
Cekricek.id — Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mendorong pemilahan sampah dilakukan sejak dari hulu untuk mewujudkan target Indonesia bebas sampah pada 2029. Dorongan itu disampaikan dalam kuliah umum bertajuk tata kelola lingkungan yang digelar di Convention Hall Universitas Andalas (UNAND), Padang, Kamis (20/08/2026), menurut keterangan tertulis Universitas Andalas.
“Pemilahan sampah dari hulu untuk mewujudkan Indonesia bebas sampah tahun 2029. Karena jika tidak dipilah, secanggih apa pun sistem kita saat ini tidak akan berfungsi maksimal,” kata Diaz.
Baca juga Riset Unand: Adaptasi Iklim Petani Sumbar dan Sulsel Beda
Diaz mengawali pemaparannya dengan mengingatkan bahwa sejak peradaban tertua, manusia cenderung membangun kehidupan di sekitar aliran sungai. “Sejak peradaban tertua, manusia hidup di hilir sungai. Ini membuktikan bahwa kebutuhan manusia terhadap air sangat tinggi. Namun, saat ini air banyak dicemari oleh sampah dan pada akhirnya dapat tercemar mikroplastik,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengurangan emisi karbon bukan semata tanggung jawab pemerintah. “Kita semua dapat berkontribusi melalui kebiasaan sehari-hari, salah satunya dengan lebih aktif menggunakan kendaraan umum,” kata Diaz.
Baca juga Kalimat Berlapis Kato Pasambahan dan Cara Adat Menunda Maksud
Ekonomi lingkungan dan penghijauan pascabencana
Rektor UNAND Efa Yonnedi, Ph.D. menyambut kuliah umum tersebut dengan menekankan keseimbangan antara tata kelola lingkungan dan pembangunan ekonomi. “Tata kelola lingkungan tidak boleh kontradiktif dengan pembangunan ekonomi, tetapi harus berjalan bersama. Menurut kami, pendekatan yang paling cocok adalah pendekatan ekonomi lingkungan untuk memastikan pembangunan dan ekonomi berjalan secara seimbang,” kata Efa.
Baca juga Museum Biologi UGM Dinilai Gelap dan Tak Ada yang Bisa Dimainkan
Efa turut memaparkan kontribusi UNAND dalam pemulihan lingkungan pascabencana di Sumatera Barat. “UNAND juga aktif menghijaukan kembali daerah-daerah pascabencana. Baru-baru ini kita melakukan penanaman 3.800 bibit pohon di daerah terdampak bencana,” ujarnya. Kuliah umum ini digelar bersamaan dengan rapat koordinasi teknis bertema pengelolaan lingkungan berbasis daya dukung dan daya tampung lingkungan pascabencana hidrometeorologi.
















