Warga Tokha Buang Obat dan Produk Perawatan Kedaluwarsa ke Sampah

A A

Ilustrasi tumpukan aneka tablet dan kaplet obat tak terpakai yang dikumpulkan untuk dibuang [Foto: Pöllö/Wikimedia Commons, CC BY 3.0]

  • Dari 298 responden di Tokha, 88,9 persen membuang obat dan produk perawatan kedaluwarsa ke tong sampah rumah tangga.
  • Hanya empat orang, atau 1,3 persen, yang membawa obat dan produk perawatan kedaluwarsa kembali ke apotek.
  • Laci kamar tidur menjadi tempat menyimpan paling umum, disebut 229 responden atau 76,8 persen.
  • Hanya sembilan penjual apotek, atau 17 persen, yang tahu ada peraturan atau pedoman khusus tentang cara membuang obat dengan aman.
Daftar Isi
  1. Sebelum dibuang, sisa obat menunggu di laci kamar tidur
  2. Tong sampah dipilih karena paling mudah, bukan karena dianggap aman
  3. Pereda nyeri dan produk perawatan kulit paling sering tersisa di rumah
  4. Penjual apotek paham bahayanya, tetapi sedikit yang tahu aturannya
  5. Keyakinan diri paling dekat dengan dorongan untuk membuang obat dengan aman

Obat dan produk perawatan tubuh yang kedaluwarsa di rumah-rumah Tokha kebanyakan berakhir di tempat yang sama. Dari 298 orang yang ditanyai, 265 orang atau 88,9 persen membuangnya ke tong sampah rumah tangga. Sebanyak 38 orang membakarnya. Hanya empat orang, atau 1,3 persen, yang membawanya kembali ke apotek.

Gambaran itu dicatat Govinda Bhandari dari Progressive Sustainable Developers Nepal (PSD-Nepal) di Kathmandu dan Urmila Gharti Magar dari Central Department of Environmental Science, Tribhuvan University, Kirtipur. Laporan mereka berjudul Pharmaceuticals and Personal Care Products (PPCPs) Disposal Practices in Tokha, Nepal: A Health Belief Model Study dan dimuat jurnal BMC Public Health pada 2026.

Yang mereka telusuri bukan hanya obat. Kajian ini mencakup obat dan produk perawatan tubuh, dari pereda nyeri sampai produk perawatan kulit dan rambut, yang tidak terpakai atau sudah lewat tanggal. Para penulis menyebut kelompok produk ini sebagai pencemar lingkungan yang baru muncul dan bisa membawa risiko serius bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Survei dilakukan pada 2025 di empat dari sebelas ward Munisipalitas Tokha, di bagian utara Distrik Kathmandu, yaitu ward 1, 2, 3, dan 8. Tim mewawancarai 298 rumah tangga dan 53 penjual apotek secara tatap muka. Kota seluas 17,11 kilometer persegi itu berpenduduk 133.755 jiwa pada 2021.

Kebanyakan responden rumah tangga adalah perempuan, 68,8 persen, dan 74,8 persen berstatus menikah. Lebih dari sepertiga, 36,2 persen, berpendidikan sarjana atau lebih, sedangkan 4,4 persen tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Yang diwawancarai adalah orang dewasa berusia 18 tahun ke atas yang mengurus pembelian, penyimpanan, dan pengelolaan obat serta produk perawatan di rumahnya.

Sebelum dibuang, sisa obat menunggu di laci kamar tidur

Sebelum sampai di tong sampah, obat itu menunggu di dalam rumah. Sebanyak 124 rumah tangga, atau 41,6 persen, menyimpan obat dan produk perawatan yang tidak terpakai atau sudah kedaluwarsa. Laci kamar tidur menjadi tempat menyimpan paling umum, disebut 229 responden atau 76,8 persen.

Tempat lain tertinggal jauh. Rak atau lemari kamar mandi disebut 36,9 persen responden, kotak obat 28,2 persen, lemari dapur 9,4 persen, dan kulkas 1,3 persen. Para penulis mengingatkan bahwa menyimpan obat di tempat seperti laci kamar tidur bisa menaikkan risiko anak menelannya tanpa sengaja dan membawa bahaya serius bagi kesehatan.

Alasan obat itu tersisa pun beragam. Lupa memakainya menjadi jawaban terbanyak, 20,8 persen. Sisa dari sakit sebelumnya disebut 16,1 persen, efek samping setelah dipakai 14,1 persen, terlanjur membeli terlalu banyak 14,1 persen, dan resep yang diganti dokter 5,4 persen. Tanggal kedaluwarsa tidak selalu dilihat. Sebanyak 67,1 persen responden memeriksanya sebelum membeli. Saat hendak memakai obat yang sudah ada di rumah, hanya 2,3 persen yang selalu memeriksa tanggalnya, sedangkan 44,3 persen jarang dan 21,8 persen tidak pernah melakukannya.

