Sifilis dan HIV di RSUD Moewardi: 21 dari 64 Pasien Koinfeksi

Ilustrasi lorong rumah sakit yang lengang.

Ilustrasi lorong rumah sakit yang lengang. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Enam puluh empat rekam medis pasien sifilis yang baru terdiagnosis di poliklinik kulit dan kelamin sebuah rumah sakit rujukan di Surakarta dibuka satu per satu. Dari jumlah itu, 21 orang — hampir sepertiga — ternyata juga positif HIV. Angka tersebut, menurut peneliti yang mengumpulkannya, tergolong tinggi, dan menjadi alasan utama mereka menulis laporan penelitian ini.

Temuan itu dipaparkan Endra Yustin Ellistasari, Prasetyadi Mawardi, Pratiwi Prasetya Primisawitri, dan Stella Gracia Octarica dari Departemen Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret — RSUD Dr. Moewardi, Solo, Jawa Tengah, lewat artikel Syphilis and HIV co-infection risk factors at Dr. Moewardi Hospital, 2018–2022: A retrospective study (Faktor risiko koinfeksi sifilis dan HIV di RSUD Dr. Moewardi, 2018–2022: sebuah studi retrospektif), yang terbit dalam Journal of General - Procedural Dermatology and Venereology Indonesia Vol. 10 No. 1 pada 2026.

Desainnya perlu disebut lebih dulu karena menentukan sejauh mana temuannya boleh dibaca. Ini studi retrospektif, observasional, potong lintang, memakai data sekunder dari rekam medis. Tidak ada pasien yang diwawancarai untuk keperluan riset ini; yang dibaca adalah catatan yang sudah ada. Lokasinya tunggal: poliklinik rawat jalan Dermatologi dan Venereologi RSUD Dr. Moewardi, Surakarta. Rentang datanya lima tahun, Januari 2018 sampai Desember 2022, sementara pengumpulan datanya sendiri dikerjakan antara Mei dan Agustus 2023. Protokolnya memperoleh persetujuan Komite Etik Penelitian RSUD Dr. Moewardi dengan nomor 1.090/VI/HREC/2023, dan seluruh data dianonimkan sebelum dianalisis.

Baca juga: Riset Australia: Kadar CO2 dalam Darah Manusia Naik Seiring Iklim Memanas

Siapa yang Tercatat dalam 64 Berkas Itu

Rekam medis baru dimasukkan bila memenuhi lima syarat kelengkapan: ada data demografis berupa usia dan jenis kelamin; ada catatan orientasi seksual dan jumlah pasangan seksual dari anamnesis venereologis; ada penentuan stadium sifilis; ada hasil serologi konfirmasi berupa VDRL dan TPHA; serta ada status HIV yang dipastikan lewat tes cepat, ELISA, atau pemeriksaan viral load. Berkas yang kehilangan salah satu dari lima unsur itu dikeluarkan. Karena penelitian ini retrospektif, tidak ada penghitungan besar sampel di awal; peneliti memakai pendekatan total sampling, yakni memasukkan seluruh rekam medis yang memenuhi syarat selama lima tahun.

Dari 64 pasien itu, rata-rata usianya 33,22 tahun dengan simpangan baku 7,91. Sebanyak 42 orang atau 65,6 persen laki-laki dan 22 orang atau 34,4 persen perempuan. Di antara pasien perempuan, tiga orang atau 13,6 persen sedang hamil saat sifilisnya didiagnosis. Untuk orientasi seksual, 50 orang atau 78,1 persen tercatat heteroseksual, 9 orang atau 14,1 persen homoseksual, dan 5 orang atau 7,8 persen biseksual.

Stadium penyakitnya juga terbagi. Sifilis primer ditemukan pada 26 pasien atau 40,6 persen, sifilis sekunder pada 17 pasien atau 26,6 persen, dan sifilis laten pada 21 pasien atau 32,8 persen. Seluruh pasien sifilis sekunder menunjukkan manifestasi di kulit. Sekitar 72 persen pasien mencatatkan satu pasangan seksual, sisanya lebih dari satu. Koinfeksi HIV ditemukan pada 21 pasien atau 32,8 persen.

Dua Analisis dan Perbedaan Hasilnya

Analisis dikerjakan dua tahap dengan perangkat lunak IBM SPSS Statistics versi 26.0. Tahap pertama, tiap faktor diuji sendiri-sendiri lewat regresi logistik biner sederhana untuk memperoleh rasio odds kasar. Pada tahap ini, jenis kelamin laki-laki, orientasi non-heteroseksual, stadium sifilis, dan adanya manifestasi kulit sama-sama tampak berkaitan bermakna dengan koinfeksi HIV. Usia dan jumlah pasangan seksual tidak lolos ambang untuk dianalisis lebih lanjut.

