- Sebanyak 327 orang, atau 52,4 persen, dinilai punya pengetahuan yang memadai tentang demensia.
- Diabetes dikenali sebagai faktor risiko oleh 97,6 persen responden.
- Hanya 37,2 persen responden yang mengenali riwayat keluarga sebagai faktor risiko demensia.
- Kurang dari separuh responden, 47,3 persen, pernah mendengar kata demensia.
- Pengamatan berlangsung di satu wilayah saja, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi daerah lain di Sri Lanka.
Daftar Isi
Dari sebuah persimpangan menuju permukiman di Bandaragama, Sri Lanka, para pewawancara memilih satu lorong lalu mendatangi rumah demi rumah. Bila sebuah rumah tertutup, mereka beralih ke rumah di sebelahnya. Di tiap rumah, satu orang berusia 35 sampai 65 tahun ditanyai dalam bahasa Sinhala atau Tamil tentang satu hal: apa yang ia ketahui mengenai demensia.
Jawaban dari 624 orang itu dihimpun Y. Chathurangani Nilushika, Mansoor Muthahhara, H. Jayakody, dan P. K. Buddhika Mahesh dalam artikel Knowledge of dementia and factors associated with dementia knowledge among 35- to 65-year-old adults in Bandaragama Divisional Secretariat area in Sri Lanka - a lower-middle-income country. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Dua penulis pertama berasal dari Postgraduate Institute of Medicine, University of Colombo.
Hasilnya terbelah hampir sama rata. Sebanyak 327 orang, atau 52,4 persen, dinilai punya pengetahuan yang memadai tentang demensia. Sisanya, 297 orang, belum sampai ke sana. Garis pemisahnya adalah skor 61 dari 20 pertanyaan yang masing-masing bernilai lima poin.
Lorong-lorong Bandaragama
Bandaragama adalah wilayah setingkat kecamatan di Distrik Kalutara, Western Province. Para penulis menggambarkannya sebagai kawasan semi-urban dengan ciri sosial-ekonomi yang beragam dan layanan kesehatan dasar yang sudah mapan. Provinsi itu mencatat proporsi penduduk lanjut usia tertinggi di Sri Lanka. Di Bandaragama sendiri, warga lanjut usia sekitar 13,8 persen.
Yang didatangi bukan para lansia. Pewawancara justru mencari orang berusia 35 sampai 65 tahun, sebab pada usia itulah seseorang biasanya memikul tanggung jawab keluarga yang lebih besar. Mereka dianggap sudah mampu, secara fisik, ekonomi, dan sosial, menanggung tuntutan merawat orang tua. Dari 640 orang yang dituju, hanya 16 yang menolak.
Di balik pintu-pintu itu ada 386 perempuan dan 238 laki-laki, dengan usia tengah 47 tahun. Hampir sembilan dari sepuluh beretnis Sinhala, sekitar satu dari sepuluh Muslim, dan empat orang Tamil. Tiga dari empat responden sedang bekerja penuh atau paruh waktu. Sebagian besar, 83,9 persen, menamatkan pendidikan menengah atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Latar yang lebih luas ditulis singkat di bagian awal naskah. Lebih dari 55 juta orang di dunia hidup dengan demensia, dan kira-kira sepuluh juta kasus baru bertambah setiap tahun. Enam puluh persen penderitanya tinggal di negara berpendapatan rendah dan menengah. Karena belum ada obat yang menyembuhkan, tulis para penulis, mengenali dan mengurangi faktor risiko adalah cara terbaik untuk mencegahnya.
Baca juga Pengetahuan dan Praktik Higiene Menstruasi Siswi Sri Lanka
Daftar pemicu yang dihafal
Di bagian pertanyaan tentang pemicu, warga Bandaragama nyaris tidak meleset. Diabetes dikenali sebagai faktor risiko oleh 97,6 persen responden. Tekanan darah tinggi dan merokok masing-masing dikenali 97 persen, sedangkan konsumsi alkohol 92,6 persen. Pola makan sehat disebut sebagai pelindung oleh 95 persen orang yang ditanyai.
Angkanya turun sedikit ketika pertanyaan bergeser dari tubuh ke keseharian. Kegiatan intelektual dikenali sebagai pelindung oleh 84,9 persen responden, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial oleh 80,6 persen. Stres kronis disebut sebagai faktor risiko oleh 78,8 persen. Para penulis sendiri mengingatkan agar capaian ini dibaca sebagai sedang, bukan sangat tinggi.
