Murid SD Portugal Sering Cuci Tangan, Tak Selalu Saat Masuk Kelas

A A

Ilustrasi tangan orang dewasa membasuh tangan anak di bawah air keran wastafel [Foto: Pexels]

  • Sebanyak 91,3 persen anak mengaku mencuci tangan sesudah memakai kamar mandi di sekolah.
  • Hanya 33,7 persen anak selalu mencuci tangan sebelum masuk kelas, dan 23,9 persen tidak mencuci tangan.
  • Sebanyak 89,2 persen anak menyebut orang tua sebagai pihak yang mengajari mereka mencuci tangan.
  • Alasan paling sering adalah tangan menjadi kotor, ditulis 45 anak, disusul mikroorganisme penyebab penyakit oleh 31 anak.
Daftar Isi
  1. Momen Kritis di Sekolah: Toilet Dulu, Pintu Kelas Belakangan
  2. Momen Kritis di Rumah: Sabun dan Air Hampir Selalu
  3. Mandiri, Artinya Tak Perlu Dibantu dan Diingatkan
  4. Kuman Tak Kasatmata: Kotor yang Tak Kelihatan
  5. Kontaminasi Silang: Kuman yang Berpindah lewat Tangan
  6. Pandemi sebagai Pemicu: Dugaan yang Belum Bisa Dibuktikan

Sesudah dari kamar mandi, sebelum makan, dan sesudah bermain: tiga saat itu disebut momen kritis untuk mencuci tangan dalam sebuah studi di Portugal. Di sebuah sekolah dasar di Portugal utara, murid berusia 8 sampai 10 tahun ternyata sering mencuci tangan pada momen-momen kritis itu, umumnya dengan sabun dan air dan tanpa bantuan.

Temuan itu dilaporkan Anabela Fonseca Pereira dari Higher School of Health, Portuguese Red Cross Alto Tâmega di Chaves, Portugal, dan rekan dalam artikel Hand hygiene practices: knowledge and habits of children aged 8–10 years. Artikel itu terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Rekan-rekan penulisnya berasal dari lembaga yang sama serta dari dua rumah sakit di Spanyol, di Barco de Valdeorras dan Ourense.

Kuesioner dibagikan pada April 2025 kepada murid di lima kelas sekolah itu. Dari 120 lembar yang diedarkan, 92 kembali dalam keadaan sah, terdiri atas 50 anak perempuan dan 42 anak laki-laki. Kelompok usia terbesar adalah anak sembilan tahun, yakni 50 anak atau 54,3 persen.

Momen Kritis di Sekolah: Toilet Dulu, Pintu Kelas Belakangan

Di sekolah, kamar mandi menjadi salah satu momen itu. Sebanyak 91,3 persen anak, atau 84 dari 92, mengaku mencuci tangan sesudah memakai kamar mandi. Lima anak hanya kadang-kadang melakukannya, dan tiga anak tidak mencuci tangan. Untuk saat sesudah bermain, yang ditanyakan sedikit berbeda. Pertanyaannya bukan apakah anak mencuci tangan, melainkan apakah mereka merasa tangan perlu dicuci sesudah bermain. Sebanyak 92,4 persen atau 85 anak menjawab perlu, sedangkan tujuh anak menganggap tidak perlu.

Lalu jam makan di sekolah. Sebelum makan, 65,2 persen anak mencuci tangan, 27,2 persen melakukannya kadang-kadang, dan 7,6 persen tidak. Sesudah makan, 58,7 persen mencuci tangan dan 41,3 persen hanya kadang-kadang.

Sebelum masuk kelas, hanya 33,7 persen anak selalu mencuci tangan sebelum masuk kelas, 42,4 persen kadang-kadang, dan 23,9 persen tidak mencuci tangan. Para penulis menandai saat masuk kelas sesudah jam istirahat sebagai momen kritis yang bisa menjadi dasar intervensi dengan cara visual untuk mengingatkan anak mencuci tangan.

