Obat Kedaluwarsa Warga Lanzhou Jarang Berakhir di Tong Sampah

A A

Ilustrasi beberapa strip tablet dan kapsul obat tergeletak di atas meja kayu [Foto: Tima Miroshnichenko/Pexels]

  • Obat kedaluwarsa di Lanzhou jarang dibuang ke tong sampah biasa.
  • Sebanyak 970 penjawab, atau 82,2 persen, mengaku menyimpan obat di rumah.
  • Sebanyak 35,9 persen baru menyadarinya ketika hendak memakai obat itu.
  • Hampir separuh penjawab tidak mengenal aturan pemerintah soal penarikan obat kedaluwarsa.
  • Survei sekali waktu tidak dapat menunjukkan sebab-akibat.
Daftar Isi
  1. Lemari Obat Penuh
  2. Jarang Diperiksa
  3. Empat Jalan Keluar
  4. Bahaya Setengah Dipahami
  5. Aturan Tak Dikenal
  6. Siapa Lebih Tertib
  7. Batas Temuan
  8. Yang Janggal di Naskah

Obat kedaluwarsa di Lanzhou jarang dibuang ke tong sampah biasa. Hanya 8,7 persen warga yang mengaku membuangnya bersama sampah rumah tangga tanpa dipilah. Sisanya memilah, mengembalikannya ke apotek atau rumah sakit, atau menyerahkannya ke program penarikan berbayar yang digelar organisasi sosial.

Angka itu dilaporkan Weiting Liu, Wei Wei, Zhiye Zhang, Hui Du, Shengying Che, Rui Ding, dan YanBiao Yang dalam artikel A cross-sectional study of household disposal of unused and expired pharmaceuticals in western China. Artikel itu dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026.

Ketujuh penulis bekerja di Departemen Farmasi Lanzhou First People’s Hospital. Mereka menghimpun jawaban 1.180 warga dewasa Lanzhou sepanjang Januari sampai Desember 2023 lewat kuesioner daring. Lanzhou adalah ibu kota Provinsi Gansu di Tiongkok barat.

Sebanyak 65,5 persen penjawab perempuan dan 34,5 persen laki-laki. Tiga dari empat, tepatnya 76,4 persen, tinggal di kawasan kota. Separuhnya, 50,6 persen, lulusan perguruan tinggi.

Lemari Obat Penuh

Kebanyakan rumah di Lanzhou punya persediaan obat. Sebanyak 970 penjawab, atau 82,2 persen, mengaku menyimpan obat di rumah. Sebagian membeli lebih dari yang diperlukan: satu dari lima penjawab, 20,4 persen, cenderung membeli lebih banyak. Sebanyak 57,9 persen membeli pas sesuai kebutuhan, dan 21,7 persen memilih membeli lebih sedikit.

Tempat menyimpannya umumnya tertata. Sebanyak 80,5 persen menaruh obat di satu tempat tetap, dan 15,4 persen memisahkan tempat untuk obat yang berbeda. Hanya 4,1 persen yang menaruhnya sembarangan.

Rasa yakin mereka juga tinggi: 88,4 persen menyatakan tahu cara menyimpan obat di rumah. Namun hanya 58,9 persen yang membaca petunjuk obat dengan cermat sebelum meminumnya. Sebanyak 39,1 persen hanya melihat indikasi dan dosis, dan dua persen hampir tidak pernah membacanya.

Jarang Diperiksa

Menyimpan tidak sama dengan memeriksa. Sebanyak 35,1 persen penjawab, kira-kira satu dari tiga, tidak membersihkan persediaan obatnya secara berkala. Sebanyak 35,7 persen melakukannya enam bulan sekali, 12,5 persen tiap tiga bulan, dan 12,6 persen tiap bulan. Hanya 4,1 persen yang memeriksa tiap pekan.

Akibatnya terlihat pada saat obat ketahuan kedaluwarsa. Sebanyak 35,9 persen baru menyadarinya ketika hendak memakai obat itu. Sebanyak 45,7 persen memperhatikan tanggalnya dan membuang obat lebih dulu, sedangkan 18,4 persen menghabiskan obat sebelum masanya lewat.

Ada pula yang tetap meminum obat tanpa tahu masa pakainya. Sebanyak 7,7 persen menjawab ya, dan 20,4 persen menjawab tergantung keadaan. Sebanyak 71,9 persen menyatakan tidak akan meminumnya.

