Anemia Siswi SMK Bondowoso Terkait Zat Besi dan Siklus Haid

A A

Ilustrasi lapak pasar tradisional dengan tumpukan tempe berbungkus daun, tahu putih, dan kangkung [Foto: Dibuat dengan AI]

  • Dari 116 siswi SMK 1 Bondowoso yang diteliti, 34 siswi atau 29,3 persen tergolong anemia.
  • Tempe sering dimakan 89,7 persen siswi dan tahu 87,1 persen, sedangkan lauk hewani seperti hati ayam jarang dimakan.
  • Sebanyak 78,4 persen siswi berasupan protein rendah, tetapi asupan protein tidak berhubungan dengan kejadian anemia.
  • Asupan zat besi, vitamin C, dan siklus menstruasi berhubungan bermakna dengan kejadian anemia pada siswi.
Daftar Isi
  1. Satu Sekolah, 116 Siswi, dan 34 yang Anemia
  2. Piring yang Dipenuhi Tempe dan Tahu
  3. Protein yang Kurang, Tetapi Tidak Berkaitan
  4. Zat Besi dan Vitamin C yang Sebagian Besar Cukup
  5. Siklus Haid yang Ikut Berkaitan
  6. Kopi, Teh, dan Pengamatan yang Hanya Tiga Bulan

Kekurangan protein, zat besi, dan vitamin C, serta siklus haid yang tidak teratur, disebut dalam sebuah kajian sebagai penyebab anemia yang paling sering pada remaja putri. Namun di sebuah sekolah kejuruan di Bondowoso, Jawa Timur, yang berkaitan dengan anemia ternyata bukan asupan protein, melainkan asupan zat besi, vitamin C, dan siklus haid yang datang setiap bulan.

Gambaran itu datang dari kajian Ainurrofiqoh Hidayati Ningsih dari Program Studi Gizi, serta Devi Arine Kusumawardani dan Dhuha Itsnanisa Adi dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, ketiganya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Tulisan mereka, Dietary patterns and menstrual cycle: incidence of anemia in female adolescents in Bondowoso Regency, dimuat Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition) volume 14 nomor 2 tahun 2026, dan seluruh datanya diambil dari siswi SMK 1 Bondowoso.

Satu Sekolah, 116 Siswi, dan 34 yang Anemia

Penelitian itu berlangsung dari Maret sampai Juni 2024 di sekolah dengan 578 siswi kelas 10, 11, dan 12, dari jumlah itu 116 siswi berusia 15 sampai 18 tahun dipilih secara acak. Kadar hemoglobin mereka diukur dengan alat digital bersama tenaga kesehatan Puskesmas Kademangan, dan siswi dengan hemoglobin di bawah 12 g/dl digolongkan anemia, sedangkan pola makan dan siklus haid ditelusuri lewat wawancara.

Hasilnya, 34 siswi atau 29,3 persen tergolong anemia, sementara 82 siswi atau 70,7 persen berkadar hemoglobin normal. Sebagian besar responden berusia 16 tahun, yakni 53 orang atau 45,7 persen, dan hampir separuhnya, 57 siswi atau 49,1 persen, duduk di kelas 10, sedangkan kelas 11 diisi 29 siswi atau 25,0 persen dan kelas 12 diisi 30 siswi atau 25,9 persen. Siswi berusia 18 tahun berjumlah 32 orang dan yang berusia 17 tahun 29 orang.

Paper ini mencatat bahwa skrining anemia 2024 menempatkan SMK 1 Bondowoso sebagai sekolah dengan angka kasus tertinggi di wilayah Kademangan, yakni 13 persen dari 204 siswi. Dalam simpulannya, para penulis menyebut kejadian anemia dalam penelitian mereka lebih tinggi daripada data skrining, kemungkinan karena sampelnya kecil dan diambil dari SMK 1 Bondowoso, tempat prevalensi anemia lebih tinggi.

Piring yang Dipenuhi Tempe dan Tahu

Tempe dan tahu paling sering, lauk hewani jarangTempe 89,7%; Tahu 87,1%; Bayam 49,1%; Kangkung 40,5%; Udang 10,3%; Daun katuk 6,0%; Hati ayam 4,3%; Abon sapi 4,3%.Tempe dan tahu paling sering, lauk hewanijarangPersen siswi yang sering mengonsumsi (3 kali semingguhingga lebih dari sekali sehari), n = 1160%25%50%75%100%Tempe89,7%Tahu87,1%Bayam49,1%Kangkung40,5%Udang10,3%Daun katuk6,0%Hati ayam4,3%Abon sapi4,3%Tabel 2: frekuensi bahan makanan, kategori sering
Sumber: Ainurrofiqoh Hidayati Ningsih, Devi Arine Kusumawardani, dan Dhuha Itsnanisa Adi, Dietary patterns and menstrual cycle: incidence of anemia in female adolescents in Bondowoso Regency, Jurnal Gizi Indonesia, 2026. Grafik: Cekricek.id

Bila isi piring para siswi dijajarkan, dua lauk tampak mendominasi dengan jarak yang lebar dari yang lain. Tempe sering dimakan oleh 104 siswi atau 89,7 persen, dan tahu oleh 101 siswi atau 87,1 persen, dengan kategori sering berarti tiga sampai enam kali seminggu, sekali sehari, atau lebih dari sekali sehari.

