- Dari 424 rumah tangga yang disurvei di Divisi Industri Mbale, 156 atau 36,8 persen mencatat diare dalam dua pekan.
- Rumah tangga yang berjarak lebih dari 1 km dari titik pengumpulan sampah memiliki rasio odds disesuaikan 2,72 untuk diare.
- Di antara rumah tangga yang membuang secara tidak layak, 53,3 persen mencatat diare, dibanding 28,3 persen pada yang layak.
- Sebanyak 88,44 persen rumah tangga mengalami kekurangan air pada bulan sebelum survei, meski 89,15 persen memakai air ledeng.
Daftar Isi
Truk sampah yang tak kunjung lewat dan keran ledeng yang berhenti mengalir tampak tidak punya urusan satu sama lain. Di Divisi Industri, Kota Mbale, Uganda timur, ketiadaan layanan angkut sampah dan kekurangan air sama-sama tercatat berkaitan dengan diare di rumah tangga. Dari 424 rumah tangga yang disurvei, 156 atau 36,8 persen mencatat ada anggota keluarga yang terkena diare dalam dua pekan sebelum wawancara.
Gambaran itu berasal dari Charles Okolimong dan rekan dari Departemen Kesehatan Komunitas dan Kesehatan Masyarakat, Universitas Busitema, serta Departemen Riset, Mbale Clinical Research Institute. Hasilnya dimuat dengan judul Association of diarrheal disease with solid waste management practices and perceptions among residents of industrial division in Mbale City: a cross sectional study di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka menimbang hubungan antara cara warga memperlakukan sampah dan diare, hubungan yang menurut mereka masih minim bukti di Kota Mbale.
Survei berlangsung pada 1 hingga 29 Februari 2020 di empat wilayah Divisi Industri, yaitu Namatala, Malukhu, South Central, dan Masaba. Kepala rumah tangga berusia 18 tahun ke atas diwawancarai dengan kuesioner yang diterjemahkan ke bahasa Lumasaba, sementara suara warga dan petugas dihimpun lewat diskusi kelompok terarah serta wawancara informan kunci. Diare dihitung bila seorang anggota rumah tangga buang air lembek atau cair tiga kali atau lebih dalam 24 jam.
Kota Mbale terletak di kaki Gunung Elgon, sekitar 220 kilometer di timur Kampala dan dekat perbatasan Kenya. Air permukaan mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah, tempat sebagian besar permukiman berkumpul. Menurut paper itu, kota ini menghasilkan sekitar 124,5 ton sampah padat per hari, atau rata-rata 1,75 kilogram per orang per hari, sedangkan laporan kesehatan distrik 2018 mencatat sekitar 28.649 kasus gangguan pencernaan.
Air Ledeng yang Mengalir, Air Ledeng yang Terhenti
Rumah tangga yang ikut survei mencapai 424 dari 450 yang ditargetkan, atau 94,2 persen. Usia rata-rata responden 36,5 tahun, dan satu rumah tangga rata-rata dihuni 4,8 orang. Sebanyak 62,97 persen responden adalah perempuan, 45,99 persen tamat sekolah dasar, dan 46,23 persen bekerja di bidang usaha atau dagang.
Sebanyak 88,44 persen rumah tangga mengalami kekurangan air pada bulan sebelum survei, meski 89,15 persen memakai air ledeng sebagai sumber utama air minum. Saat air langka, rumah tangga beralih ke air permukaan sebanyak 34,93 persen dan air sumur sebanyak 24,27 persen.
Untuk sanitasi, cakupannya umumnya tinggi. Sebanyak 94,3 persen rumah tangga memiliki toilet, kebanyakan berupa jamban cemplung tradisional dengan porsi 46 persen. Namun, hanya 34,43 persen rumah tangga yang mengolah air minumnya, dan cara yang paling sering dipakai adalah merebus, yakni 59,2 persen, baik rutin maupun sesekali.
Kekurangan air itu ikut tercatat dalam tabel faktor yang berkaitan dengan diare. Di antara rumah tangga yang kekurangan air dalam sebulan terakhir, 41,1 persen mencatat diare. Pada rumah tangga yang tidak kekurangan air, angkanya 20,4 persen. Setelah disesuaikan dengan faktor perancu, rasio odds disesuaikan untuk kekurangan air tercatat 2,41, dengan nilai p 0,035.
