- Ritual itu memakai 39 jenis tumbuhan dari 22 famili.
- Buah adalah bagian tumbuhan yang paling sering dipakai.
- Peneliti membagi pemakaian tumbuhan ke dalam tiga golongan.
- Tabel naskah mencatat delapan pemakaian kelapa, yang oleh warga disebut krambil.
- Bahan yang dibawa keturunan Bonokeling dari daerah lain tidak ikut tercatat.
Daftar Isi
Kelapa adalah tumbuhan terpenting dalam ritual unggahan keturunan Bonokeling. Nilai gunanya 0,73, tertinggi di antara 39 jenis tumbuhan yang dipakai. Daunnya dianyam menjadi wadah, buahnya dimasak, dan batoknya menjadi sendok sayur.
Temuan itu ditulis Ade Tias Nur Fazriah, Diana Hernawati, dan Rita Fitriani dalam artikel Tradition and Plants: Ethnobotany in the Perlon Unggahan Ritual of the Bonokeling Lineage Indigenous People. Artikel tersebut terbit di Biosfer: Jurnal Pendidikan Biologi volume 18 nomor 1 tahun 2025. Ketiganya berasal dari Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Siliwangi.
Keturunan Bonokeling adalah masyarakat adat di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Mereka menarik garis keturunan dari Ki Bonokeling, seorang tokoh spiritual yang dihormati. Tradisi mereka memadukan nilai budaya Jawa dengan ajaran Islam.
Salah satu upacara mereka bernama perlon unggahan. Upacara itu digelar setahun sekali menjelang Ramadan, sebagai ungkapan syukur dan persiapan memasuki bulan puasa. Ketiga peneliti mengamatinya pada Februari sampai Maret 2024 dan mewawancarai 11 orang, dari kepala desa sampai ketua kelompok adat.
Tiga puluh sembilan jenis
Ritual itu memakai 39 jenis tumbuhan dari 22 famili. Famili yang paling banyak menyumbang adalah Zingiberaceae, dengan porsi 12,8 persen. Anggotanya lima jenis, yaitu jae, kapulogo, kecombrang abang, kunir, dan laos.
Kelimanya masuk ke dapur sebagai bumbu becek, masakan yang oleh naskah disamakan dengan opor atau gulai, juga bumbu lemengan dan lauk khas Bonokeling lainnya. Di tempat lain di Jawa, menurut peneliti, tumbuhan itu dihargai terutama karena guna praktisnya di dapur. Di Pekuncen, memasak becek dan lemengan disertai doa dan sesaji bagi leluhur.
Daftar itu tidak berhenti pada bumbu. Di dalamnya ada tiga jenis pisang, dua jenis cabai, padi, teh, dan tembakau. Ada pula sengon dan jati, dua pohon yang tidak dimakan sama sekali.
Buah paling banyak
Buah adalah bagian tumbuhan yang paling sering dipakai. Porsinya 28 persen, lebih dari seperempat seluruh pemakaian. Daun menyusul dengan 23 persen dan batang 22 persen.
Sisanya jauh lebih kecil. Biji mengambil 12 persen, bunga 6 persen, rimpang 4 persen, dan umbi 3 persen. Getah berada di urutan terakhir dengan 2 persen, dan tabel naskah hanya mencatatnya pada satu tumbuhan, yakni menyan.
Naskah menjelaskan mengapa buah unggul: buah dipakai di semua golongan, baik sebagai makanan, sesaji, maupun perlengkapan upacara. Kelapa menjadi contohnya, sebab air, daging buah, batok, dan sabutnya terpakai semua. Pemakaian itu, tulis peneliti, melampaui urusan mengisi perut.
Makanan, sesaji, perlengkapan
Peneliti membagi pemakaian tumbuhan ke dalam tiga golongan. Golongan pertama adalah bahan makanan dan minuman yang dihidangkan. Golongan kedua sesaji, dan golongan ketiga perlengkapan upacara.
Golongan makanan paling ramai. Brambang, bawang, lombok, miri, tumbar, dan mrico ditumbuk di lumpang untuk bumbu. Padi diolah menjadi nasi ambeng, sedangkan daun teh diseduh menjadi minuman.
Sebagian tumbuhan disajikan apa adanya, seperti jeruk legi, manggis, timun, dan pisang, sedangkan kacang tanah direbus dan kedelai, kacang lanjaran, serta melinjo diolah menjadi pelengkap lauk. Makanan itu tidak dihabiskan sendiri. Naskah menyebut hidangan dari tumbuhan setempat dibagikan kepada keluarga dan tetangga sebagai lambang rasa syukur dan kerukunan.
Baca juga Etnobotani Dayak Meratus Catat 30 Tumbuhan, Daun Terbanyak
Sesaji memakai bahan yang lain. Kembang telon terdiri atas tiga bunga, yakni kanthil atau cempaka putih, mawar, dan kenongo, sedangkan sesaji menginang atau nyirih berisi lima bahan: sirih, kapur sirih yang disebut njet, pinang, tembakau, dan gambir. Kelapa muda, pisang, dan menyan melengkapinya, dan menurut naskah semuanya dipilih karena makna spiritual serta kedekatannya dengan lingkungan warga.
Golongan ketiga adalah perlengkapan. Batang bambu dirangkai menjadi tungku lemengan, dan potongan sepanjang 60 sentimeter menjadi wadah memasaknya. Bilah bambu yang tipis dianyam menjadi berokoh, wadah besar untuk membawa nasi ambeng.
