- Angka diabetes tipe 2 di 144 distrik Malaysia berkaitan dengan kerentanan sosial-ekonomi, rasa aman, dan akses warga ke fasilitas olahraga.
- Klaster angka tinggi muncul di Negeri Sembilan, Kedah, dan sebagian Sarawak, sedangkan klaster rendah ada di pedesaan Sabah.
- Rata-rata angka diabetes di tingkat distrik 1.704,61 per 100.000 penduduk dewasa, dengan rentang 163,70 hingga 6.392,31.
- Akses ke taman rekreasi berkaitan positif dengan angka diabetes, sedangkan akses ke pusat boling berkaitan negatif.
Daftar Isi
Diabetes di Malaysia tidak tersebar rata dari distrik ke distrik. Angkanya menumpuk di Negeri Sembilan, Kedah, dan sebagian Sarawak. Di distrik pedesaan Sabah, angkanya justru rendah dan bertetangga dengan sesama distrik berangka rendah.
Temuan itu ditulis Kurubaran Ganasegeran dan rekan dari Departemen Kedokteran Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universiti Kebangsaan Malaysia. Makalah mereka berjudul Neighborhood factors and the geography of type 2 diabetes in Malaysia: an ecological based geospatial modelling study, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Kajian ini menautkan angka diabetes tipe 2 dengan ciri lingkungan tiap distrik. Hasilnya, angka itu berkaitan dengan kerentanan sosial-ekonomi, rasa aman, dan akses warga ke fasilitas olahraga. Semua hubungan itu berlaku pada tingkat wilayah, bukan pada tingkat orang per orang.
Data 144 Distrik
Bahannya berasal dari National Diabetes Register Malaysia. Tercatat 271.553 penderita diabetes tipe 2 aktif berusia 20 tahun ke atas pada 2016 hingga 2020, tersebar di 144 distrik administratif. Jumlah orang dewasa seusia itu di seluruh negeri sekitar 19.697.300 jiwa.
Distrik dipakai sebagai pengganti lingkungan tempat tinggal, bukan blok kota atau kawasan pinggiran. Alasannya, distrik adalah satuan terkecil yang relevan bagi kebijakan dan punya data kependudukan serta kesehatan masyarakat yang seragam di Malaysia. Luasnya beragam, dari sekitar 40 kilometer persegi hingga 19.050 kilometer persegi.
Angka nasionalnya sendiri sudah tinggi. Makalah ini mengutip National Health and Morbidity Survey 2019 yang mencatat kira-kira satu dari lima orang dewasa Malaysia mengidap diabetes tipe 2, sekitar 3,9 juta orang. Prevalensinya naik dari 11,2 persen pada 2011 menjadi 18,3 persen pada 2019.
Rentang yang Lebar
Rata-rata angka diabetes di tingkat distrik 1.704,61 per 100.000 penduduk dewasa, dengan simpangan baku 1.010,70. Mediannya 1.593,92 per 100.000. Angka ini adalah prevalensi kasar: kasus kumulatif 2016 hingga 2020 dibagi jumlah orang dewasa di distrik itu.
Jarak antardistrik cukup lebar. Distrik terendah mencatat 163,70 per 100.000, sedangkan yang tertinggi 6.392,31 per 100.000. Tiga distrik muncul sebagai pencilan tinggi, semuanya di Negara Bagian Sarawak: Meradong, Sarikei, dan Simunjan.
Para peneliti juga memperhalus angka itu dengan metode Bayes empiris untuk distrik berpenduduk sedikit. Hasilnya tidak banyak berbeda dari angka kasar. Menurut mereka, itu karena diabetes tergolong sering dibanding penyakit yang lebih jarang seperti kanker.
Baca juga Anemia Dewasa Malaysia Turun ke 15 Persen, Perempuan Paling Rawan
Klaster di Peta
Distrik berangka tinggi cenderung bertetangga dengan distrik berangka tinggi. Indeks Moran untuk angka diabetes yang dilogaritmakan tercatat 0,370, dan untuk sebaran diabetesnya 0,247, keduanya dengan p=0,001. Para penulis membacanya sebagai pengelompokan ruang yang positif dan bermakna.
