- Prevalensi keluhan sakit kepala di Spanyol turun dari 14,50 persen pada 2006 menjadi 10,81 persen pada 2023.
- Uji Mann-Kendall menunjukkan pola menurun itu belum signifikan secara statistik, dengan p 0,07.
- Penurunan signifikan menurut usia hanya terjadi pada kelompok 65 sampai 74 tahun dan di atas 75 tahun.
- Perempuan mengeluhkan sakit kepala sekitar 2,5 kali lipat laki-laki sepanjang periode penelitian.
Daftar Isi
Sebuah penelitian di Spanyol menemukan keluhan migrain atau sakit kepala yang sering cenderung menurun selama 17 tahun, dari 2006 sampai 2023, meski tren nasionalnya belum signifikan secara statistik. Penurunan itu tidak merata. Di antara kelompok usia, garis paling curam tercatat pada orang berusia di atas 75 tahun, dan di antara kelas sosial pada Kelompok VI, kelompok pekerja tak terampil.
Penelitian itu ditulis Miguel Á. Huerta dari Departemen Farmakologi dan Institut Ilmu Saraf Universitas Granada bersama rekan, di antaranya Jose A. Moral-Munoz dari Universitas Cádiz. Judulnya Trends in self-reported headache disorder in Spain between 2006 and 2023: the role of sociodemographic factors, terbit di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Mereka menimbang perubahan keluhan sakit kepala menurut jenis kelamin, usia, kelas sosial, dan pendidikan.
Bahannya tujuh survei kesehatan nasional yang digelar Institut Statistik Nasional Spanyol antara 2006 dan 2023, masing-masing melibatkan 37.429 sampai 41.929 orang berusia 15 tahun ke atas. Para penulis tidak memeriksa pasien satu per satu. Mereka mengolah angka prevalensi yang sudah dibobot oleh lembaga statistik itu, lalu menguji apakah garisnya benar-benar menurun atau sekadar naik turun biasa.
Satu Pertanyaan yang Diulang dari Survei ke Survei
Kunci seluruh penelitian ini adalah satu pertanyaan sederhana. Responden ditanya apakah dalam 12 bulan terakhir mereka menderita migrain atau sakit kepala yang sering. Yang menjawab ya dihitung sebagai pengidap gangguan sakit kepala menurut pengakuan sendiri. Pertanyaan kedua menyaring lebih jauh, yakni apakah dokter pernah mengatakan bahwa mereka menderita migrain atau sakit kepala yang sering.
Karena itu, penelitian ini mengukur dua lapisan. Lapisan pertama adalah keluhan yang dilaporkan responden. Lapisan kedua adalah keluhan yang menurut responden pernah disebut dokter. Para penulis membandingkan selisih kedua angka itu pada setiap tahun survei dan menyebutnya celah diagnosis. Selisih itu berupa beda absolut, dalam persen, antara prevalensi total dan prevalensi yang didiagnosis dokter pada tahun yang sama.
Survei yang dipakai juga berganti nama secara bergiliran. Empat di antaranya adalah Survei Kesehatan Nasional pada 2006, 2011, 2017, dan 2023, sedangkan tiga lainnya adalah Survei Kesehatan Eropa di Spanyol pada 2009, 2014, dan 2020. Seluruhnya digelar lembaga yang sama dengan pengambilan sampel bertingkat dari wilayah sensus sampai rumah tangga, sehingga hasil tiap survei mewakili penduduk Spanyol berusia 15 tahun ke atas.
Garis yang Menurun tetapi Belum Terbukti
Hasil paling umum terlihat jelas di atas kertas. Prevalensi keluhan sakit kepala mencapai titik tertinggi 14,50 persen pada 2006 dan titik terendah 7,64 persen pada 2020, lalu berada di 10,81 persen pada 2023. Garis regresinya miring ke bawah dengan kemiringan minus 0,25, sedangkan untuk keluhan yang didiagnosis dokter kemiringannya minus 0,16.
Persoalannya, garis yang menurun belum tentu tren yang terbukti. Uji Mann-Kendall yang dipakai para penulis memberi nilai tau minus 0,62 dengan p 0,07 untuk keseluruhan keluhan, dan tau minus 0,33 dengan p 0,38 untuk keluhan yang didiagnosis. Keduanya tidak mencapai batas signifikansi statistik, sehingga para penulis menyebutnya pola menurun yang tidak signifikan.
Di balik angka itu ada perubahan yang lebih halus. Selisih antara keluhan yang dilaporkan dan keluhan yang didiagnosis dokter sedikit menyempit dari waktu ke waktu, terutama pada 2017 dan 2020. Sesuai dugaan para penulis, angka keluhan yang dilaporkan tetap lebih tinggi daripada angka yang dikonfirmasi diagnosis dokter.