Nasihat dari apotek juga jarang sampai ke rumah. Sebanyak 88,6 persen responden tidak mendapat informasi atau saran dari penjual di apotek. Uji statistik dalam paper menunjukkan pendidikan berkaitan bermakna dengan kebiasaan memeriksa tanggal kedaluwarsa dan mencari informasi tentang cara menyimpan serta menangani obat. Jenis kelamin justru hampir tidak berperan. Dalam kajian ini, jenis kelamin menunjukkan hubungan paling lemah dengan pemakaian maupun penyimpanan obat dan produk perawatan. Para penulis membacanya sebagai tanda kesetaraan gender yang lebih besar dalam kesempatan, peran sosial, dan pergaulan warga di munisipalitas itu.

Baca juga Obat Kedaluwarsa Warga Lanzhou Jarang Berakhir di Tong Sampah

Tong sampah dipilih karena paling mudah, bukan karena dianggap aman

Tong sampah jauh mengungguli apotekTong sampah rumah tangga 88,9%; Dibakar 12,8%; Toilet atau wastafel 2,0%; Sungai atau badan air 2,0%; Dikembalikan ke apotek 1,3%; Dikubur 1,3%; Diberikan ke kerabat 1,0%; Disimpan untuk dipakai lagi 0,7%.Tong sampah jauh mengungguli apotekCara membuang obat dan produk perawatan kedaluwarsa,persen dari 298 responden rumah tangga (Tabel 6)0%25%50%75%100%Tong sampah rumah tangga88,9%Dibakar12,8%Toilet atau wastafel2,0%Sungai atau badan air2,0%Dikembalikan ke apotek1,3%Dikubur1,3%Diberikan ke kerabat1,0%Disimpan untuk dipakai lagi0,7%Survei 2025 di ward 1, 2, 3, dan 8 Munisipalitas Tokha
Sumber: Govinda Bhandari dan Urmila Gharti Magar, Pharmaceuticals and Personal Care Products (PPCPs) Disposal Practices in Tokha, Nepal: A Health Belief Model Study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Delapan cara membuang obat dan produk perawatan kedaluwarsa tercatat dalam survei. Tong sampah rumah tangga disebut 88,9 persen responden, membakar 12,8 persen. Membuang ke toilet atau wastafel dan ke sungai masing-masing 2 persen, sedangkan mengubur dan mengembalikan ke apotek masing-masing 1,3 persen.

Alasannya sederhana. Sebanyak 88,9 persen responden menyebut cara itu paling mudah, dan 58,4 persen mengaku tidak tahu cara lain. Hanya 4,7 persen yang yakin cara mereka aman, dan 8,1 persen menganggap cara itu tidak merusak lingkungan. Hampir semua sisa obat bercampur dengan sampah lain. Sebanyak 283 responden, atau 95 persen, mencampur obat dan produk perawatan yang tak terpakai atau kedaluwarsa dengan sampah rumah tangga sebelum membuangnya. Kebanyakan membuangnya setahun sekali, 63,4 persen, sementara 32,9 persen melakukannya tiap tiga bulan.

Menurut para penulis, angka 95 persen itu mencerminkan rendahnya kesadaran tentang pemilahan sampah yang benar serta dampaknya bagi lingkungan dan kesehatan. Mereka juga menulis bahwa pembuangan obat sisa yang keliru mengancam kesehatan masyarakat dan lingkungan, termasuk lewat munculnya bakteri yang kebal antibiotik.

Obat yang belum kedaluwarsa mengikuti jalan lain. Sebanyak 67,1 persen responden menyimpannya untuk dipakai kelak, dan 57,4 persen memberikannya kepada kerabat atau teman. Sebanyak 44 persen tetap membuangnya ke tong sampah rumah tangga, sedangkan 14,4 persen mengembalikannya ke apotek. Hanya 14 responden, atau 4,7 persen, yang pernah mengembalikan obat dan produk perawatan kedaluwarsa atau tak terpakai. Para penulis menulis bahwa sangat sedikit responden yang mengembalikan produk sisa ke apotek, mungkin karena belum ada sistem pengembalian yang resmi di negara itu.