Peta klaster lokal memperlihatkan polanya. Klaster tinggi berdampingan tinggi muncul di distrik-distrik Negeri Sembilan, Kedah, dan sebagian Sarawak. Klaster rendah berdampingan rendah terkumpul di distrik pedesaan Sabah dan distrik berwilayah kecil di Selangor.
Gambaran besarnya tertulis di bagian pembahasan. Angka yang lebih tinggi terpusat di sisi barat Semenanjung Malaysia, mencakup wilayah selatan, tengah, dan utara. Sebagian distrik di utara, selatan, dan barat Sarawak ikut masuk.
Dua Garis Kemiskinan
Kemiskinan diukur dengan dua cara. Pertama, proporsi rumah tangga di bawah garis kemiskinan nasional, yaitu 2.208 ringgit per bulan pada 2019. Kedua, proporsi rumah tangga di bawah 50 persen pendapatan median, setara 2.937,50 ringgit atau kurang per bulan.
Arah keduanya berlawanan. Kenaikan satu satuan proporsi rumah tangga di bawah 50 persen median berkaitan dengan naiknya angka diabetes, dengan koefisien 0,009 dan p=0,003. Untuk rumah tangga di bawah garis kemiskinan nasional, koefisiennya negatif 0,011 dengan p=0,001.
Para penulis menjelaskan letak kedua kelompok itu. Rumah tangga di bawah garis kemiskinan nasional kebanyakan berada di distrik pedesaan Sabah dan sebagian distrik pedesaan Pantai Timur. Distrik-distrik itu justru mencatat angka diabetes rendah.
Kelompok di bawah 50 persen median berbeda. Mereka bukan yang termiskin, melainkan berada di ujung atas golongan B40, yaitu 40 persen rumah tangga berpendapatan terbawah. Angka diabetes kelompok ini paling padat di distrik Malaysia Timur dan wilayah selatan.
Ada pula beberapa klaster angka diabetes kelompok ini di sekitar kota besar wilayah utara dan tengah, serta di kota-kota kecil Pantai Timur. Menurut para penulis, sebaran ini sejalan dengan arah hasil model regresi mereka.
Baca juga Biaya Berobat Diabetes di Desa Bangladesh Terbanyak untuk Obat
Paradoks Swiss
Ketimpangan pendapatan diukur dengan koefisien Gini per distrik. Nilai 0 berarti pendapatan merata sempurna, sedangkan 1 berarti ketimpangan maksimal. Hasilnya, koefisien Gini berkaitan negatif dengan angka diabetes, yakni negatif 1,778 dengan p=0,015.
Para penulis semula menduga arahnya positif. Mereka menilai hasil ini kemungkinan besar terkait apa yang disebut paradoks Swiss. Dalam paradoks itu, ketimpangan yang semestinya merugikan kesehatan justru tampak berbarengan dengan kesehatan penduduk yang lebih baik bila diukur pada wilayah yang lebih kecil.
Distrik-distrik itu sebagian besar berada di pedesaan. Penduduknya serupa dengan kelompok yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional tadi. Menurut makalah ini, hasil yang tidak seragam antarkajian soal ketimpangan bisa dipengaruhi beda satuan wilayah dan cara mengukurnya.
Kamera dan Rasa Aman
Rasa aman tidak diukur dengan menanyai warga. Penggantinya adalah jumlah kamera CCTV yang terpasang di wilayah pemerintah daerah, dihitung per 1.000 penduduk. Data itu bersumber dari statistik sosial Kementerian Perumahan dan Pemerintahan Daerah Malaysia tahun 2021.
Kepadatan CCTV berkaitan positif dengan angka diabetes. Koefisiennya 0,060 dengan p=0,049, yang oleh para penulis digolongkan bukti sedang. Indeks kejahatan harta benda per 1.000 penduduk memberi koefisien 0,013 dengan p=0,063. Para penulis menyebut model mereka memperlihatkan sebagian keterkaitan dengan ukuran rasa aman ini.
