Kantong Plastik Lira Uganda: Warga Tahu, tapi Tetap Salah Buang

A A

Tumpukan sampah kantong plastik berserakan di tanah dekat rumah bata di Kyenjojo, Uganda [Foto: BalukuBrian/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Sebanyak 78,9 persen responden memiliki pengetahuan yang baik tentang cara membuang kantong plastik bekas dengan benar.
  • Lebih dari separuh responden, 221 orang atau 52,5 persen, tergolong memiliki praktik pembuangan yang buruk.
  • Sebanyak 85,5 persen responden tidak memilah sampah di rumah, dan hanya 14,5 persen yang melakukannya.
  • Sebanyak 59,4 persen rumah tangga menyimpan sampah langsung di atas tanah.
Daftar Isi
  1. Bagaimana kantong plastik menjadi beban kota
  2. Pengetahuan yang tinggi tidak otomatis bekerja
  3. Sikap peduli yang berhenti di pintu rumah
  4. Jalur sampah yang putus di sekitar rumah
  5. Kesadaran akan banjir yang menggerakkan tangan
  6. Angka yang perlu diperiksa ulang pembaca
  7. Dari pengetahuan ke tempat sampah yang tak tersedia

Hampir semua orang tahu kantong plastik bekas tidak semestinya dibuang sembarangan, dan hampir semua orang juga pernah melihatnya tetap tergeletak di tanah. Di Lira City, sebuah kota baru di Uganda utara, jarak antara tahu dan berbuat itu ternyata bisa diukur. Sebagian besar warganya paham cara membuang kantong plastik dengan benar, tetapi lebih dari separuhnya tetap membuangnya dengan cara yang keliru.

Kesenjangan itu dipetakan Sam Orech, Cecilia Adyero, Charles Okolimong, Evaline Ajwang, dan Ruth Anne Akello dalam Management and disposal of polythene bag waste among urban households in Lira City: a cross sectional survey, yang dimuat BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Orech dan Okolimong berasal dari Busitema University, Adyero dan Akello dari Lira University, sedangkan Ajwang dari Team University di Kampala. Penelitian itu disusun tanpa pendanaan dari sumber mana pun.

Mereka menanyai 421 warga dewasa di empat ward kota itu tentang apa yang mereka ketahui, apa yang mereka yakini, dan apa yang sebenarnya mereka lakukan terhadap kantong plastik bekas. Hasilnya bukan cerita tentang ketidaktahuan. Yang tergambar justru bagaimana pengetahuan bisa berhenti di kepala ketika jalur pembuangan sampah di sekitar rumah tidak pernah benar-benar tersedia.

Bagaimana kantong plastik menjadi beban kota

Menurut naskah itu, Lira City termasuk kota yang baru dibentuk di Uganda, dengan penduduk sekitar 478.500 jiwa yang diperkirakan mencapai 596.900 jiwa pada 2030. Mengutip petugas lingkungan kota, penulis mencatat Lira menghasilkan sekitar 22.000 ton sampah padat per tahun, dengan 23,4 persen di antaranya berupa plastik. Sekitar 17.000 ton tertangani, sementara sisanya tidak terangkut.

Sampah yang tidak terangkut itu tidak hilang begitu saja. Penulis menjelaskan bahwa kantong plastik yang dibuang sembarangan berakhir di sungai, terowongan, dan saluran air lain, lalu menyumbatnya. Saluran yang tersumbat memicu banjir, sedangkan genangan yang tertahan kantong plastik menjadi tempat berkembang biak serangga dan tikus pembawa penyakit. Karena itu, penulis mengaitkannya dengan naiknya kasus malaria dan penyakit diare.

Uganda sebenarnya sudah mencoba membatasi. Pada April 2015, National Environment Management Authority atau NEMA menerapkan larangan impor, produksi, dan pemakaian kantong plastik dengan ketebalan di bawah 30 mikron. Persoalannya, pelaksanaan larangan itu tidak mulus. Menurut naskah, lobi produsen, perbedaan pendapat para politisi, hingga penolakan dari kabinet membuat publik bimbang, dan sebagian orang tetap memakai kantong terlarang itu.

Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi

Pengetahuan yang tinggi tidak otomatis bekerja

Di atas kertas, warga Lira tampak siap. Sebanyak 78,9 persen responden memiliki pengetahuan yang baik tentang cara membuang kantong plastik bekas dengan benar. Penulis menduga tingginya angka ini berkaitan dengan penyuluhan tingkat rumah tangga dan kegiatan penjangkauan masyarakat, yang menurut pengakuan responden mendorong warga memakai ember dan karung untuk menampung sampah sementara di rumah.

Praktiknya berkata lain. Lebih dari separuh responden, 221 orang atau 52,5 persen, tergolong memiliki praktik pembuangan yang buruk. Praktik itu dinilai dari sembilan kebiasaan rumah tangga, dan seseorang baru dianggap baik bila menjalankan setidaknya tujuh di antaranya. Artinya, banyak orang yang tahu caranya tetap tidak menjalankan cukup banyak kebiasaan yang benar dalam keseharian mereka.