Justru lauk hewani yang kaya protein dan zat besi jarang singgah di piring yang sama. Hati ayam tidak pernah dimakan oleh 64 siswi atau 55,2 persen, abon sapi tidak pernah disentuh oleh 69 siswi atau 59,5 persen, dan udang tidak pernah dimakan oleh 52 siswi atau 44,8 persen, dengan jumlah yang sama, 44,8 persen, hanya memakannya sesekali saja.

Menurut tabel komposisi pangan yang dikutip para penulis, setiap 100 gram tempe mengandung 24,5 gram protein dan 4,9 miligram zat besi, tahu 9,7 gram protein dan 4,1 miligram zat besi, sedangkan hati ayam menyimpan 27,4 gram protein dan 15,8 miligram zat besi, abon sapi 18 gram dan 12,3 miligram, serta udang 21 gram dan 8 miligram.

Pilihan itu bukan tanpa alasan, karena para penulis mencatat bahwa responden lebih sering makan sumber protein nabati daripada hewani lantaran protein nabati relatif lebih murah, sehingga asupan proteinnya pun relatif rendah. Mereka juga mencatat bahwa pada sebagian besar responden asupan zat besi heme lebih rendah daripada zat besi nonheme, dan zat besi nabati lebih banyak daripada zat besi hewani.

Baca juga Anemia Dewasa Malaysia Turun ke 15 Persen, Perempuan Paling Rawan

Protein yang Kurang, Tetapi Tidak Berkaitan

Sebanyak 91 siswi atau 78,4 persen tergolong berasupan protein rendah, 15 siswi atau 12,9 persen normal, dan hanya 10 siswi atau 8,6 persen yang tinggi, dengan rata-rata kecukupan protein 63,96 persen dari angka kecukupan gizi, median 56,15 persen, dan rentang dari 23,2 sampai 189,6 persen. Menurut angka kecukupan gizi yang dikutip paper, remaja putri berusia 16 sampai 18 tahun membutuhkan 65 gram protein.

Namun ketika asupan protein itu disandingkan dengan status anemia, uji Fisher menghasilkan nilai p 0,443, dengan rasio odds 1,855 dan interval kepercayaan 95 persen 0,772 sampai 4,452, yang oleh para penulis dibaca sebagai tidak ada hubungan antara asupan protein dan kejadian anemia. Di kelompok protein rendah, 31 siswi anemia dan 67 lainnya tidak.

Para penulis mengaitkan hasil ini dengan jenis protein yang dimakan, yaitu protein nabati yang menurut mereka mengandung asam amino lebih sedikit daripada protein hewani sehingga tidak diserap secepat itu oleh tubuh. Mereka juga menyebut ada penelitian lain yang sejalan, tetapi ada pula yang tidak sejalan, yakni yang menyatakan asupan protein yang kurang dapat menghambat perubahan zat besi dan menurunkan hemoglobin.

Dalam bagian simpulan, ketiga penulis merangkum temuan itu dalam satu kalimat. “Faktor yang berkaitan dengan anemia dalam penelitian ini adalah asupan zat besi dan vitamin C, serta siklus menstruasi pada remaja putri,” tulis Ningsih, Kusumawardani, dan Adi dalam simpulan mereka, sebagaimana diterjemahkan dari naskah berbahasa Inggris.

Zat Besi dan Vitamin C yang Sebagian Besar Cukup

Untuk dua zat gizi lain, 86 siswi atau 74,1 persen berasupan zat besi cukup, dengan rata-rata kecukupan 121,677 persen dari angka kecukupan gizi, dan 83 siswi atau 71,6 persen berasupan vitamin C cukup, dengan rata-rata 109,248 persen. Rentang asupannya dari 37,3 sampai 380,9 persen untuk zat besi dan dari 2,3 sampai 380,2 persen untuk vitamin C, dan para penulis menduga kecukupan zat besi itu sebagian dipengaruhi siswi yang minum tablet tambah darah seminggu sekali.

Hubungan keduanya dengan anemia ternyata bermakna secara statistik. Untuk zat besi, nilai p 0,015 dengan rasio odds 2,888, interval kepercayaan 1,204 sampai 6,923, dan dari 30 siswi yang asupannya kurang, 14 mengalami anemia, sedangkan dari 86 siswi yang cukup, 20 mengalami anemia. Untuk vitamin C, nilai p 0,016 dengan rasio odds 2,807, interval kepercayaan 1,193 sampai 6,603, dan dari 33 siswi yang kekurangan, 15 mengalami anemia, sementara menurut para penulis vitamin C dari sayur membantu tubuh menyerap zat besi lebih cepat.

Di sisi sayur, bayam sering dimakan oleh 57 siswi atau 49,1 persen dan kangkung oleh 47 siswi atau 40,5 persen, dengan kandungan vitamin C 41 dan 17 miligram per 100 gram menurut tabel yang dikutip paper. Daun katuk, yang menyimpan 164 miligram vitamin C per 100 gram, tidak pernah dimakan oleh 97 siswi atau 83,6 persen, dan daun singkong yang mengandung 103 miligram tidak pernah dimakan oleh 69 siswi.