Lemari obat warga LanzhouLemari obat warga LanzhouLemari obat warga LanzhouJawaban 1.180 warga dewasa, 202382,2%menyimpanobatdi rumah35,1%tak rutinmemeriksa stok47,6%tak tahuaturan penarikan86,5%inginpengumpulandibakukanJalan risetnya1.180 warga LanzhouKuesioner daringJan-Des 2023
Sumber: Weiting Liu, Wei Wei, Zhiye Zhang, Hui Du, Shengying Che, Rui Ding, dan YanBiao Yang, A cross-sectional study of household disposal of unused and expired pharmaceuticals in western China, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis membaca pola ini sebagai satu rangkaian. Banyak warga menyimpan obat di rumah, tetapi tidak mengutamakan pembersihan rutin. Menurut mereka, kebiasaan itu kemungkinan ikut membuat banyak obat kedaluwarsa.

Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi

Empat Jalan Keluar

Kuesioner memberi empat pilihan cara membuang obat kedaluwarsa. Pilihan terbanyak adalah mengembalikannya ke apotek atau rumah sakit tanpa biaya. Sebanyak 523 penjawab, atau 44,3 persen, memilih jalan ini.

Pilihan kedua adalah penarikan berbayar yang digagas organisasi sosial, diikuti 285 penjawab atau 24,2 persen. Ringkasan naskah menyebutnya skema penarikan berbasis insentif uang. Pilihan ketiga adalah tong sampah terpilah, dipakai 269 penjawab atau 22,8 persen. Pilihan terakhir, tong sampah rumah tangga biasa, hanya dipilih 103 orang.

Ke mana obat kedaluwarsa pergiApotek atau rumah sakit: Penjawab +44,3%; Penarikan berbayar: Penjawab +24,2%; Tong sampah terpilah: Penjawab +22,8%; Tong sampah biasa: Penjawab +8,7%.Ke mana obat kedaluwarsa pergiCara membuang menurut pengakuan 1.180 warga Lanzhou, 202310%20%30%40%50%0Apotek atau rumah sakit44,3%Penarikan berbayar24,2%Tong sampah terpilah22,8%Tong sampah biasa8,7%Penarikan berbayar digagas organisasi sosial.
Sumber: Weiting Liu, Wei Wei, Zhiye Zhang, Hui Du, Shengying Che, Rui Ding, dan YanBiao Yang, A cross-sectional study of household disposal of unused and expired pharmaceuticals in western China, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Tiga pilihan pertama bila dijumlahkan melampaui 90 persen. Para penulis menyebut kelompok ini sebagai warga yang secara sadar memisahkan obat kedaluwarsa dari sampah rumah tangga. Semua angka itu adalah pengakuan penjawab sendiri.

Bahaya Setengah Dipahami

Pengetahuan soal bahayanya tidak setinggi itu. Hanya 21 persen penjawab yang merasa paham sepenuhnya bahaya obat kedaluwarsa. Sebanyak 54,1 persen paham sedikit, dan 24,9 persen tidak tahu sama sekali.

Jadi 75,1 persen penjawab punya pengetahuan, entah sedikit entah penuh. Para penulis menilai angka itu rendah. Mereka membandingkannya dengan Xi’an (93,3 persen), Zhengzhou (91,1 persen), Afghanistan (98 persen), dan Ethiopia (95,8 persen).

Bahaya yang dimaksud diuraikan di bagian awal naskah. Obat yang dibuang sembarangan ke tempat sampah atau saluran air dapat mencemari udara, tanah, dan air. Antibiotik yang lepas ke perairan ikut mendorong kekebalan kuman terhadap obat.

Ada juga risiko lain. Pedagang nakal dapat membeli obat kedaluwarsa dengan harga murah, mengemasnya ulang, lalu menjualnya lagi. Naskah itu mengutip angka lebih dari 15.000 ton obat kedaluwarsa yang dihasilkan Tiongkok tiap tahun.

Baca juga Suhu Ekstrem dan PM2.5 Naikkan Kematian di Tiongkok

Aturan Tak Dikenal

Hampir separuh penjawab tidak mengenal aturan pemerintah soal penarikan obat kedaluwarsa. Jumlahnya 562 orang, atau 47,6 persen, sedangkan yang paham sepenuhnya hanya 9,8 persen. Padahal keinginan mereka jelas. Sebanyak 1.021 penjawab, atau 86,5 persen, menilai pengumpulan obat kedaluwarsa rumah tangga perlu dibakukan.

Soal tempat, lebih dari separuh ingin banyak pintu. Sebanyak 52,3 persen memilih semua lokasi yang ditawarkan sekaligus. Di luar itu, tempat sampah pengelola permukiman dipilih 20 persen, pusat kesehatan komunitas 13,2 persen, apotek 9,7 persen, dan rumah sakit 4,8 persen.

Pada 2018 Kementerian Ekologi dan Lingkungan Tiongkok menerbitkan norma perilaku lingkungan bagi warga. Norma itu mendorong pembuangan obat bekas secara benar dan akses ke fasilitas pengumpulan. Menurut para penulis, upaya itu masih terbatas dan belum menjadi program nasional yang menyeluruh.

