- Hanya 42,2 persen dari 1.030 pekerja penuh waktu di Polandia menyatakan kantornya menawarkan program kesehatan.
- Kartu olahraga atau akses fasilitas olahraga paling sering disebut, yakni oleh 50,1 persen karyawan yang punya program.
- Di perusahaan dengan lebih dari 500 karyawan, 59,5 persen responden melaporkan ada program kesehatan.
- Kekurangan waktu menjadi hambatan yang paling sering disebut, yakni oleh 34,5 persen karyawan yang kantornya punya program.
Daftar Isi
Kartu olahraga, buah dan camilan sehat gratis di tempat kerja, pengambilan darah dan pengukuran tekanan darah di kantor sendiri. Begitulah wujud program kesehatan kantor yang disebut karyawan di Polandia ketika ditanya apa yang disediakan pemberi kerja mereka. Namun, tidak semua karyawan mengenal pemandangan itu. Dari 1.030 pekerja penuh waktu yang ditanya, hanya 42,2 persen yang menyatakan kantornya menawarkan program semacam itu.
Gambaran itu datang dari Agata Olearczyk dari Health Innovation Unit, SGH Warsaw School of Economics, bersama empat rekannya dari Centre of Postgraduate Medical Education dan VIZJA University di Warsawa. Tulisan mereka, Employer-provided workplace health promotion activities in Poland: evidence from a nationwide cross-sectional survey of full-time employees, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Survei daringnya berlangsung 1 sampai 9 Desember 2025 dan menjangkau 1.030 pekerja berkontrak penuh waktu berusia 18 sampai 60 tahun di seluruh Polandia. Yang ditanyakan adalah program kesehatan sukarela dari pemberi kerja, di luar kewajiban hukum seperti keselamatan kerja dan kedokteran kerja. Asuransi kesehatan swasta dan asuransi jiwa dihitung terpisah.
Dari 42,2 persen yang menjawab ya, 20,1 persen menyebut programnya berjalan teratur dan 22,1 persen sesekali. Sebanyak 43,6 persen menjawab kantornya tidak menyediakan program apa pun, dan 14,2 persen tidak tahu. Ada pula 4,7 persen yang hanya mendapat asuransi kesehatan swasta atau asuransi jiwa.
Kartu Olahraga
Di antara 435 karyawan yang menyatakan kantornya punya program kesehatan, kartu olahraga atau akses ke fasilitas olahraga paling sering disebut, yakni oleh 50,1 persen. Peringkat berikutnya jauh di bawahnya. Inisiatif edukasi berupa webinar, kuliah, pelatihan, dan lokakarya disebut 32,9 persen.
Sebagian program dibawa langsung ke lingkungan kantor. Sebanyak 28,5 persen menyebut cek kesehatan di tempat kerja, misalnya pengambilan sampel darah dan pengukuran tekanan darah. Vaksinasi di tempat, seperti vaksin influenza, disebut 27,4 persen. Lalu 28,7 persen menyebut acara olahraga bersama rekan kerja, misalnya lomba lari atau olahraga beregu.
Ada pula yang menyangkut perjalanan dan meja makan. Promosi bersepeda ke kantor, misalnya tempat parkir sepeda yang aman dan ruang ganti, disebut 23,0 persen. Buah dan camilan sehat gratis disebut 21,4 persen, sedangkan kartu makan atau makan bersubsidi 20,9 persen. Pijat atau fisioterapi di tempat paling jarang, hanya 10,8 persen.
Akses ke psikolog atau psikiater di luar paket medis disebut 25,7 persen. Para penulis mencatat, di Polandia layanan dukungan psikologis tidak rutin tersedia dalam layanan kedokteran kerja. Lewat asuransi swasta pun, konsultasi psikologis sangat terbatas, umumnya satu sampai empat kunjungan setahun. Menurut mereka, angka 25,7 persen itu mungkin menandakan pengakuan yang tumbuh atas dukungan kesehatan mental di tempat kerja.
Baca juga Kembali ke Kantor di Taipei, Nyeri Otot dan Cemas Pekerja Naik
Perusahaan Lebih dari 500 Karyawan
Peluang menemui program semacam itu sangat bergantung pada besar kecilnya kantor. Di tempat kerja berkaryawan sembilan orang atau kurang, 27,7 persen responden melaporkan ada program kesehatan. Di perusahaan berkaryawan 10 sampai 49 orang angkanya 30,8 persen. Di perusahaan dengan lebih dari 500 karyawan, angkanya 59,5 persen.
