Efisiensi Biaya Produksi Kedelai Lekat dengan Irigasi

A A

Biji kedelai kering dijual di sebuah pasar di Kota Baubau, Pulau Buton. [Foto: David E Mead/Wikimedia Commons (CC0)]

  • Rata-rata skor efisiensi biaya 200 petani kedelai di Grobogan dan Blora tercatat 0,8904.
  • Hasil panen dan upah tenaga kerja menjadi pendorong utama total biaya, nyata pada taraf satu persen.
  • Harga benih tidak nyata secara statistik, sementara harga pupuk hanya nyata lemah.
  • Frekuensi tanam dan akses irigasi berjalan bersama skor inefisiensi biaya yang lebih rendah.
  • Uji rasio kemungkinan tidak menolak ketiadaan komponen inefisiensi, sehingga skornya dibaca sebagai ukuran indikatif.
Daftar Isi
  1. Hasil Panen dan Upah, Dua Pendorong Biaya
  2. Pupuk dan Benih, Dua Harga yang Samar
  3. Efisiensi Biaya Produksi Kedelai di Angka 0,8904
  4. Guncangan Acak dan Inefisiensi yang Nyaris Setara
  5. Irigasi dan Frekuensi Tanam yang Terbaca
  6. Usia, Pengalaman, dan Pendidikan yang Tidak Terbaca

Cekricek.id — Harga benih per kilogram dan air irigasi di petak tanam tampak berjalan sendiri-sendiri, tetapi keduanya ditimbang dalam satu hitungan efisiensi biaya produksi kedelai di Grobogan dan Blora, Jawa Tengah. Hasil keduanya bertolak belakang. Harga benih tidak menunjukkan pengaruh yang nyata secara statistik terhadap total biaya, sedangkan akses irigasi terbaca berjalan bersama inefisiensi biaya yang lebih rendah.

Penelitian itu ditulis Avi Budi Setiawan, Maulida Dewi Pangestika, dan Faza Ashiela Junaedy dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Semarang, bersama Mochammad Yusuf dari School of Business IPB University dan Sandry Windiharto Putro dari School of Social Science The University of Western Australia. Naskahnya berjudul Production Cost Efficiency in Indonesian Soybean Farming, terbit di Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan Volume 27 Nomor 1 tahun 2026, halaman 51–66.

Latar yang dipakai para penulis adalah jarak antara kebutuhan dan produksi kedelai dalam negeri. Pada 2020, menurut data yang mereka pakai, hasil kedelai Indonesia hanya 14,88 kuintal per hektare, jauh di bawah patokan global 29 kuintal per hektare. Pada tahun yang sama Turki disebut mencapai 43,55 kuintal, Amerika Serikat 33,44 kuintal, dan Brasil 31,14 kuintal per hektare.

Lebih dari 90 persen kebutuhan kedelai dalam negeri, tulis mereka, dipenuhi lewat pasokan dari luar negeri. Jawa Tengah menyumbang 21,86 persen produksi nasional, di bawah Jawa Timur yang 27,96 persen dan di atas Jawa Barat yang 16,18 persen. Pada 2022 provinsi itu mencatat produksi 106,09 ribu ton kedelai dengan luas panen kedelai terbesar di Indonesia.

Di dalam provinsi itu, Grobogan dan Blora dipilih karena kegiatan tanamnya konsisten, kondisi agroekologinya sebanding, dan cara bertaninya seragam. Dalam jumlah petani, keduanya timpang. Grobogan mencatat 269.731 petani kedelai pada 2021, sedangkan Blora 20.968 petani. Dengan rumus Slovin dan batas galat 5 persen, sampel dibulatkan menjadi 200 orang, yakni 186 dari Grobogan dan 14 dari Blora, mengikuti porsi 93 dan 7 persen.

Alat yang dipakai untuk mengukur efisiensi biaya produksi kedelai adalah fungsi batas biaya stokastik. Biaya produksi yang teramati dimodelkan sebagai fungsi dari hasil panen dan harga input, sementara sisa galatnya dipecah menjadi gangguan acak dan inefisiensi biaya yang tidak pernah bernilai negatif. Skor inefisiensi tiap petani lalu diregresikan pada lima ciri petani. Karena datanya potong lintang, koefisiennya dibaca sebagai hubungan, bukan sebab-akibat.

