- Tumpukan itu melahirkan perasaan bersama bahwa harus ada yang berubah.
- Para penulis menyimpulkan bahwa perubahan yang paling umum memang bukan meninggalkan mobil, melainkan memarkirnya lebih jauh.
- Lalu lintas yang berkurang membuat perjalanan lebih tenang, lebih ramah untuk mengobrol, dan lebih bersih.
- Semua yang diceritakan di atas adalah penuturan, bukan pengukuran.
Daftar Isi
Menutup jalan di depan sekolah bagi mobil terdengar seperti cara paling lugas untuk melindungi murid. Anehnya, sebagian orang tua justru cemas anaknya akan lebih terancam sesudah jalan itu ditutup. Seorang orang tua di Sheffield mengaku khawatir jalan-jalan di sekitar sekolah menjadi lebih berbahaya, dan bila keluarganya dipaksa berjalan kaki atau bersepeda, anak-anaklah yang menanggung risikonya. Kecemasan semacam itu hidup berdampingan dengan dukungan luas terhadap aturan yang sama.
Dua sikap itu dicatat Olivia Alliott, Cornelia Guell, David Ogilvie, Sophie Hadfield-Hill, dan Jenna Panter dalam Exploring how traffic restriction schemes outside schools influence the school journey: a qualitative analysis of mechanisms and contextual factors, terbit di BMC Public Health tahun 2026 sebagai artikel yang masih dalam proses cetak. Mereka bekerja di University of Cambridge, University of Exeter Medical School, dan University of Birmingham. Bahannya percakapan dengan 24 keluarga, lima guru, dan empat wakil pemerintah daerah di Perth and Kinross, Sheffield, dan Haringey antara September 2024 dan April 2025.
Aturan yang mereka telaah punya beberapa nama di Britania Raya: School Streets, School Exclusion Zones, atau skema pembatasan lalu lintas. Isinya sama, yakni kendaraan bermotor dilarang masuk ke ruas jalan di depan sekolah pada jam antar dan jam jemput. Cara menjaganya berlainan. Di Perth and Kinross, Skotlandia, cukup papan yang berkedip pada jam berlaku. Di Sheffield ada palang lepas-pasang yang ditunggui staf sekolah, sedangkan di Haringey, London, kamera yang mengawasi.
Tekanan yang Membuat Larangan Bisa Diterima
Larangan itu tidak datang ke ruang kosong. Di semua tempat, ia diperkenalkan ketika beberapa keluhan sudah menumpuk bersamaan: kemacetan, kekhawatiran akan keselamatan, udara yang buruk, dan sedikitnya prasarana bagi pejalan kaki maupun pesepeda. Tumpukan itu melahirkan perasaan bersama bahwa harus ada yang berubah. Menurut para peserta, perasaan inilah yang menggerakkan dukungan politik, sekolah, dan keluarga, sehingga orang lebih rela mencoba kebiasaan baru daripada melawan.
Di kota, buktinya terlihat dan tercium. “Dulu waktu saya berjalan ke sekolah pada pagi hari, isinya mobil, mobil, mobil,” kata seorang guru di London, yang menyebut jalan itu jalur tikus para pekerja yang menghindari North Circular. Seorang orang tua di Sheffield mengingat mobil berderet rapat sepanjang jalan sampai polusinya tampak di udara. Anaknya menambahkan bahwa asap di jalan itu menjijikkan.
Di desa dan kota kecil, keluhannya lain tetapi ujungnya serupa. Yang dicemaskan adalah pengemudi yang melaju kencang dan ketiadaan tempat menyeberang yang aman, dan di beberapa tempat ada kejadian tertentu yang mempertebal keyakinan bahwa anak-anak perlu dilindungi. Karena itu, kebanyakan orang tua makin bersedia mendukung. Sekelompok kecil bereaksi sebaliknya, dan dari kelompok inilah datang kecemasan orang tua Sheffield tadi.