Kebiasaan serupa tercatat di negara lain yang dikutip paper. Membuang obat kedaluwarsa ke sampah rumah tangga dilaporkan 77,7 persen di Afganistan, 53,2 persen di Etiopia, 82,1 persen di India, dan 76 persen di Qatar. Di Uni Eropa, menurut paper yang sama, sebagian besar warga mengembalikan obat sisa ke apotek karena sadar dampaknya bagi lingkungan.

Baca juga Warga Korea Mau Mengembalikan Obat Sisa, tetapi Jalannya Sulit

Kebiasaan membuang ke tong sampah berkaitan bermakna dengan semua ciri sosial-demografis responden, kecuali jumlah anggota keluarga. Hubungan terkuat muncul pada pekerjaan, dengan koefisien asosiasi 0,444, disusul pendapatan bulanan 0,292 dan status pernikahan 0,286. Kebiasaan mengembalikan obat ke apotek hanya berkaitan bermakna dengan status pernikahan.

Pereda nyeri dan produk perawatan kulit paling sering tersisa di rumah

Isi laci itu pun tercatat. Pereda nyeri menjadi obat sisa atau kedaluwarsa yang paling banyak dilaporkan, 63,1 persen. Antibiotik menyusul dengan 19,5 persen, lalu obat golongan penghambat pompa proton dengan 16,4 persen. Sebanyak 31,5 persen responden juga menyebut obat lain. Di antaranya dekongestan hidung, obat mata, penekan batuk, antidepresan, antihistamin, dan obat penurun lemak darah.

Angka pereda nyeri di Tokha sedikit di bawah India yang tercatat 68,8 persen. Angka itu lebih tinggi daripada Etiopia, 32,2 persen, dan Amerika Serikat, 15 persen. Para penulis menduga pereda nyeri dan antibiotik banyak tersimpan karena mudah didapat, sering dipakai untuk keluhan umum seperti nyeri dan demam, serta dipakai untuk mengobati diri sendiri.

Produk perawatan tubuh punya polanya sendiri. Produk perawatan kulit paling banyak dilaporkan tersisa atau kedaluwarsa, 77,5 persen, disusul produk perawatan rambut dengan 54,7 persen. Parfum, produk riasan, sabun atau sabun cair, dan produk perawatan mulut jauh lebih jarang dilaporkan.

Penjual apotek paham bahayanya, tetapi sedikit yang tahu aturannya

Lima puluh tiga apotek di jalur survei ikut ditanyai. Penjualnya kebanyakan berusia 26 sampai 45 tahun, 88,7 persen, dan 64,2 persen di antaranya perempuan. Lebih dari separuh, 52,8 persen, berpendidikan sarjana atau lebih. Produk rusak dan kedaluwarsa bukan hal asing bagi mereka. Sebanyak 39 penjual, atau 73,6 persen, pernah mendapati produk seperti itu di apoteknya. Menurut para penulis, kebanyakan penjual mengembalikan produk kedaluwarsa atau rusak itu kepada pemasoknya.

Pemahaman soal bahaya cukup luas. Sebanyak 92,5 persen penjual meyakini pembuangan obat yang keliru bisa merugikan kesehatan manusia, dan 60,4 persen menyebut dampaknya bagi lingkungan. Bahaya yang mereka sebut antara lain pencemaran air, kerusakan lahan, gangguan pada makhluk hidup di air dan darat, alergi, serta keracunan bahan kimia pada anak.

Aturannya lain cerita. Hanya sembilan penjual, atau 17 persen, yang tahu ada peraturan atau pedoman khusus tentang cara membuang obat dengan aman, sedangkan 83 persen tidak tahu. Sebanyak 37,7 persen mengaku selalu memberi saran cara membuang obat kepada pembeli, 30,2 persen sering, dan 32,1 persen kadang-kadang.

Hambatan terbesar menurut para penjual adalah tidak adanya sistem pengembalian dari pemasok, disebut 37,8 persen. Tidak adanya akses ke fasilitas pembakaran atau pembuangan dan mahalnya cara pembuangan yang layak masing-masing disebut 24,5 persen. Kurangnya dukungan pemerintah daerah disebut 22,6 persen. Para penjual juga punya usulan. Kebanyakan meminta kesadaran masyarakat ditingkatkan, pembeli didorong memeriksa tanggal produksi dan kedaluwarsa sebelum membeli, serta tempat pembuangan khusus disediakan di tiap ward.