Usia dan jenis kelamin tidak membedakan sebagian besar kebiasaan di sekolah. Uji statistik hanya menemukan hubungan pada dua kebiasaan. Yang pertama menyangkut bermain: anak sembilan tahun paling banyak menganggap tangan perlu dicuci sesudah bermain, dan anak perempuan lebih patuh dalam hal itu dibanding anak laki-laki.

Kebiasaan kedua adalah mencuci tangan sebelum masuk kelas. Anak yang lebih muda lebih patuh, dan kepatuhan menurun seiring bertambahnya usia. Para penulis menduga pola ini berkaitan dengan berkurangnya pengawasan langsung dan bertambahnya kemandirian, tetapi mereka menuliskannya sebagai kemungkinan. Besar hubungan itu digolongkan kecil sampai sedang.

Baca juga Cuci Tangan di Panti Asuhan: Skor Awal Paling Rendah

Momen Kritis di Rumah: Sabun dan Air Hampir Selalu

Di rumah, pertanyaan soal kamar mandi diulang. Sebanyak 90,2 persen anak atau 83 orang mengaku mencuci tangan sesudah dari kamar mandi, dan 9,8 persen melakukannya kadang-kadang. Sebelum makan di rumah, 77,2 persen anak selalu mencuci tangan, 18,5 persen kadang-kadang, dan 4,3 persen tidak. Pulang sekolah adalah momen lain yang ditanyakan khusus untuk rumah. Sebanyak 60,9 persen anak selalu mencuci tangan setibanya di rumah, 30,4 persen kadang-kadang, dan 8,7 persen tidak.

Empat kebiasaan cuci tangan, di sekolah dan di rumahCuci tangan sesudah dari kamar mandi: Di sekolah 91,3%, Di rumah 90,2%; Cuci tangan sebelum makan: Di sekolah 65,2%, Di rumah 77,2%; Memakai sabun dan air: Di sekolah 84,8%, Di rumah 95,7%; Tidak perlu diingatkan: Di sekolah 81,5%, Di rumah 63,0%.Empat kebiasaan cuci tangan, di sekolah dandi rumahPersen dari 92 murid usia 8-10 tahun, satu SD di Portugalutara, April 2025 (Gambar 1 dan 2)Di sekolahDi rumah0%25%50%75%100%91,3%90,2%Cuci tangansesudah darikamar mandi65,2%77,2%Cuci tangansebelummakan84,8%95,7%Memakaisabun dan air81,5%63,0%Tidak perludiingatkanSebelum makan di rumah: jawaban selalu
Sumber: Anabela Fonseca Pereira dan rekan, Hand hygiene practices: knowledge and habits of children aged 8–10 years, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Sabun dan air paling banyak dipakai. Di rumah, 95,7 persen anak memakai sabun dan air, sementara cairan pembersih tangan atau hand sanitizer dan air saja masing-masing dipilih 2,2 persen. Di sekolah, sabun dan air dipakai 84,8 persen anak, dan 15,2 persen hanya memakai air.

Para penulis mencatat bahwa anak-anak dalam studi ini menyebut sabun dan air sebagai cara paling efektif membersihkan tangan, sejalan dengan riset sebelumnya. Sebanyak 83,7 persen anak, atau 77 orang, juga mengaku cara mereka mencuci tangan sama saja di rumah dan di sekolah.

Mandiri, Artinya Tak Perlu Dibantu dan Diingatkan

Mandiri dalam paper ini punya dua arti. Arti pertama, anak mencuci tangan sendiri tanpa bantuan: di sekolah, 97,8 persen atau 90 anak menjawab begitu, dan hanya dua anak yang mengaku butuh bantuan guru. Arti kedua, anak tidak perlu diingatkan untuk mencuci tangan.