Tahap kedua memasukkan faktor-faktor yang lolos ambang ke satu model regresi logistik biner multivariabel, sehingga tiap faktor dinilai sambil memperhitungkan faktor lainnya. Di sinilah gambarannya berubah. Jenis kelamin laki-laki, yang pada analisis tahap pertama tampak sangat kuat, kehilangan kebermaknaannya setelah disesuaikan dengan orientasi seksual: rasio odds terkoreksinya 3,21 dengan selang kepercayaan 95 persen 0,34 sampai 30,18 dan nilai p 0,310. Yang bertahan sebagai faktor risiko independen tinggal dua, yaitu orientasi non-heteroseksual dengan rasio odds terkoreksi 8,94, selang kepercayaan 1,78 sampai 44,90, dan nilai p 0,008; serta sifilis stadium sekunder dibanding stadium primer dengan rasio odds terkoreksi 5,87, selang kepercayaan 1,42 sampai 24,21, dan nilai p 0,014.

Penjelasan penulisnya atas hilangnya pengaruh jenis kelamin justru bagian paling penting dari laporan ini. Dalam kohor mereka, hampir seluruh peserta homoseksual dan biseksual adalah laki-laki, sehingga pengaruh jenis kelamin pada analisis tahap pertama sebagian besar sebenarnya diperantarai orientasi seksual. Begitu orientasi dimasukkan ke model, jenis kelamin tidak lagi punya daya penjelas sendiri. Kesimpulan praktis yang mereka tarik ditulis lugas. “Pada populasi ini, prioritas penapisan sebaiknya diarahkan pada riwayat perilaku seksual ketimbang pada jenis kelamin laki-laki semata,” tulis Endra Yustin Ellistasari dan rekan-rekannya.

Yang Dihitung Adalah Perilaku, Bukan Identitas

Angka 8,94 itu perlu dibaca dengan hati-hati, dan penulisnya sendiri menyediakan rambunya. Pertama, rasio odds bukan penyebab. Yang ditemukan adalah kaitan statistik antara satu kategori dalam rekam medis dan status HIV pada 64 pasien di satu rumah sakit, bukan pernyataan bahwa orientasi seseorang menyebabkan infeksi. Kedua, selang kepercayaannya sangat lebar, dari 1,78 sampai 44,90 — rentang selebar itu menandakan perkiraannya tidak presisi, konsekuensi langsung dari jumlah sampel yang kecil.

Baca juga: WHO Dorong Uji Fase 3 Vaksin Ebola Saat Wabah Kongo Tembus 4.500 Kasus

Ketiga, kategorinya sendiri hasil penggabungan. Karena jumlah peserta homoseksual dan biseksual sedikit, keduanya digabung menjadi satu kategori non-heteroseksual khusus untuk keperluan analisis regresi; frekuensi deskriptif di tabel pertama tetap memakai tiga kategori asli. Kategori analitis itu, dengan kata lain, dibentuk oleh keterbatasan data, bukan oleh temuan.

Keempat, mekanisme yang diajukan penulis bersandar pada perilaku dan biologi, bukan pada identitas. Mereka merujuk data epidemiologi global yang menunjukkan hubungan seks anal membawa risiko penularan HIV lebih besar daripada hubungan seks vaginal karena mukosa rektum lebih tipis dan lebih mudah mengalami robekan mikro; ditambah dinamika jejaring seksual, prevalensi HIV latar yang lebih tinggi, dan frekuensi hubungan tanpa kondom. Faktor-faktor itu melekat pada praktik dan pada keadaan jejaring, bukan pada siapa seseorang.

Adapun kaitan sifilis stadium sekunder dengan koinfeksi, penulisnya justru menahan diri untuk tidak menyebutnya sebab. Karena keterlibatan kulit dalam data mereka hampir seluruhnya berimpit dengan stadium sekunder, kedua variabel itu tumpang tindih secara konseptual. “Manifestasi kulit mungkin tidak mewakili faktor risiko independen dalam pengertian epidemiologis yang ketat,” tulis penulisnya. Ia lebih tepat dibaca sebagai fenotipe klinis yang kerap dijumpai pada pasien dengan koinfeksi HIV, yang pada mereka sifilis cenderung tampil dalam bentuk sekunder yang lebih berat dan tidak khas — akibat gangguan kekebalan, bukan sebab dari penularan.

