- Distrik di Khyber Pakhtunkhwa dan FATA cenderung masuk golongan angka kematian ibu tertinggi, sedangkan Punjab umumnya terendah.
- Indeks Moran global menunjukkan sekitar 26 persen korelasi spasial antara distrik dan distrik di sekitarnya.
- Setiap kenaikan 1 persen ibu yang bersalin dibantu teman atau kerabat berkaitan dengan naiknya angka kematian ibu 0,157 unit.
- Kenaikan 1 persen rumah tangga dengan ibu berpendidikan dasar berkaitan dengan turunnya angka kematian ibu 0,049 unit.
Daftar Isi
Sami Ullah Khan, ekonom dari Gomal University di Dera Ismail Khan, menggambar peta kematian ibu untuk 130 distrik di Pakistan. Warnanya tidak merata. Distrik di Khyber Pakhtunkhwa (KP) dan bekas wilayah suku FATA cenderung masuk golongan angka lebih tinggi dan tertinggi, sementara distrik di Punjab umumnya berada di golongan lebih rendah dan terendah.
Peta itu bagian dari makalah yang ditulis Muhammad Ramzan Sheikh dari School of Economics, Bahauddin Zakariya University, Multan, bersama Munir Ahmed, Fangzheng Zhao, Asad Abbas, Sami Ullah Khan, dan Irfan Ullah. Judulnya Nexus between sociocultural practices and maternal mortality in Pakistan: a geospatial analysis using Spatial Durbin model and multiscale geographically weighted regression, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026.
Sheikh dan rekan menelusuri hubungan kebiasaan sosial budaya dengan angka kematian ibu di tiap distrik. Hasilnya, kematian ibu lebih tinggi di distrik yang banyak persalinannya dibantu kerabat atau perempuan tua tanpa sertifikat, dan lebih rendah di distrik yang lebih banyak ibunya berpendidikan dasar. Semua hubungan itu diukur pada tingkat distrik.
Menghitung dari Cerita tentang Saudara Perempuan
Menurut pembagian kerja di makalah, gagasan riset ini dirancang Sheikh, Munir Ahmed, dan Asad Abbas. Irfan Ullah membersihkan dan mengolah data, Fangzheng Zhao dari Fifth Affiliated Hospital, Xinjiang Medical University, merevisi naskah, sedangkan Khan merancang desain studi, menjalankan analisis spasial, dan membuat petanya. Penelitian ini tidak menerima hibah dari lembaga mana pun.
Bahan yang diolah Irfan Ullah berasal dari Multiple Indicators Cluster Survey (MICS), survei pemerintah provinsi bersama UNICEF pada 2017-2018 dan 2018-2019. Dari tiap blok pencacahan dipilih 20 rumah tangga, dengan data dari 5.938 blok. Dari 158 distrik di empat provinsi dan FATA, 130 distrik dipakai.
Angka kematian ibu tiap distrik dihitung Khan dan rekan dengan metode saudara perempuan yang dianjurkan WHO. Responden ditanya berapa saudara perempuan seibu yang pernah menikah, berapa yang masih hidup, dan berapa yang meninggal saat hamil, saat melahirkan, atau dalam 42 hari setelah kehamilan berakhir. Hasilnya dinyatakan per 100.000 kelahiran hidup.
Sheikh dan rekan mengakui metode ini punya dua kelemahan. Responden bisa keliru mengingat peristiwa yang terjadi bertahun-tahun lalu, dan angkanya merupakan perkiraan tidak langsung, bukan hitungan nyata kematian ibu. Mereka tetap memakainya karena data MICS memang dikumpulkan UNICEF dengan cara itu. Makalah Sheikh juga mencatat angka nasional sebagai latar. Pakistan melaporkan 186 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup pada 2023, naik 32 persen dari 140 pada 2017, menurut sumber yang dirujuk para penulis.
Peta yang Memisahkan Punjab dari Barat Laut
Dari peta Khan, pola besarnya terbaca jelas. Peta itu membagi distrik ke dalam lima golongan, dari terendah sampai tertinggi. Distrik di Punjab umumnya berangka lebih rendah dan terendah, sedangkan KP dan FATA membentuk gugus angka lebih tinggi dan tertinggi. Sindh dan Baluchistan lebih bercampur: distrik di ujung atas dan bawah Sindh berangka lebih tinggi, sementara distrik di tengahnya rendah atau terendah.