Beberapa ukuran lain tidak menunjukkan hubungan bermakna. Jumlah pecandu narkoba per 1.000 penduduk, tingkat pengangguran, dan laju pertumbuhan kota termasuk di antaranya. Begitu pula proporsi perempuan, kelompok etnis, dan kelompok umur dewasa.
Taman dan Boling
Akses ke fasilitas olahraga diukur sebagai persen wilayah yang warganya merasa bisa menjangkau fasilitas itu dalam radius lima kilometer dari rumah. Ada tujuh jenis fasilitas yang diuji. Hanya dua yang berkaitan bermakna dengan angka diabetes.
Akses ke taman rekreasi berkaitan positif, dengan koefisien 0,007 dan p=0,001. Akses ke pusat boling berkaitan negatif, dengan koefisien negatif 0,003 dan p=0,009. Lintasan jogging, jalur sepeda, stadion mini, lapangan sepak bola, dan gimnasium tidak bermakna.
Para penulis menulis bahwa rasa aman kemungkinan memengaruhi niat warga mendatangi pusat boling dan taman. Keadaan itu berpotensi menjauhkan warga dari aktivitas fisik. Proporsi warga yang tidak berolahraga sendiri memberi koefisien negatif 0,198 dengan p=0,075.
Seluruh model ini menjelaskan 46,6 persen keragaman total angka diabetes yang dilogaritmakan. Para penulis menyebut hasilnya sejalan dengan kajian geospasial sebelumnya di Amerika Serikat, Arab Saudi, Australia, Bangladesh, dan Brasil.
Baca juga Tinggi Badan Pria Jepang dan Lamanya Bertahan Bebas Diabetes
Saran dan Batasnya
Makalah ini menawarkan saran yang berbeda untuk tiap wilayah. Untuk distrik sangat urban di Selangor dan Kuala Lumpur, prioritasnya kemudahan berjalan kaki, ruang rekreasi yang aman, dan program gaya hidup di tempat kerja.
Untuk distrik pinggiran kota dan semi-pedesaan di utara dan selatan Semenanjung, sarannya penguatan skrining diabetes di layanan kesehatan primer. Program relawan kesehatan komunitas yang sudah ada juga bisa dilibatkan.
Di Sarawak, terutama distrik yang lebih terpencil dan sulit menjangkau layanan kesehatan, sarannya layanan jemput bola dan skrining diabetes keliling. Promosi kesehatan juga bisa disesuaikan dengan budaya masyarakat adat dan komunitas terpencil.
“Misalnya, mengusulkan tambahan taman rekreasi setempat mungkin jauh lebih hemat daripada mengusulkan stadion sepak bola baru,” tulis Ganasegeran dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Mereka melaporkan hubungan ini agar pengambil kebijakan bisa menimbang kekuatan hubungan dan kemudahan mengubah tiap faktor.
Kajian ini juga punya batas. Kasus dicatat menurut lokasi klinik tempat pasien berobat, sehingga analisis tidak bisa turun ke tingkat mukim, satuan wilayah di bawah distrik. Batas distrik juga belum tentu sama dengan lingkungan menurut warganya sendiri.
Karena memakai data agregat, arah hubungannya tidak bisa langsung dibandingkan dengan kajian faktor risiko perorangan. Ukuran campuran tata guna lahan juga belum tersedia, dan para penulis menyarankan citra satelit untuk kajian berikutnya.
Kesimpulan makalah ini, angka diabetes tipe 2 di tingkat distrik Malaysia berkaitan dengan kerentanan sosial-ekonomi, rasa aman, dan akses yang dirasakan warga ke fasilitas aktivitas fisik. Menurut para penulis, temuan itu memungkinkan intervensi kesehatan masyarakat direncanakan sesuai keadaan tiap wilayah.















