- Dari 384 pekerja yang ditanya, 81,25 persen melaporkan terdampak panas berlebih.
- Sebanyak 85,41 persen pekerja sulit fokus, dan 84,89 persen merasa lelah luar biasa.
- Pekerja mengaitkan lelah dan hilangnya konsentrasi dengan jari yang tertusuk jarum, terutama di kalangan operator mesin jahit.
- Dengue pernah dialami 10,68 persen pekerja dalam lima tahun terakhir.
Daftar Isi
Panas pabrik menyiksa buruh garmen kecil di Sri Lanka. Dari 384 pekerja yang ditanya, 81,25 persen melaporkan terdampak panas berlebih di tempat kerja. Kira-kira delapan dari sepuluh orang di lantai produksi merasakannya, dari penjahit sampai kepala bagian, dan banyak di antara mereka mengaitkan panas itu dengan jari yang tertusuk jarum.
Temuan itu ditulis Devathanthrige Janaka Chamara Harshana Senadeera, Abu Sadat Muhammad Sayem, Walter Leal Filho, Grace Farhat, dan Haruna Musa Moda dalam artikel Workplace health and safety under climate stress in Sri Lankan apparel SMEs. Artikel itu terbit di BMC Public Health volume 26 nomor 587 tahun 2026.
Para penulis bernaung di Manchester Metropolitan University, Loughborough University, Hamburg University of Applied Sciences, dan University of Doha for Science and Technology. Mereka mendatangi enam pabrik garmen kecil dan menengah di Zona Pemrosesan Ekspor Biyagama dan Katunayake antara Oktober 2023 dan Maret 2024.
Kedua zona itu menampung sekitar 200 perusahaan garmen dengan kira-kira 100.000 pekerja. Garmen menyumbang sekitar 40 persen nilai ekspor Sri Lanka. Industri ini memberi lebih dari 350.000 pekerjaan langsung, dan lebih dari 80 persen tenaga kerjanya perempuan.
Penulis menyoroti pabrik kecil karena alasan sederhana. Selama ini riset dan kebijakan lebih banyak memusatkan perhatian pada pabrik besar yang berorientasi ekspor. Pabrik kecil sering menempati gedung tua dengan pendingin udara terbatas dan dana keselamatan kerja yang sempit.
Empat Bahaya Sekaligus
Panas bukan satu-satunya ancaman yang dicatat di enam pabrik itu. Penyakit bawaan nyamuk dilaporkan memengaruhi 83,07 persen pekerja, sedikit di atas panas. Cuaca buruk seperti banjir, siklon, longsor, petir, dan angin kencang dilaporkan 80,73 persen pekerja.
Polusi udara dalam ruang lebih jarang disebut, tetapi porsinya tetap besar. Sebanyak 44,53 persen pekerja melaporkannya sebagai bahaya di tempat kerja. Hampir separuh pekerja, dengan kata lain, merasakan udara di dalam gedung pabrik ikut mengganggu kesehatan mereka.
Keempat bahaya itu berhubungan bermakna secara statistik dengan keluhan kesehatan yang dilaporkan pekerja. Kekuatan hubungannya tergolong lemah sampai sedang. Di antara keempatnya, polusi udara paling kuat kaitannya, sedangkan penyakit bawaan nyamuk paling lemah.
Ancaman ini diperkirakan bertambah pada tahun-tahun mendatang. Naskah mencatat proyeksi kenaikan suhu rata-rata Sri Lanka 1,0 sampai 1,5 derajat Celsius pada 2050. Hujan monsun juga makin tak menentu, sehingga banjir dan kemarau makin sering mengganggu bangunan, rantai pasok, dan kesehatan pekerja.
Jarum di Jari
Keluhan akibat panas hampir merata di semua bagian pabrik. Biang keringat dialami 89,84 persen pekerja, keringat berlebih 89,58 persen, dan sakit kepala hebat 85,67 persen. Dehidrasi dilaporkan 80,46 persen, atau kira-kira empat dari setiap lima pekerja.