Para penulis menawarkan beberapa kemungkinan untuk penyempitan itu. Sejak pertengahan 2000-an, Perhimpunan Neurologi Spanyol menggencarkan kampanye kesadaran dan pedoman klinis diagnosis sakit kepala, terutama di layanan kesehatan primer. Beberapa wilayah juga menerapkan protokol sakit kepala terstruktur, dan obat migrain seperti triptan serta gepant masuk ke skema penggantian biaya publik.
Namun, paper ini membatasi dugaan itu sendiri. Obat generasi baru seperti antibodi monoklonal yang menyasar jalur CGRP baru tersedia luas pada tahun-tahun terakhir periode penelitian dan terutama ditujukan untuk migrain kronis atau yang sulit diobati. Karena itu, menurut para penulis, jangkauannya di tingkat penduduk kemungkinan belum cukup luas untuk menggeser angka prevalensi secara berarti.
Baca juga Nyeri Otot dan Sendi Terkait Kambuhnya Penyakit Kardiovaskular
Perempuan Tetap Menanggung Keluhan Lebih Berat
Perbedaan paling tajam muncul antara perempuan dan laki-laki. Prevalensi keluhan sakit kepala pada perempuan sekitar 2,5 kali lipat laki-laki, dan rasionya bertahan di kisaran 2,45 sampai 2,83 sepanjang periode penelitian. Pada grafik, garis perempuan selalu berada jauh di atas garis laki-laki di setiap tahun survei.
Yang berbeda adalah kecepatan turunnya. Kemiringan garis perempuan minus 0,35, lebih curam daripada laki-laki yang minus 0,14, meski keduanya belum signifikan secara statistik dengan p 0,06 untuk perempuan dan 0,11 untuk laki-laki. Seiring itu, selisih prevalensi kedua jenis kelamin menyusut dari 12,18 persen pada 2006 menjadi 9,19 persen pada 2023.
Untuk menjelaskan jarak itu, paper merujuk penelitian terdahulu tentang migrain. Perbedaan antarjenis kelamin diduga sebagian dipengaruhi naik turunnya hormon steroid ovarium, terutama estrogen dan progesteron, walau mekanisme persisnya belum sepenuhnya dipahami. Dugaan ini, tulis para penulis, didukung prevalensi yang lebih tinggi pada masa usia subur, sebagaimana juga terlihat dalam data mereka.
Usia Menentukan Seberapa Cepat Keluhan Surut
Usia membentuk dua pola yang berbeda. Pola pertama menyangkut tinggi rendahnya keluhan. Kelompok usia menengah, yakni 25 sampai 54 tahun, selalu mencatat nilai tertinggi, berkisar dari 17,01 persen pada 2006 sampai 13,83 persen pada 2023. Kelompok paling muda, 15 sampai 24 tahun, dan paling tua, di atas 75 tahun, mencatat nilai terendah, dari 10,71 persen pada 2006 sampai 6,63 persen pada 2023.
Pola kedua menyangkut kecepatan turunnya. Kelompok muda, 15 sampai 24 tahun dan 25 sampai 34 tahun, hanya turun tipis dengan kemiringan minus 0,155 dan minus 0,173. Kelompok paruh baya, 35 sampai 64 tahun, turun sedikit lebih cepat, tetapi tidak signifikan. Kelompok 65 sampai 74 tahun turun dengan kemiringan minus 0,318 dan kelompok di atas 75 tahun minus 0,364, satu-satunya penurunan menurut usia yang signifikan secara statistik.
Paper mencatat bahwa pola puncak di usia tengah sudah lama dilaporkan pada pasien migrain. Penjelasan yang diajukan adalah rentang usia itu bertepatan dengan masa subur, ketika hormon seks berfluktuasi lebih besar dan berperan lebih aktif. Selain itu, penelitian terdahulu menduga manfaat pengobatan bertambah seiring usia. Menurut data para penulis sendiri, penurunan dari waktu ke waktu lebih nyata pada kelompok usia tua.
Pekerjaan dan Sekolah Ikut Membentuk Garis
Kelas sosial dalam penelitian ini ditentukan oleh pekerjaan, dari Kelompok I yang berisi direktur dan manajer perusahaan dengan 10 karyawan atau lebih serta profesional bergelar sarjana sampai Kelompok VI yang berisi pekerja tak terampil. Hasilnya, keluhan sakit kepala selalu lebih tinggi di kelas bawah, kecuali pada 2023. Kelompok VI mencatat 16,40 persen pada 2006, sedangkan Kelompok I hanya 11,51 persen. Menurut paper, nilai tertinggi ditemukan di Kelompok VI dan nilai terendah di Kelompok I.