Setelah faktor lain diperhitungkan, bekerja di perusahaan berkaryawan lebih dari 500 orang berkaitan dengan peluang melaporkan akses 2,74 kali lipat dibanding tempat kerja terkecil, dalam ukuran rasio odds terkoreksi. Perusahaan berukuran 50 sampai 249 dan 250 sampai 500 karyawan mencatat 41,5 dan 41,7 persen, tetapi tidak berbeda bermakna dalam model itu.
Kepemilikan perusahaan juga membedakan. Di perusahaan swasta milik asing, 63,4 persen karyawan melaporkan ada program kesehatan, dengan rasio odds terkoreksi 2,56 dibanding perusahaan swasta Polandia. Di perusahaan swasta Polandia, tempat hampir separuh responden bekerja, angkanya 33,7 persen. Lembaga publik mencatat 39,6 persen dan badan usaha milik negara 56,3 persen.
Para penulis menawarkan beberapa kemungkinan penjelasan. Perusahaan swasta milik asing, yang sering berupa korporasi internasional, punya proses pengelolaan sumber daya manusia yang maju, jaringan pemasok yang mapan, dan bersaing menarik pekerja. Lembaga publik, menurut hukum Polandia, terbatas oleh disiplin anggaran. Perusahaan swasta Polandia tidak memperoleh insentif fiskal untuk menjalankan program ini.
Dari perdesaan ke kota besar, angkanya ikut bergeser. Di kota berpenduduk 500.000 jiwa atau lebih, 50,0 persen responden melaporkan akses, dibanding 36,8 persen di perdesaan, dengan rasio odds terkoreksi 1,58. Para penulis menduga warga kota besar lebih mungkin bekerja di perusahaan besar dan internasional yang punya anggaran dan strategi untuk itu.
Usia memberi pola tersendiri. Karyawan berusia 55 sampai 60 tahun paling jarang melaporkan akses, yakni 28,8 persen, sementara kelompok 18 sampai 24 tahun mencapai 53,8 persen. Menurut para penulis, salah satu kemungkinannya adalah pekerja yang mendekati usia pensiun belum menjadi sasaran utama program kesehatan kantor di Polandia.
Sif Malam dan Jam Fleksibel
Di luar ruang kantor biasa, jadwal kerja ikut membedakan. Karyawan dengan jam kerja siang yang tetap, kelompok terbesar dengan 58,5 persen responden, melaporkan akses 37,0 persen. Karyawan sif yang mencakup sif malam melaporkan 55,6 persen, dan karyawan berjam kerja fleksibel 54,3 persen.
Dalam model, sif malam berkaitan dengan rasio odds terkoreksi 1,90 dan jam fleksibel 1,95, keduanya dibanding jam siang tetap. Sif tanpa malam hampir sama dengan jam siang tetap, yaitu 37,3 persen. Waktu kerja berbasis tugas mencatat 52,8 persen, tetapi tidak bermakna setelah faktor lain diperhitungkan.
Menurut para penulis, kepustakaan sering menunjukkan program kesehatan kantor tidak selalu menjangkau pekerja sif. Mereka menulis bahwa di Polandia ada pemberi kerja yang berhasil menjangkau pekerja sif, atau pekerja sif lebih sering memperhatikan program itu. Kemungkinan lain, kerja sif lebih umum di organisasi industri besar dengan paket tunjangan yang lebih berkembang.
Baca juga Jadwal Kerja Tak Menentu, Buruh Korea Lebih Sering Sulit Tidur
Ruang Para Direktur
Jabatan ikut menentukan siapa yang melaporkan program kesehatan. Karyawan tingkat awal melaporkan akses 37,9 persen dan spesialis 40,5 persen. Manajer mencatat 52,8 persen, eksekutif 65,2 persen, dan mereka yang berada di tingkat direktur 70,8 persen.
Dibanding karyawan tingkat awal, rasio odds terkoreksinya 1,85 untuk manajer, 4,24 untuk tingkat direktur, dan 3,29 untuk eksekutif. Jumlah responden di dua kelompok teratas kecil, yaitu 24 orang di tingkat direktur dan 23 orang eksekutif.
Pembagian antara program teratur dan sesekali juga bergeser. Di tingkat awal, 16,8 persen menyebut program teratur dan 21,1 persen sesekali. Di tingkat direktur, 37,5 persen menyebut teratur dan 33,3 persen sesekali. Di kalangan eksekutif, 39,1 persen menyebut teratur dan 26,1 persen sesekali.