Sheikh dan rekan lalu mengukur seberapa mirip angka satu distrik dengan tetangganya. Indeks Moran global menunjukkan sekitar 26 persen korelasi spasial antara distrik dan distrik di sekitarnya, dengan z-skor 6,84 dan nilai p di bawah 0,01. Menurut Sheikh dan rekan, kematian ibu di distrik-distrik itu terkait secara spasial dengan distrik di sekitarnya sebesar 26 persen.
Analisis lokal yang dikerjakan Khan memperjelas letaknya. Gugus panas, yakni distrik berangka tinggi yang dikelilingi distrik berangka tinggi, berada di distrik bagian atas KP dan Baluchistan. Gugus dingin yang lebih luas, distrik berangka rendah dikelilingi distrik berangka rendah, terletak di Punjab dan sedikit di Sindh. Ada juga distrik yang menyimpang dari tetangganya. Menurut Sheikh dan rekan, beberapa distrik di Punjab dan Sindh berangka tinggi tetapi dikelilingi distrik berangka rendah. Sebaliknya, ada distrik di Baluchistan, KP, dan FATA yang berangka rendah di tengah tetangga berangka tinggi.
Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Persalinan oleh Kerabat Paling Menonjol
Untuk menguji faktor sosial budaya, Sheikh dan rekan memakai Spatial Durbin Model yang memisahkan efek di distrik sendiri dari efek limpahan dari distrik tetangga. Ada sepuluh faktor yang diuji. Model ini menjelaskan sekitar 47 persen keragaman angka kematian ibu antardistrik.
Angka terbesar datang dari persalinan yang dibantu teman atau kerabat. Dalam definisi Sheikh dan rekan, penolongnya punya pengalaman membantu kelahiran tetapi tidak bersertifikat dari lembaga mana pun. Setiap kenaikan 1 persen ibu yang bersalin dengan cara ini berkaitan dengan naiknya angka kematian ibu 0,157 unit secara total. Metode persalinan tradisional mengikuti dengan efek total 0,036 unit. Menurut tabel definisi Sheikh, persalinan disebut tradisional bila ditolong perempuan tua yang tidak punya sertifikasi resmi dari lembaga kesehatan yang diakui. Kerentanan kemiskinan multidimensi juga berkaitan positif, dengan efek total 0,037 unit.
Dua faktor bergerak ke arah sebaliknya. Kenaikan 1 persen rumah tangga dengan ibu berpendidikan dasar berkaitan dengan turunnya angka kematian ibu 0,049 unit, menurut Sheikh dan rekan. Pemeriksaan kehamilan pertama oleh dokter atau tenaga kesehatan pada bulan keempat kehamilan berkaitan dengan turunnya angka itu 0,019 unit.
Empat faktor lain tidak menunjukkan hubungan bermakna dalam model ini, yakni kuintil kekayaan termiskin, pendidikan kepala rumah tangga, pernikahan dini, dan ketidakmauan istri untuk hamil, menurut tabel Sheikh dan rekan.
Ketika Distrik Tetangga Ikut Terbawa
Sheikh dan rekan menemukan koefisien lag spasial sebesar 0,31. Menurut mereka, angka kematian ibu di distrik tetangga berhubungan bermakna dengan angka di distrik sendiri, dan temuan itu menjadi alasan efek limpahan dimasukkan ke dalam model. Efek limpahan itu bermakna untuk lima faktor. Pada persalinan oleh teman atau kerabat, efek di distrik sendiri 0,143 unit dan limpahan dari tetangga 0,014 unit. Pada kemiskinan multidimensi, efek langsungnya 0,034 dan limpahannya 0,004, sedangkan pada metode persalinan tradisional 0,031 dan 0,005, menurut tabel Sheikh dan rekan.
Pola serupa terlihat pada pendidikan ibu, dengan efek langsung negatif 0,041 dan limpahan negatif 0,008. Pemeriksaan kehamilan pertama punya efek langsung negatif 0,016 dan limpahan negatif 0,003, kata Sheikh dan rekan.
