Kateter Patah di Vena Cava: 218 dari 224 Kasus Berhasil Ditarik

Ilustrasi ruang tindakan endovaskular yang tenang dengan layar angiografi menyala redup dan meja kateterisasi kosong.

Ilustrasi ruang tindakan endovaskular yang tenang dengan layar angiografi menyala redup dan meja kateterisasi kosong. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Seorang perempuan berusia 52 tahun datang dengan keluhan yang tidak biasa: sepotong kateter tertinggal di dalam dada kanannya. Alat itu baru dicabut pada hari ketujuh pemakaian, tetapi sebagian batangnya patah dan tertinggal di dalam tubuh. Foto rontgen dada proyeksi posteroanterior menunjukkan pecahan itu berada di proyeksi vena subklavia kanan. Serpihan tersebut akhirnya ditarik keluar lewat prosedur endovaskular memakai kateter jerat yang dimasukkan dari vena femoralis kanan — pembuluh di lipat paha. Serpihan yang ternyata tersangkut di vena cava superior itu tertarik tanpa perlawanan, dan foto rontgen setelah tindakan memastikan tidak ada sisa yang tertinggal.

Kasus itu menjadi pembuka artikel The Outcome of Snare Loop Catheter for Foreign Body Removal in Superior Vena Cava: An Evidence-Based Case Report (Hasil kateter jerat untuk pengambilan benda asing di vena cava superior: laporan kasus berbasis bukti) yang ditulis Hutomo R Noorsukma dari Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah dan Patrianef Darwis dari Divisi Bedah Vaskular dan Endovaskular, Departemen Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia — Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Artikel itu terbit dalam The New Ropanasuri Journal of Surgery Vol. 10 No. 1 pada 2025, dan versi daringnya dipublikasikan pada Februari 2026.

Ini bukan uji klinis dan bukan penelitian dengan pasien baru. Desainnya laporan kasus berbasis bukti: satu kasus pasien disajikan, lalu pertanyaan klinis yang muncul dari kasus itu dijawab dengan penelusuran pustaka. Naskahnya tidak menyebut di rumah sakit mana pasien 52 tahun itu ditangani; yang tercantum hanya afiliasi kedua penulisnya.

Baca juga: Bos NASA Yakin Artemis 3 Meluncur 2027, Uji Dua Pendarat Bulan di Orbit

Satu Persen yang Jarang Dibicarakan

Kateter vena sentral adalah selang yang dimasukkan ke pembuluh balik besar untuk memberikan obat, kemoterapi, nutrisi parenteral, memantau hemodinamik, sampai menopang pemasangan pacu jantung dan defibrilator. Penggunaannya sudah rutin, tidak hanya di ruang rawat inap dan ruang perawatan intensif, tetapi juga di praktik rawat jalan. Di Amerika Serikat, menurut rujukan yang dipakai kedua penulis, pemakaian tahunannya melampaui 150 juta.

Komplikasinya beragam: trombosis vena atau trombosis kateter, infeksi, dan embolisasi pecahan kateter. Yang terakhir itulah yang menjadi pokok artikel. Angkanya kecil, sekitar satu persen dari pasien yang mengalami komplikasi, tetapi akibatnya bisa berat. Embolisasi benda asing yang tidak segera ditangani dapat berujung pada tromboemboli, endokarditis bakterialis, sepsis, dan aritmia jantung, dengan angka kematian yang disebut berkisar 24 sampai 60 persen. Sebaliknya, pasien yang pecahannya berhasil dikeluarkan umumnya bertahan tanpa gejala.

Untuk Indonesia, kedua penulis mengakui data pastinya tidak ada. “Meskipun Indonesia tidak memiliki data statistik nasional mengenai penggunaan kateter vena sentral tahunan, angka kemoterapi mencapai 24,9 persen pada 2018,” tulis Hutomo R Noorsukma dan Patrianef Darwis — angka yang mereka ambil dari Infodatin Kementerian Kesehatan. Karena insidensi kanker meningkat tiap tahun, mereka memperkirakan pemakaian kateter vena sentral ikut naik, dan bersamanya potensi pecahan kateter yang terlepas ke aliran darah.