Yang membuatnya rumit, pengetahuan tidak memperlihatkan hubungan dengan praktik sama sekali. Di antara warga berpengetahuan baik, yang membuang kantong plastik dengan benar sebanyak 46,7 persen. Di antara yang pengetahuannya kurang, angkanya malah 50,6 persen. Selisih kecil ke arah yang tak terduga ini tidak bermakna secara statistik, dan setelah faktor lain diperhitungkan, pengetahuan tetap tidak berhubungan dengan cara warga membuang sampah.

Tahu belum tentu membuang dengan benarTahu belum tentu membuang dengan benarTahu belum tentu membuang dengan benarPersen warga yang membuang kantong plastik dengan baikYa atau baikTidak atau kurang46,7%50,6%Pengetahuan62,2%36,5%Sadar sumbatandrainase52,8%41,1%Sadar masalahkesehatan50,8%46,9%Memilah sampahBeda bermakna hanya pada kesadaran drainase dan kesehatan.
Sumber: Sam Orech, Cecilia Adyero, Charles Okolimong, Evaline Ajwang, dan Ruth Anne Akello, Management and disposal of polythene bag waste among urban households in Lira City: a cross sectional survey, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Penulis menempatkan Lira dalam pola yang juga mereka temukan pada penelitian di India dan Filipina, ketika pengetahuan yang memadai tidak diikuti praktik yang baik. “Secara bersama-sama, penelitian-penelitian ini mendukung pandangan bahwa pengetahuan saja tidak cukup untuk berubah menjadi praktik pembuangan yang benar tanpa infrastruktur dan layanan yang memungkinkannya,” tulis Sam Orech dan rekan-rekannya dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris.

Sikap peduli yang berhenti di pintu rumah

Sikap warga menyimpan kejanggalan serupa. Hampir semua responden, 96,4 persen, menilai kantong plastik merusak lingkungan. Lebih dari separuh, 54,9 persen, menyebut kantong plastik memicu masalah kesehatan manusia, dan 42,8 persen menyebut sumbatan drainase. Hanya 22,1 persen yang mengaitkan pembuangan yang buruk dengan kematian hewan. Kesadaran itu cukup luas, tetapi tidak merata untuk setiap jenis bahaya.

Kesadaran itu juga tidak sampai ke tangan. Sebanyak 85,5 persen responden tidak memilah sampah di rumah, dan hanya 14,5 persen yang melakukannya. Pemilahan pun tidak banyak membedakan hasil, karena warga yang memilah dan yang tidak mencatat praktik baik yang hampir sama, 50,8 persen berbanding 46,9 persen. Secara umum, sikap juga tidak berhubungan bermakna dengan praktik setelah faktor lain diperhitungkan.

“Ini menunjukkan bahwa sikap yang baik tidak serta-merta berujung pada praktik yang lebih baik, terutama di tempat yang kekurangan fasilitas pemilahan sampah, titik pengumpulan, dan layanan pengangkutan rutin,” tulis para penulis, juga dalam bahasa Inggris. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan belum cukup bila tidak ada saluran untuk menjalankannya di lingkungan tempat warga tinggal.

Baca juga Kesadaran Zoonosis Warga Dhading Nepal Masih Jomplang

Jalur sampah yang putus di sekitar rumah

Di sinilah cara kerja masalah itu mulai terlihat. Sebanyak 85,8 persen responden, 361 dari 421 orang, menyatakan tidak ada titik pengumpulan sampah resmi di lingkungan tempat tinggal mereka. Proporsi yang sama menyebut tidak ada perusahaan swasta yang mengangkut sampah di permukiman mereka. Dari 60 responden yang mengaku mendapat layanan, 37 orang menyebut pengangkutan dari pintu ke pintu.

Ketika jalur keluar tidak tersedia, sampah menumpuk di tempat yang paling dekat. Sebanyak 59,4 persen rumah tangga menyimpan sampah langsung di atas tanah. Hanya 16,4 persen memakai kantong, 15,4 persen memakai tong sampah, dan 6,7 persen memakai wadah seadanya seperti keranjang atau jeriken yang dipotong. Penulis membaca pola ini sebagai tanda kurangnya akses pada wadah penyimpanan dan sistem pengelolaan sampah yang tertata.

Di mana rumah tangga Lira menyimpan sampahDi atas tanah: Persen rumah tangga +59,4%; Dalam kantong: Persen rumah tangga +16,4%; Tong sampah: Persen rumah tangga +15,4%; Keranjang atau jeriken dipotong: Persen rumah tangga +6,7%.Di mana rumah tangga Lira menyimpan sampahPersen dari 421 responden di Lira City, Uganda20%40%60%0Di atas tanah59,4%Dalam kantong16,4%Tong sampah15,4%Keranjang atau jeriken dipotong6,7%85,8 persen responden tidak punya titik pengumpulan sampah resmi.
Sumber: Sam Orech, Cecilia Adyero, Charles Okolimong, Evaline Ajwang, dan Ruth Anne Akello, Management and disposal of polythene bag waste among urban households in Lira City: a cross sectional survey, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Keadaannya mirip orang yang hafal aturan lalu lintas tetapi tinggal di kawasan tanpa jalan, sehingga pengetahuannya tidak punya tempat untuk dipakai. “Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan, meskipun perlu, bukanlah peramal yang memadai bagi perilaku pembuangan yang benar tanpa adanya infrastruktur pendukung, mekanisme penegakan aturan, dan layanan pengelolaan sampah yang mudah diakses,” tulis Orech dan rekan-rekannya.

