- Penelitian Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya memakai data tahunan enam negara D-8 dari 1997 hingga 2024.
- Utang luar negeri berpengaruh positif seketika terhadap pertumbuhan ekonomi dengan koefisien 0,021.
- Investasi asing langsung baru berpengaruh positif pada jeda dua periode dengan koefisien 0,207.
- Sekitar 34,66 persen ketidakseimbangan disesuaikan dalam satu periode, kecepatan yang disebut moderat.
Daftar Isi
Utang dari kreditor asing dan modal yang ditanam investor dari luar negeri sama-sama mengalirkan dana ke dalam sebuah perekonomian, tetapi di enam negara anggota Developing-8 atau D-8, kelompok delapan negara berkembang yang dibentuk untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan pembangunan, keduanya bekerja dengan jam yang berbeda. Utang luar negeri berhubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama, sedangkan investasi asing langsung baru menunjukkan pengaruh positif setelah jeda dua periode.
Perbandingan itu berasal dari penelitian Robert Larson Nehe dan Yohanes Berchman Suhartoko dari Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta. Hasilnya terbit dengan judul Macroeconomic Determinants of Economic Growth in Developing-8 Countries: Panel Cross-Sectionally Augmented ARDL di Signifikan: Jurnal Ilmu Ekonomi volume 15 nomor 2 tahun 2026.
Keduanya memakai data tahunan Bank Dunia dari 1997 hingga 2024 untuk Bangladesh, Mesir, Indonesia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Lima hal diuji sekaligus terhadap pertumbuhan ekonomi, yaitu utang luar negeri, nilai tukar, investasi asing langsung, inflasi, dan neraca perdagangan, masing-masing dibaca untuk pengaruh seketika dan pengaruh yang tertunda.
Dua Aliran Dana, Dua Waktu yang Berbeda
D-8 beranggotakan Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki, dan dibentuk untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan pembangunan. Namun, menurut kedua peneliti, kinerja pertumbuhan para anggotanya sangat beragam. Bangladesh mencatat pertumbuhan yang relatif stabil, sedangkan Turki mengalami gejolak yang lebih besar.
Mesir dan Indonesia tumbuh sedang tetapi tangguh, sementara Nigeria dan Pakistan berulang kali mengalami naik turun ekonomi. Pertumbuhan tetap menjadi tujuan kebijakan utama di negara-negara itu, karena penting untuk menjawab tantangan struktural dan memperkuat ketahanan ekonomi. Tantangan itu, tulis Nehe dan Suhartoko, makin tampak pada masa ketidakstabilan keuangan, gejolak harga komoditas, dan pandemi COVID-19, yang memperlihatkan perbedaan daya tahan ekonomi antaranggota.
Di sisi lain, menurut kedua peneliti, bukti tentang negara D-8 sendiri masih terbatas. Kebanyakan penelitian terdahulu berfokus pada Afrika Sub-Sahara, ASEAN, atau Amerika Latin, dan kerap menguji utang, investasi asing, inflasi, nilai tukar, serta perdagangan secara terpisah. Penelitian ini menempatkan kelimanya dalam satu kerangka, sambil memperhitungkan bahwa negara-negara itu saling terkait dan punya struktur ekonomi yang berbeda.
Enam Negara dan Pertumbuhan yang Naik Turun
Dalam data 1997 hingga 2024, pertumbuhan ekonomi tahunan keenam negara rata-rata 4,60 persen, dengan nilai tengah 5,02 persen. Titik terendahnya minus 13,13 persen dan titik tertingginya 15,33 persen, dengan simpangan baku 3,02. Dua negara anggota lainnya tidak diikutkan karena data satu variabel atau lebih tidak lengkap selama periode penelitian.
Inflasi, yang diukur lewat deflator PDB tahunan, rata-rata 13,56 persen dengan nilai tengah 8,18 persen. Angka tertingginya mencapai 143,64 persen, sementara yang terendah minus 0,40 persen. Neraca perdagangan juga beragam, dengan rata-rata minus 7,52 dan nilai yang membentang dari minus 68,87 sampai 42,72, yang menurut kedua peneliti memperlihatkan variasi besar kinerja perdagangan.
