- Hanya 21,1 persen responden memakai jalur pengembalian resmi seperti apotek untuk obat sisa.
- Sebanyak 66,7 persen membuang obat ke tempat sampah rumah tangga dan 4,2 persen ke saluran pembuangan air.
- Bila sistemnya mudah dijangkau, 94,1 persen responden bersedia ikut mengembalikan obat.
- Pada 2023 jumlah pasien hanya naik 0,04 persen, sedangkan item obat yang diresepkan naik 11,7 persen.
- Per 2024 tercatat 4.669 kotak pengumpulan limbah obat di seluruh Korea Selatan dengan sebaran timpang.
Daftar Isi
- Resep bertambah lebih cepat daripada pasien
- Hampir separuh belanja obat mengalir ke warga lanjut usia
- Di rumah, tanggal kedaluwarsa jarang diperiksa
- Paham risikonya, tetapi tak tahu harus ke mana
- Kotak pengumpulan tidak mengikuti sebaran penduduk
- Uang yang ikut terbuang bergantung pada cara menghitung
- Di mana penjelasan ini berhenti
Hampir semua orang yang ditanya setuju bahwa obat kedaluwarsa semestinya dikembalikan, dan sebagian besar paham bahwa obat yang dibuang sembarangan bisa mencemari lingkungan. Meski begitu, obat sisa di rumah mereka tetap lebih sering berakhir di tempat sampah. Kejanggalan itu muncul di Korea Selatan, negeri yang jaringan peredaran obatnya tertata rapi, tetapi jalur pulang bagi obat yang tak terpakai masih tersendat.
Kejanggalan tersebut dibedah Een Park, Kangmin Lee, Hyun Park, dan Hojun Lee dalam artikel Pharmaceutical Waste in South Korea: A Socio-Technical Analysis of Prescription Practices, Disposal Barriers, and Collection Infrastructure yang terbit di jurnal BMC Public Health tahun 2026. Naskahnya masih berstatus artikel dalam proses terbit sehingga belum bernomor volume. Een Park dan Kangmin Lee berasal dari Cushing Academy di Ashburnham, Amerika Serikat, Hyun Park dari Daegu Girls’ High School, sedangkan Hojun Lee dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Keimyung University di Daegu.
Limbah obat yang mereka maksud terutama obat tak terpakai atau kedaluwarsa yang disimpan atau dibuang di rumah tangga, entah karena obat menumpuk, efek samping, atau pasien tidak menghabiskannya. Keempat penulis tidak memperlakukannya sebagai urusan tempat sampah semata. Mereka membacanya sebagai hasil pertemuan cara dokter meresepkan, cara keluarga menyimpan, dan cara pemerintah daerah menyediakan tempat pengembalian, dengan bahan data klaim asuransi kesehatan nasional 2018–2023, peta kotak pengumpulan, dan survei terhadap 237 orang dewasa.
Resep bertambah lebih cepat daripada pasien
Mekanismenya bermula jauh sebelum obat sampai di lemari rumah. Pada 2023 jumlah pasien di Korea Selatan hanya naik 0,04 persen, sedangkan jumlah item obat yang diresepkan naik 11,7 persen. Rata-rata item obat per pasien, yang pada 2018–2019 bertahan di kisaran 95, menjadi 102,47 pada 2023. Karena itu, menurut para penulis, naiknya pemakaian obat tidak bisa dijelaskan oleh pertambahan penduduk saja.
Belanja obat bergerak searah. Klaim obat pada 2023 mencapai 753,5 juta kasus, tertinggi dalam enam tahun, dengan nilai belanja 25,82 triliun won atau 19,13 miliar dolar AS. Penulis mencatat belanja itu naik 33,6 persen antara 2018 dan 2023 padahal jumlah pasien nyaris tidak bertambah. Angkanya nominal, tidak disesuaikan dengan inflasi, sehingga kenaikan tersebut bisa juga memuat kenaikan harga dan makin padatnya layanan medis.
Yang membuatnya rumit adalah jenis obatnya. Sekitar 69 persen klaim berupa obat minum, disusul suntikan 25 persen dan obat luar 5,6 persen. Obat minum dibawa pulang dan dikelola sendiri oleh pasien, di luar pengawasan klinik. Ketika pasien tidak menghabiskannya atau terapinya diganti, sisanya tertinggal di rumah. Penulis mengingatkan bahwa analisis ini tidak mengukur langsung limbah obat rumah tangga; yang terlihat hanyalah risiko surplus yang membesar.
Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja
Hampir separuh belanja obat mengalir ke warga lanjut usia
Penuaan penduduk mempercepat putaran itu. Bagian belanja obat untuk warga berusia 65 tahun ke atas naik dari 38,7 persen pada 2015 menjadi 45,7 persen pada 2023, sementara bagian mereka dalam belanja kesehatan naik dari 36,8 menjadi 43,0 persen. Proyeksi penulis, yang mereka sebut hati-hati, menempatkan bagian belanja obat itu melampaui 50 persen pada 2027 dan mencapai 53,7 persen pada 2030.