Bedanya begini: di sekolah, 81,5 persen anak menyatakan tidak perlu diingatkan untuk mencuci tangan, dan 18,5 persen menyatakan perlu. Di rumah, pilihan jawabannya tiga. Yang tidak perlu diingatkan 63,0 persen, yang kadang-kadang perlu 33,7 persen, dan yang perlu diingatkan 3,3 persen.

Lalu siapa yang mengajari mereka? Sebanyak 89,2 persen anak atau 82 orang menyebut orang tua. Guru di sekolah disebut enam anak atau 6,5 persen, dan perawat sekolah oleh empat anak atau 4,3 persen. Menurut para penulis, keluarga adalah teladan utama dan penentu dalam memantapkan kebiasaan ini.

Di bagian implikasi bagi praktik, para penulis juga menegaskan bahwa orang tua adalah teladan penting, sementara perawat perlu berperan sebagai pendidik kesehatan. “Kebersihan tangan bukanlah tindakan teknis, melainkan investasi pendidikan yang terstruktur, yang ikut membangun kompetensi kesehatan yang penting sepanjang masa kanak-kanak,” tulis Anabela Fonseca Pereira dan rekan, sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Baca juga Bangku Kosong di SD Belanda Jadi Penanda Musim Infeksi Napas

Kuman Tak Kasatmata: Kotor yang Tak Kelihatan

Dua pertanyaan terbuka meminta anak menuliskan alasan mereka mencuci tangan sesudah dari kamar mandi. Jawaban mereka dikelompokkan ke dalam delapan kategori yang namanya diambil dari kata-kata anak sendiri. Alasan paling sering adalah yang paling sederhana: 45 anak menulis bahwa tangan menjadi kotor.

Seorang anak, misalnya, menulis bahwa tangannya kotor ketika ia membersihkan diri sesudah buang air. Anak lain menulis singkat bahwa ia tidak suka tangannya kotor. Menurut para penulis, jawaban seperti ini menunjukkan pemahaman bahwa kebiasaan bersih ikut membangun kemampuan dasar merawat diri.

Kategori berikutnya menyangkut sesuatu yang tak terlihat. Sebanyak 31 anak memahami bahwa mencuci tangan menghilangkan mikroorganisme penyebab penyakit, meskipun mikroorganisme itu tidak tampak oleh mata telanjang. Dalam jawaban anak, kata yang muncul adalah mikroba, kuman, dan bakteri, misalnya mencuci tangan untuk membunuh mikroba.

Tujuh belas anak menghubungkan cuci tangan dengan penyakit. Ada yang menulis bahwa ia bisa sakit bila tidak mencuci tangan, ada pula yang menyebut sakit perut bila makan tanpa mencuci tangan lebih dulu. Menurut para penulis, sejak usia dini anak-anak ini mulai memadukan gagasan dasar tentang kesehatan dan perlindungan diri.

Tangan kotor jadi alasan yang paling sering ditulis anakTangan kotor 45; Mikroorganisme 31; Munculnya penyakit 17; Kontak tinja atau urine 15; Lingkungan terkontaminasi 12; Cemaran makanan, benda 7; Penularan ke orang lain 5.Tangan kotor jadi alasan yang paling seringditulis anakJumlah anak yang menyebut tiap kategori alasan mencucitangan sesudah dari kamar mandi01020304050Tangan kotor45Mikroorganisme31Munculnya penyakit17Kontak tinja atau urine15Lingkungan terkontaminasi12Cemaran makanan, benda7Penularan ke orang lain5Kategori disusun dari jawaban terbuka 92 anak
Sumber: Anabela Fonseca Pereira dan rekan, Hand hygiene practices: knowledge and habits of children aged 8–10 years, BMC Public Health, 2026. Grafik: Cekricek.id

Kontaminasi Silang: Kuman yang Berpindah lewat Tangan

Kontaminasi silang, yakni kuman yang berpindah ke orang, benda, atau permukaan lewat sentuhan, juga dikenali anak-anak. Lima belas anak menyebut air seni atau tinja yang bisa menempel di tangan sesudah buang air. Dua belas anak menyebut kamar mandi sebagai tempat yang penuh bakteri; salah satunya menyebut kloset dan keran.

