Secangkir Kopi Membuat Usus Ibu Lebih Cepat Pulih Usai Caesar

A A

Ilustrasi: secangkir kopi Turki berbusa dalam cangkir putih di atas tatakan beralas kertas renda [Foto: Garrett Ziegler/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Ibu yang diberi kopi sesudah operasi lebih cepat buang angin, hampir tiga jam lebih awal.
  • Lama rawat di rumah sakit hanya dibandingkan dalam dua uji, dan selisihnya tidak bermakna secara statistik.
  • Cepat atau lambatnya cangkir pertama tidak mengubah waktu buang air besar pertama secara bermakna.
  • Dua cangkir yang berbeda isi itu sama-sama menggerakkan sesuatu di perut ibu.
  • Keenam uji hanya berasal dari Turki dan Iran.
Daftar Isi
  1. Kopi, minuman yang membuat usus besar lebih giat
  2. Caesar, pembedahan yang membuat usus terdiam
  3. Cangkir pertama dua jam sesudah operasi
  4. Cangkir pertama delapan jam sesudah operasi
  5. Sisi yang meyakinkan: kopi bekerja dengan atau tanpa kafein
  6. Sisi yang meragukan: enam uji kecil dari dua negara

Secangkir kopi dan sayatan operasi caesar jarang disebut dalam satu tarikan napas. Yang satu minuman paling banyak diteguk di dunia, yang lain pembedahan perut yang kini dijalani kira-kira satu dari lima perempuan melahirkan. Tiga peneliti di Xi’an, Tiongkok, mempertemukan keduanya dan mendapati hal yang sederhana. Ibu yang diberi kopi sesudah operasi lebih cepat buang angin, hampir tiga jam lebih awal.

Temuan itu ditulis Xuemei Yao, Dongfang Han, dan Qinrui Lu dalam artikel Effect of postoperative coffee consumption on gastrointestinal function after cesarean section, a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Artikel tersebut terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 819 tahun 2026. Ketiganya bekerja di Departemen Ginekologi, The First Affiliated Hospital of Xi’an Jiaotong University. Bahan mereka enam uji acak di Iran dan Turki dengan 555 perempuan yang menjalani caesar terencana.

Buang angin terdengar remeh, tetapi di ruang pemulihan ia adalah kabar baik. Keluarnya gas atau tinja pertama, tulis para peneliti, lazim dianggap tanda bahwa usus sudah bekerja lagi. Selama tanda itu belum datang, ibu bisa kembung, mual, dan nyeri. Kopi dan caesar, dua hal yang berjauhan itu, ternyata bertemu tepat di titik ini.

Kopi, minuman yang membuat usus besar lebih giat

Sisi pertama adalah kopi. Naskah itu menyebutnya salah satu minuman yang paling luas dikonsumsi di dunia, dan pengaruhnya pada perut sudah lama dicatat. Asupan kopi menaikkan kegiatan usus besar. Gelombang tekanan dan kontraksi yang merambat muncul lebih banyak dibanding sesudah minum air, begitu rujukan yang dipakai ketiga penulis.

Pengaruh itu sudah dimanfaatkan di meja operasi lain. Pada pasien bedah usus besar dan pasien kanker ginekologi, kopi sesudah operasi tercatat mempercepat buang angin dan buang air besar pertama serta memendekkan masa rawat. Pedoman pemulihan dipercepat untuk kedua jenis bedah tersebut bahkan sudah menganjurkan kopi sesudah operasi. Untuk ibu caesar, anjuran serupa belum ada.

Sebabnya, hasil pada ibu caesar selama ini tidak seragam. Sebagian uji menemukan kopi mempercepat buang angin dan buang air besar, sebagian lain tidak. Sebuah telaah gabungan terdahulu atas pasien bedah perut malah mendapati manfaat kopi menonjol pada bedah usus besar dan ginekologi, bukan pada persalinan caesar. Di celah itulah Yao dan dua rekannya masuk.

Baca juga Standar BMI Asia Lebih Peka Deteksi Risiko Kehamilan

Caesar, pembedahan yang membuat usus terdiam

Di sisi lain berdiri operasi caesar. Menurut perkiraan yang dikutip naskah, 21,1 persen perempuan di dunia melahirkan lewat jalan ini. Rentangnya lebar, dari rata-rata 5 persen di Afrika sub-Sahara sampai 42,8 persen di Amerika Latin. Di Tiongkok, negeri para penulis, angkanya naik dari 28,8 persen pada 2008 menjadi 36,7 persen pada 2018.

Usus sering ikut berhenti sesudah perut dibedah. Dokter menyebutnya ileus pascaoperasi, yakni gerak usus yang terganggu dengan gejala seperti sumbatan padahal tidak ada yang menyumbat. Keadaan ini menyertai 10 sampai 30 persen bedah perut. Sesudah caesar, angka kejadiannya dilaporkan antara 0,9 dan 21,5 persen, sebab batasannya belum seragam.

