Makan di Luar Rumah di Ghana, Lulusan Kejuruan Paling Jarang

A A

Penjual perempuan berbandana di balik deretan panci berisi masakan di warung makan Ghana [Foto: Hasslaebetch/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0]

  • Secara keseluruhan, 54,5 persen rumah tangga menyatakan makan di luar rumah, sedangkan 45,5 persen tidak.
  • Lulusan sekolah menengah hanya 0,442 kali, dan lulusan kejuruan 0,135 kali.
  • Setelah faktor lain ditimbang, peluang perempuan 1,461 kali lipat dibanding laki-laki.
  • Tabel regresi memberi peluang penduduk desa 0,411 kali dibanding penduduk kota.
Daftar Isi
  1. Ketika lulusan kampus dan lulusan kejuruan mengambil jalan yang berlawanan di meja makan
  2. Waktu yang habis di tempat kerja, dan dapur yang perlahan ditinggalkan rumah tangga kota
  3. Kota yang dikelilingi penjual makanan, dan desa yang masih bertumpu pada dapurnya sendiri
  4. Wilayah kakao, emas, dan fufu yang kini harus berbagi piring dengan gorengan
  5. Angka yang bergeser antara halaman teks dan tabel, dan pola umur yang sulit dijelaskan

Dari 159 kepala rumah tangga lulusan sekolah pelatihan kejuruan di Western region, Ghana, hanya 29 yang mengaku makan di luar rumah. Sisanya, 130 orang, menjawab tidak. Angka itu jatuh jauh di bawah kelompok lain, termasuk mereka yang sama sekali tidak pernah bersekolah. Di tabel yang sama, lulusan pendidikan tinggi justru berdiri di puncak.

Kejutan itu tercatat dalam Demographic and socioeconomic determinants influencing households’ engagement in out-of-home food consumption in the Western region of Ghana, tulisan Anthony Edward Boakye dan Addae Boateng Adu-Gyamfi di jurnal BMC Public Health volume 26 tahun 2026. Boakye bernaung di Department of Health, Physical Education and Recreation, sedangkan Adu-Gyamfi di Department of Population and Health, keduanya di University of Cape Coast, Ghana.

Pertanyaan yang mereka ajukan sederhana. Siapa saja rumah tangga di Western region yang makan di luar rumah, dan ciri apa yang membedakan mereka dari yang tetap makan di dapur sendiri? Jawaban datang dari 1.140 kepala rumah tangga di delapan komunitas, separuh di kota dan separuh di desa. Setiap kepala rumah tangga hanya ditanya apakah rumah tangganya makan di luar rumah, dan jawabannya ya atau tidak.

Ketika lulusan kampus dan lulusan kejuruan mengambil jalan yang berlawanan di meja makan

Secara keseluruhan, 54,5 persen rumah tangga menyatakan makan di luar rumah, sedangkan 45,5 persen tidak. Selisihnya tipis, 621 rumah tangga berbanding 519. Tidak ada kelompok besar yang benar-benar dominan. Namun begitu dipilah menurut pendidikan kepala rumah tangga, garis lurus yang mungkin dibayangkan orang ternyata tidak ada.

Kepala rumah tangga yang tidak bersekolah mencatat 66,5 persen makan di luar. Lulusan sekolah dasar turun ke 50,0 persen, lulusan sekolah menengah 49,2 persen, lalu lulusan kejuruan anjlok ke 18,2 persen. Setelah itu grafiknya melonjak lagi, sebab lulusan pendidikan tinggi mencatat 71,4 persen, tertinggi di antara semua kelompok.

Lulusan kejuruan paling jarang makan di luarTidak sekolah: Persen makan di luar +66,5%; Sekolah dasar: Persen makan di luar +50,0%; Sekolah menengah: Persen makan di luar +49,2%; Pelatihan kejuruan: Persen makan di luar +18,2%; Pendidikan tinggi: Persen makan di luar +71,4%.Lulusan kejuruan paling jarang makan di luarPersen yang makan di luar, menurut pendidikan kepala keluarga25%50%75%0Tidak sekolah66,5%Sekolah dasar50,0%Sekolah menengah49,2%Pelatihan kejuruan18,2%Pendidikan tinggi71,4%Dari 1.140 kepala rumah tangga di Western region, Ghana.
Sumber: Anthony Edward Boakye dan Addae Boateng Adu-Gyamfi, Demographic and socioeconomic determinants influencing households’ engagement in out-of-home food consumption in the Western region of Ghana, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Pola itu bertahan ketika para penulis menimbang beberapa faktor sekaligus. Dibanding kepala rumah tangga tanpa pendidikan formal, lulusan pendidikan tinggi punya peluang makan di luar 1,543 kali lipat. Lulusan sekolah menengah hanya 0,442 kali, dan lulusan kejuruan 0,135 kali. Lulusan sekolah dasar tidak berbeda bermakna dari kelompok tanpa sekolah. Artinya, jarak paling lebar justru terbentang antara dua kelompok yang sama-sama sempat menempuh pendidikan lanjutan.