Baca juga Gizi Murid SD Musi Rawas Terkait Ragam Piring, Bukan Uang Jajan

Siklus Haid yang Ikut Berkaitan

Persoalannya tidak berhenti di piring, sebab haid yang datang setiap bulan ikut tercatat dalam data. Selama tiga bulan terakhir, 84 siswi atau 72,4 persen bersiklus teratur, yakni rata-rata 21 sampai 35 hari, sedangkan 32 siswi atau 27,6 persen tidak teratur, sementara rata-rata panjang siklus seluruh responden 29,586 hari, dengan median 30,5 hari, terpendek 14,5 hari, dan terpanjang 41 hari.

Siklus ini direkam bukan hanya lewat wawancara, melainkan juga lewat lembar observasi dan aplikasi kalender haid Flo yang mereka tunjukkan kepada peneliti. Dari 32 siswi bersiklus tidak teratur, 14 mengalami anemia, sedangkan dari 84 siswi bersiklus teratur, 20 mengalami anemia, dan uji chi-square menunjukkan nilai p 0,035 dengan rasio odds 2,489, interval kepercayaan 1,053 sampai 5,883.

Zat besi, vitamin C, dan siklus haid berhubungan dengan anemiaAsupan protein: Rasio odds 1,855; Asupan zat besi: Rasio odds 2,888; Asupan vitamin C: Rasio odds 2,807; Siklus menstruasi: Rasio odds 2,489.Zat besi, vitamin C, dan siklus haidberhubungan dengan anemiaRasio odds (OR) hubungan tiap variabel dengan kejadiananemia, Tabel 61230Asupan protein1,855Asupan zat besi2,888Asupan vitamin C2,807Siklus menstruasi2,489Protein tidak berhubungan (p = 0,443); lainnya p di bawah 0,05
Sumber: Ainurrofiqoh Hidayati Ningsih, Devi Arine Kusumawardani, dan Dhuha Itsnanisa Adi, Dietary patterns and menstrual cycle: incidence of anemia in female adolescents in Bondowoso Regency, Jurnal Gizi Indonesia, 2026. Grafik: Cekricek.id

Para penulis menulis bahwa siklus yang pendek dan perdarahan yang berlangsung lama akan menyebabkan lebih banyak darah hilang saat haid, sehingga menimbulkan risiko anemia. Mereka mengutip penelitian terdahulu bahwa setiap kali haid perempuan kehilangan 50 sampai 80 cc darah serta 30 sampai 40 miligram zat besi, dan menyebut hasil mereka sejalan dengan sejumlah penelitian lain.

Kopi, Teh, dan Pengamatan yang Hanya Tiga Bulan

Kajian ini sendiri mengakui ada yang belum terjangkau. Para penulis tidak dapat menganalisis zat penghambat penyerapan dalam makanan seperti kopi dan teh, yang mungkin berkaitan dengan anemia pada remaja putri, dan pengamatan untuk mengenali gangguan siklus haid hanya berlangsung tiga bulan. Di bagian pembahasan, mereka juga mencatat bahwa kandungan tanin dalam beberapa makanan, bila dimakan bersama sumber protein dan zat besi, dapat menghambat penyerapan zat besi.

Saran mereka menyentuh beberapa pihak sekaligus, dari pemantauan dan evaluasi pemberian tablet zat besi dan asam folat secara rutin, sosialisasi program Aksi Bergizi lewat gizi seimbang, hingga skema dukungan sosial untuk kesehatan reproduksi remaja putri. “SMK 1 Bondowoso sebaiknya memulai pendidikan kesehatan yang menyeluruh, khususnya bagi remaja putri, tentang gizi dan kesehatan reproduksi, karena anemia merugikan kesehatan dan berdampak jangka panjang,” tulis mereka, juga dalam terjemahan.

Baca juga Usia Kehamilan Terkait Anemia Ibu Hamil di Puskesmas Prambanan

Untuk langkah berikutnya, para penulis meminta penelitian untuk menentukan penyebab anemia, penelitian tentang penghambat penyerapan hemoglobin dalam makanan, pengamatan siklus haid paling sedikit enam bulan, dan penilaian faktor medis yang berkaitan dengan anemia. Menurut mereka, langkah-langkah itu diperlukan untuk menyusun intervensi yang menyeluruh dalam menanggulangi anemia pada remaja putri.

Bagikan

Baca Juga

Keluhan Sakit Kepala Lansia Spanyol Turun Nyata dalam 17 Tahun
Remaja Kerala Berat Lahir Rendah Lebih Mungkin Bertensi Tinggi
Perokok Berat Timur Laut China Rentan Darah Tinggi dan Diabetes
Pekerja Korea yang Masuk Kerja saat Sakit Lebih Mungkin Absen
Balita Bangladesh dengan Dapur di Luar Rumah Lebih Sering ISPA
Makin Sering ke Warung, Siswi Medan Makin Sering Jajan Tak Sehat