- Sebanyak 216 dari 317 petugas kebersihan atau 68,14 persen tertusuk jarum atau benda tajam dalam 12 bulan terakhir.
- Jari tangan paling sering terluka, disebut oleh 46,68 persen responden, disusul telapak dan jari kaki 26,50 persen.
- Stres kerja berkaitan paling kuat dengan luka, dengan rasio odds disesuaikan 7,16, disusul beban kerja 6,84.
- Penelitian menganjurkan pelatihan menyeluruh, pemakaian alat keselamatan rutin, dan wadah benda tajam tahan tusuk.
Daftar Isi
Petugas kebersihan rumah sakit membersihkan ruang pasien, ruang onkologi, bangsal rawat inap, ruang bedah, dan ruang gawat darurat, tempat benda tajam dibuang tidak semestinya, sehingga mereka lebih mungkin terluka ketika menangani sampah. Sebuah penelitian di delapan rumah sakit pemerintah tingkat tersier di Etiopia timur menanyai mereka apakah pernah tertusuk jarum atau tergores benda tajam selama setahun terakhir.
Dari 317 petugas kebersihan yang menjawab, 216 orang atau 68,14 persen mengaku pernah tertusuk jarum atau tergores benda tajam dalam 12 bulan terakhir. Di bagian pendahuluan, penelitian itu menyebut petugas kebersihan sebagai kelompok paling rentan sesudah tenaga kesehatan. Di bagian pembahasan, angka 68,14 persen itu dicatat lebih tinggi daripada angka pada tenaga kesehatan dalam sejumlah penelitian lain yang dikutip di dalamnya.
Temuan itu berasal dari penelitian Sina Temesgen Tolera dari College of Health and Medical Sciences, Haramaya University, di Harar, yang terbit dengan judul Needlestick and sharps injuries and its preventive implications among cleaners in tertiary public hospitals, Ethiopia di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Tolera mendefinisikan luka tusuk jarum dan benda tajam sebagai cedera tak sengaja ketika jarum, pisau bedah, atau kaca preparat menembus kulit, dan menyebut petugas kebersihan sebagai kelompok pekerja terpinggirkan yang lebih jarang diteliti dibanding staf kesehatan lain.
Penelitian berlangsung dari 1 Mei hingga 30 Agustus 2023 di delapan rumah sakit pemerintah tingkat tersier yang dipilih acak dari 14 rumah sakit pemerintah di empat wilayah, yaitu Harari, Oromia, Dire Dawa, dan Somali. Sebanyak 342 petugas dipilih secara acak dan diwawancarai tatap muka dengan kuesioner yang diterjemahkan ke tiga bahasa setempat, dan 317 di antaranya bersedia menjawab. Rumah sakit umum, rujukan, dan pendidikan dipilih karena layanan, jumlah pasien, dan tenaga kerjanya memengaruhi tugas para petugas kebersihan.
Mereka yang Datang Sesudah Tindakan Selesai
Sebanyak 97,16 persen responden adalah perempuan, 71,61 persen sudah menikah, dan usia rata-rata mereka 34,35 tahun, sementara 92,11 persen bekerja sebagai petugas kebersihan dan 7,89 persen sisanya sebagai pengumpul limbah medis. Hampir semuanya, 96,85 persen, berstatus pegawai tetap. Pengalaman kerja mereka rata-rata 6,65 tahun, dan 55,21 persen bertugas pada giliran kerja pertama yang dimulai pukul tujuh pagi.
Penghasilan mereka rata-rata 36,32 dollar Amerika Serikat sebulan, setara 1.982 birr Etiopia menurut kurs yang dipakai penelitian itu. Sebanyak 90,22 persen responden berpenghasilan antara 20,16 dan 42,95 dollar per bulan, kelompok gaji yang dalam tabel penelitian disusun mengikuti klasifikasi jabatan dan golongan nasional Etiopia tahun 2019. Hanya 0,95 persen yang berpenghasilan 20,15 dollar atau kurang, sedangkan 8,83 persen berpenghasilan lebih dari 42,95 dollar sebulan.