Baca juga Kinerja Pertumbuhan Ekonomi Bali Berbalik Arah Usai Pandemi
Keenam negara itu juga tidak tumbuh sendiri-sendiri. Tiga uji keterkaitan antarnegara menunjukkan adanya saling ketergantungan di antara mereka, dan dalam hasil model, rata-rata pertumbuhan lintas negara berkoefisien positif 1,004. Menurut kedua peneliti, itu menandakan ada faktor bersama yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi di seluruh negara tersebut.
Utang Luar Negeri, Terasa Sekarang dan Menekan Kemudian
Dalam model dampak langsung, utang luar negeri berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan koefisien 0,021 yang signifikan secara statistik. Hasil serupa muncul pada model koreksi kesalahan, yang memisahkan gerak jangka pendek dari keseimbangan jangka panjang, dengan perubahan utang luar negeri berkoefisien positif 0,049 dalam jangka pendek.
Kedua peneliti menjelaskan bahwa pinjaman luar negeri menyokong ekspansi ekonomi dengan menyediakan dana tambahan bagi infrastruktur, investasi publik, dan kegiatan produktif lainnya. Di negara berkembang yang tabungan domestiknya terbatas, menurut mereka, utang luar negeri dapat menutup celah pembiayaan dan mendorong permintaan agregat.
Namun, gambarnya berubah satu periode kemudian. Utang luar negeri pada periode sebelumnya berkoefisien negatif, minus 0,018, yang signifikan pada taraf 10 persen, sehingga menurut kedua peneliti utang yang lebih tinggi pada periode lalu mungkin sedikit menurunkan pertumbuhan periode berjalan. Pada jeda dua periode, pengaruh utang tidak lagi signifikan.
Temuan positif itu berbeda dari sejumlah penelitian lain yang mencatat hubungan negatif, dan menurut kedua peneliti, sebabnya mungkin karena penelitian itu lebih banyak melihat akibat jangka panjang penumpukan utang. “Walaupun utang luar negeri dapat memberi manfaat pertumbuhan jangka pendek lewat bertambahnya investasi dan belanja, penumpukan utang yang berlebihan pada akhirnya dapat menurunkan pertumbuhan karena membebankan kewajiban pembayaran utang yang lebih tinggi dan keterbatasan fiskal, sebagaimana diramalkan Teori Debt Overhang,” tulis Nehe dan Suhartoko dalam bahasa Inggris, yang di sini diterjemahkan.
Investasi Asing, Diam Dulu dan Bergerak Belakangan
Di sisi lain, investasi asing langsung bergerak dengan pola yang hampir berkebalikan. Dalam model dampak langsung, koefisiennya negatif, minus 0,019, tetapi tidak signifikan secara statistik, sehingga kedua peneliti menyimpulkan tidak ada pengaruh seketika terhadap pertumbuhan ekonomi. Pada jeda satu periode pun pengaruhnya belum signifikan.
Baru pada jeda dua periode investasi asing berpengaruh positif, dengan koefisien 0,207 yang signifikan pada taraf 1 persen. Model koreksi kesalahan memperlihatkan arah serupa, karena perubahan investasi asing satu periode sebelumnya berpengaruh positif dengan koefisien 0,239. Menurut kedua peneliti, manfaat investasi asing memang tertunda dan baru terwujud seiring waktu.
Penjelasan mereka berpijak pada apa yang dikerjakan perusahaan asing setelah masuk. Manfaat itu muncul bertahap, tulis mereka, ketika perusahaan asing mulai beroperasi, mengalihkan teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, dan menghasilkan limpahan produktivitas. Beda dengan penelitian yang menemukan hubungan positif langsung mungkin dijelaskan oleh daya serap, mutu kelembagaan, pembangunan infrastruktur, dan waktu yang dibutuhkan proyek investasi untuk mulai berjalan.
Bagi kedua peneliti, kesimpulan dari sisi ini cukup jelas. “Temuan ini menunjukkan bahwa FDI berkontribusi lebih efektif terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang daripada terhadap ekspansi ekonomi jangka pendek,” tulis mereka, dengan FDI sebagai singkatan bahasa Inggris untuk investasi asing langsung.
Baca juga Investasi Asing Menambah Tenaga Kerja Hanya di Sumatra
Nilai Tukar dan Inflasi, Dua Arah yang Berbalik
Nilai tukar, yang diukur sebagai jumlah mata uang lokal per dolar AS, berpengaruh positif seketika dengan koefisien 0,140. Menurut kedua peneliti, pelemahan nilai tukar meningkatkan daya saing ekspor karena harga relatif barang dalam negeri menjadi lebih murah, sehingga permintaan ekspor, produksi, dan kegiatan ekonomi bertambah.