Yang membuatnya rumit, kedua kelompok sebenarnya berangkat dari kekhawatiran yang sama. Kebanyakan keluarga memandang larangan itu sebagai langkah menuju jalan yang lebih aman, tetapi mereka juga sepakat bahwa perjalanan yang aman pada akhirnya bergantung pada perbaikan prasarana di sekelilingnya. Tanpa perubahan pelengkap itu, banyak yang merasa anak-anak tetap terpapar bahaya di ruas-ruas terdekat, persis di luar garis larangan.
Baca juga Gas NO2 dari Lalu Lintas Berkaitan dengan Miopia Pria Korea
Mobil Dibuat Repot, Kaki Mengambil Alih
Cara kerja larangan ini ternyata sederhana: ia tidak melarang orang bermobil ke sekolah, ia hanya membuatnya merepotkan. Di kawasan padat London, tempat banyak keluarga tinggal dalam jarak jalan kaki, kerepotan itu sudah cukup. “Sekarang kami tidak akan pernah menyetir. Itu jadi terlalu merepotkan, tidak ada tempat parkir dan bagian terakhirnya toh harus berjalan, jadi kami mulai berjalan kaki sepanjang jalan,” ujar seorang orang tua di sana. Orang tua lain mengaku mobil kini hanya keluar ketika hujan atau cuaca sangat buruk.
Bagi keluarga yang rumahnya lebih jauh atau yang angkutan umumnya terbatas, perubahannya separuh jalan tetapi tetap berarti. Mereka menyetir sebagian perjalanan lalu berjalan, kebiasaan yang di sana disebut parkir-lalu-melangkah. Ada pula yang mengeluarkan skuter atau sepeda dari bagasi dan menempuh sisanya dengan itu. Di desa dan di sekolah berbasis agama yang muridnya datang dari wilayah luas, menyetir tetap diperlukan banyak keluarga, dan yang muncul adalah jalan keluar bersama seperti berbagi tumpangan.
Para penulis menyimpulkan bahwa perubahan yang paling umum memang bukan meninggalkan mobil, melainkan memarkirnya lebih jauh. Peralihan penuh ke jalan kaki dan sepeda terjadi di tempat tertentu saja, terutama pada sekolah yang muridnya tinggal berdekatan dan yang lingkungannya sudah ramah bagi pejalan. Persoalannya tidak berhenti pada hitungan mobil. Potongan jalan kaki yang pendek itu, tulis mereka dengan merujuk riset lain, bisa memuat gerak badan yang cukup untuk bermanfaat bagi kesehatan.
Jalan yang Senyap Mengubah Rasa Perjalanan
Ada keluarga yang sejak dulu berjalan kaki atau bersepeda. Bagi mereka tidak ada kebiasaan yang perlu diganti, dan yang berubah adalah rasanya. Lalu lintas yang berkurang membuat perjalanan lebih tenang, lebih ramah untuk mengobrol, dan lebih bersih. Seorang anak di Sheffield menyukai jalan yang kini tidak seberisik dulu. Seorang anak di London menyebut mobil diesel berkurang, dan ia memang tidak suka asapnya.
Orang dewasa merasakannya di badan. “Sebelumnya saya tidak terlalu memperhatikan, tetapi begitu jalan itu lebih sepi dan tidak bising, saya bisa merasakan stres meninggalkan tubuh saya,” kata seorang orang tua di London. Seorang wakil pemerintah daerah menggambarkan suasananya sebagai surga dan mengaku tidak percaya melihat senyum anak-anak yang kini datang ke sekolah.
Rasa itulah yang pelan-pelan meredakan gerutu awal. Seorang wakil pemerintah daerah di Sheffield mengakui sebagian orang mula-mula kesal, tetapi perubahan kebiasaan memang butuh waktu. Orang tua di kota itu berkata begitu banyak orang sudah melihat manfaatnya sehingga aturan tersebut diterima. Perbandingan dengan ruas tetangga ikut bekerja: sisi lain sekolah yang tidak ditutup, kata seorang orang tua di London, bisa cukup kacau, dan orang menyadari bedanya.