Mengapa Jerat Jadi Pilihan Pertama

Karena risikonya, pengambilan benda asing selalu dianjurkan begitu diketahui. Sejak teknik endovaskular berkembang, penggunaannya dinyatakan aman, efektif, dan menjadi tindakan yang lazim. Berbagai perangkat pernah dipakai untuk menarik benda di dalam pembuluh darah: jerat, forsep penjepit, keranjang, kawat pembelok ujung, perangkat penjepit, selubung luar, dan kateter balon. Di antara semuanya, kateter jerat dipakai pada mayoritas kasus sebagai pilihan pertama karena mudah diarahkan, mudah dimanipulasi, dan tidak melukai dinding pembuluh.

Prinsip kerjanya sederhana. Sebuah lengkung kawat dimasukkan lewat pembuluh besar — pada kasus pembuka artikel ini lewat vena femoralis kanan di lipat paha — didorong sampai ke lokasi benda asing dengan panduan pencitraan, lalu lengkung itu dikencangkan mengikat ujung bebas benda asing sebelum ditarik keluar melalui jalur yang sama. Tidak ada dada yang dibuka. Kedua penulis mengutip Song dan rekan-rekannya yang menyatakan bahwa operasi terbuka kini hanya dikerjakan untuk mengambil benda asing di vena superfisial.

Hasil telaah kritis dengan panduan Joanna Briggs Institute, menurut kedua penulis, menunjukkan mayoritas artikel yang mereka kumpulkan tergolong bermutu tinggi karena memberikan uraian rinci tentang kasus klinis, metode, teknik, dan luarannya. Meski demikian, penilaian mutu semacam itu menilai kelengkapan pelaporan, bukan kekuatan desain penelitiannya.

Bagaimana Pustakanya Dikumpulkan

Penelusuran dilakukan pada empat pangkalan data: Cochrane, PubMed, EBSCO, dan ProQuest. Kata kunci yang dipakai adalah effectiveness, safety, snare loop, foreign body, dan superior vena cava, dikombinasikan dengan operator Boolean. Pustaka yang relevan dimasukkan; studi dengan subjek yang mengalami emboli benda asing akibat trauma proyektil atau akibat perangkat non-vaskular dikeluarkan, begitu pula kasus di area intraserebral dan pasien yang menjalani pengambilan rutin filter vena cava sementara. Artikel yang lolos dinilai mutunya memakai instrumen telaah kritis Joanna Briggs Institute.

Baca juga: Riset Flinders: Genomik Petakan Ikan Terancam Paling Rentan Perubahan Iklim

Hasil penelusuran itu mengumpulkan 24 laporan kasus dan 10 seri kasus, dengan total 224 kasus. Sebaran benda asingnya sendiri memberi gambaran tentang siapa yang paling sering mengalaminya: benda asing yang paling banyak ditemukan adalah pecahan port kemoterapi, sebanyak 118 kasus atau 52,68 persen. Port kemoterapi adalah perangkat akses vena yang ditanam di bawah kulit agar pasien tidak perlu ditusuk berulang kali setiap siklus pengobatan.

Angka Keberhasilan dan Tujuh Komplikasi

Dari 224 kasus itu, kateter jerat berhasil mengeluarkan benda asing pada 218 kasus. Tingkat efektivitasnya, sebagaimana dihitung kedua penulis dari 34 artikel yang mereka kumpulkan, mencapai 97,77 persen. Komplikasi setelah tindakan tercatat pada tujuh kasus atau 3,13 persen: takiaritmia supraventrikular pada tiga kasus, hematoma di area akses pada tiga kasus, dan regurgitasi katup trikuspid pada satu kasus. Seluruh subjek dilaporkan menuntaskan perawatan dan pulang. Beberapa studi lanjutan juga melaporkan tidak ada kematian. Sebagai pembanding, kedua penulis mengutip laporan bahwa operasi lewat torakotomi memiliki angka kematian pascaoperasi 2 sampai 4 persen.

Lima kasus gagal dicatat dalam kumpulan itu, dan justru bagian inilah yang paling banyak diuraikan. Satu laporan menyebut kegagalan tanpa penjelasan lanjutan. Pada studi lain, kateter tersangkut di struktur jantung: satu ujungnya tertanam di apeks ventrikel, sementara ujung yang lain di katup trikuspid membentuk lengkung di atrium kanan, sehingga jerat tidak bisa mengamankan ujung bebasnya; kateter akhirnya dikeluarkan dengan bantuan kateter pigtail. Pada studi berikutnya, jerat kesulitan melingkari seluruh keliling sebuah stent dan terlepas saat ditarik, sehingga digunakan angioplasti balon di dalam lumen stent lebih dulu sebelum stent diikat dan ditarik. Ada pula kegagalan karena emboli tertahan di lumen vena subklavia yang menyempit, sehingga kateter tidak dapat menjangkau ujung bebas pecahan itu.

