling bertempur.
Penelitian itu ditulis Thomas Jideofor Ogbu dari Association for Research on Disaster Epidemiology (ASED) di Brussel, Belgia, Rebecca Louise Jones dari Danish Centre for Health Economics, University of Southern Denmark, dan Debarati Guha-Sapir dari University catholique de Louvain, Belgia. Judulnya Beyond the battlefield: how conflict type drives acute child malnutrition in Africa, terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026.
Mereka berangkat dari angka yang dikutip dalam pendahuluan. Dari 39,6 juta anak di bawah lima tahun yang diperkirakan akan luput dari upaya saat ini, 80 persen akan berada di Afrika. Sekitar dua pertiga anak yang mengalami malnutrisi tinggal di wilayah yang terdampak konflik bersenjata.
Malnutrisi Akut, Berat Badan yang Tertinggal dari Tinggi
Maksudnya begini. Malnutrisi akut global, disingkat GAM, adalah berat badan menurut tinggi badan yang berada dua simpangan baku di bawah median rujukan internasional WHO, disesuaikan dengan umur dan jenis kelamin. Malnutrisi akut berat, atau SAM, memakai batas tiga simpangan baku, dan/atau ditandai edema bilateral.
Bedanya dengan stunting juga dijelaskan para penulis. Malnutrisi akut, yang juga disebut wasting, muncul akibat kekurangan makanan yang mendadak, mutu makanan, dan/atau penyakit, serta mengancam nyawa bila tidak ditangani dengan tepat. Stunting, atau tinggi badan yang rendah menurut umur, lahir dari kekurangan gizi yang kronis atau berulang.
Malnutrisi akut dipilih karena lebih jarang dikaji dibanding stunting. Datanya berasal dari Complex Emergency Database (CE-DAT), gudang survei skala kecil berkerangka SMART yang dilakukan pada populasi yang sedang menghadapi konflik aktif antara 1999 dan 2015. Survei semacam ini lazim dipakai di wilayah krisis kemanusiaan yang sulit dijangkau.
Hasilnya 1.046 pengamatan untuk GAM dan 951 untuk SAM. Semuanya tersebar di 33 wilayah administratif tingkat pertama di bawah negara, di 11 negara: Angola, Burundi, Chad, Etiopia, Mali, Mauritania, Niger, Sierra Leone, Sudan Selatan, Sudan, dan Uganda. Data gizi itu dicocokkan dengan data konflik menurut wilayah dan tahun.
Baca juga Kaitan Campak dan Konflik Bersenjata Bertahan hingga Setahun
Konflik Non-Negara, Perang Antarkelompok Bersenjata
Istilah kedua inilah yang menjadi pokok penelitian. Konflik berbasis negara adalah penggunaan kekuatan bersenjata antara dua pihak yang setidaknya satu di antaranya pemerintah suatu negara. Konflik non-negara adalah penggunaan kekuatan bersenjata antara dua pihak yang tak satu pun pemerintah. Data konflik yang dipakai hanya mencatat konflik dengan sedikitnya 25 kematian terkait pertempuran dalam setahun.
Jenis ketiga, kekerasan sepihak, hanya muncul pada tiga pengamatan sehingga tidak dianalisis. Konflik berbasis negara menyumbang lebih dari 70 persen pengamatan. Konflik non-negara ditemukan di 18 wilayah di tiga negara, yakni Sudan, Etiopia, dan Uganda. Sudan dan Etiopia juga mencatat peristiwa kekerasan terbanyak, masing-masing 519 dan 313.
Pada konflik berbasis negara dengan curah hujan normal, prevalensi dasar GAM 9,03 persen dan SAM 1,26 persen. Pada konflik non-negara, dengan faktor lain dianggap tetap, prevalensinya 15,27 persen untuk GAM dan 4,83 persen untuk SAM.