Hasil Panen dan Upah, Dua Pendorong Biaya

Rata-rata total biaya produksi per petani, bahan pertama hitungan efisiensi biaya produksi kedelai itu, tercatat Rp1.138.141 per musim tanam, dengan simpangan baku Rp436.877. Angka terendahnya Rp582.500 dan tertingginya Rp3.162.820. Hasil panen rata-rata 615 kilogram per petani, bergerak dari 200 sampai 1.836 kilogram. Penulisnya menyebut variasi biaya itu terutama digerakkan perbedaan luas garapan dan skala hasil, sesuai skala petani kecil di wilayah studi.

Pada fungsi batas biaya, hasil panen memperoleh koefisien 0,6267 dan upah tenaga kerja 0,2655. Keduanya nyata pada taraf satu persen. Karena koefisien hasil panen di bawah satu, total biaya naik lebih lambat daripada kenaikan hasil. Penulisnya membaca pola itu sebagai tanda penghematan biaya pada usaha tani kedelai, dengan catatan bahwa model hanya memakai sebagian harga input yang teramati.

Hasil panen dan upah paling kuat mendorong biayaHasil panen: koefisien 0,6267, peluang 0,000; Upah tenaga kerja: koefisien 0,2655, peluang 0,000; Harga pupuk: koefisien 0,2537, peluang 0,088; Harga benih: koefisien 0,1718, peluang 0,491.Hasil panen dan upah paling kuat mendorong biayaKoefisien fungsi batas biaya stokastik, 200 petani kedelaiGrobogan dan BloraNyata 1%Nyata 10%Tidak nyata0,00,20,40,6Hasil panen (peluang 0,000)0,6267Upah tenaga kerja (peluang 0,000)0,2655Harga pupuk (peluang 0,088)0,2537Harga benih (peluang 0,491)0,1718Koefisien hasil panen di bawah satu: total biaya naik lebih lambatdaripada hasil.cekricek.id
Sumber: Setiawan dkk. (2026), Jurnal Ekonomi Pembangunan 27(1): 57. Grafik: Cekricek.id

Di antara harga input, upah tenaga kerja punya hubungan paling kuat dan paling kokoh secara statistik dengan total biaya. Rata-rata upah tercatat Rp40.745 per orang dengan simpangan baku Rp6.657, bergerak dari Rp17.778 sampai Rp60.000. Penulisnya mengaitkan hasil itu dengan besarnya peran tenaga kerja upahan dalam biaya produksi kedelai di seluruh sampel.

Baca juga Subsidi Pupuk Menaikkan Produksi Padi, Bukan Laba Petani

Pupuk dan Benih, Dua Harga yang Samar

Di sisi lain, harga pupuk memperoleh koefisien 0,2537 dengan peluang 0,088, sehingga hanya nyata lemah pada taraf sepuluh persen. Harga benih memperoleh 0,1718 dengan peluang 0,491 dan tidak nyata secara statistik. Keduanya bertanda positif, sama seperti hasil panen dan upah, tetapi tidak satu pun sekuat dua pendorong biaya pada kelompok pertama.

Kedua harga itu juga relatif sedikit berbeda antarpetani. Harga pupuk rata-rata Rp2.812 per kilogram dengan simpangan baku Rp287, sedangkan harga benih Rp15.100 per kilogram dengan simpangan baku Rp724. Menurut penulisnya, sebaran harga yang sempit itu mencerminkan struktur pasar yang seragam di kedua kabupaten, tempat petani membeli input dari segelintir pemasok lokal dengan kondisi harga serupa.