Sesudah diterima, kebiasaan baru itu menular. Seorang guru di Sheffield melukiskannya sebagai lingkaran: makin banyak orang berjalan dan bersepeda, makin banyak yang terdorong ikut. Orang tua mulai melepas anak yang lebih besar berangkat sendiri, yang oleh seorang di antara mereka dianggap latihan menjelang sekolah menengah. Guru yang sama melihat makin banyak murid kelas enam berjalan bersama tanpa orang tua.
Baca juga BMI Anak Gothenburg Terbelah Dua Arah Sejak Tahun 2008
Bahaya yang Bergeser ke Jalan Sebelah
Kecemasan di awal tadi ternyata tidak sepenuhnya keliru. Di beberapa wilayah, larangan itu memindahkan parkir dan kemacetan ke jalan-jalan tetangga, sehingga muncul kekhawatiran bahwa risiko hanya dibagi ulang, bukan dikurangi. “Tepat di depan sekolah memang lebih aman, tetapi sekarang kacau di beberapa jalan dari sini. Bahayanya cuma dipindahkan,” kata seorang orang tua di London. Wakil pemerintah daerah di Sheffield mengakui hal itu: tidak ada yang ingin menyelesaikan satu masalah sambil menciptakan masalah lain, dan warga akan cepat sekali memberi tahu.
Rasa aman itu sendiri bisa menimbulkan kecerobohan baru. Sebagian kecil orang tua menurunkan anak terburu-buru dari mobil karena menganggap jalan sudah aman, padahal belum tentu. Pejalan kaki pun mulai memperlakukan ruas itu seolah bebas mobil sepenuhnya. Seorang guru di London bercerita orang kini berjalan tepat di tengah jalan dan lupa bahwa mobil masih bisa lewat, sehingga sekolah harus rajin mengingatkan semua orang.
Tidak semua orang pula terbantu oleh pengecualian yang tersedia. Pemegang Blue Badge, kartu parkir bagi penyandang disabilitas, boleh masuk, tetapi sakit sementara atau disabilitas yang tidak kasatmata sering luput. Seorang orang tua di Skotlandia yang mengalami long Covid menyebut dirinya sungguh kepayahan. Ada juga pengemudi yang menerobos, parkir sembarangan, atau membentak petugas penyeberangan, kejadian yang menurut seorang guru di Sheffield bukan pemandangan yang diinginkan di depan sekolah dasar.
Yang Diminta Keluarga agar Larangan Bertahan
Dari pengalaman itu para peserta menyusun daftar permintaan, dan hampir semuanya menyangkut hal di luar ruas yang ditutup. Yang pertama adalah tempat parkir yang aman dan mudah di luar zona, agar keluarga yang tetap harus menyetir tidak merusak aturan. Yang kedua angkutan umum yang terjangkau. Seorang orang tua di Sheffield pernah mencoba bus dan mendapati tarifnya 6,80 pound untuk satu orang dewasa per hari. Kalau ingin orang berhenti menyetir, katanya, ongkos itu harus dibuat lebih murah.
Permintaan berikutnya adalah bukti. Seorang wakil pemerintah daerah di London berpendapat perlu ada penelitian setingkat seluruh London yang menunjukkan data dan dampak jalan-jalan ini, supaya dukungan warga terjaga. Orang tua ingin tahu hal yang sama, yaitu apa sebenarnya pengaruh penutupan itu terhadap polusi. Rasa lega yang mereka ceritakan nyata bagi mereka, tetapi mereka sendiri meminta angka.
Lalu soal diajak bicara. Wakil pemerintah daerah menghargai penerapan sebagai uji coba lebih dulu, yang memberi waktu bagi masukan sebelum aturan dipermanenkan. Di sebuah sekolah di Skotlandia, rancangan seorang insinyur harus diubah setelah ketahuan bahwa keluarga jarang memakai pintu masuk yang paling mudah dijadikan zona larangan. Sebagian orang tua tetap merasa konsultasi hanya formalitas ketika pemerintah daerah jalan terus meski ditentang keras.