Panas juga menyerang pikiran, bukan hanya tubuh. Sebanyak 85,41 persen pekerja sulit fokus, dan 84,89 persen merasa lelah luar biasa selama giliran kerja. Angka yang sama persis, 84,89 persen, merasa seperti mau pingsan.
Di sinilah jarum jahit masuk ke cerita. Pekerja mengaitkan lelah dan hilangnya konsentrasi dengan jari yang tertusuk jarum, terutama di kalangan operator mesin jahit. Seorang penjahit menulis jarinya tertusuk dua kali dalam sepekan saat ia terlalu lelah dan berkeringat.
Sebanyak 60,15 persen pekerja melaporkan mengalami bahaya kerja saat panas. Pekerjaan angkat-angkut di suhu tinggi juga dikaitkan dengan pingsan dan sakit kepala di berbagai bagian pabrik. Air minum pun sering terbatas, sehingga dehidrasi dan gejala yang menyertainya makin berat.
Kulit ikut menjadi korban. Pekerja menggambarkan iritasi, ruam yang terus digaruk lalu berubah menjadi lepuh pada hari panas. Mata merah juga disebut menyebar di pabrik selama musim panas, bersama luka gores, susah tidur, dan hilangnya nafsu makan.
Ada pula soal emosi yang jarang dibicarakan. Pekerja menyebut motivasi turun dan mudah kesal, baik pada diri sendiri maupun rekan kerja di sebelahnya. Seorang pekerja menulis singkat bahwa ia jadi marah ketika udara terlalu panas.
Baca juga Gelombang Panas Dhaka: Merasa Terancam, 7,77 Kali Lebih Sakit
Banjir Masuk Pabrik
Cuaca buruk, terutama banjir, membawa keluhan tersendiri. Infeksi tenggorokan dilaporkan 81,25 persen pekerja, asma 77,08 persen, dan gangguan pernapasan 75,52 persen. Masalah sinus dialami 73,70 persen, sehingga hidung dan tenggorokan menjadi sasaran utama.
Diare dilaporkan 47,40 persen pekerja, hampir separuhnya, dan stres 29,95 persen. Seorang pekerja menulis bahwa sebagian besar karyawan terserang diare setelah musim banjir karena memakai air sumur untuk kebutuhan sehari-hari.
Banjir juga melukai secara fisik, terutama di gedung yang kurang terawat. Seorang pekerja jatuh di dekat kantin setelah hujan karena lantai basah tanpa tanda peringatan. Pekerja lain melaporkan dinding di belakang bagian pengepakan retak dan sebagian runtuh saat banjir terakhir.
Penyakit lain menyusul setelah air surut. Pekerja menyebut mata perih, kurap, hepatitis, infeksi saluran napas, dan gejala mirip flu setelah bersentuhan dengan air banjir. Ada yang harus berjalan menembus genangan menuju kendaraan, lalu sakit tenggorokan dan demam.
Batuk Hampir Semua
Udara dalam pabrik menghasilkan angka paling tinggi di seluruh studi. Batuk dilaporkan 95,05 persen pekerja, atau hampir semua orang di lantai produksi. Gejala gangguan pernapasan mencapai 94,79 persen, dan alergi 94,01 persen.
Namun angka setinggi itu belum tentu berkaitan dengan polusi. Batuk, gejala pernapasan, dan alergi justru tidak bermakna secara statistik. Hanya sesak napas, 70,31 persen, dan penyakit mata, 70,57 persen, yang terbukti berhubungan.
Cerita pekerja memberi gambaran. Seorang pekerja menulis ia tidak pernah asma sebelumnya, tetapi kini mengi hampir tiap hari sepulang kerja. Pada hari panas, asap dari luar masuk ke pabrik dan membuat napas sesak sebelum tengah hari.
Debu masuk lewat jendela yang terbuka lebar pada musim kemarau, terutama di pabrik yang mengandalkan ventilasi alami. Mata pekerja memerah dan terasa panas. Sebagian bahan kain juga membuat kulit gatal, lebih parah saat panas dan berdebu.
