Misi PBB: Serangan AS di Iran Diduga Kejahatan Perang

A A

Perempuan berkabung di samping makam korban serangan di Kota Minab, Iran. [Foto: Majid Saeedi/Getty Images]

Cekricek.id — Misi pencari fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa menyimpulkan Amerika Serikat diduga melakukan kejahatan perang di Iran lewat dua serangan udara yang menewaskan sedikitnya 178 warga sipil.

Laporan Al Jazeera, Kamis (17/09/2026), menyebutkan temuan itu dimuat dalam laporan Misi Pencari Fakta Internasional Independen PBB untuk Iran, yang akan diserahkan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa. Laporan yang sama menuduh Iran melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan selama gelombang unjuk rasa tahun lalu hingga awal 2026.

Misi menyoroti serangan AS ke Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Kota Minab yang menewaskan lebih dari 150 orang, sekitar 120 di antaranya anak-anak, pada 28 Februari. Hari itu AS dan Israel memulai perang terhadap Iran, rangkaian yang belakangan juga mencakup serangan terhadap kapal tanker Iran.

Sekolah dengan mural anak dan area bermain

Serangan ke sekolah di Minab dilakukan memakai rudal Tomahawk. Misi menilai AS mengabaikan kewajiban memastikan sasarannya benar-benar objek militer.

“Misi menyimpulkan bahwa ketika mengidentifikasi dan mengarahkan serangannya terhadap sekolah dasar di Minab, yang sifat sipilnya kasatmata, AS gagal memenuhi kewajibannya untuk melakukan segala hal yang mungkin guna memastikan sasaran itu merupakan objek militer,” bunyi laporan tersebut.

Penyusun laporan menyatakan foto dan video sekolah sebelum dan sesudah serangan memperlihatkan ciri yang mudah dikenali sebagai fasilitas pendidikan anak. “Ciri-ciri itu mencakup mural bertema anak yang dilukis di dinding luar, papan nama sekolah, dan area bermain,” tulis laporan itu.

Laporan menambahkan, menurut pemberitaan publik, citra satelit sekolah sebelum serangan juga tampak memperlihatkan sosok manusia yang mudah dikenali sebagai anak-anak berkumpul di halaman. Setelah serangan, media yang berafiliasi dengan negara menayangkan kerusakan luas, termasuk orang tua yang memegang potongan tubuh anak mereka serta tas dan buku sekolah berlumur darah.

“Beberapa keluarga kehilangan lebih dari satu anak, yang mencerminkan dampak menghancurkan dari serangan itu terhadap keluarga dan komunitas yang lebih luas,” sebut laporan tersebut.

Pada Juni, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada pihak yang sengaja menyerang sekolah perempuan di Iran pada Februari, dengan merujuk pada sebuah penyelidikan. Pentagon belum mempublikasikan hasil penyelidikan itu.

Kompleks olahraga di Lamerd dan bantahan CENTCOM

Pada hari yang sama, AS disebut menyerang kompleks olahraga dan kawasan permukiman di Lamerd. Rudal presisi yang dipakai menyebarkan gumpalan pelet tungsten dan menewaskan 22 warga sipil laki-laki dan perempuan.

Misi menemukan pusat olahraga yang diserang itu terlihat terpisah dari kompleks di sebelahnya milik Korps Garda Revolusi Islam Iran. Komando Pusat AS menyatakan pada Maret bahwa pasukan AS tidak melancarkan serangan apa pun ke Kota Lamerd pada hari itu. Bantahan serupa mewarnai rangkaian peristiwa lain, termasuk saat AS menghalangi kepala badan nuklir Iran menghadiri konferensi IAEA di Wina.

Terhadap Iran, misi menuduh pemerintah menekan pengunjuk rasa sepanjang 2025 hingga 2026 melalui pemadaman internet, pembunuhan di luar hukum, penyiksaan, penahanan sewenang-wenang, penghilangan paksa, dan pembatasan berat kebebasan berekspresi.

Misi menyatakan jumlah korban tewas dan luka akibat aparat negara jauh lebih tinggi daripada angka resmi pemerintah, yakni 3.038 orang tewas dan 25.000 orang terluka, tetapi jumlah pastinya tidak dapat diverifikasi. Teheran menyebut mayoritas kematian terjadi akibat ulah perusuh dalam unjuk rasa yang didukung oposisi di pengasingan serta AS dan Israel.

Misi mendesak Iran dan AS segera menghentikan permusuhan, memberikan reparasi kepada korban, dan menempuh perdamaian permanen lewat jalur diplomasi. Desakan itu muncul saat sejumlah jalur perundingan lain juga tersendat, termasuk pembicaraan mengenai Selat Hormuz yang ditunda.

Bagikan

Baca Juga

Von der Leyen Dukung Kanada Jadi Anggota Asosiasi Uni Eropa
Rodrigo Duterte Hadir Langsung di ICC untuk Pertama Kali
21 Tewas, Termasuk 8 Anak, Akibat Gedung Runtuh di Gaza
The Fed Naikkan Suku Bunga AS, Pertama dalam Tiga Tahun
Lansia Jepang Berusia 100 Tahun Tembus 100.000 Orang
Jet NATO Tembak Jatuh Drone di Wilayah Udara Lituania