Baca juga Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Sekolah menemukan sekutu yang tidak terduga pada murid sendiri. Di beberapa tempat, anak-anak ikut merancang rambu dan belajar tentang polusi, lalu menjadi duta aturan itu di rumah. Beberapa peserta juga membayangkan wajah jalan yang berubah. Seorang guru di Sheffield ingin menanam pohon dan mengganti permukaan jalan supaya ruas itu tidak lagi tampak seperti ruang untuk mobil. Di Skotlandia, soalnya uang: memperbagus satu jalan, atau menambah jalan serupa di sekolah lain.
Kecil, Dekat, dan Batas Penjelasannya
Mengapa larangan ini relatif mudah diterima, sementara pembatasan lalu lintas lain sering dilawan? Para penulis menjawabnya dengan ukuran dan cara membingkai. “Meskipun langkah semacam itu sering menghadapi penolakan, skema pembatasan lalu lintas memperoleh dukungan yang relatif tinggi karena dibatasi pada lingkungan terdekat sekolah dan dibingkai dalam kerangka kesehatan dan keselamatan anak,” tulis Alliott dan empat rekannya dalam naskah berbahasa Inggris itu.
Pembandingnya ada di dalam naskah. Low Traffic Neighbourhoods, pembatasan lalu lintas tembus di kawasan permukiman yang lebih luas, menyentuh lebih banyak orang dan cenderung memancing penentangan lebih besar. Di beberapa lokasi, kedua aturan itu berjalan bersamaan, dan peserta melaporkan kemacetan pindah ke jalan utama. Seorang wakil pemerintah daerah di London merangkum sikap yang diperlukan: harus siap menghadapi guncangan di jalan, secara harfiah maupun kiasan, dan belajar sambil berjalan.
Semua yang diceritakan di atas adalah penuturan, bukan pengukuran. Perubahan cara berangkat sekolah dilaporkan oleh peserta sendiri, dan para penulis mengakui keinginan untuk tampak baik bisa mewarnai cerita, terutama ketika orang membicarakan manfaat. Kesediaan sekolah juga menjadi syarat penelitian, sehingga suara yang terkumpul lebih mencerminkan tempat yang mendukung. Penentangan warga dan pengalaman yang kurang menyenangkan mungkin kurang terwakili.
Ada pula sekolah yang tidak tersentuh oleh penjelasan ini. Sekolah di jalan besar yang padat dan berpolusi, menurut para penulis, barangkali yang paling diuntungkan oleh pembatasan, tetapi justru paling sulit menerapkannya. Untuk mereka, naskah ini hanya menunjuk pekerjaan yang belum selesai: ukuran kelayakan yang lebih jelas, pilihan lain yang bisa diterima, dan cara menekan perpindahan lalu lintas.
Catatan Kecil pada Naskah
Beberapa hal dapat diperiksa pembaca. Tema kedua diberi nama berbeda di abstrak dan di bagian hasil: yang satu berbicara tentang membangun momentum, yang lain tentang pelajaran bagi penerapan mendatang. Abstrak menyebut lima guru, sedangkan tabel peserta juga memuat dua staf sekolah, seorang di antaranya penjaga sekolah. Dua nomor dalam daftar pustaka tampak merujuk karya yang sama.
Kejanggalan di awal tadi dengan begitu punya jawaban. Orang tua yang cemas tidak salah membaca keadaan, sebab menutup satu ruas jalan memang tidak menghapus mobil, hanya menggesernya beberapa jalan lebih jauh. Yang berubah adalah potongan terakhir perjalanan, yang kini ditempuh dengan kaki, lebih senyap dan lebih bersih. Aman atau tidaknya sisa perjalanan itu, menurut keluarga yang menjalaninya, ditentukan oleh apa yang ada di luar ruas yang ditutup.