Tujuh anak menyadari bahwa tangan bisa mengotori makanan dan benda. Salah satunya menulis bahwa tangan yang tidak dicuci akan mengotori buku tulis dan lembar kerjanya. Lima anak lain memikirkan teman sekelas, misalnya agar tidak menularkan penyakit kepada kawan-kawannya.

Lalu mengapa sebagian anak tidak selalu mencuci tangan? Dari 17 anak yang mengaku tidak selalu melakukannya, alasan paling umum adalah lupa. Beberapa menulis bahwa mereka lupa atau ingin segera bermain. Para penulis menilai hal ini bukan karena anak tidak paham pentingnya cuci tangan, melainkan karena perhatian yang lepas, hal yang khas pada usia itu.

Baca juga Pedagang Makanan Jalanan Pune: 68,8 Persen Tak Patuh Higiene

Dari seluruh jawaban itu, para penulis menyimpulkan bahwa anak-anak memandang cuci tangan sebagai pencegah penyakit. Dengan membuang kuman yang terlihat maupun tidak, rantai penularan ke benda, makanan, dan orang lain terputus. Mereka juga menyarankan pengingat visual dan rutinitas yang ajek agar cuci tangan menjadi kebiasaan otomatis.

Pandemi sebagai Pemicu: Dugaan yang Belum Bisa Dibuktikan

Para penulis menduga pandemi COVID-19 ikut mempercepat tertanamnya kebiasaan ini. Di Portugal, kembalinya sekolah tatap muka pada 2020 dan 2021 diwarnai protokol kesehatan nasional yang ketat, ditambah rutinitas cuci tangan yang diawasi. Langkah-langkah yang mencolok itu, tulis mereka, kemungkinan menjadi pemicu tertanamnya pengetahuan tentang kebersihan.

Di sini dugaan itu punya batas yang jelas. Para penulis mengakui tidak ada data dasar dari masa sebelum pandemi, sehingga hubungan sebab-akibat antara langkah-langkah selama COVID-19 dan kebiasaan anak sekarang tidak bisa ditetapkan. Yang mereka tulis hanyalah bahwa bertahannya kebiasaan ini setelah pandemi menunjukkan sosialisasi kebersihan selama krisis mungkin berhasil menjadikannya kenormalan baru.

Keterbatasan lain juga dicatat. Jumlah sampelnya relatif kecil, sehingga temuan ini terbatas untuk digeneralisasi ke murid sekolah dasar secara umum. Para penulis menyarankan penelitian berikutnya melibatkan lebih banyak anak dan sekolah, menguji pola ini di berbagai wilayah, serta menambahkan sudut pandang orang tua.

Dalam simpulannya, para penulis menyebut sekolah sebagai tempat kunci promosi kesehatan, dengan rutinitas yang diawasi dan sarana yang memadai. Mereka menganjurkan intervensi berlapis yang terus diperkuat, dibangun di atas kerja sama keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan, agar kebiasaan mencegah penyakit ini bertahan sampai dewasa.

Bagikan

Baca Juga

Kematian Ibu di Pakistan Tinggi Seiring Persalinan oleh Kerabat
Siswa Afghanistan Paling Kesepian di Tiga Negara Asia Selatan
Warga Tokha Buang Obat dan Produk Perawatan Kedaluwarsa ke Sampah
Asap Rokok Lebih Terkait Asma Anak Perempuan dan di Bawah 9 Tahun
Hampir Sepertiga Mahasiswa Bangladesh Tak Habiskan Antibiotik
Separuh Lebih Tukang Bengkel di Sunyani, Ghana, Didera Nyeri Otot