Siapa Lebih Tertib

Satu ciri rumah tangga muncul berulang kali. Sebanyak 28,1 persen penjawab punya kerabat serumah lebih dari lima tahun yang berpendidikan medis atau bekerja sebagai tenaga kesehatan. Kelompok ini lebih tertib dalam banyak hal.

Mereka lebih mungkin memilih tong terpilah daripada tong sampah biasa, dengan rasio peluang 2,991. Mereka juga lebih mungkin membersihkan obat kedaluwarsa secara teratur, dengan rasio peluang 2,705. Untuk menghindari obat yang masa pakainya tidak diketahui, rasionya 2,151.

Para penulis menyebut kehadiran tenaga kesehatan di rumah sebagai penanda paling konsisten bagi kebiasaan yang baik. Kebiasaan itu mencakup membaca petunjuk dengan cermat, membuang obat kedaluwarsa secara teratur, dan menyimpan obat dengan tepat.

Tempat tinggal dan pendidikan ikut membedakan. Warga kota lebih mungkin mengembalikan obat ke apotek atau rumah sakit daripada membuangnya ke tong biasa, dengan rasio peluang 1,989. Mereka juga lebih mungkin menilai pengumpulan baku itu perlu. Lulusan perguruan tinggi lebih mungkin memilih tong terpilah, dengan rasio peluang 2,041, dan lebih mengenal bahaya obat kedaluwarsa.

Soal menyimpan, usia dan penghasilan yang berperan. Warga berusia di atas 50 tahun lebih mungkin menyimpan obat di rumah. Begitu pula warga berpenghasilan di atas 5.000 yuan sebulan, dengan rasio peluang 6,016.

Para penulis menutup pembahasannya dengan satu desakan. “Karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pembuangan yang benar atas obat yang tidak terpakai dan kedaluwarsa,” tulis Weiting Liu dan rekan-rekannya, para apoteker Lanzhou First People’s Hospital. Kalimat aslinya berbahasa Inggris.

Mereka meminta pemerintah memimpin. Lembaga medis, perusahaan farmasi, dan industri layanan kesehatan diminta bekerja sama menyusun kebijakan penarikan obat. Titik pengumpulan diusulkan berada di lingkungan permukiman dan rumah sakit.

Baca juga Dukungan Keluarga Gandakan Kepatuhan Obat Hipertensi di Kamboja

Batas Temuan

Temuan ini punya batas yang diakui penulisnya. Survei sekali waktu tidak dapat menunjukkan sebab-akibat. Penjawab pun dijaring lewat tautan di media sosial, sehingga temuan sulit diberlakukan bagi warga perdesaan terpencil atau mereka yang tertinggal secara digital. Survei juga hanya berlangsung di satu wilayah Tiongkok barat laut.

Rentang kepercayaan beberapa angka lebar. Para penulis sendiri meminta kekuatan kaitan itu dibaca hati-hati. Mereka juga menyebut alasan obat menumpuk di rumah masih perlu diselidiki.

Yang Janggal di Naskah

Ada beberapa hal yang bisa diperiksa pembaca di naskah itu. Tabelnya mencatat hanya 8,7 persen penjawab membuang obat ke tong sampah biasa. Namun bagian kesimpulan menyebut cara paling umum adalah membuangnya ke tong sampah sebagai sampah rumah tangga.

Bagian pembahasan juga menyebut lebih dari 85 persen penjawab membuang obat bersama sampah rumah tangga, angka yang tidak muncul di tabel hasil. Soal penghasilan pun tidak seragam. Bagian hasil mengaitkan penghasilan tinggi dengan kebiasaan menyimpan obat, sedangkan bagian pembahasan menjelaskan kaitan penghasilan rendah dengan penimbunan obat.

Yang paling kokoh dari survei ini adalah tabelnya: lemari obat yang penuh, jarang diperiksa, dan aturan yang belum dikenal hampir separuh warga. Ke mana obat kedaluwarsa Lanzhou benar-benar pergi, naskah ini belum menjawab dengan satu suara.

Bagikan

Baca Juga

Sopir Iran yang Kurang Tidur Lebih Sering Kelebihan Berat Badan
Jam Makan Anak Mundur Saat Libur Sekolah, Lebih Sering Terlewat
Anak Lahir Kecil yang Tak Main di Luar Lebih Sulit Kejar Tinggi
Saat Orang Tua Kena Kanker, Remaja Memilih Diam dan Makin Sepi
Tidur Tujuh Jam Seiring Daya Pikir Terbaik di Usia 50 ke Atas
Remaja Miskin Taiwan Lebih Puas Berkat Keluarga, Tetap Tertekan