Sifilis, HIV, dan Jalan Dua Arah

Latar biologis yang diuraikan penulis menjelaskan mengapa dua infeksi ini kerap ditemukan bersama. Sifilis disebabkan bakteri spiroket Treponema pallidum subspesies pallidum, yang menular terutama lewat kontak seksual oral, vaginal, dan anal, serta dapat menular dari ibu ke janin melalui plasenta. Keduanya berbagi jalur penularan dan faktor risiko perilaku yang sama.

Hubungannya juga berjalan dua arah. Ulkus sifilis merusak sawar mukosa dan menarik sel CD4+ yang rentan ke permukaan mukosa, sehingga memperbesar pelepasan virus dari orang yang terinfeksi sekaligus risiko penularan ke pasangannya. Sebaliknya, penipisan sel T CD4+ akibat HIV melemahkan respons imun seluler yang biasanya menahan Treponema pallidum, sehingga muatan spirokhetanya lebih tinggi, lesi kulitnya tidak khas dan berlebihan, perjalanan stadiumnya lebih cepat, dan kemungkinan invasi ke sistem saraf pusat meningkat.

Untuk konteks nasional, penulis mencatat kasus sifilis di Indonesia naik hampir 70 persen antara 2018 dan 2022, sementara pada 2023 tercatat lebih dari 28.000 kasus HIV baru, dengan Jawa Tengah konsisten berada di antara provinsi dengan beban kumulatif tertinggi. Meski demikian, data lokal tentang koinfeksi HIV dan sifilis dari wilayah tersebut masih terbatas — kekosongan yang hendak diisi laporan ini.

Empat Batas yang Diakui Penulisnya

Bagian keterbatasan dalam naskah ini tidak ditulis sekadar sebagai formalitas. Pertama, jumlah sampel yang kecil membatasi kekuatan statistik model multivariabel dan menambah risiko model terlalu menempel pada data serta melebarnya selang kepercayaan. “Hasilnya karena itu sebaiknya ditafsirkan sebagai pembangkit hipotesis, bukan sebagai temuan definitif,” tulis keempat penulis. Kalimat itu sebaiknya melekat pada setiap angka yang dikutip dari laporan ini.

Baca juga: Bos NASA Yakin Artemis 3 Meluncur 2027, Uji Dua Pendarat Bulan di Orbit

Kedua, latar rumah sakit rujukan tersier tunggal membatasi keterberlakuan temuannya pada populasi berbasis komunitas atau non-rujukan, dan pada wilayah lain di Indonesia. Pasien yang sampai ke poliklinik rumah sakit rujukan bukan potret pasien sifilis pada umumnya. Ketiga, desain retrospektif berbasis rekam medis membuat sejumlah variabel perilaku yang penting tidak bisa dianalisis sama sekali — pemakaian kondom, penggunaan narkoba suntik, praktik seksual spesifik, dan data jejaring pasangan tidak tercatat konsisten dalam berkas pasien. Keempat, tumpang tindih konseptual antara manifestasi kulit dan stadium sekunder membatasi penafsiran kausal atas temuan kulit tersebut.

Rekomendasi yang diajukan penulis pun tetap berada di ranah layanan, bukan di ranah penghakiman. Mereka menganjurkan penapisan HIV diintegrasikan secara rutin ke dalam alur diagnosis semua pasien sifilis di layanan serupa, dengan kewaspadaan lebih pada pasien yang datang dengan lesi kulit stadium sekunder. Penelitian prospektif multipusat dengan pengumpulan data perilaku yang terstruktur, tulis mereka, masih dibutuhkan untuk mengonfirmasi dan memperluas temuan ini. Keempat penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan dan penelitian ini tidak menerima pendanaan.

Baca Juga

Ilustrasi ruang tindakan endovaskular yang tenang dengan layar angiografi menyala redup dan meja kateterisasi kosong.
Kateter Patah di Vena Cava: 218 dari 224 Kasus Berhasil Ditarik
Ilustrasi rak obat apotek rumah sakit dengan satu kotak kosong di antara kotak-kotak penuh.
Obat Lupus Kosong di Apotek dan Risiko Kambuh yang Naik
Ilustrasi peralatan laboratorium untuk riset kosmetik.
UNDIP Kembangkan Kosmetik Anti-Aging dari Bakteri Laut
Audiensi FK-KMK UGM dengan jajaran RSUD Tais membahas kerja sama layanan kesehatan.
UGM dan RSUD Tais Jajaki Kerja Sama Dokter Spesialis
Kunjungan Dekan FIS UNP Afriva Khaidir ke QUT Australia.
UNP dan QUT Australia Perkuat Kerja Sama Riset
Ilustrasi penggunaan kecerdasan buatan melalui laptop.
UGM Gandeng Kampus Australia Riset Etika AI