Umumnya usus pulih sendiri dalam dua sampai tiga hari. Namun selama menunggu, ibu menanggung kembung, mual, muntah, nyeri, dan sulit menerima makanan. Masa rawat memanjang, biaya bertambah. Pada ibu yang baru melahirkan, tulis para peneliti, gangguan ini juga bisa mengusik proses menyusui dan kelekatan ibu dengan bayinya pada masa nifas.

Keenam uji mempertemukan kedua sisi itu dengan cara yang mirip. Ibu berusia rata-rata 27 sampai 31 tahun diberi kopi tiga kali sehari, umumnya 100 mililiter sekali minum, sementara kelompok pembanding mendapat air atau perawatan biasa. Hasil gabungannya: buang angin pertama maju 2,75 jam, buang air besar pertama maju 3,20 jam, dan bising usus pertama terdengar 0,68 jam lebih awal.

Kopi memajukan tiga tanda usus bekerja lagiBuang air besar pertama: Lebih cepat dibanding kelompok tanpa kopi +3,20 jam; Buang angin pertama: Lebih cepat dibanding kelompok tanpa kopi +2,75 jam; Bising usus pertama: Lebih cepat dibanding kelompok tanpa kopi +0,68 jam.Kopi memajukan tiga tanda usus bekerja lagiSelisih rata-rata waktu, dalam jam1 jam2 jam3 jam4 jam0Buang air besar pertama3,20 jamBuang angin pertama2,75 jamBising usus pertama0,68 jamGabungan enam uji acak di Iran dan Turki, 555 perempuan sesudahcaesar terencana.
Sumber: Xuemei Yao, Dongfang Han, dan Qinrui Lu, Effect of postoperative coffee consumption on gastrointestinal function after cesarean section, a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials, BMC Public Health, 26(819), 2026. Grafik: Cekricek.id

Tidak semua ukuran bergerak. Lama rawat di rumah sakit hanya dibandingkan dalam dua uji, dan selisihnya tidak bermakna secara statistik. Angka gabungan memang menunjukkan kelompok kopi pulang 6,5 jam lebih cepat, tetapi rentang ketidakpastiannya melewati titik nol. Artinya, kopi tampak memajukan tanda-tanda usus bekerja, belum tentu memajukan hari pulang.

Cangkir pertama dua jam sesudah operasi

Pertanyaan berikutnya adalah kapan cangkir pertama sebaiknya datang. Lima dari enam uji menyebut waktunya dengan jelas, dan terbagi dua. Pada tiga uji, ibu sudah minum kopi dua jam sesudah operasi. Di kelompok ini buang angin pertama maju 1,12 jam, dan bising usus pertama terdengar 0,78 jam lebih cepat daripada kelompok tanpa kopi.

Dua jam bukan angka sembarang. Pedoman pemulihan dipercepat untuk persalinan caesar menganjurkan ibu kembali makan biasa dua jam sesudah tindakan. Cara itu, menurut rujukan dalam naskah, meredakan haus dan lapar, mempercepat kerja usus, memendekkan masa rawat, dan menaikkan kepuasan ibu. Para penulis menilai temuan mereka sejalan dengan anjuran tersebut.

Baca juga Kartu Stiker Bintang Buat Ibu di Myanmar Tuntas Periksa Nifas

Cangkir pertama delapan jam sesudah operasi

Pada kasus kedua, ibu baru mendapat kopi delapan jam sesudah operasi. Dua uji dari Iran memakai jadwal ini. Hasilnya tidak kalah, bahkan angkanya lebih besar: buang angin pertama maju 5,06 jam dibanding kelompok yang hanya minum air. Bedanya ada pada bising usus. Di kelompok delapan jam, pengaruh kopi pada ukuran itu tidak terlihat.

Cangkir pertama: cepat atau lambatCangkir pertama: cepat atau lambatCangkir pertama: cepat atau lambatBerapa jam lebih cepat dibanding tanpa kopiMulai 2 jamMulai 8 jam32Jumlah uji1,12 jam5,06 jamBuang angin0,78 jamtak tampakBising usustak bedatak bedaBuang air besarWaktu cangkir pertama tidak mengubah waktu buang air besarpertama.
Sumber: Xuemei Yao, Dongfang Han, dan Qinrui Lu, Effect of postoperative coffee consumption on gastrointestinal function after cesarean section, a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials, BMC Public Health, 26(819), 2026. Grafik: Cekricek.id

Ada satu hal yang sama di kedua jadwal. Cepat atau lambatnya cangkir pertama tidak mengubah waktu buang air besar pertama secara bermakna. Jadi, yang berbeda di antara dua jam dan delapan jam hanyalah buang angin dan bising usus. Itu pun bertumpu pada tiga uji di satu sisi dan dua uji di sisi lain.

Para penulis sendiri tidak menetapkan jam yang paling tepat. Waktu minum kopi yang pasti, tulis mereka, masih belum jelas. Kopi adalah perangsang, sehingga asupan berlebihan atau terlalu larut sesudah operasi bisa mengganggu tidur dan menghambat pemulihan. Sayangnya, tidak satu pun dari keenam uji melaporkan keadaan tidur ibu sesudah pembedahan.