Para penulis mencatat bahwa manajemen dan eksekutif kerap menikmati tunjangan yang lebih baik daripada karyawan berjabatan lebih rendah, termasuk cakupan paket medis swasta yang lebih luas. Menurut mereka, ketimpangan akses berdasarkan jabatan ini memerlukan penelitian lanjutan.
Karyawan yang Puas
Satu faktor menonjol di dua sisi sekaligus. Di antara karyawan yang sama sekali tidak puas dengan pekerjaannya, 21,3 persen melaporkan ada program kesehatan. Pada mereka yang sangat puas, angkanya 52,1 persen. Rasio odds terkoreksi untuk kelompok agak puas 3,90 dan untuk kelompok sangat puas 5,66, dibanding yang sama sekali tidak puas.
Punya akses tidak sama dengan memakainya. Dari 435 karyawan yang kantornya punya program, 40,7 persen mengaku sering memakainya dan 9,9 persen sangat sering, kira-kira separuh. Sebanyak 44,4 persen jarang memakainya, dan 5,1 persen tidak pernah sama sekali.
Kepuasan kerja adalah satu-satunya variabel sosiodemografis yang membedakan pemakaian program itu. Di antara 85 karyawan yang sangat puas, 23,5 persen memakainya sangat sering. Di antara 49 karyawan yang agak tidak puas, 69,4 persen jarang memakainya dan hanya 2,0 persen sangat sering.
Para penulis berhati-hati membaca hubungan ini, karena data dikumpulkan pada satu waktu sehingga arah hubungannya tidak bisa ditentukan. “Ada kemungkinan akses ke inisiatif promosi kesehatan di tempat kerja berkontribusi pada kepuasan kerja yang lebih tinggi, atau karyawan yang lebih puas dengan pekerjaannya lebih sadar akan program yang tersedia,” tulis Olearczyk dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Baca juga Pekerja Malam Bristol: 85 Persen Tetap Masuk Kerja saat Sakit
Jam yang Tidak Cukup
Hambatan yang paling sering disebut adalah waktu. Dari 435 karyawan itu, 34,5 persen mengaku kekurangan waktu untuk ikut program kesehatan kantor. Para penulis mencatat hampir 80 persen karyawan melaporkan setidaknya satu hambatan.
Hambatan berikutnya lebih bersifat pribadi. Sebanyak 19,8 persen mengaku kurang termotivasi atau tidak tertarik, dan 19,3 persen menilai topiknya tidak menarik atau tidak sesuai kebutuhan. Akses yang tidak setara, misalnya tersisih karena jadwal sif, lokasi, atau tidak punya surel perusahaan, disebut 14,2 persen. Sebaliknya, 19,5 persen menyatakan tidak melihat hambatan apa pun.
Saat menyiapkan program, “pemberi kerja perlu memastikan pengaturan kerja yang memberi waktu untuk ikut serta, tanpa harus tinggal sesudah jam kerja dan mengejar pekerjaan,” tulis Olearczyk dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Topik yang dinilai tidak sesuai, tulis mereka, menandakan pemberi kerja belum cukup menelaah kebutuhan karyawan.
Gambaran ini punya batas yang dinyatakan sendiri oleh para penulis. Datanya berupa persepsi karyawan, tanpa kontak dengan pemberi kerja dan tanpa audit kebijakan perusahaan. Respondennya hanya pekerja penuh waktu berusia 18 sampai 60 tahun, sehingga hasilnya tidak bisa diberlakukan begitu saja pada pekerja paruh waktu atau berkontrak perdata. Survei daring juga mungkin kurang menjangkau pekerja manual berpendapatan rendah.
Para penulis menyarankan kajian berikutnya menyasar kelompok pekerjaan dan sektor industri tertentu, agar perbedaan akses terlihat lebih jelas. Perusahaan besar milik asing, tulis mereka, paling sering menyediakan program, dan hasil ini menggarisbawahi potensi ketimpangan akses di antara karyawan.
Kartu olahraga, buah di tempat kerja, dan pengukuran tekanan darah di kantor memang ada di Polandia. Namun, menurut kesimpulan para penulis, kurang dari separuh karyawan penuh waktu melaporkan akses ke program semacam itu. Dari mereka yang punya akses, sekitar separuh sering atau sangat sering memakainya.