Baca juga Diare Balita Banjir Ebonyi Nigeria dan Teka-teki Wadah Tertutup
Sampah yang Disimpan, Sampah yang Dibuang
Secara keseluruhan, 65 persen rumah tangga di Divisi Industri menunjukkan praktik pengelolaan sampah yang memuaskan, dan penyimpanan sampah tergolong baik di 62,5 persen rumah. Jenis sampah yang paling banyak dihasilkan adalah kertas, yakni 48,11 persen, disusul tekstil 19,58 persen. Bagian pembahasan paper itu mencatat hanya 38 persen rumah tangga yang memiliki wadah sampah.
Dari kebiasaan sehari-hari, sekitar sepertiga rumah tangga, tepatnya 31,6 persen, menyimpan sampah dengan menumpuknya di halaman, dan 56,37 persen menyatakan tidak punya akses ke layanan pengangkutan sampah. Cara buang yang paling umum adalah dibakar, sebanyak 62,97 persen, lalu dibuang ke lokasi terbuka, sebanyak 23,03 persen.
Untuk daur ulang, sebanyak 60,61 persen rumah tangga pernah mendengar tentang daur ulang, tetapi hanya 25,68 persen yang menjalankannya. Untuk sampah yang mudah terurai, kulit makanan dan daun mendominasi dengan 66,98 persen, dan cara mengurusnya terutama dengan dikubur, yakni 84,91 persen.
Wadah Tertutup dan Tumpukan di Halaman
Tabel kedua paper itu menyandingkan rumah tangga yang menyimpan sampah di wadah tertutup dengan yang tidak. Pada kelompok wadah tertutup, 24,0 persen mencatat diare. Pada kelompok wadah terbuka atau kantong plastik, angkanya 43,2 persen, sedangkan pada kelompok yang menumpuk sampah di halaman atau cara lain, 44,4 persen.
Setelah disesuaikan, rasio odds disesuaikan untuk wadah terbuka atau kantong plastik tercatat 2,14 dengan nilai p 0,047. Untuk tumpukan di halaman atau cara lain, rasionya 2,21 dengan nilai p 0,043. Kedua kelompok itu dibandingkan dengan acuan yang sama, yaitu rumah tangga yang memakai wadah tertutup.
Pasangan berikutnya adalah layanan pengangkutan. Di antara rumah tangga yang dilayani pengangkutan sampah, 28,6 persen mencatat diare. Di antara yang tidak dilayani, angkanya 46,4 persen. Rasio odds disesuaikan untuk ketiadaan layanan pengangkutan tercatat 2,03, dengan nilai p 0,008.
Titik Kumpul yang Dekat, Titik Kumpul yang Jauh
Rumah tangga yang berjarak lebih dari 1 km dari titik pengumpulan sampah memiliki rasio odds disesuaikan 2,72 untuk diare, dengan nilai p 0,001. Di antara mereka, 57,0 persen mencatat diare. Pada rumah tangga yang berjarak 1 km atau kurang, angkanya 30,7 persen.
Baris berikutnya membandingkan cara membuang sampah. Paper itu menggolongkan membakar, mengubur, dan menyerahkan ke pengangkut sebagai cara layak, sedangkan membuang di tempat terbuka, pinggir jalan, atau sungai sebagai cara tidak layak. Di antara rumah tangga yang membuang secara tidak layak, 53,3 persen mencatat diare, dibanding 28,3 persen pada yang membuang secara layak.
Rasio odds disesuaikan untuk cara buang tidak layak tercatat 2,47, dengan nilai p 0,001. Para penulis menyebut kekurangan air, penyimpanan sampah terbuka atau ditumpuk, ketiadaan layanan pengangkutan, jarak yang lebih jauh ke titik kumpul, dan pembuangan tidak layak sebagai faktor yang berkaitan secara mandiri dengan diare.
Dalam simpulan ringkasnya, para penulis juga menyebut sumber air yang tidak aman, ketiadaan toilet di rumah, dan ukuran rumah tangga yang lebih besar sebagai faktor risiko kunci. Bagian pembahasan mencatat bahwa Namatala, wilayah permukiman informal, membukukan angka tertinggi. Di antara warga yang terkena diare, 85,7 persen melaporkan buang air lebih dari tiga kali dalam 24 jam.