Baca juga Kantong Plastik Lira Uganda: Warga Tahu, tapi Tetap Salah Buang

Keyakinan diri paling dekat dengan dorongan untuk membuang obat dengan aman

Para penulis juga mengukur keyakinan warga dengan enam unsur Health Belief Model, kerangka psikologis untuk memahami perilaku kesehatan. Unsur itu meliputi kerentanan, keparahan, manfaat, dan hambatan yang dirasakan, keyakinan diri, serta isyarat untuk bertindak, yaitu pemicu dari dalam atau luar diri yang mendorong orang mengubah cara membuang obat.

Keyakinan diri paling erat dengan isyarat bertindakKeyakinan diri (self-efficacy): Koefisien korelasi 0,540; Keparahan yang dirasakan: Koefisien korelasi 0,370; Manfaat yang dirasakan: Koefisien korelasi 0,362; Kerentanan yang dirasakan: Koefisien korelasi 0,317; Hambatan yang dirasakan: Koefisien korelasi -0,195.Keyakinan diri paling erat dengan isyaratbertindakKorelasi Spearman tiap unsur Health Belief Model denganisyarat untuk bertindak, 298 responden (Tabel 4)-0,20,20,40,60Keyakinan diri (self-efficacy)0,540Keparahan yang dirasakan0,370Manfaat yang dirasakan0,362Kerentanan yang dirasakan0,317Hambatan yang dirasakan-0,195Kelimanya bermakna pada taraf 0,01
Sumber: Govinda Bhandari dan Urmila Gharti Magar, Pharmaceuticals and Personal Care Products (PPCPs) Disposal Practices in Tokha, Nepal: A Health Belief Model Study, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Keyakinan diri paling erat berkaitan dengan isyarat untuk bertindak, dengan koefisien korelasi 0,540. Keparahan yang dirasakan berkorelasi 0,370, manfaat 0,362, dan kerentanan 0,317. Hambatan yang dirasakan justru berkorelasi negatif, yaitu negatif 0,195. Hambatan bergerak ke arah sebaliknya. Orang yang merasakan hambatan lebih besar cenderung kurang menangkap isyarat untuk bertindak, kurang melihat manfaat, kurang merasa rentan, dan kurang yakin pada kemampuannya membuang obat dengan aman.

Dalam model persamaan struktural, keyakinan diri juga memberi hubungan positif terkuat dengan isyarat untuk bertindak, dengan koefisien jalur 0,184. Para penulis membacanya sebagai tanda bahwa orang yang lebih yakin mampu mengurus obat sisa dan kedaluwarsa lebih tanggap terhadap perilaku membuang yang aman.

“Praktik pembuangan limbah mereka tidak memuaskan karena hambatan yang dirasakan, seperti kedua kelompok sama-sama tidak punya akses ke sistem pengembalian dan fasilitas pembuangan yang mudah dijangkau,” tulis Bhandari dan Gharti Magar dalam simpulannya, diterjemahkan dari bahasa Inggris. Bagi penjual apotek, ketidaktahuan tentang aturan pembuangan obat juga menjadi hambatan.

Mereka mengusulkan tiga langkah. Persepsi tentang keparahan risiko dinaikkan lewat program penyadaran berbasis komunitas. Keyakinan diri dibangun dengan menyediakan fasilitas pembuangan dan titik pengembalian di apotek, pusat kesehatan, atau kantor munisipalitas, sedangkan isyarat untuk bertindak diperkuat lewat aturan yang jelas dan ditegakkan.

Kajian ini punya batas yang diakui penulisnya. Survei hanya dilakukan di beberapa ward terpilih di Tokha sehingga hasilnya terbatas untuk diberlakukan di wilayah lain Nepal. Sebagian apotek tutup saat survei, penjual mungkin memberi jawaban yang dianggap pantas, dan data dikumpulkan pada September tanpa memperhitungkan perubahan musim.

Di Tokha, laci kamar tidur menjadi tempat paling umum menyimpan obat dan produk perawatan, sementara pereda nyeri dan produk perawatan kulit paling sering dilaporkan tersisa. Ketika tanggalnya lewat, kebanyakan berakhir di tong sampah rumah tangga. Dari 298 orang, hanya empat yang membawanya kembali ke apotek.

Bagikan

Baca Juga

Asap Rokok Lebih Terkait Asma Anak Perempuan dan di Bawah 9 Tahun
Hampir Sepertiga Mahasiswa Bangladesh Tak Habiskan Antibiotik
Separuh Lebih Tukang Bengkel di Sunyani, Ghana, Didera Nyeri Otot
Kurang dari Separuh Karyawan Polandia Dapat Program Sehat Kantor
Remaja Putri Perkotaan Lebih Banyak Makan Daging dan Telur
Sedikit Warga Tepi Barat Utara Tahu Kurang Gerak Berisiko Stroke