Persoalannya, kelompok ini sering menjalani pengobatan jangka panjang dengan banyak obat sekaligus dan berobat ke lebih dari satu penyedia layanan. Penulis menyebut polifarmasi, resep yang terpecah di beberapa lembaga, dan seringnya perubahan rejimen sebagai hal yang dapat memperbesar risiko obat berlebih. Mereka menambahkan bahwa penuaan dan pemakaian obat pada lansia tidak dengan sendirinya berarti timbulan limbah. Proyeksi tadi pun dapat bergeser bila kebijakan dan praktik klinis berubah.
Di rumah, tanggal kedaluwarsa jarang diperiksa
Tahap berikutnya berlangsung di dalam rumah. Dari 237 responden survei, 81 persen menyebut diri sebagai orang yang paling bertanggung jawab mengurus obat keluarga. Sebanyak 58 persen rumah tangga melaporkan menyimpan obat kedaluwarsa. Kebiasaan memeriksanya longgar: 84 persen tidak punya rutinitas yang ajek, terdiri atas 39 persen yang jarang mengecek tanggal kedaluwarsa dan 45 persen yang hanya sesekali melakukannya.
Lebih dari sepertiga responden, tepatnya 36,4 persen, tetap menyimpan obat yang sudah kedaluwarsa. Alasan mereka memperlihatkan bagaimana penumpukan itu bekerja. Sebanyak 41,4 persen merasa tidak punya waktu untuk membuangnya, 31,6 persen mengira obat itu masih akan dipakai lagi, dan 29,9 persen tidak cukup tahu cara membuang yang benar. Tidak satu pun dari ketiganya berupa penolakan; semuanya soal kerepotan dan ketidakpastian.
Paham risikonya, tetapi tak tahu harus ke mana
Di titik inilah kejanggalan pembuka tadi terlihat paling terang. Sebanyak 82,3 persen responden mengakui kaitan antara cara membuang obat dan kesehatan lingkungan maupun diri sendiri. Namun, hanya 21,1 persen yang memakai jalur pengembalian resmi seperti apotek. Sebanyak 66,7 persen membuang obat ke tempat sampah rumah tangga dan 4,2 persen ke saluran pembuangan air, sehingga 70,9 persen obat disingkirkan lewat jalur yang tidak semestinya.
Penulis menggambarkan responden sebagai orang yang siap tetapi tidak dibekali. Sebanyak 59,1 persen tahu bahwa obat harus dibuang terpisah, sedangkan 40,1 persen tidak tahu. Pengetahuan soal tempatnya juga terbelah: 51,9 persen bisa menyebut lokasi seperti apotek atau pusat kesehatan masyarakat, sementara 45,1 persen tidak tahu satu titik pun. Pengalaman buruk, misalnya ditolak apotek atau menerima petunjuk yang tidak jelas, disebut dapat makin menyurutkan niat.
Kemauannya sendiri tinggi. Sebanyak 86,5 persen setuju obat kedaluwarsa harus dikembalikan, dan 81,9 persen memilih apotek sebagai tempatnya. Responden juga berminat pada layanan jemput ke rumah serta titik di pasar swalayan, rumah sakit, dan kantor pemerintah. Bila sistemnya mudah dijangkau, 94,1 persen bersedia ikut. Karena itu, jurang antara sikap dan tindakan dibaca penulis lebih sebagai hambatan logistik daripada kurangnya rasa tanggung jawab.
Kesimpulan mereka dirumuskan dalam satu kalimat. “Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat semestinya dipandang bukan sekadar sebagai penerima pasif kampanye edukasi, melainkan sebagai calon peserta ketika sistem pembuangan mudah diakses dan berpusat pada pengguna,” tulis Een Park, Kangmin Lee, Hyun Park, dan Hojun Lee dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Edukasi saja, menurut mereka, bisa tidak memadai tanpa akses yang lebih baik.
Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Kotak pengumpulan tidak mengikuti sebaran penduduk
Jalur pulang obat sisa di Korea Selatan bertumpu pada apotek dan program pemerintah daerah. Per 2024 tercatat 4.669 kotak pengumpulan limbah obat di seluruh negeri. Sebarannya timpang: Provinsi Gyeongsang Utara memiliki 877 unit dan Jeolla Selatan 820 unit, sedangkan beberapa kota metropolitan melaporkan kurang dari 50 unit. Apotek menyumbang 2.184 unit atau 46,8 persen, sehingga jaringan ini ikut bergantung pada operasi usaha swasta.
Gambarannya tidak sesederhana kota lawan desa. Bila dihitung per 100.000 penduduk lanjut usia, beberapa provinsi perdesaan seperti Jeolla Selatan, Gyeongsang Utara, dan Chungcheong Utara justru lebih rapat kotaknya daripada sejumlah wilayah metropolitan. Yang membuatnya rumit, permukiman yang terpencar dan kendala angkutan tetap dapat menyulitkan lansia desa. Keterbatasan akses disebut mungkin bertahan di sebagian Gangwon, Jeonbuk, dan wilayah kepulauan.