Pada kasus benih, penulisnya mengaitkan hasil yang tidak nyata itu dengan terbatasnya variasi harga yang teramati. Mereka menyimpulkan perbedaan total biaya lebih banyak digerakkan skala hasil dan upah daripada perbedaan harga benih. Sewa lahan dan harga pestisida tidak dimasukkan ke dalam model karena keterbatasan data dan tidak adanya variasi antarpetani, walau keduanya tetap terhitung dalam biaya yang teramati.

Ada ketegangan kecil dalam cara naskah menimbang pupuk. Tabelnya menempatkan harga pupuk sebagai nyata lemah, tetapi bagian pembahasan menyebut biaya pupuk menyusul erat di belakang upah dan menulis tentang peran dominan harga tenaga kerja dan pupuk. Kesimpulan naskah kembali ke rumusan tabel, yaitu pengaruh harga pupuk positif tetapi hanya nyata lemah.

Efisiensi Biaya Produksi Kedelai di Angka 0,8904

Dari fungsi batas itu, skor efisiensi biaya produksi kedelai diturunkan untuk seluruh 200 responden. Rata-ratanya 0,8904, dengan skor terendah 0,7607, tertinggi 0,9551, dan simpangan baku 0,0410. Menurut penulisnya, angka rata-rata itu berarti petani dapat memangkas biaya produksi sekitar 10,96 persen dengan hasil panen dan kondisi harga input yang sama.

Sebaran skor efisiensi biaya produksi kedelai itu terbelah menjadi dua kelompok yang hampir sama besar. Sebanyak 99 petani, atau 49,5 persen, berskor 0,90 sampai 0,99. Sebanyak 95 petani, atau 47,5 persen, berskor 0,80 sampai 0,89. Hanya enam petani, atau tiga persen, yang berada di rentang 0,70 sampai 0,79, dan tidak seorang pun berskor di bawah 0,70.

Hampir separuh petani berskor 0,90 ke atasSkor 0,00–0,69: 0 petani (0,00 persen); Skor 0,70–0,79: 6 petani (3,00 persen); Skor 0,80–0,89: 95 petani (47,50 persen); Skor 0,90–0,99: 99 petani (49,50 persen). Rata-rata 0,8904, minimum 0,7607, maksimum 0,9551, simpangan baku 0,0410.Hampir separuh petani berskor 0,90 ke atasJumlah petani menurut rentang skor efisiensi biaya, 200responden02550751000 petani0,00%0,00–0,696 petani3,00%0,70–0,7995 petani47,50%0,80–0,8999 petani49,50%0,90–0,99Rata-rata 0,8904; terendah 0,7607; tertinggi 0,9551; simpangan baku0,0410.cekricek.id
Sumber: Setiawan dkk. (2026), Jurnal Ekonomi Pembangunan 27(1): 59. Grafik: Cekricek.id

Dari sebaran itu penulisnya menarik kesimpulan tentang letak kelebihan biaya. “Pola ini menunjukkan bahwa inefisiensi biaya tidak meluas di seluruh sampel, melainkan terkonsentrasi pada sejumlah kecil petani dengan kendali biaya yang lebih lemah,” tulis Avi Budi Setiawan dan rekan-rekannya. Bagi kelompok itu, menurut mereka, persoalannya bukan subsidi input yang luas, melainkan pendampingan yang lebih tepat soal takaran input, tenaga kerja, dan waktu pengeluaran.

Hamparan tanaman kedelai berdaun hijau kekuningan di depan pohon kelapa dan bukit berkabut
Kebun kedelai di Panggul, Trenggalek, Jawa Timur. [Foto: Triy Purnama/Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)]

Pada bacaan pertama, angka efisiensi biaya produksi kedelai itu membuat penulisnya menyebut usaha tani kedelai di Grobogan dan Blora relatif efisien, dengan rentang antarkuartil skor 0,863 sampai 0,923 dan median 0,900. Pada bacaan kedua, mereka menulis bahwa selisih rata-rata sekitar 11 persen dari batas biaya minimum tetap menyisakan ruang perbaikan lewat alokasi input yang lebih baik, karena kelebihan biaya yang sedang pun dapat memengaruhi keuntungan petani kecil.