Yang menolak pun meninggalkan jejak. Dari 25 orang yang tidak menjawab, delapan mengatakan tidak punya waktu untuk wawancara, sembilan menyatakan bahwa penelitian itu tidak akan membuat upah mereka naik, dan enam lainnya keberatan bila rumah sakit tempat mereka bekerja diungkap. Tolera mencatat alasan-alasan itu sebagai penyebab utama tidak ikutnya sebagian petugas yang sudah terpilih.
Jari Tangan Menanggung Luka Paling Banyak
Angka 68,14 persen itu dilaporkan dengan rentang keyakinan 95 persen antara 62,69 dan 73,23 persen untuk luka akut dalam 12 bulan terakhir. Dari 216 petugas yang terluka, 107 orang atau 49,53 persen harus absen dari pekerjaan lebih dari empat hari, dan 109 orang lainnya absen kurang dari empat hari.
Bagian tubuh yang paling sering terkena adalah jari tangan, disebut oleh 46,68 persen responden, disusul telapak dan jari kaki sebesar 26,50 persen, lengan 17,67 persen, dan tungkai 14,20 persen. Sebanyak 4,42 persen lainnya menyebut bagian tubuh lain, dan tabel penelitian mencatat pertanyaan ini sebagai jawaban ganda, sehingga satu petugas bisa menyebut lebih dari satu bagian tubuh.
Baca juga Pekerja Malam Bristol: 85 Persen Tetap Masuk Kerja saat Sakit
Angka yang Melampaui Laporan dari Tempat Lain
Tolera menyandingkan temuannya dengan penelitian pada kelompok pekerja yang sama. Penelitian di rumah sakit Arba Minch, Etiopia, mencatat 16,0 persen petugas kebersihan pernah terluka, di Mogadishu, Somalia, 22,3 persen, dan di sebuah rumah sakit Arab Saudi 17,8 persen, dan menurut Tolera angka 68,14 persen di delapan rumah sakit Etiopia timur ini lebih tinggi daripada angka-angka tersebut.
Perbandingan dengan tenaga kesehatan memperlihatkan arah yang serupa. Penelitian yang dikutip Tolera mencatat 21,2 persen pada tenaga kesehatan di rumah sakit Tiongkok, 30,6 persen di sebuah rumah sakit di selatan Etiopia, 38,5 persen di Tigray, Etiopia utara, 46,4 persen di Etiopia selatan, dan 52,4 persen di rumah sakit Mogadishu, dan seluruhnya lebih rendah daripada angka petugas kebersihan dalam penelitiannya.
Tolera menduga perbedaan itu antara lain berasal dari sifat pekerjaan kedua kelompok, sebab menurutnya, dalam terjemahan bebas, “tenaga kesehatan lebih sering terpapar benda tajam selama tindakan pengobatan, sedangkan petugas kebersihan menangani volume sampah terkontaminasi yang lebih besar”.
Ia juga menyebut kemungkinan lain di balik perbedaan itu, mulai dari faktor sosial-demografis, lingkungan, dan perilaku, rasa takut serta kesadaran akan risiko yang memengaruhi kesediaan melapor, hingga perbedaan ukuran sampel dan cara pengumpulan data. Alasan keempat menyangkut kebijakan tempat kerja serta aturan keselamatan dan kesehatan kerja yang menurutnya berbeda bagi tenaga kesehatan dan bagi petugas kebersihan. Terlepas dari perbedaan pelaporan itu, tulisnya, petugas kebersihan dan tenaga kesehatan rumah sakit dari berbagai negara sama-sama melaporkan luka tusuk jarum dan benda tajam dengan frekuensi tinggi.
Lelah, Tertekan, dan Bekerja Tanpa Pengawas
Dalam analisis yang menimbang banyak faktor sekaligus, stres kerja menjadi faktor dengan kaitan terkuat, dengan rasio odds disesuaikan 7,16 dibanding rekan yang tidak mengalaminya. Beban kerja menyusul dengan 6,84, lemahnya pelaksanaan layanan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) dengan 6,12, dan ketiadaan pengawasan dengan 5,34. Dari 17 faktor yang lolos tahap analisis awal, hanya 10 yang tetap bermakna secara statistik pada model akhir.
Bekerja lebih dari delapan jam sehari berkaitan dengan rasio odds 4,12, ketiadaan layanan profilaksis pascapajanan (PEP) 3,53, tidak pernah mendapat pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) 2,27, dan tidak patuh memakai alat pelindung diri (APD) 2,00. Semua angka itu menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat, sebagaimana diakui penelitiannya sendiri karena data dikumpulkan pada satu waktu dari pengakuan responden.