Hasil akhirnya tampak pada timbangan. Volume obat yang terkumpul memang melonjak 46,5 persen pada 2023 dibanding tahun sebelumnya, seiring penegakan undang-undang pengelolaan sampah dan tambahan kotak di balai warga serta apotek. Penulis menyebutnya paradoks pengumpulan. Catatan resmi 2024 menunjukkan sekitar 713 ton terkumpul, padahal dengan andaian tingkat pengumpulan 10 persen, timbulan setahun bisa sekitar 7.130 ton. Selisihnya lebih dari 6.400 ton.
Kerapuhan lain terlihat pada catatan 2012–2024 dari beberapa distrik di Seoul dan Daegu. Di Gangnam-gu dan Songpa-gu, pengumpulan tumbuh kuat sampai 2018, lalu menurun, dengan penurunan paling tajam pada 2020. Penulis membacanya sebagai tanda bahwa sistem yang berpusat pada apotek bergantung pada mobilitas warga dan kunjungan rutin ke layanan kesehatan. Jungnang-gu, sebaliknya, relatif stabil pada periode yang sama, termasuk pada puncak pandemi.
Dari perbandingan itu penulis menarik satu pelajaran: rapatnya titik pengumpulan saja tidak menjamin sistem tetap berjalan ketika masyarakat terganggu. Mereka menduga kestabilan Jungnang-gu mencerminkan pengelolaan sampah yang lebih aktif oleh pemerintah setempat. Karena itu, usul mereka mencakup pedoman nasional yang seragam, pendanaan untuk pemerintah daerah, serta pemantauan kinerja, di samping layanan jemput ke rumah dan titik pengumpulan berbasis komunitas.
Uang yang ikut terbuang bergantung pada cara menghitung
Berapa nilai obat yang tidak terpakai itu? Jawabannya bergantung pada cara menghitung. Skenario paling hemat memakai indikator resep ganda dari sistem telaah penggunaan obat, setara 1,16 persen belanja obat nasional. Diterapkan pada belanja 2023, kerugiannya sekitar 301,6 miliar won atau 223,41 juta dolar AS. Dua skenario lain menghitung mundur dari volume obat yang terkumpul dan menghasilkan angka jauh lebih besar, sekitar 6,3 triliun dan 8,1 triliun won.
Penulis tidak memilih salah satu sebagai angka pasti. Jarak yang lebar di antara ketiganya mereka sebut sebagai tanda ketidakpastian yang besar. Ongkos hilir juga ada: dengan tarif standar 1.400 won per kilogram, membakar limbah obat menjadi pos anggaran tersendiri. Pada tarif khusus 6.000 won per kilogram, satu distrik padat seperti Gangnam-gu bisa menanggung hingga 783 juta won setahun.
Karena itu, saran mereka tidak berhenti pada penambahan kotak. Di hulu, sistem telaah penggunaan obat dapat diperluas agar memberi peringatan sebelum obat diserahkan, misalnya saat ada permintaan isi ulang terlalu dini atau resep yang tumpang-tindih antarlembaga. Peringatan semacam itu diharapkan mendorong tenaga kesehatan memeriksa persediaan obat di rumah pasien. Penulis mengusulkan uji coba lebih dulu di jejaring layanan lansia atau penyakit kronis.
Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Di mana penjelasan ini berhenti
Penjelasan ini punya batas yang diakui penulisnya. Survei rumah tangga memakai sampel kecil yang direkrut berdasarkan kemudahan di dua kawasan, sehingga tidak mewakili seluruh Korea Selatan. Responden berusia 40-an mencapai 43,5 persen, sedangkan yang berusia 70 tahun ke atas hanya 3,0 persen. Selain itu, kajian ini tidak membuktikan sebab-akibat, analisis petanya bersifat penjajakan, dan nilai kerugian merupakan perkiraan berskenario, bukan pengeluaran yang terkonfirmasi.
Ada pula beberapa hal dalam naskah yang bisa diperiksa pembaca. Responden yang tahu dan yang tidak tahu bahwa obat harus dibuang terpisah berjumlah 99,2 persen, dan yang tahu serta tidak tahu lokasi pengembalian berjumlah 97,0 persen, tanpa keterangan tentang sisanya. Naskah juga menyebut item obat yang diresepkan pada 2023 sebanyak 5,15 juta, angka yang sulit dicocokkan dengan rata-rata 102,47 item per pasien dan jumlah pasien yang disebut lebih dari 50 juta.
Jadi, mengapa orang yang paham dan mau tetap membuang obat ke tempat sampah? Jawaban naskah ini: karena resep bertambah lebih cepat daripada pasien, obat minum menumpuk di rumah, dan jalur pulangnya tidak selalu dekat, jelas, atau tahan guncangan. “Tanpa intervensi pada tahap peresepan, perluasan infrastruktur pengumpulan saja mungkin tidak menjawab tantangan pengelolaan limbah obat yang kian besar,” tulis keempat penulis. Kotak di apotek, dalam bacaan mereka, baru menjawab ujung dari persoalan itu.