Baca juga Ketika Petani dan Nelayan Hanya Jadi Penerima Harga

Guncangan Acak dan Inefisiensi yang Nyaris Setara

Hitungan efisiensi biaya produksi kedelai yang sama juga memisahkan dua sumber penyimpangan biaya. Simpangan gangguan acak tercatat 0,1411, simpangan inefisiensi 0,1432, dan rasio keduanya, lambda, 1,0153. Karena lambda mendekati satu, penulisnya menyebut besaran keduanya relatif serupa. Biaya di wilayah studi, tulis mereka, dibentuk bukan hanya oleh keputusan alokasi petani, tetapi juga oleh gangguan yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Uji rasio kemungkinan kemudian memberi hasil yang membatasi seluruh skor efisiensi biaya produksi kedelai tadi. Dengan statistik 0,29 dan peluang 0,295, uji itu tidak menolak hipotesis nol bahwa komponen inefisiensi tidak ada. “Karena itu, skor efisiensi biaya sebaiknya ditafsirkan dengan hati-hati sebagai ukuran indikatif, bukan sebagai bukti kuat adanya inefisiensi sistematis pada seluruh petani,” tulis para peneliti itu.

Beberapa bagian naskah juga tidak saling cocok. Pembahasan menyebut model itu kokoh secara statistik berdasarkan nilai log-likelihood dan Wald chi-square, tetapi Tabel 3 hanya mencantumkan log-likelihood 76,408 tanpa nilai Wald chi-square. Keterangan bintang pada tabel yang sama menulis signifikansi lebih besar dari satu, lima, dan sepuluh persen, sedangkan angka peluang yang diberi bintang, 0,000 dan 0,088, berada di bawah ambang itu.

Tabel definisi peubah menyimpan selisih satuan. Frekuensi tanam didefinisikan sebagai jumlah siklus tanam kedelai dalam satu tahun kalender, tetapi kolom satuannya menulis kali per tiga tahun, dan naskah tidak menjelaskan mana yang dipakai dalam regresi. Pada halaman pertama, format sitasi yang disarankan jurnal menulis inisial penulis utama sebagai A. V., bukan A. B.

Irigasi dan Frekuensi Tanam yang Terbaca

Regresi tahap kedua memasukkan lima ciri, yaitu akses irigasi, usia, pengalaman bertani, pendidikan, dan frekuensi tanam. Tujuannya, tulis penulisnya, bukan membuktikan sebab-akibat, melainkan mengenali ciri petani dan pengelolaan lahan yang berjalan bersama penyimpangan dari batas biaya minimum. Hanya dua dari lima ciri itu yang terbaca nyata, dan keduanya bertanda negatif terhadap skor inefisiensi.

Frekuensi tanam memperoleh koefisien −0,0312 dengan statistik t −4,12, nyata pada taraf satu persen dan disebut paling kuat serta paling presisi. Akses irigasi memperoleh −0,0323 dengan statistik t −2,11, nyata pada taraf lima persen. Petani yang lebih sering menanam kedelai dalam setahun, begitu pula petani yang punya akses irigasi, cenderung mencatat skor inefisiensi yang lebih rendah.

Dua dari lima ciri petani terbaca nyataAkses irigasi: koefisien −0,0323, statistik t −2,11; Frekuensi tanam: koefisien −0,0312, statistik t −4,12; Pendidikan: koefisien −0,0013, statistik t −0,87; Pengalaman bertani: koefisien −0,0002, statistik t −0,47; Usia: koefisien −0,0002, statistik t −0,38. R-kuadrat 0,1135.Dua dari lima ciri petani terbaca nyataKoefisien regresi tahap kedua terhadap skor inefisiensi biaya,200 petaniNyataTidak nyata−0,04−0,03−0,02−0,010Akses irigasi (t −2,11)−0,0323Frekuensi tanam (t −4,12)−0,0312Pendidikan (t −0,87)−0,0013Pengalaman bertani (t −0,47)−0,0002Usia (t −0,38)−0,0002Tanda negatif berarti berjalan bersama skor inefisiensi yang lebihrendah. R-kuadrat 0,1135.cekricek.id
Sumber: Setiawan dkk. (2026), Jurnal Ekonomi Pembangunan 27(1): 61. Grafik: Cekricek.id