Di bagian pembahasan, Tolera menautkan jam kerja yang panjang dengan kelelahan dan tekanan hari kerja yang berat, yang menurut penelitian terdahulu yang ia kutip dapat berujung pada kecerobohan. Petugas yang tidak dilatih mengenali bahaya rumah sakit, tulisnya, bisa terpapar benda tajam, infeksi berbahaya, dan bahan kimia di tempat kerja, yang meningkatkan risiko luka tusuk jarum dan benda tajam. Kegagalan memakai alat pelindung diri, bersama beban kerja, gangguan tidur, dan bekerja di lokasi berisiko tinggi, ia sebut sebagai penyumbang besar luka tusuk jarum dan benda tajam.
Ada pula satu faktor perilaku yang ikut bertahan dalam analisis akhir. Petugas yang mengunyah khat, daun hijau yang dalam penelitian ini dicatat sebagai bentuk penggunaan zat, memiliki odds tertusuk jarum dan benda tajam 5,86 kali dibanding yang tidak mengunyahnya, dengan interval kepercayaan 95 persen 2,30 sampai 14,95.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Yang Dipertaruhkan di Balik Satu Tusukan
Tusukan jarum, dalam pembahasan Tolera, membawa risiko besar terpapar penyakit yang menular lewat darah, seperti HIV, hepatitis B, dan hepatitis C. Ia juga menyebut biaya pengobatan, ketidakhadiran kerja, dan kerugian ekonomi yang menimpa pekerja beserta keluarganya, serta kemungkinan disabilitas jangka panjang yang melemahkan kinerja, persoalan yang menurutnya “kerap terabaikan karena kalah oleh persoalan kesehatan lain”.
Karena itu, penelitian ini menganjurkan pelatihan yang menyeluruh, pemakaian alat keselamatan secara rutin, kepatuhan ketat pada prosedur menutup kembali jarum, dan wadah benda tajam tahan tusuk yang mudah dijangkau, terutama di lingkungan rumah sakit. Dalam kesimpulannya Tolera menulis, dalam terjemahan bebas, bahwa “prosedur keselamatan dan penggunaan alat keselamatan yang tepat, kampanye edukasi berkelanjutan, serta program pelatihan yang terarah sangat penting untuk mengendalikan risiko luka tusuk jarum dan benda tajam di antara kelompok terpinggirkan ini”.
Ia juga menganjurkan agar tren luka tusuk jarum terus dipantau dan dievaluasi, supaya bagian yang perlu dibenahi bisa ditemukan dan lingkungan kerja menjadi lebih aman bagi seluruh petugas kebersihan. Anjuran itu ditujukan pada persoalan pembuangan jarum suntik, jarum, dan benda tajam yang tidak semestinya di rumah sakit tersier, yang menjadi kekhawatiran para petugas kebersihan.
Baca juga Pekerja Rumah Tangga Peru: Libur Ada, Slip Gaji Cuma 2,8 Persen
Batas yang Diakui Penelitian Itu Sendiri
Tolera menyebut sejumlah keterbatasan secara terbuka. Desain potong lintang dan pengakuan responden membuat hubungan sebab-akibat antara faktor-faktor tadi dan luka sulit dibuktikan, sedangkan ingatan tentang kejadian selama setahun dapat membuat jumlah luka tercatat terlalu rendah atau terlalu tinggi. Temuan itu juga hanya mencakup rumah sakit tersier, yang menurutnya belum tentu mencerminkan keadaan di rumah sakit daerah atau kabupaten yang lebih kecil.
Keterbatasan keempat adalah tidak adanya tindak lanjut klinis. Penelitian ini tidak mengikuti hasil klinis jangka panjang para petugas yang terluka, termasuk penularan virus lewat darah yang berkaitan dengan luka tusuk jarum dan benda tajam. Dalam kesimpulannya, Tolera juga menyebut perlunya menjawab kesulitan akibat aturan kerahasiaan dan anggapan bahwa risiko luka tusuk jarum itu rendah, demi membangun budaya keselamatan.