Poin Persentase, Kenaikan dari Prevalensi Dasar
Para penulis menyatakan populasi yang terdampak konflik non-negara mengalami malnutrisi akut balita yang secara bermakna lebih tinggi dibanding populasi yang terdampak konflik berbasis negara. Dalam model mereka, besarnya setara kenaikan 6,24 poin persentase pada GAM dan 3,57 poin persentase pada SAM dari prevalensi dasar. Dalam bahasa statistik, angka itu setara log-odds 0,526 untuk GAM dan 1,347 untuk SAM.
Mengapa bisa begitu, para penulis hanya menawarkan dugaan. Beban yang lebih tinggi pada konflik non-negara mungkin mencerminkan watak konflik semacam itu, yang kerap melibatkan perusakan dan penguasaan lahan pertanian sebagai taktik militer. Pertempurannya pun cenderung lokal, terpecah-pecah, dan berlarut, sehingga mungkin menghambat gerak warga serta akses ke pangan dan layanan penting.
Namun mereka menegaskan tidak bisa menarik kesimpulan sebab-akibat dari penelitian ini. Implikasinya diarahkan pada perencanaan. Sumber daya tambahan, menurut mereka, dapat diarahkan ke wilayah yang terdampak konflik non-negara, tempat beban malnutrisi yang lebih tinggi mungkin terjadi.
Belanja Militer dan Bantuan, Dua Arus Uang
Belanja militer di sini berarti seluruh pengeluaran rutin dan modal untuk angkatan bersenjata, kementerian pertahanan, pasukan paramiliter, dan kegiatan militer di ruang angkasa, diukur sebagai bagian dari produk domestik bruto (PDB). Para penulis memakainya untuk membaca prioritas politik bagi urusan militer, kemungkinan dengan mengorbankan layanan publik lain seperti kesehatan dan pendidikan.
Rata-rata belanja militer pada tahun sebelumnya 3,6 persen PDB. Di bawah konflik berbasis negara, kenaikan satu simpangan baku belanja itu berhubungan dengan malnutrisi akut yang lebih tinggi, dengan log-odds 0,118 untuk GAM dan 0,187 untuk SAM. Itu setara kenaikan 1,13 dan 0,25 poin persentase dari prevalensi dasar.
Di bawah konflik non-negara, hubungan itu lebih lemah secara bermakna, baik untuk GAM maupun SAM. Para penulis menyebut hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa belanja militer negara kurang relevan secara langsung pada konflik yang tidak menjadikan negara sebagai pelaku utama.
Istilah berikutnya, bantuan pembangunan luar negeri atau ODA, adalah penyaluran pinjaman bersyarat lunak dan hibah dari lembaga resmi negara anggota Komite Bantuan Pembangunan (DAC), lembaga multilateral, dan negara non-DAC untuk mendorong pembangunan ekonomi dan kesejahteraan. Rata-rata ODA yang masuk pada tahun sebelumnya 12,0 juta dolar AS pada data GAM dan 10,7 juta dolar AS pada data SAM.
Di bawah konflik berbasis negara, ODA yang lebih tinggi berhubungan dengan GAM yang lebih rendah, dengan log-odds −0,081, hanya setara penurunan 0,71 poin persentase. Untuk SAM, hubungannya tidak bermakna di bawah konflik berbasis negara, tetapi lebih kuat secara bermakna di bawah konflik non-negara. Para penulis menduga akses, sasaran, atau gangguan layanan bantuan berbeda menurut jenis konflik.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Indeks SPEI, Hujan yang Menyimpang dari Biasa
Faktor ketiga adalah cuaca. Para penulis memakai Standardized Precipitation-Evapotranspiration Index (SPEI) untuk 12 bulan sebelum survei. Nilai di bawah −1,0 disebut masa kering, di atas 1,0 masa basah, dan di antaranya normal. Sekitar 83 persen pengamatan berada di wilayah yang mengalami masa kering, sedangkan 2,3 sampai 3,5 persen di wilayah masa basah.