Pohon lain ikut bekerja. Daun jati membungkus becek dan menjadi alas saat daging dipotong. Batang sengon yang kering menjadi kayu bakar, sedangkan pelepah pisang dirangkai menjadi tungku dan daunnya menjadi wadah makanan bernama takir.
Kelapa di setiap tahap
Tabel naskah mencatat delapan pemakaian kelapa, yang oleh warga disebut krambil. Tiga di antaranya dari daun. Janur dianyam menjadi wadah makanan bernama sleman, daun tua dianyam menjadi berokoh, dan daun kering dipakai menyulut kayu bakar.
Lima sisanya dari buah. Kelapa menjadi pelengkap sesaji, santannya masuk ke becek, dan parutannya digoreng kering menjadi serundeng. Batoknya dibuat irus atau sendok sayur, sementara sabutnya menyulut api saat lemengan dimasak.
Di bawah kelapa ada tiga jenis pisang, yaitu gedang ambon, gedang emas, dan gedang raja, dengan nilai guna 0,45, lalu bambu apus dengan 0,36. Empat jenis mendapat nilai 0,18, yakni gambir, jati, kecombrang abang, dan melinjo. Sisanya, 30 jenis, sama-sama bernilai 0,09, sehingga lebih dari tiga perempat daftar itu berada di anak tangga terbawah.
Peneliti membaca susunan itu sebagai pembagian tugas. Tumbuhan bernilai tinggi umumnya melimpah dan serbaguna, sehingga menopang hampir setiap tahap upacara. Tumbuhan bernilai rendah mengisi peran khusus, seperti kecombrang abang yang dipakai karena aromanya pada masakan tertentu.
Kebun, pekarangan, pasar
Sebagian besar tumbuhan datang dari dekat rumah: kebun menyumbang 36 persen dan pekarangan 28 persen, sedangkan hutan 12 persen dan sawah hanya 7 persen. Pasar menempati urutan ketiga dengan 17 persen, sebab tidak semua jenis tumbuh atau ditanam di sekitar desa. Peneliti menyebut kebiasaan membeli itu sebagai sikap luwes demi kelangsungan tradisi.
Tumbuhan juga datang dari luar Pekuncen. Anak keturunan Bonokeling yang tinggal di daerah lain, misalnya Kabupaten Cilacap, ikut membawa bahan untuk upacara. Sumbangan mereka tidak masuk hitungan.
Baca juga Sagu Marind-Anim di Merauke Kini Hanya Dimasak Saat Acara Adat
Makna tiap tumbuhan
Warga tidak memandang tumbuhan itu sebagai bahan semata. Kelapa melambangkan keutuhan hidup dan kesucian, dan airnya kerap dimaknai sebagai pembersihan serta pembaruan. Gedang ambon melambangkan kesuburan dan kemakmuran, pring atau bambu mencerminkan ketangguhan dan kelenturan menghadapi kesulitan hidup, sedangkan jati berarti ketahanan dan kelanggengan ikatan antargenerasi.
Bunga kecombrang abang membawa arti yang berbeda. Ia melambangkan keindahan dan kefanaan. Naskah mengaitkan semua makna itu dengan daur hidup, kematian, serta hubungan manusia dengan alam dan Tuhan.
Ketiga peneliti merangkum kedudukan tumbuhan itu dalam satu kalimat. “Tumbuhan adalah komponen utama yang melengkapi pelaksanaan tradisi ini,” tulis Fazriah, Hernawati, dan Fitriani dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.
Sebagian makna itu tidak khas Bonokeling. Naskah mencatat kelapa juga menjadi lambang kesucian dalam slametan Jawa, dan pisang kerap mewakili harapan akan kemakmuran. Bedanya, menurut peneliti, terletak pada gabungan tumbuhan tertentu yang ditekankan warga Bonokeling.
Batas penelitian ini
Peneliti mengakui satu batas. Semua informan berasal dari Desa Pekuncen, sehingga data asal tumbuhan hanya menggambarkan lingkup desa itu. Bahan yang dibawa keturunan Bonokeling dari daerah lain tidak ikut tercatat.
Makna simbolik juga belum lengkap, sebab naskah menguraikannya untuk lima tumbuhan saja dan menyebutnya sebagai contoh. Makna 34 jenis lainnya tidak dijelaskan. Angka nilai guna pun bertumpu pada keterangan 11 orang, dan peneliti hanya menyarankan agar pengelolaan tumbuhan ritual itu diperhatikan sungguh-sungguh.
Baca juga Lamaran Adat Sahu Dimulai Pukul Empat Pagi di Halmahera
Catatan pada naskah
Beberapa hal dalam naskah tidak cocok satu sama lain. Teks menyebut asal tumbuhan 36, 28, 17, 12, dan 7 persen. Diagram untuk data yang sama memuat angka 34, 27, 16, 12, dan 11 persen.
Makna kelapa juga bergeser. Di satu bagian kelapa disebut lambang keutuhan hidup dan kesucian, di bagian lain lambang kemakmuran. Padahal kemakmuran sebelumnya dilekatkan pada gedang ambon.
Dua hal kecil lain bisa diperiksa pembaca. Akar disebut sebagai bahan sesaji, tetapi tidak ada dalam daftar delapan bagian tumbuhan yang dipakai. Nama ritualnya pun sekali tertulis upload perlon, terjemahan harfiah dari kata unggahan.
Yang tetap utuh adalah gambaran satu pohon yang bekerja dari pucuk sampai sabut. Janurnya menjadi wadah, santannya masuk ke kuali becek, dan batoknya mengaduk masakan itu.