Dua penulis tidak membaca angka itu sebagai tanda bahwa orang terdidik tidak paham gizi. Mereka menyebut makan di luar tidak semata didorong kurangnya pendidikan atau kesadaran gizi. Kebiasaan itu, menurut mereka, juga dibentuk kemajuan sosial ekonomi, pola kerja, dan gaya hidup yang berubah seiring pendidikan yang lebih tinggi.

Lalu datang kalimat yang menjadi poros tulisan mereka. “Meskipun pendidikan tinggi dapat meningkatkan pengetahuan gizi, kepraktisan, daya tarik sosial, dan sifat hemat waktu dari makanan luar rumah dapat mengalahkan pertimbangan kesehatan di kalangan rumah tangga berpendidikan tinggi,” tulis Boakye dan Adu-Gyamfi dalam naskah yang aslinya berbahasa Inggris. Kepraktisan, dalam bacaan mereka, bisa lebih menentukan daripada pengetahuan.

Untuk lulusan kejuruan, penjelasan yang mereka tawarkan berbeda arah. Pendidikan, kata mereka, dapat memperkuat literasi pangan dan keterampilan memasak, terutama pada pelatihan kejuruan. Anggota rumah tangga yang lebih cakap memasak bisa menyiapkan makanan di rumah dengan lebih efisien, sehingga kebutuhan menggantinya dengan makanan olahan dari luar berkurang.

Baca juga Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria

Waktu yang habis di tempat kerja, dan dapur yang perlahan ditinggalkan rumah tangga kota

Kerangka yang dipakai para penulis adalah teori produksi rumah tangga yang dirumuskan Gary Becker pada 1965. Intinya, rumah tangga tidak menikmati barang yang dibeli secara langsung, melainkan menggabungkannya dengan tenaga dan waktu sendiri. Karena itu mereka menimbang uang dan waktu sekaligus. Makan di luar bisa dipandang sebagai cara menghemat waktu dan tenaga yang biasanya habis untuk menyiapkan makanan di rumah.

Dari sudut itu, lulusan pendidikan tinggi menghadapi ongkos waktu yang lebih mahal karena pekerjaan dan komitmen profesional. Membeli makanan jadi, tulis kedua penulis, bisa menjadi pengganti yang rasional bagi memasak di rumah yang menyita waktu. Logika yang sama mereka pakai untuk menjelaskan temuan kedua, yaitu soal perempuan.

Perempuan tercatat lebih sering makan di luar. Pada uji awal, 60,7 persen responden perempuan makan di luar, dibanding 53,1 persen laki-laki. Setelah faktor lain ditimbang, peluang perempuan 1,461 kali lipat dibanding laki-laki. Jumlah responden perempuan sendiri jauh lebih kecil, yaitu 211 orang, berbanding 929 laki-laki. Selisih jumlah itu patut diingat ketika membaca persentasenya.

Penulis mengaitkan temuan ini dengan partisipasi perempuan dalam pendidikan, pekerjaan, dan kegiatan mencari nafkah yang mengurangi waktu memasak di rumah. Mereka juga menyebut perempuan kerap terlibat dalam kegiatan sosial yang melibatkan makan di luar, seperti makan di tempat kerja, pertemuan, dan belanja. Temuan ini, catat mereka, berlawanan dengan sebuah studi terdahulu yang mendapati laki-laki lebih sering makan di luar.

Kota yang dikelilingi penjual makanan, dan desa yang masih bertumpu pada dapurnya sendiri

Garis berikutnya memisahkan kota dan desa. Di dua distrik kota, Effia-Kwesimintsim dan Sekondi-Takoradi, 63,2 persen rumah tangga makan di luar. Di dua distrik desa, Mpohor dan Wassa East, angkanya 45,8 persen. Tabel regresi memberi peluang penduduk desa 0,411 kali dibanding penduduk kota. Dengan kata lain, tinggal di desa berkaitan dengan peluang makan di luar yang jauh lebih kecil.

Kota dan desa di Western regionKota dan desa di Western regionKota dan desa di Western regionMasing-masing dua distrik dan empat komunitasKotaDesa570570Kepala rumahtangga63,2%45,8%Makan di luarrumah36,8%54,2%Tidak makan diluaracuan 1,000,411Peluang (tabelregresi)Teks naskah menulis peluang desa 0,140; tabel menulis 0,411.
Sumber: Anthony Edward Boakye dan Addae Boateng Adu-Gyamfi, Demographic and socioeconomic determinants influencing households’ engagement in out-of-home food consumption in the Western region of Ghana, BMC Public Health, 26, 2026. Grafik: Cekricek.id

Menurut penulis, penduduk kota lebih sering bersentuhan dengan restoran, gerai cepat saji, penjual makanan jalanan, dan layanan makanan praktis. Rumah tangga desa lebih bergantung pada pangan hasil sendiri atau masakan rumah, karena gerai komersial terbatas dan kebiasaan makan tradisional masih kuat. Jadwal kerja padat dan perjalanan panjang di kota ikut mendorong ketergantungan pada makanan siap santap.