Baca juga Kematian Ibu Purwakarta: 22 dari 24 Jarang Bertemu Dokter
Ukuran yang Berubah dari Distrik ke Distrik
Khan lalu memetakan kekuatan tiap hubungan per distrik dengan multiscale geographically weighted regression, regresi yang memberi tiap distrik koefisiennya sendiri. Dengan cara ini, faktor-faktor yang diuji menjelaskan 56 persen keragaman angka kematian ibu, lebih tinggi daripada 42 persen pada regresi biasa.
Pada kemiskinan multidimensi, koefisien yang dihitung Khan dan rekan berkisar 0,127 sampai 0,193 unit. Kepekaannya paling tinggi di distrik barat-tengah, terutama di Baluchistan, KP, dan FATA. Gugus distrik dengan koefisien rendah terlihat di selatan. Pendidikan ibu menunjukkan koefisien negatif 0,220 sampai 0,328. Menurut Sheikh dan rekan, kepekaan tertinggi, negatif 0,307 sampai 0,328, berada di bagian barat yang mencakup distrik Baluchistan. Kepekaan terendah, negatif 0,220 sampai 0,236, ada di distrik bagian atas, terutama KP dan sebagian Punjab. Di distrik utara itu faktor ini tidak bermakna.
Dua faktor persalinan berbeda pola. Metode tradisional berkisar 0,017 sampai 0,293 unit, dan menurut Khan hanya bermakna di distrik utara yang paling peka di KP dan Punjab. Persalinan oleh teman atau kerabat bermakna di seluruh distrik, paling peka di selatan dan timur, yakni Sindh dan Punjab, dengan koefisien 0,415 sampai 0,445.
Pemeriksaan kehamilan pertama memberi koefisien negatif 0,133 sampai 0,185, dengan koefisien tertinggi di distrik perbatasan utara dan barat-selatan, menurut peta Khan. Koefisien terendah mengelompok di distrik tengah dan selatan, sebagian besar di Punjab lalu Sindh, dan faktor ini bermakna di semua distrik kecuali beberapa distrik di Sindh dan Punjab.
Baca juga Usia Kehamilan Terkait Anemia Ibu Hamil di Puskesmas Prambanan
Saran untuk Bidan, Desa, dan Batas Data
“Mendahulukan distrik yang sangat peka dapat menurunkan kematian ibu secara bermakna dengan menangani metode persalinan yang lebih maju, mendorong pemberdayaan dan otonomi ibu, meningkatkan pendidikan, dan memperbaiki keadaan keuangan keluarga miskin multidimensi, terutama di distrik-distrik Baluchistan,” tulis Sheikh dan rekan, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Mereka meminta intervensi didahulukan di wilayah berisiko tinggi di KP dan Baluchistan. Sheikh dan rekan juga menyarankan perluasan perlindungan sosial berupa insentif keuangan, dukungan gizi, dan bantuan tunai, serta pendidikan kesehatan ibu lewat program keaksaraan nonformal yang dibawakan bidan komunitas dan Lady Health Visitor.
“Untuk mengurangi ketergantungan pada pendamping persalinan tradisional, pemerintah perlu menambah penempatan bidan terlatih serta menyelenggarakan sertifikasi atau pelatihan ulang bagi pendamping tradisional,” tulis Sheikh dan rekan. Kampanye lewat radio lokal dan komite desa, unit pemeriksaan kehamilan keliling, serta melibatkan pemuka agama, tetua, dan guru juga mereka usulkan.
Khan dan rekan mencatat batas kajian mereka. Faktor agama tidak dapat dimasukkan karena sebagian besar responden enggan memberi keterangan soal agama dan data MICS tidak memuat cukup keterangan tentang agama. Analisis juga berhenti di tingkat distrik karena tidak ada koordinat untuk rumah tangga, desa, atau union council. Sebagian distrik pun terpaksa dikeluarkan, kata Sheikh dan rekan, karena keterangannya tidak cukup atau keamanannya tidak memungkinkan. Para penulis menyarankan kajian berikutnya memasukkan faktor agama dan memakai data ruang yang lebih rinci agar ketimpangan di dalam distrik dapat ditangkap.