Baca juga Penyakit Kerja Terduga Menumpuk di Tujuh Sektor Malaysia
Nyamuk Musim Panas
Dengue pernah dialami 10,68 persen pekerja dalam lima tahun terakhir, kira-kira satu dari sepuluh orang. Angka itu berhubungan bermakna dengan kondisi lingkungan yang memudahkan nyamuk berkembang biak. Hubungannya lemah, tetapi nyata secara statistik.
Pekerja melihat nyamuk dan serangga bertambah pada musim panas dan kering, sampai mengganggu konsentrasi dan produktivitas mereka. Seorang pekerja menulis nyamuk terus menggigit sehingga mereka sulit bekerja. Bekas gigitan meninggalkan ruam dan tanda di lengan serta kaki.
Garukan bisa berujung panjang. Luka terbuka memicu infeksi, menambah kekhawatiran soal kesehatan jangka panjang, dan membuat pekerja absen. Seorang pekerja harus ke dokter karena bekas gigitan berubah menjadi borok, lalu terpaksa mengambil cuti.
Bahaya Saling Menyulut
Penulis menegaskan keempat bahaya itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling menyambung. Kerusakan gedung akibat banjir menambah jamur dan menghambat ventilasi. Akibatnya, stres panas dan paparan debu yang dihirup pekerja ikut memburuk.
Panas lalu menguapkan bahan kimia di dalam ruang produksi, sehingga keluhan pernapasan bertambah. Banjir dan panas sama-sama memperbanyak nyamuk. Satu pemicu iklim bisa merambat lewat jalur kerja di pabrik hingga berujung pada sakit dan absen.
“Temuan ini menunjukkan dampak yang langsung, besar, dan berantai,” tulis Senadeera dan rekan dalam naskahnya yang berbahasa Inggris. Menurut mereka, temuan itu sekaligus memperlihatkan celah kebijakan yang serius.
Usulan mereka mendahulukan perbaikan bangunan yang murah. Contohnya atap pemantul panas, pendingin evaporatif, ventilasi buang di mesin bar-tack dan obras, serta saluran air lantai. Alat pelindung diri ditempatkan sebagai lapis terakhir saja.
Penulis juga mengusulkan rotasi tugas menjauhi jam terpanas dan jadwal minum serta istirahat. Pembersihan genangan air dan pemeriksaan bersama petugas kesehatan masyarakat dan insinyur pengawas pabrik juga diusulkan menjelang musim kemarau dan monsun.
Baca juga Suhu, Bukan Hujan, Kunci Ramalan Dengue di Nepal Barat
Batas Survei
Studi ini memotret satu waktu, sehingga tidak bisa membuktikan sebab-akibat atau mengikuti kesehatan pekerja dari waktu ke waktu. Semua keluhan juga dilaporkan sendiri oleh pekerja, bukan hasil pemeriksaan dokter, dan ingatan mereka bisa meleset.
Kuesioner hanya diberikan dalam bahasa Inggris, kepada pekerja dengan masa kerja paling sedikit dua tahun. Pabriknya pun hanya yang bersedia, dari dua zona. Penulis meminta temuan ini hanya dibawa ke sektor garmen dengan iklim dan prasarana serupa.
Angka yang Bergeser
Beberapa angka dalam naskah tidak saling cocok, meski tidak mengubah gambaran besarnya. Di bagian pembahasan, keringat berlebih 89,58 persen diberi rentang kepercayaan 81,8 sampai 88,8. Rentang itu milik sakit kepala di tabel, sehingga tampaknya bergeser satu baris.
Hasil uji statistik untuk penyakit bawaan nyamuk juga ditulis dua kali dengan nilai berbeda, begitu pula ukuran kekuatan hubungannya. Bagian awal hasil memuat 7,28, sedangkan bagian dengue memuat 8,356. Kelelahan luar biasa disebut menimpa hampir dua pertiga pekerja, padahal tabel mencatat 84,89 persen.
Di enam pabrik itu, panas sudah menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari. Ia terasa di kepala yang pening, kulit yang melepuh, napas yang tersengal sebelum tengah hari, dan jari penjahit yang tertusuk jarum ketika tubuhnya terlalu lelah.