Baca juga Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan

Wilayah kakao, emas, dan fufu yang kini harus berbagi piring dengan gorengan

Western region dipilih bukan tanpa alasan. Menurut naskah, rawan pangan di wilayah ini diperkirakan 14,2 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional Ghana 11,7 persen, salah satu yang tertinggi di antara wilayah selatan negeri itu. Hanya 60,8 persen perempuan di sana mencapai keragaman pangan minimum, 40,7 persen mengonsumsi makanan tak sehat penanda, dan 51,9 persen minum minuman bermanis.

Wilayah itu penghasil kakao, karet, dan kelapa terbesar di Ghana, sekaligus penghasil besar kelapa sawit. Hutan tropisnya menopang produksi kayu, dan tanahnya menyimpan emas, bauksit, bijih besi, intan, dan mangan. Pertanian, termasuk perikanan, menyerap 58,1 persen tenaga kerja, disusul produksi dan transportasi 14,5 persen serta perdagangan 10,2 persen.

Di latar itulah pergeseran makan terjadi. Naskah menyebut hidangan rumahan seperti fufu, banku, kenkey, dan ampesi kini berdampingan dengan gorengan, minuman bergula, mi instan, dan makanan olahan lain. Makanan luar rumah, tulis penulis, kerap lebih padat energi, tinggi garam, lemak, dan gula, serta kurang bergizi dibanding masakan rumah.

Kedua penulis karena itu meminta edukasi gizi yang terarah, pengaturan penjual makanan, pilihan menu sehat, dan standar kebersihan pangan yang lebih baik. Sasaran yang mereka tekankan justru penduduk kota dan kelompok berpendidikan tinggi, dua kelompok yang paling sering makan di luar dalam data mereka. Pemerintah dan pemangku kepentingan kesehatan, menurut mereka, perlu memperkuat aturan lingkungan pangan kota dan membuka akses pada makanan sehat yang terjangkau.

Ada batas yang mereka akui sendiri. Survei potong lintang hanya menangkap hubungan pada satu titik waktu dan tidak membuktikan sebab-akibat. Jawaban responden bergantung pada ingatan dan bisa condong ke jawaban yang dianggap pantas. Ukuran makan di luar pun hanya ya atau tidak, tanpa mencatat seberapa sering, berapa banyak, dan seberapa bergizi makanannya.

Baca juga Berat Badan dan Sikap ke Obesitas Mahasiswa Kesehatan Hanoi

Angka yang bergeser antara halaman teks dan tabel, dan pola umur yang sulit dijelaskan

Beberapa bagian naskah bisa diperiksa sendiri oleh pembaca yang teliti. Abstrak dan bagian hasil menulis peluang penduduk desa 0,140 dengan rentang kepercayaan 0,308 sampai 0,547. Angka 0,140 berada di luar rentangnya sendiri. Tabel regresi menulis 0,411, yang cocok dengan rentang tersebut, sehingga 0,140 tampaknya salah ketik.

Bagian pembahasan menyebut lebih dari separuh rumah tangga secara rutin makan di luar. Padahal pertanyaannya hanya ya atau tidak, dan bagian keterbatasan mengakui frekuensi tidak diukur. Tabel uji awal juga memuat dua pasang baris yang identik. Baris jenis kelamin responden sama persis dengan baris kepala rumah tangga, dan baris rumah tangga dua orang sama persis dengan lima orang.

Pola umur pun melompat tajam. Kelompok 25 sampai 34 tahun tercatat 100 persen makan di luar, kelompok 45 sampai 54 tahun hanya 16,5 persen, lalu kelompok 65 tahun ke atas kembali 99,6 persen. Tabel itu juga memuat kelompok 15 sampai 24 tahun, padahal syarat responden adalah kepala rumah tangga berusia minimal 18 tahun.

Kesimpulan naskah menyebut umur, pendapatan, ukuran rumah tangga, dan pekerjaan berhubungan dengan makan di luar. Hubungan itu hanya muncul pada uji awal. Model akhir yang menimbang faktor bersama-sama hanya memuat pendidikan, jenis kelamin, dan tempat tinggal, sehingga klaim untuk faktor lain berdiri di atas uji yang lebih longgar.

Di tabel yang sama, 130 lulusan kejuruan tetap tercatat makan di rumah, sementara 264 lulusan pendidikan tinggi tercatat makan di luar. Naskah menawarkan keterampilan memasak di satu sisi dan waktu yang habis di tempat kerja di sisi lain. Seberapa sering, apa yang dimakan, dan di mana, belum ada di dalam angka-angka itu.

Bagikan

Baca Juga

Label Jantung Berdebar di Kaleng Minuman Energi Tekan Niat Beli
Tiongkok Mendata 41 Obat yang Rawan Habis Saat Musim Penyakit
Rekreasi Air di Türkiye Membentuk Makna Sehat, Bukan Cuma Tenang
Kantin Sekolah Swasta Brasil Sering Jual Soda, Jarang Buah Segar
Pelancong yang Pernah Divaksin Rabies Justru Lambat Berobat
Warga Tepi Sungai Tijuana Ramai Mengeluh Pilek, Mual, dan Pusing