Baca juga Kantong Plastik Lira Uganda: Warga Tahu, tapi Tetap Salah Buang
Suara Warga dan Suara Petugas
Diskusi kelompok memperlihatkan cara menyimpan sampah yang sangat beragam. Di kawasan kota, warga memakai karung, kantong plastik, dan wadah, sementara di pinggiran sampah dikubur atau dibakar. Seorang peserta bercerita bahwa ia menggali lubang dan mengubur sampah saat musim hujan, lalu membakarnya saat musim panas.
Pengangkutan digambarkan tidak teratur dan tidak merata, walau truk dewan kota dan perusahaan swasta menjadi andalan utama. Seorang peserta mengaku tidak ingat kapan terakhir kali truk lewat di tempatnya. Peserta lain menyebut truk datang dua kali seminggu, tetapi kadang hanya sekali ketika truk rusak.
Soal biaya, warga sepakat bahwa pengangkutan sampah dibayar, dengan tarif berbeda menurut wilayah dan penghasilan. Seorang informan menyebut toko membayar 5.000 dan restoran 30.000 dengan prinsip pencemar membayar. Informan lain menyebut rumah tangga membayar 500 sampai 1.000 setiap kali sampahnya siap diangkut.
Di sisi petugas, alat pelindung diri disebut selalu tersedia, tetapi sebagian pekerja tidak memakainya karena tidak nyaman atau jumlahnya kurang. Pembuangan akhir masih didominasi pembuangan terbuka di lokasi Dokho, ditambah pembuangan ke sungai dan saluran air. Beberapa peserta mengaku membuang sampah ke Sungai Namatala dan ke saluran yang hanyut sampai ke lahan basah.
Keluhan yang muncul berulang adalah bau busuk, lalat dan tikus yang berkembang biak, luka akibat benda tajam, asap pembakaran, kerja sama warga yang rendah, dan truk yang sering rusak. Ada pula upaya kecil mengurangi sampah, misalnya menjual plastik dan logam ke pengepul serta memakai sampah organik untuk pakan ternak.
Sejumlah peserta mengaitkan sampah dengan kesehatan. Seorang peserta menyebut diare, kolera, dan infeksi kulit sering muncul di tempat yang sampahnya tidak terurus. Informan kunci memperingatkan risiko pencemaran air, kebakaran, dan wabah penyakit akibat pembuangan sembarangan. Secara keseluruhan, pengelolaan sampah dinilai buruk, dengan dana yang kurang, truk yang terbatas, penegakan aturan yang lemah, dan sikap warga yang negatif sebagai latarnya.
Baca juga Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Yang Sudah Terlihat dan yang Belum Terukur
Para penulis menyatakan pengelolaan sampah perlu diakui sebagai komponen inti promosi kesehatan perkotaan. “Penanganan diare di perkotaan tidak bisa hanya bertumpu pada intervensi air dan sanitasi; ia juga harus melibatkan penguatan sistem pengumpulan sampah, penegakan peraturan daerah, dan pembangunan rasa memiliki di tengah masyarakat,” tulis Okolimong dan rekan, dalam terjemahan Cekricek.id. Mereka juga mencatat bahwa fasilitas kompos Doko masih kurang dimanfaatkan.
Rekomendasinya menyasar dua tingkat. Dewan kota diminta menegakkan peraturan, memastikan pengangkutan rutin, dan memperkuat fasilitas kompos Doko. Di tingkat komunitas dan rumah tangga, paper itu menganjurkan titik pengumpulan, pemilahan sejak dari sumbernya, pelatihan tokoh lokal, wadah tertutup, tidak membuang sampah dekat sumber air, serta mencuci tangan.
Batas penelitian ini dinyatakan terbuka oleh penulisnya. Desain potong lintang membatasi kesimpulan sebab-akibat, karena paparan dan hasil diukur pada waktu yang sama, dan diare yang dilaporkan sendiri bisa terpengaruh ingatan. Pendapatan tidak diukur langsung, sedangkan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun belum diukur penuh.
Para penulis menyarankan riset lanjutan, termasuk studi jangka panjang dan evaluasi model pengumpulan sampah berbasis komunitas. Dalam tabel mereka, ketiadaan layanan angkut dan kekurangan air sama-sama tercatat berkaitan dengan diare di Divisi Industri Mbale, bersama jarak ke titik kumpul, cara menyimpan, dan cara membuang sampah.