Dari pola tersebut kedua penulis merangkum tiga hal yang perlu diperhatikan operator: apakah benda asing yang hendak diambil berupa stent, apakah benda asing tersangkut di struktur jantung, dan apakah benda asing berada di vena yang sempit. Untuk kasus stent, balon dapat dikembangkan di dalam stent sehingga jerat menangkap balon yang sudah terpasang, bukan menangkap stent secara langsung. Untuk benda asing di struktur jantung maupun di lumen pembuluh yang sempit, kateter pigtail dapat disiapkan untuk memanipulasi posisi dan orientasi benda asing sebelum dijerat.

Yang Tidak Bisa Dijawab Kumpulan Ini

Kedua penulis cukup terus terang soal batas temuannya, dan batas itu tidak sedikit. Seluruh pustaka yang mereka kumpulkan berupa laporan kasus dan seri kasus — jenis bukti dengan tingkat terendah untuk studi terapi. Artinya angka 97,77 persen itu berasal dari kumpulan kasus yang dilaporkan penulisnya masing-masing, bukan dari uji acak terkendali dengan pembanding. Kasus yang gagal, secara umum, lebih jarang dilaporkan daripada kasus yang berhasil.

Umur pustakanya juga menjadi persoalan. “Dua puluh dua studi yang dimasukkan diterbitkan lebih dari sepuluh tahun lalu, sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi saat ini,” tulis kedua penulis. Alat, bahan, dan teknik endovaskular berubah cepat, dan sebagian besar pengalaman yang dirangkum berasal dari era peralatan yang berbeda.

Baca juga: Sisi Batu yang Tak Pernah Dibaca Akhirnya Terbuka Lewat Fotogrametri

Satu pertanyaan yang mungkin paling ingin diketahui pasien juga tidak terjawab. “Sementara itu, tidak ada studi yang menggambarkan hubungan antara kelompok populasi tertentu dengan peluang keberhasilan atau risiko kegagalan,” tulis Hutomo R Noorsukma dan Patrianef Darwis. Semua kelompok usia memiliki tingkat keberhasilan pengambilan yang sama baiknya. Usia subjek yang gagal berkisar 35 sampai 63 tahun, dan kegagalan itu meliputi dua laki-laki dan tiga perempuan — tetapi tidak ada analisis lanjutan tentang pengaruh jenis kelamin maupun usia terhadap kegagalan. Dengan lima kasus gagal, jumlahnya memang terlalu kecil untuk disimpulkan apa pun.

Kesimpulan kedua penulis karena itu ditulis dengan takaran yang sepadan: pengambilan benda asing di vena cava superior memakai kateter jerat efektif dan relatif aman, namun studi-studi yang tersedia memiliki tingkat bukti rendah untuk studi terapi, sehingga penelitian dengan tingkat bukti yang lebih tinggi masih dibutuhkan. Laporan ini merangkum apa yang sudah dikerjakan di banyak rumah sakit selama beberapa dekade, bukan menetapkan standar baru. Kedua penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan dalam penyusunan artikel tersebut.

Baca Juga

Ilustrasi rak obat apotek rumah sakit dengan satu kotak kosong di antara kotak-kotak penuh.
Obat Lupus Kosong di Apotek dan Risiko Kambuh yang Naik
Ilustrasi peralatan laboratorium untuk riset kosmetik.
UNDIP Kembangkan Kosmetik Anti-Aging dari Bakteri Laut
Audiensi FK-KMK UGM dengan jajaran RSUD Tais membahas kerja sama layanan kesehatan.
UGM dan RSUD Tais Jajaki Kerja Sama Dokter Spesialis
Kunjungan Dekan FIS UNP Afriva Khaidir ke QUT Australia.
UNP dan QUT Australia Perkuat Kerja Sama Riset
Ilustrasi penggunaan kecerdasan buatan melalui laptop.
UGM Gandeng Kampus Australia Riset Etika AI
Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono memberi kuliah umum di Convention Hall Universitas Andalas.
Wamen LH di UNAND: Pilah Sampah Sejak dari Hulu