Satu butir jatuh jauh dari yang lain. Hanya 37,2 persen responden yang mengenali riwayat keluarga sebagai faktor risiko demensia. Hampir enam dari sepuluh, tepatnya 59,8 persen, menjawab tidak tahu. Para penulis menyebut angka itu sebagai tanda terbatasnya kesadaran warga pada sisi ini.
Dari daftar pemicu, pertanyaan masuk ke penyakitnya sendiri. Sebanyak 63,1 persen responden tahu bahwa demensia terjadi karena perubahan di otak, sementara hampir sepertiga mengaku tidak tahu. Enam dari sepuluh menolak anggapan bahwa demensia mulai pada usia yang sama bagi semua orang.
Soal gejala, gambarannya tidak rata. Dua pertiga responden, 67,6 persen, tahu bahwa kemampuan berhitung, memahami, dan memusatkan perhatian bisa memburuk hingga mengganggu kegiatan harian. Namun hanya 51,9 persen yang tahu bahwa penderita bisa kesulitan berkomunikasi atau mencari kata. Tiga dari sepuluh menjawab tidak tahu.
Yang paling banyak keliru menyangkut rumah. Pernyataan bahwa setiap penderita demensia bisa kehilangan arah di lingkungan rumahnya sendiri dinilai salah dalam kunci jawaban para penulis. Hanya 17,1 persen responden yang menolaknya. Lebih dari separuh, 55,3 persen, membenarkan pernyataan itu.
Baca juga Sindrom Sirkadian Prediktor Kuat Gangguan Kognitif Lansia
Obat yang dikira menolong
Titik paling lemah ada pada perjalanan penyakit. Responden disodori pernyataan bahwa begitu gejala muncul, laju demensia pada umumnya bisa dikendalikan dengan baik lewat pengobatan medis. Kunci jawabannya: tidak. Hanya 29 orang, atau 4,6 persen, yang menjawab demikian. Sebanyak 175 orang, 28 persen, mengaku tidak tahu.
Menurut naskah, 95,4 persen responden menjawab salah atau tidak tahu untuk butir itu. Seluruh kelompok pertanyaan tentang perjalanan, penanganan, dan ujung penyakit memang rendah. Antara 76,8 dan 95,4 persen responden gagal menjawab benar. Para penulis mencatat salah paham tentang sifat menahun demensia, lamanya, dan dampaknya pada usia.
Rinciannya memperlihatkan keraguan lebih daripada keyakinan yang salah. Pada pernyataan bahwa demensia sendiri tidak memperpendek umur, 31,3 persen menjawab sesuai kunci, sedangkan 39,4 persen tidak tahu. Pada pernyataan tentang lamanya penyakit, lebih dari separuh responden, 54 persen, memilih jawaban tidak tahu.
Kesenjangan inilah yang ditekankan di bagian akhir naskah, yang aslinya berbahasa Inggris. “Studi ini menyoroti kesenjangan kritis dalam pengetahuan demensia, yang menegaskan perlunya program pendidikan yang terfokus,” tulis Nilushika, peneliti Postgraduate Institute of Medicine, University of Colombo, bersama tiga rekannya. Di awal naskah mereka menulis bahwa keluarga kerap menunda mencari perawatan karena salah paham tentang demensia.
Rumah yang pernah bersinggungan
Tidak semua rumah di lorong itu sama asingnya dengan demensia. Kurang dari separuh responden, 47,3 persen, pernah mendengar kata demensia. Kira-kira satu dari lima, 132 orang, pernah berkontak dengan seseorang yang hidup dengan demensia. Pelatihan hampir tidak ada: dua belas orang pernah mendapat pelatihan perawatan lansia, dan dua orang pelatihan perawatan demensia.
Persinggungan itu meninggalkan jejak. Di antara mereka yang berpengetahuan memadai, 26,9 persen pernah berkontak dengan penderita, sedangkan di kelompok yang belum memadai hanya 14,8 persen. Setelah ciri lain ikut diperhitungkan, peluang berpengetahuan memadai pada orang yang pernah berkontak tercatat sekitar dua setengah kali peluang mereka yang tidak pernah.
Tiga ciri lain ikut bertahan. Responden yang sedang bekerja punya peluang sekitar 2,3 kali, dan responden Sinhala sekitar 3,2 kali dibanding etnis lain. Laki-laki tertinggal dari perempuan, dengan peluang sekitar 0,6 kali. Ini kaitan pada satu waktu pengamatan, bukan bukti sebab-akibat, dan keempat ciri itu hanya menerangkan sekitar 8,4 persen keragaman pengetahuan.