Di bawah konflik berbasis negara, masa kering berhubungan dengan GAM yang lebih tinggi, dengan log-odds 0,218, setara kenaikan 2,20 poin persentase. Masa basah tidak berhubungan bermakna dengan malnutrisi akut. Di bawah konflik non-negara, masa kering juga berhubungan dengan GAM yang lebih tinggi, tetapi dalam derajat yang lebih kecil.
Untuk masa basah, polanya lain. Pada konflik non-negara, hubungan masa basah dengan SAM secara bermakna lebih kuat dibanding pada konflik berbasis negara, setara kenaikan 8,44 poin persentase dibanding curah hujan normal pada konflik non-negara. Populasi terdampak konflik non-negara dalam sampel sebagian besar berada di Sudan, negara yang kurang rentan mengalami masa basah.
Karena itu, kata para penulis, masa basah di sana mungkin merupakan penyimpangan yang lebih ekstrem dari kebiasaan iklimnya. Mereka juga mengingatkan bahwa kondisi iklim bisa ikut memengaruhi jalannya konflik, sehingga sulit memisahkan jalur yang menghubungkan iklim, konflik, dan malnutrisi. Hasilnya kemungkinan khas konteks dan sebagian mencerminkan kerentanan populasi tertentu terhadap cuaca ekstrem.
Baca juga Diare Balita Banjir Ebonyi Nigeria dan Teka-teki Wadah Tertutup
Asosiasi, Hubungan yang Belum Tentu Sebab
Kata kunci terakhir adalah asosiasi. Para penulis meminta temuan mereka dibaca sebagai asosiasi potong lintang, bukan bukti sebab-akibat, karena survei SMART umumnya hanya memotret beban malnutrisi pada satu titik waktu. Mereka tidak bisa melihat perubahan dari masa sebelum konflik, ketika angkanya mungkin sudah tinggi.
Uji kepekaan juga memberi catatan. Ketika belanja militer dan ODA diganti nilai tahun berjalan hasil prediksi, koefisien jenis konflik untuk GAM menjadi tidak bermakna. Dalam model yang hanya memuat jenis konflik tanpa faktor lain, hubungan dengan GAM tetap positif dan bermakna meski lebih kecil, tetapi koefisien untuk SAM menjadi tidak bermakna.
Keterbatasan lain disebut terang. Data tingkat wilayah rawan sesat pikir ekologis, yakni menyimpulkan keadaan individu dari keadaan kelompok. Survei SMART memakai kerangka sampel tidak acak, sehingga wilayah seperti Darfur dan Oromia terwakili berlebih, meski tak satu kelompok wilayah pun menggerakkan hasil sendirian. Faktor seperti akses air bersih, pengungsian paksa, dan pendidikan ibu belum dikendalikan.
Hasilnya juga tidak mudah diberlakukan pada kelompok umur lain dan harus dibaca dalam cakupan geografis yang terbatas. Dalam penutupnya, para penulis menyatakan bahwa penghapusan malnutrisi dalam segala bentuknya menuntut perencanaan dan penyaluran sumber daya yang langka sesuai konteks.
“Secara keseluruhan, temuan ini menyoroti keterbatasan pendekatan satu ukuran untuk semua dalam respons kemanusiaan selama konflik dan menegaskan pentingnya mempertimbangkan jenis konflik saat merencanakan alokasi sumber daya yang sesuai konteks,” tulis Ogbu, Jones, dan Guha-Sapir, sebagaimana diterjemahkan Cekricek.id. Mereka menambahkan, tanpa pendekatan yang lebih terarah, populasi anak dalam jumlah besar bisa tetap berada di luar jangkauan komitmen global untuk menghapus malnutrisi.
Jadi, temuan ini berlaku untuk balita dalam survei di 11 negara Afrika antara 1999 dan 2015. Menurut para penulis, hubungan antara jenis konflik dan malnutrisi akut yang mereka temukan harus dibaca sebagai asosiasi, bukan bukti sebab-akibat.