Pada jeda dua periode, arahnya berbalik menjadi negatif, minus 0,189, dan signifikan pada taraf 1 persen. Kedua peneliti membaca pembalikan ini sebagai tanda bahwa gejolak nilai tukar yang berkepanjangan menimbulkan ketidakpastian, menaikkan biaya impor dan produksi, serta menyurutkan investasi. Pelemahan mata uang bisa mendorong pertumbuhan pada awalnya, tetapi ketidakstabilan yang terus berlangsung dapat menggerus kinerja ekonomi.
Inflasi menempuh jalan sebaliknya. Pengaruh seketikanya negatif, minus 0,047, karena menurut kedua peneliti kenaikan harga menekan daya beli, menaikkan biaya produksi, menimbulkan ketidakpastian, dan menyurutkan investasi swasta. Pada jeda dua periode, koefisiennya justru positif, 0,042, dan signifikan pada taraf 5 persen.
Hasil kedua itu, tulis mereka, mendukung pendapat bahwa inflasi yang moderat dapat mencerminkan permintaan agregat yang lebih kuat dan kegiatan ekonomi yang meluas. Karena itu, hubungan inflasi dan pertumbuhan menurut mereka mungkin tidak lurus, sebab inflasi rendah atau moderat dapat menyertai ekspansi ekonomi, sedangkan inflasi berlebihan merugikan kinerja ekonomi.
Neraca Dagang dan Jalan Kembali ke Keseimbangan
Neraca perdagangan berpola mirip inflasi. Pengaruh seketikanya negatif, minus 0,063, lalu menjadi positif pada jeda satu periode dengan koefisien 0,053, dan pada jeda dua periode dengan koefisien 0,032 yang signifikan pada taraf 10 persen. Menurut kedua peneliti, pengaruh negatif di awal mungkin mencerminkan ketimpangan struktural perdagangan, ketergantungan pada barang setengah jadi impor, dan guncangan eksternal terhadap produksi dalam negeri.
Pengaruh positif yang menyusul, tulis mereka, menunjukkan bahwa perbaikan kinerja dagang pada akhirnya mendorong pertumbuhan lewat pendapatan ekspor, bertambahnya cadangan devisa, alih teknologi, dan kenaikan produktivitas. Manfaat perdagangan bagi pertumbuhan, menurut keduanya, butuh waktu untuk terwujud melalui investasi, penyesuaian produksi, dan perluasan ekspor.
Baca juga Emisi Asia Naik Bersama Ekonomi, Pendorongnya Beda Tiap Tahap
Kelima jalur itu bertemu pada satu ukuran keseimbangan. Koefisien koreksi kesalahan bernilai minus 0,347 dan sangat signifikan, yang menurut kedua peneliti menegaskan adanya hubungan keseimbangan jangka panjang yang stabil. Sekitar 34,66 persen ketidakseimbangan disesuaikan dalam satu periode, kecepatan yang mereka sebut moderat.
Cakupan penelitian ini adalah enam dari delapan anggota D-8 dengan data tahunan 1997 hingga 2024. Dua anggota lainnya dikeluarkan karena, menurut kedua peneliti, data yang tidak lengkap dapat membuat panel tidak seimbang dan mengurangi keandalan hasil estimasi.
Dari temuan itu, kedua peneliti menyarankan pembuat kebijakan di negara D-8 membatasi pinjaman luar negeri yang berlebihan dan mengarahkan belanja yang dibiayai utang ke sektor produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan teknologi. Otoritas moneter disarankan menjaga nilai tukar yang stabil dan dapat diperkirakan, serta menempuh kebijakan moneter yang agak ketat ketika tekanan inflasi menguat.
Pemerintah juga disarankan menarik investasi asing yang padat teknologi dan berorientasi ekspor, memperluas ragam ekspor, serta memperbaiki infrastruktur perdagangan dan iklim usaha. Dalam simpulannya, kedua peneliti mencatat bahwa utang luar negeri dan nilai tukar mungkin menghambat pertumbuhan pada periode berikutnya, sedangkan investasi asing tidak berpengaruh signifikan dalam jangka pendek tetapi berkontribusi positif dalam jangka panjang.