Sisi yang meyakinkan: kopi bekerja dengan atau tanpa kafein

Empat uji merinci jenis kopinya, dua berkafein dan dua tanpa kafein. Kopi berkafein memajukan buang angin 2,70 jam dan buang air besar 5,58 jam. Di sisi lain, kopi tanpa kafein membuat bising usus pertama terdengar 0,81 jam lebih awal. Dua cangkir yang berbeda isi itu sama-sama menggerakkan sesuatu di perut ibu.

Dari situ ketiga penulis menarik satu dugaan. “Temuan ini mengisyaratkan bahwa kafein mungkin bukan satu-satunya komponen dalam kopi yang berpengaruh baik pada fungsi saluran cerna,” tulis Xuemei Yao, Dongfang Han, dan Qinrui Lu dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Mereka segera menambahkan bahwa hasil ini perlu dibaca hati-hati karena jumlah ujinya sedikit.

Naskah itu lalu menyebut beberapa jalan yang mungkin, semuanya dari riset lain. Kafein menggiatkan saraf vagus dan memicu pelepasan asetilkolin yang merangsang gerak usus. Kafein, asam klorogenat, dan asam kafeat tercatat meredam peradangan, padahal peradangan akibat pembedahan itulah yang membuat usus terdiam. Serat dalam kopi juga mengubah susunan mikroba usus, yang ikut mengatur gerak usus.

Atas dasar itu, kesimpulan mereka terdengar yakin. “Intervensi yang sederhana, hemat biaya, dan bermanfaat ini dapat direkomendasikan kepada perempuan pascacaesar,” tulis ketiganya, juga dalam bahasa Inggris. Uji statistik mereka tidak menemukan tanda bias publikasi, dan hasil gabungan tetap serupa ketika tiap uji dikeluarkan bergantian.

Baca juga Kekayaan Luruh, Desa dan Kota Tetap Beda soal Pencernaan

Sisi yang meragukan: enam uji kecil dari dua negara

Pada sisi kedua, nada naskah berubah. “Jumlah studi yang dimasukkan dalam meta-analisis ini kecil dan mutu buktinya rendah, sehingga hasilnya perlu ditafsirkan dengan hati-hati,” tulis para penulis yang sama. Keenam uji hanya berasal dari Turki dan Iran. Keterbatasan itu, menurut mereka, bisa membatasi penerapan temuan pada penduduk dan layanan kesehatan di tempat lain.

Daftar keberatan mereka masih panjang. Ukuran kelompok timpang, dari 18 sampai 95 orang. Risiko bias pada kebanyakan uji dinilai tinggi karena peserta tahu apa yang mereka minum. Tidak satu uji pun mencatat apakah ibu terbiasa minum kopi, padahal peminum rutin disebut kurang peka terhadap pengaruhnya. Satu studi berbahasa Arab juga tidak diikutkan.

Ada pula yang sama sekali tidak diukur. Kopi bisa menaikkan denyut jantung dan tekanan darah, tetapi perubahan keduanya tidak dilaporkan. Kafein dapat berpindah ke bayi lewat air susu ibu, sementara hasil menyusui dan kesehatan bayi tidak didokumentasikan dengan baik. Banyak ibu nifas, tulis para peneliti, justru merasa perlu membatasi kafein, dan itu bisa memengaruhi kesediaan mereka minum kopi.

Beberapa hal dalam naskah juga bisa diperiksa sendiri oleh pembaca. Abstrak menyebut kedua kelompok berisi 18 sampai 95 orang, sedangkan badan naskah menulis kelompok kopi 18 sampai 91 orang. Hitungan penyaringan studi pun tidak cocok: dari 245 catatan, 238 gugur dan 13 lagi dikeluarkan, tetapi yang dibaca penuh tetap tujuh.

Satu lagi menyangkut jadwal minum. Bagian pembahasan menyatakan manfaat kopi terutama tampak pada ibu yang mulai minum dua jam sesudah operasi. Angka subkelompoknya menunjukkan gambar yang lebih berimbang. Selisih buang angin justru lebih besar pada jadwal delapan jam, sedangkan keunggulan jadwal dua jam hanya ada pada bising usus.

Maka secangkir kopi dan sayatan caesar tetap berdiri berdampingan, belum menyatu. Di satu sisi, enam uji menunjukkan usus ibu bergerak beberapa jam lebih cepat sesudah minum kopi. Di sisi lain, penulisnya sendiri meminta uji yang lebih besar dan lebih rapi untuk menentukan waktu, takaran, dan keamanannya. Kedua pernyataan itu termuat dalam naskah yang sama.

Bagikan

Baca Juga

Warga China yang Beli Obat Sendiri Lebih Sering Sakit Lambung
Makanan Bawa Pulang Terkait Tubuh yang Tiga Bulan Lebih Tua
Pinggang Relawan Kesehatan Desa Thailand Susut dalam Tiga Bulan
Dendang Serawai Diwariskan Lewat Menonton, Bukan Lewat Sekolah
Merawat Lansia di Rumah Menguras Dompet Keluarga di Finlandia
Minuman Manis Selalu Ada di Rumah, Remaja Belanda Minum Banyak