Untuk frekuensi tanam, penulisnya menyebut pola itu sejalan dengan mekanisme belajar sambil bekerja, karena siklus tanam yang berulang dapat membuat petani lebih mengenal waktu pemberian input dan kebutuhan tenaga kerja. “Hasil ini tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa frekuensi tanam semata menyebabkan kenaikan efisiensi, tetapi hasil ini memang menunjukkan bahwa pengalaman produksi rutin berperan dalam menjelaskan mengapa sebagian petani beroperasi lebih dekat ke batas biaya,” tulis mereka.

Pada kasus irigasi, penulisnya menulis bahwa ketersediaan air membuat pengelolaan tanaman kurang diliputi ketidakpastian. Dengan kondisi air yang lebih stabil, petani mungkin tidak banyak memerlukan belanja koreksi selama musim tanam, terutama untuk tenaga kerja dan perawatan tanaman. Sebaliknya, petak tadah hujan disebut lebih terpapar risiko waktu, yang dapat membuat pemakaian input kurang terduga dan lebih mahal.

Baca juga Petani Padi Karawang di Antara Banjir dan Tikus Sawah

Usia, Pengalaman, dan Pendidikan yang Tidak Terbaca

Tiga ciri lainnya tidak nyata secara statistik. Usia memperoleh koefisien −0,0002 dengan statistik t −0,38, pengalaman bertani −0,0002 dengan t −0,47, dan pendidikan −0,0013 dengan t −0,87. Penulisnya menegaskan hasil itu tidak berarti ketiga ciri tersebut tidak penting dalam semua konteks usaha tani kedelai. Dalam sampel ini, pengaruhnya belum cukup kuat setelah frekuensi tanam dan irigasi diperhitungkan.

Daya jelas model tahap kedua itu sederhana, dengan R-kuadrat 0,1135, R-kuadrat yang disesuaikan 0,0907, statistik F 4,97, dan peluang 0,0003. Penulisnya meminta hasil itu dibaca sebagai pola indikatif, bukan penjelasan lengkap. “Hal ini menunjukkan bahwa, dalam sampel ini, rutinitas produksi yang spesifik dan akses air menjelaskan inefisiensi biaya lebih jelas daripada karakteristik umum petani,” tulis mereka dalam kesimpulan.

Dari dua kelompok temuan itu para penulis menurunkan saran kebijakan. Peningkatan efisiensi biaya produksi kedelai, menurut mereka, tidak semestinya hanya bergantung pada skema subsidi input yang luas. Dukungan yang lebih terarah diperlukan pada penjadwalan tenaga kerja, waktu pemupukan, pengelolaan siklus tanam, dan perencanaan produksi berbasis irigasi, dengan prioritas bagi petani berskor efisiensi rendah dan petani di lahan tadah hujan.

Penelitian efisiensi biaya produksi kedelai ini sendiri berdiri di antara dua bacaan. Di satu sisi, skor rata-rata 0,8904 dan dua ciri yang terbaca nyata memberi arah bagi pendampingan petani. Di sisi lain, uji rasio kemungkinan tidak menolak ketiadaan komponen inefisiensi, datanya potong lintang, dan penulisnya menyarankan studi lanjutan memakai data panel, indikator mutu lahan yang lebih kaya, serta model inefisiensi satu tahap.

Bagikan

Baca Juga

Dosis Pupuk ZA Tinggi Menurunkan Bobot Umbi Bawang Merah
Kredit Konsumsi NTT Jadi Penentu Terkuat PDRB Jangka Panjang
Perilaku Hemat Energi Lebih Mungkin di Desa daripada di Kota
Ulat Grayak Bawang Merah Enrekang Paling Sedikit di Petak Zinnia
Desentralisasi Fiskal NTB Menekan Kinerja Pembangunan Daerah
Kinerja Pertumbuhan Ekonomi Bali Berbalik Arah Usai Pandemi