Akan tetapi, kecepatan turunnya tidak sama. Kelompok I sampai III punya kemiringan antara minus 0,09 dan minus 0,19, tidak satu pun signifikan. Kelompok IV sampai VI turun lebih curam, antara minus 0,25 dan minus 0,39, dan Kelompok VI mencatat penurunan yang signifikan dengan p 0,016. Pada 2023, Kelompok VI berada di 10,98 persen dan Kelompok I di 10,57 persen.
Baca juga Penyakit Hati akibat Alkohol Naik pada Perempuan Lansia Korea
Pendidikan memperlihatkan arah serupa. Prevalensi lebih tinggi pada orang berpendidikan rendah, dan penurunan dari waktu ke waktu hanya terlihat pada kelompok berpendidikan dasar dengan kemiringan minus 0,21 dan p 0,09. Kelompok berpendidikan menengah dan tinggi tidak menunjukkan perubahan signifikan, dengan kemiringan minus 0,03 sampai minus 0,04.
Tahun 2023 menjadi pengecualian. Pada survei terakhir itu, prevalensi di semua kelas sosial nyaris setara, dan pola menurut pendidikan bahkan terbalik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Para penulis meminta temuan ini dibaca hati-hati. Bisa jadi kesenjangan memang menyempit, tetapi bisa juga kerja jarak jauh, paparan layar, dan beban kerja digital pascapandemi lebih banyak mengenai kelompok sosial ekonomi atas.
Tahun Pandemi yang Menyimpang dari Garis
Angka 2020 paling mencolok karena survei saat itu sebagian digelar pada masa karantina wilayah dan pelonggarannya. Untuk mengujinya, para penulis memakai uji Grubbs. Nilai G sebesar 1,42 masih di bawah nilai kritis 2,02, dan residu terstandarnya minus 1,44, di bawah batas 2. Jadi, angka 2020 memang menyimpang dari garis, tetapi tidak tergolong pencilan statistik.
Ketika data 2020 dikeluarkan, garis tetap menurun tetapi kemiringannya melandai menjadi minus 0,19 persen per tahun dengan p 0,175, sedangkan uji Mann-Kendall memberi tau minus 0,60 dengan p 0,136. Artinya, besar penurunan bergantung pada ada tidaknya tahun pandemi, sedangkan signifikansinya tidak tercapai dalam kedua skenario.
Para penulis menduga angka rendah 2020 mencerminkan keadaan sosial, perilaku, dan layanan kesehatan yang luar biasa selama pandemi COVID-19. Akses ke layanan primer berkurang, orang takut tertular, dan sumber daya kesehatan dialihkan ke penanganan COVID-19, sehingga keluhan yang tidak mendesak seperti sakit kepala bisa kurang terdiagnosis dan kurang dilaporkan. Konsultasi jarak jauh juga bisa memengaruhi ketepatan diagnosis.
Baca juga Olahraga Luar Ruang Spanyol Pascalockdown Naik ke 53,4 Persen
Batas yang Diakui Peneliti
Para penulis menyebut sejumlah keterbatasan. Seluruh data berasal dari pengakuan responden tanpa pemeriksaan klinis, dan survei tidak membedakan migrain dari sakit kepala tegang, atau sakit kepala episodik dari yang kronis. Mereka menulis bahwa temuan ini “sebaiknya dibaca sebagai cerminan beban yang dirasakan, bukan prevalensi yang didiagnosis secara formal” (terjemahan dari bahasa Inggris).
Jumlah titik waktu yang terbatas juga membuat uji tren berdaya statistik rendah, dan banyaknya analisis subkelompok membuka kemungkinan temuan kebetulan. Karena itu, kemiringan garis yang menurun dinilai belum cukup sebagai bukti penurunan sejati. Para penulis menilai penelitian lanjutan perlu mencari penyebab perbedaan antarsubkelompok dan memeriksa apakah pola serupa terjadi di negara lain.
Keluhan sakit kepala di Spanyol tidak surut merata, melainkan paling cepat pada perempuan, orang berusia di atas 55 tahun, dan kelompok sosial serta pendidikan bawah. Dalam simpulannya, Huerta dan rekan menulis, “temuan ini menunjukkan bahwa perubahan prevalensi sakit kepala yang teramati mungkin didorong faktor demografis dan sosial ekonomi, alih-alih mencerminkan tren nasional yang seragam” (terjemahan dari bahasa Inggris).