Para penulis menawarkan tafsir yang hati-hati untuk tiap ciri. Beda perempuan dan laki-laki dikaitkan dengan paparan informasi kesehatan dan peran merawat di dalam komunitas. Beda antaretnis mereka baca sebagai kemungkinan kesenjangan budaya dan bahasa dalam menjangkau informasi. Mereka yang tidak bekerja diduga lebih jarang terlibat secara sosial dan lebih sedikit terpapar kegiatan promosi kesehatan.
Yang tidak bertahan justru dua hal yang lazim diandalkan. Pendidikan dan pendapatan rumah tangga tidak lagi berkaitan dengan pengetahuan demensia setelah ciri lain diperhitungkan. Menurut para penulis, hal itu mengisyaratkan bahwa “keunggulan sosial-ekonomi secara umum belum tentu menjelma menjadi kesadaran yang lebih baik tentang penyakit”. Usia dan kebiasaan mencari informasi kesehatan di internet juga tidak menunjukkan kaitan.
Baca juga Panas dan Dingin Ekstrem Sama-Sama Ancam Pasien Demensia
Dari Cape Town sampai Singapura
Angka Bandaragama lalu disandingkan dengan tempat lain. Di Cape Town, sebuah studi atas 100 warga kota mendapati 53,4 persen berpengetahuan rata-rata. Di Mesir, hampir sepertiga peserta sebuah survei berpengetahuan buruk, dengan capaian terbaik pada soal gejala dan pencegahan, dan terburuk pada soal pengobatan dan dampak hidup. Polanya mirip dengan yang terlihat di Bandaragama.
Singapura berada di depan. Sebuah survei daring atas 1.500 orang di sana mendapati 64,2 persen berpengetahuan baik. Para penulis menunjuk tingkat melek huruf 98 persen dan pemakaian internet 99 persen di negara itu. Mereka juga menyebut kampanye yang menyasar warga lanjut usia serta toko-toko ramah demensia, lalu menduga terbatasnya pendidikan khusus demensia di Sri Lanka sebagai penyebab bedanya.
Kontak dengan penderita muncul berulang di studi lain yang mereka kutip. Survei atas 1.106 orang di Turki, survei di Swiss selatan dan Italia utara, serta studi di Tiongkok sama-sama mengaitkannya dengan pengetahuan yang lebih tinggi. Dari situ para penulis mengusulkan kampanye yang disisipkan ke layanan yang sudah berjalan, seperti Healthy Lifestyle Centers dan Well Woman Clinics.
Angka yang tidak seragam
Para penulis mengakui sejumlah batas. Pengamatan berlangsung di satu wilayah saja, sehingga hasilnya belum tentu berlaku bagi daerah lain di Sri Lanka. Kuesionernya disusun sendiri dan uji keandalannya tidak dilakukan secara lengkap. Beberapa kategori juga berisi sedikit orang, sehingga besar-kecilnya kaitan perlu dibaca dengan hati-hati.
Pembaca yang membuka naskahnya akan menemukan beberapa angka yang tidak seragam. Bagian simpulan menyebut usia, pendidikan, dan pendapatan berkaitan bermakna dengan pengetahuan, padahal bagian hasil menyatakan sebaliknya. Abstrak menulis angka 1,15 untuk etnis Sinhala, sedangkan tabelnya 3,170. Jawaban benar soal perubahan otak tertulis 63,1 persen di tabel dan 63,7 persen di pembahasan.
Riwayat keluarga pun muncul dua kali dengan kunci jawaban yang berlawanan arah. Pada satu butir ia dinilai sebagai faktor risiko, pada butir lain pernyataan bahwa keluarga penderita lebih berisiko justru berkunci tidak. Baris tentang pengobatan di tabel jawaban juga tidak genap: jumlah orangnya tidak sampai 624. Hal-hal itu tidak mengubah arah temuan, tetapi patut dicocokkan.
Di Bandaragama, dari persimpangan ke lorong dan dari rumah ke rumah, demensia dikenal dari pinggirnya. Orang-orang yang kelak paling mungkin merawat orang tua mereka hafal apa yang memicunya, tetapi ragu tentang apa yang terjadi sesudah penyakit itu tiba. Rumah yang pernah bersinggungan dengan seorang penderita tahu sedikit lebih banyak. Selebihnya masih menaruh harapan pada obat.