Kesadaran akan banjir yang menggerakkan tangan

Satu hal ternyata membedakan warga yang membuang dengan benar, yaitu kesadaran akan akibat yang terasa dekat. Di antara warga yang menyebut kantong plastik menyumbat drainase, 62,2 persen membuang dengan benar. Di antara yang tidak menyebutnya, hanya 36,5 persen. Dalam model akhir, kesadaran soal drainase ini berhubungan dengan peluang sekitar tiga kali lipat, dengan rasio odds terkoreksi 3,04.

Kekhawatiran pada kesehatan bekerja dengan cara serupa, meski lebih lemah. Warga yang mengaitkan kantong plastik dengan masalah kesehatan mencatat praktik baik 52,8 persen, dibanding 41,1 persen pada yang tidak, dengan rasio odds terkoreksi 1,77. Persoalannya, penelitian ini hanya memotret satu titik waktu, sehingga tidak bisa dipastikan apakah kesadaran yang mendorong praktik, atau justru sebaliknya.

Penulis juga menyebut usia sebagai faktor. Menurut mereka, warga berusia 62 sampai 75 tahun punya peluang membuang dengan benar sekitar tiga kali lebih besar dibanding warga 18 sampai 28 tahun, dengan rasio odds terkoreksi 3,01. Penulis menduga hal ini berkaitan dengan paparan penyuluhan yang menumpuk, kesadaran lingkungan yang lebih tinggi, dan pengalaman mengikuti kampanye kesehatan masyarakat di masa lalu.

Baca juga Lokakarya Limbah Kelapa Koto Baru Terbentur Minat Warga

Angka yang perlu diperiksa ulang pembaca

Temuan soal usia itu justru menyimpan kejanggalan paling mencolok. Pada tabel sebaran di naskah yang sama, kelompok 62 sampai 75 tahun mencatat praktik baik hanya 32 persen, terendah dibanding kelompok usia lain yang berkisar 41,5 sampai 50 persen. Naskah juga menyebut hasil dikodekan 1 untuk praktik baik dan 2 untuk praktik buruk, sehingga arah rasio odds usia layak dipertanyakan.

Ketidakcocokan lain juga bisa diperiksa. Ringkasan dan pembahasan menyebut jenis kelamin berhubungan bermakna, padahal tabel model akhir mencatat nilai p 0,269. Abstrak juga memasukkan faktor pengurangan cedera, yang di tabel mencatat nilai p 0,692. Pemeluk Katolik disebut 35,2 persen di teks, padahal 165 dari 421 responden di tabel sama dengan 39,2 persen.

Jumlah responden menikah tercatat 285 di satu tabel, tetapi tabel lain menjumlahkan 258, angka yang justru cocok dengan 61,3 persen. Daftar ward terpilih pun berbeda, karena teks menyebut Adekokwok sementara tabel prosedur menyebut Railways. Penulis sendiri mengakui praktik dilaporkan sendiri oleh responden sehingga rawan bias, penggolongan baik dan buruk bisa menutupi variasi perilaku, dan temuannya terbatas pada kawasan perkotaan.

Dari pengetahuan ke tempat sampah yang tak tersedia

Rekomendasi penulis mengikuti cara kerja yang mereka temukan. Mereka mengusulkan penyuluhan yang menyasar warga muda, perluasan dan pemerataan titik pengumpulan sampah, penegakan peraturan daerah soal sampah, serta kemitraan pemerintah dan swasta beserta insentif untuk daur ulang dan pakai ulang. Mereka juga menyarankan penelitian jangka panjang untuk menguji hubungan sebab-akibat yang belum bisa dipastikan sekarang.

Kejanggalan di awal tulisan ini akhirnya punya jawaban yang sederhana. Warga Lira tidak menaruh kantong plastik bekas di tanah karena tidak tahu, sebab hampir empat dari lima orang tahu caranya. Mereka menaruhnya di sana karena bagi sebagian besar dari mereka tidak ada tempat lain di dekat rumah, dan pengetahuan tanpa jalur keluar hanya berhenti sebagai pengetahuan.

Bagikan

Baca Juga

Cemas Radiasi Warga Fukushima Bertahan Tujuh Tahun Pascabencana
Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular
Pakar IPB: Makanan Sisa Aman 3-4 Hari di Suhu 4 Derajat
Polusi Udara Berkaitan dengan Rendahnya Skor Penuaan Sukses
Guru Besar UNAIR: Anak Disleksia Bukan Anak yang Bodoh
Tekanan Akademik Halangi Gaya Hidup Sehat Remaja Karnataka